NovelToon NovelToon
Pemilik Hati Ku

Pemilik Hati Ku

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Tamat
Popularitas:173.6k
Nilai: 5
Nama Author: shalsyalala

Follow Ige author : Shalsyala


"Apa kamu lupa? aku menyetujui pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga ku dari rasa malu kak..?"
Livia Gunawan Baskoro.

"Aku tidak pernah mengingat apapun itu, yang aku ingat kamu sekarang adalah istriku, dan kamu sangat mencintaiku sejak dulu, tapi sekarang kenapa aku tak lagi melihat cinta itu?"
Anggara Wisnu Hutama

Dua anak manusia itu terikat hubungan persahabatan sejak kecil dan di kehidupan sekarang keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa rencana yang dilakukan Angga dalam menyelamatkan Livia dari rasa malu.

Mampukah mereka mempertahankan mahligai rumah tangga yang berlandaskan cinta yang berlimpah dari Livia namun tidak untuk Angga yang hati dan cintanya masih dimiliki orang lain?



Yuuuk merapat langsung baca yaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shalsyalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

"Kau terlihat bersedih Liv. Apa pernikahan mu tidak bahagia?" Pertanyaan dari Vero seolah mengejutkan Livia. Wanita itu menatap tajam ke arah Vero.

"Kita baru saja bertemu, bagaimana bisa kamu sudah bisa menilai pernikahan ku? Kita tidak cukup dekat Ver untuk membicarakan itu!" Ucap Livi dengan ketus.

"Salah mu sendiri, kenapa dulu kau tidak membiarkan ku mendekati mu. Jika saja kau memberi ku kesempatan waktu itu, mungkin saat ini kita bisa lebih dekat." Timpal Vero dengan entengnya.

"Jika saja dulu kamu mengungkapkan hal itu dengan jelas dan tidak selalu membuat ku jengkel dengan semua tingkah usil mu itu, mungkin kesempatan itu ada." Balas Livi sambil melirik malas Vero yang berjalan mengekori dirinya.

"Jika sekarang aku mengatakan akan mendekati mu kembali apa kau mengizinkan?" Ucapan Vero tak membuat Livi terkejut. Malah membuat wanita itu menahan tawa.

"Jadi kau akan mendekati dan menggoda istri orang lain juga anak dari bos mu sendiri?"

Vero mengangkat bahunya. "Tidak masalah jika memang kau mengizinkan."

Livi menghentikan langkah lalu berbalik menatap tajam ke arah Vero. "Dasar brengsek!!" Livi memicingkan matanya dengan tersenyum sebal melihat kelakuan kawan lamanya itu yang selalu menggoda dirinya. Ia lantas memukul dada Vero sampai laki laki itu sedikit mengaduh.

"Berarti kamu belum menikah?" Tanya Livi sambil melanjutkan langkahnya menyusuri rest area meeting yang terdapat di samping bangunan yang dikhususkan untuk para client atau karyawan yang penat setelah keluar dari ruang meeting.

"Sudah ku bilang aku ingin mendekati mu." Vero terus saja berusaha menggoda Livi.

Livi masih tersenyum menanggapi ocehan Vero. "Aku tidak menyangka jika seorang Vero, pemuda slengek an yang bisanya hanya tebar pesona dengan mengandalkan ketampanannya ke semua wanita, kini bisa jadi salah satu orang kepercayaan Papi ku. Pasti kamu menggunakan cara licik untuk mendekati Papi ku kan?" Livi menuduh dengan tatapan menyelidik.

Seringai terulas dibibir Vero sebelum kemudian terdengar suara kekehannya. "Jadi kau menganggap ku tampan dan penuh pesona? Terima kasih telah memuji ku Liv. Aku tidak menyangka..."

Livi menghentikan langkah lalu membalikkan badan menatap laki laki yang kembali membuatnya jengkel seperti di masa lalu yang sudah sudah. Wajahnya kian bersungut sungut saat melihat senyum menjengkelkan Vero.

Laki laki itu bersedekap menatap ke arah Livi. Ia mengedikkan dagunya, "kau tidak membawa tas atau apapun yang bisa kau pukulkan ke kepala ku?" Tantangnya.

Vero tahu pasti Livi sangat jengkel dan ingin sekali memukul kepalanya seperti yang dulu sering dilakukan wanita itu padanya.

Seringai muncul di bibir Livia, wanita itu kemudian juga turut bersedekap lalu mengangkat dagunya. Ia memandangi Vero dari atas sampai bawah. "Aku memang tidak membawa tas atau apapun itu, tapi setidaknya aku bisa menendang mu!"

Buugggh!!!

Arrrggh!!

Dengan cepat kaki Livi yang bersepatu berbentuk lancip di ujungnya itu menendang kaki Vero, hingga laki laki itu meloncat sambil mengaduh, menunduk memegangi betisnya. Livi tak lagi menahan tawa saat melihat ekspresi kesakitan pada Vero.

Livi sedikit membungkukkan badannya ke arah Vero, jari telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah laki laki itu. "Jika kamu masih ingin bekerja sama dengan ku, hilangkan sifat usil dan menyebalkan itu pada dirimu Ver!" Ucapnya disusul senyum menang di bibirnya.

"Tidak buruk di hari pertama berkerja." Ucap Livi sambil berjalan meninggalkan Vero yang masih mengaduh kesakitan.

Vero menyeringai dengan tatapan tajam memandang tubuh sempurna yang di miliki Livi menghilang di balik pintu lift. "Aku pasti akan mendapatkan mu Livi."

...💮💮💮💮...

Siang yang sudah sampai di penghujung, hendak menjemput sore yang selalu menyuguhkan indahnya senja yang terlihat di balik jendela ruangan gedung perusahaan yang terletak di lapisan lantai tertinggi.

Hal itu kali ini dilewatkan oleh sang penghuni ruangan yang sibuk dengan map map yang berada di tangannya. Matanya menatap awas setiap kata yang tertulis di tiap lembar kertas di dalam map itu.

"Agnisya Friska Maharani." Angga membaca nama yang tertulis di kertas itu sambil mendongakkan kepalanya menatap wanita cantik dengan balutan busana kantor yang begitu elegan yang kini sedang duduk di sebrang meja kerjanya.

Wanita itu tersenyum mengangguk. "Iya pak, saya." Ucapnya sopan.

Angga beralih menatap laki laki berkaca mata yang juga sedang berdiri di samping wanita itu. "Atas dasar apa kau merekomendasikan Angnisya untuk menjadi sekertaris ku, Dipta?"

"Sesuai yang anda perintahkan kemarin pak, juga dengan pertimbangan pengalaman bekerjanya pernah menjadi salah satu staff di perusahaan yang sama dengan anda, auditor." Dipta menjelaskan dengan sopan.

Angga menatap penuh tanya ke arah wanita bernama Agnisya itu.

"Perusahaan OMEGA pak." Agnisya yang paham dengan tatapan Angga langsung menjawab.

Angga mengangguk anggukkan kepalanya pertanda dirinya mengerti. "Aku pernah sekali bekerja sama dengan perusahaan itu." Angga menanggapi.

"Baiklah Agnisya...."

"Bapak boleh memanggilku Nisya saja biar tidak terlalu panjang memanggil nama saya." Potong Nisya dengan percaya diri.

"Baiklah Nisya, selamat bergabung diperusahaan ini." Angga mengulurkan tangannya dan disambut bahagia oleh Nisya.

"Terima kasih pak." Ucapnya.

"Belajarlah segala sesuatu sekecil apapun tentang ku yang menyangkut pekerjaan pada Dipta." Angga menunjuk Dipta.

"Baik pak, saya akan berusaha sebaik mungkin."

"Satu lagi, selama bekerja dengan ku turunkan beberapa senti panjang rok yang kamu pakai." Angga tak canggung untuk memperingati wanita yang akan menjadi sekretarisnya itu. Ia merasa tak nyaman dengan pakaian yang digunakan Nisya terlihat begitu feminim.

Nisya melirik rok yang ia kenakan sepertinya tidak terlalu pendek. "Dasar tidak tahu fashion." Ia menggerutu dalam hati. Tak urung ia pun mengangguk kan kepala. "Baik pak."

...💮💮💮💮...

Setelah sesi penerimaan sekertaris baru, Angga melirik jam ditangan kirinya yang menunjukkan jam pulang kerja masih satu jam lagi. Ia meraih ponselnya lalu menekan nomor istrinya.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" Pertanyaan pertama yang ia tanyakan, saat di sebrang sana sang istri menjawab panggilan telfonnya. Nada suaranya benar benar berat.

"Aku baru selesai mengadakan meeting dengan beberapa staff direksi."

"Kamu menikmati pekerjaan mu?"

"Seharian ini semuanya berjalan dengan cukup baik"

"Aku harap semua keputusan yang kamu ambil membuat mu bahagia Livi." Angga berulang kali menghela nafas saat merasa perubahan sikap Livi bahkan saat di telfon, Livi hanya menjawab sekenanya. Juga kali ini bahkan tak ada jawaban.

"Sebentar lagi jam pulang, tunggu aku, aku akan menjemput mu."

"Tidak usah kak. Papi sudah menempatkan satu sopir untuk ku. Kamu juga tidak biasanya pulang di jam kerja, jadi lanjutkan saja pekerjaan mu."

"Livi..aku.."

"Maaf kak, aku tutup dulu, seseorang datang."

Turut..tuutt...tuuttt*

Angga terperangah menatap ponselnya, benar dugaannya. Livi kembali membatasi diri padanya seperti diawal pernikahannya dulu. Kembali hatinya di dera rasa bersalah. Tak lama ia segera meraih jasnya yang tersampir di punggung kursi lalu berlari keluar ruangannya.

...💮💮💮💮...

Loby perusahaan terlihat sudah agak sepi di jam pulang yang lewat hampir satu jam yang lalu. Hanya menyisakan beberapa karyawan yang sedang merampungkan perkejaan mereka, berlalu lalang di loby. Beberapa karyawan itu segera menghentikan gerakannya dan segera menunduk sopan saat melihat Livia yang diikuti beberapa jajaran staff Mega Intern Group, dibelakangnya terlihat menuruni eskalator yang menghubungkan loby dengan lantai dua bangunan itu.

Livi menghentikan langkah saat dirinya sudah berada di pintu loby yang langsung disambut oleh mobil mewah beserta sopir yang sudah siap membukakan pintu mobil.

"Kalian semua boleh pergi." Ucapnya sambil melirik ke arah belakang.

"Biarkan kami mengantar anda hingga menaiki mobil anda Bu Livia." Laki laki bertubuh gemuk dengan kepala botak itu menjawab.

Seringai muncul di bibir Livi, ia membalikan badan menatap segerombolan staff yang mengikutinya sejak meeting yang ia pimpin selesai. Tertuju pada laki laki yang menyahuti perintahnya barusan.

"Pak...?" Livi memutar bola matanya, berusaha mengingat nama laki laki botak itu.

"Pak Candra." Vero yang berdiri disebelahnya mencoba mengingatkan.

"Ahh.. yaaa. Pak Candra. Sepertinya anda terlalu berlebihan mengantar kepulangan ku hingga aku memasuki mobil. Apa anda ingin memastikan sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan ku di mobil itu." Livi melirik ke arah mobil.

Pertanyaan Livi membuat Laki laki pemilik nama Candra itu terkejut tak. Lagi lagi dirinya dibuat terkejut oleh sikap Livi, mengingat selama meeting yang dipimpin anak bos nya itu, Candra sering kali di pojokan dan di ajak Matt oleh Livi atas ketidak becusannya dalam bekerja selama ini.

"B-bukan seperti itu m-maksud saya Bu. Saya..."

"Jika begitu, silahkan anda meninggalkan tempat ini terlebih dulu." Livi menatap tajam pada semua staff yang lain.

Tanpa bantahan, segerombolan staff itu membelah diri, berjalan cepat dan menghilang satu persatu dari hadapan Livi.

"Tutup pintu mobilnya! Aku akan berjalan kaki." Perintahnya pada sopir.

"Nona Livi, sebaiknya anda..."

"Jangan melawan ku!" Livi segera memotong ucapan Vero yang ingin mencegah.

Tanpa mempedulikan lainnya, Livi melewati mobil mewah yang ada dihadapannya, lalu mulai berjalan menyusuri jalanan kota. Hampir dua ratus meter ia meninggalkan area perusahaan, ia menghentikan langkah saat ia melihat bayangan seseorang mengikutinya. "Jangan mengikuti ku!"Geramnya.

"Kenapa kau sangat keras kepala sekali." Vero mensejajarkan langkahnya disamping Livi. Lalu mulai berjalan beriringan.

"Ini di luar jam kerja, kamu sudah tidak punya kewajiban menemaniku. Sudah sana pergi!" Livi mendorong lengan Vero untuk menjauh.

"Kau pikir dengan berjalan kaki seperti ini tidak menimbulkan resiko yang besar bagi seorang pewaris tunggal salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Banyak bahaya yang akan mengancam mu Liv." Ucap Vero penuh rasa khawatir.

"Menurut ku ancaman terbesar itu adalah berada di dekat mu seperti ini." Livi memicingkan mata menatap jengkel pada Vero.

Vero tertawa mendengar ucapan Livi. "Kau sama sekali tidak berubah Liv," imbuhnya.

"Sudah sana pergi! Aku ingin jalan sendirian! Livi kembali mendorong tubuh Vero. Dan disaat itu pula, hak sepatunya yang sangat runcing itu terjepit di lubang paving trotoar dan membuat kakinya hilang keseimbangan. Ia akan terjatuh dan mungkin akan terkilir jika saja lengan kokoh dari Vero tak sigap dalam menangkap tubuhnya.

"Kenapa ceroboh sekali. Kau tidak apa apa?" Ucap Vero lalu memapah tubuh Livi agar tegak kembali.

"Astaga..Sepatu kuuu! Livi memekik pelan saat melihat bagian sepatu yang ia kenakan tergores kasarnya paving.

Vero tersenyum, lalu dengan cepat laki laki itu jongkok di depan Livi, ia meraih kaki Livi. "Sepatu semahal ini tidak cocok kau buat jalan di jalanan kasar seperti ini." Ucapnya lalu perlahan mulai mencopot sepatu Livi.

"Lalu aku harus berjalan dimana kalau bukan di jalan?" Tanya Livi sewot, ia sedikit menunduk untuk memegang pundak Vero sebagai tumpuan dirinya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, yang tengah berdiri satu kaki. Menunggu Vero menyelesaikan untuk memeriksa dan mengelap sepatu yang ia kenakan.

"Sepatu mu tidak apa apa. Masih kuat untuk di buat jalan." Vero meletakkan kembali sepatu Livi dan wanita itu hendak memakainya, sebelum kemudian suara klakson dari sebuah mobil yang ia kenali terlihat berhenti di pinggir jalan tak jauh dari tempatnya berdiri.

Vero juga tampak memusatkan pandangannya pada mobil itu. Tatapannya menajam seiring seseorang keluar dari dalam mobil.

"Kak Angga." Ucap Livi lirih saat melihat pengemudi mobil itu adalah suaminya.

1
senja indah
torrr...apa g ada pgn bikin cerita ank kembar mereka hhh
senja indah: penasaran kisah mereka...LunaYumi
total 3 replies
Kaira Caem
aku yg gc nyambung apa cerita nya yaaa,,,kok tiba2 uda nikah aja gimana sih
AZura Hasan
👍👍👍👍👍
AZura Hasan
makin seru aj
AZura Hasan
perasaan gk bisa di paksakan
Regita Regita
kita tidak bisa menghujat atau menyalahkan Angga,karena kita ridak bisa memaksa atau mengatur perasaan oranglain.Angga yang sudah sangat lama berada dalam zona persahabatan dan menganggap Livi sebagai adiknya yang selalu ingin Angga lindungi,mesti merubah perasaannya menjadi cinta kepada Livi sementara Angga sangat mencintai Alya walaupun Angga juga sadar kalau sudah tidak mungkin untuk memiliki Alya.Angga ada pada titik bingung memastikan perasaannya pada Livi. seperti apa yang Akbar bilang pada Alya,seandainya Akbar jadi menikah dengan Livi,mungkin keaadaannya akan sama seperti Angga,Angga akan tetap mencintai Alya walaupun sudah menikah dengan Livi. ya...akhirnya kembali bahwa kita tidak bisa mengatur atau memaksa perasaan orang lain untuk memilih.kita kembalikan kepada Allah yang Maha membolak balikan hati manusia. karena ini dunia halu,kita kembalikan pada AUTHOR yang mengatur segalanya.semangat Author...ceritamu The Best.tetap semangat,semoga makin banyak yang baca.bunga dan kopi meluncur....💖💖💖
Shalsyalala: Huuu terharuuu kalau ada pembaca kayak kakak giniiii❤️❤️
total 1 replies
Regita Regita
sepertinya Vero,Nisya dan Dipta berkomplot untuk mengahancurkan rumahtangga Angga dan Livi...
Regita Regita
ceritanya bagus,tapi yang baca masih sedikit padahal udah lama ya? apa belum banyak yang menemukan judulnya,sama kaya aku yang baru menemukan dan langsung mampir.semangat kak...semoga makin banyak yang baca.
senja indah
ini cerita super keren tpi kok like y g ada ratusan....oh no...tetap semangat berkarya otor soleha
senja indah: aku.baca udah 2 kli torr...superrr keren...tpi sedih bgt...knpa readers y dikit bgt yaaa
total 2 replies
ani suchaeni
bagussss, alur ceritanya
Shalsyalala: makasih kak udah mau baca😍😍
total 1 replies
Fransiska Siba
makan itu kebodohan mu Livia, coba kau tidak memberi cela Vero dlu maka tidak akan sepeti itu
Fransiska Siba
itulah Alya ga peka perasaan org lain, pengen dia yg dimengerti terus
Shalsyalala: Jangan lupa baca kisah Alya juga ya kak 😘
total 1 replies
Fransiska Siba
untung Livia tidak salah dalam pergaulan di luar negeri ya krn tidak mendapat sandaran hidup. ini yg aku suka dari Livia dia bisa membatasi diri dalam bergaul dan dia mempunyai cita2 sederhana yaitu menjadi ibu yg baik dan istri yg baik, dia tidak mau mengulangi kesalahan org tuanya dikemudian hari, dia tidak mau menjadi seperti org tuanya, dia tidak mau anak2 nya merasakan apa yg dirasakan olehnya dlu.
Livia hidup kesepian tanpa arahan org tuanya, tp dia tahu arahan hidupnya menjadi lebih baik
Fransiska Siba
tp jujur aku lebih suka Livia dibandingkan dengan Alya, Alya banyak teman tp kesan murahan dan kurang peka perasaan org sekitarnya.
sedangkan Livia tidak banyak teman tp dia memantapkan hati pada satu hati dan dan dia benar2 pilih yg tulus padanya, meskipun dia harus merelahkan laki2 yg ia cintai bersama sahabatnya.
aku lebih suka sifat Livia
Mega Chai
ortua yg keras n memaksa anak untuk jadi no 1 seperti ortua livia adalah ortua yg akan membuat anak nya frustasi, didunia nyata utk org2 yg sudah jadi ortua,semoga kita semua tidak menjadi ortua seperti ortua livia,mw prestasi anak seperti apa pun kita harus ttp memberikan anak semangat utk menjadi lbh baik lagi bukan malah memaksa anak,krn sebagai anak pun mereka sudah berusaha utk mendapatkan prestasi yg terbaik,kita pun pernah diposisi anak kita dulu sebagai pelajar,
Shalsyalala: hai kakak salam kenal. Makasih ya sudah mau baca karyaku🤗
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
❤️❤️❤️❤️💜💜💜💜💙💙💙💙
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙
Shalsyalala: makasih dukungannya kak
total 1 replies
KIA Qirana
Ayo....kami datang
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!