Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Flashback 1
Terpaksa joko harus mendengarkan semua ucapan pria tua di depan nya, agar ia bisa tahu semua kebenaran yang selama ini ia cari.
Tanpa tahu siapa sebenarnya pria yang ada didepannya ini. Tapi dalam hati nya Joko yakin jika dirinya pernah mengenali nya.
“Jadi seperti ini nak …. “
Flashback ke tahun 2005
“Woy an**ng lah lu pada, pengecut amat sih sama hal kayak gitu doang” ledek seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah tengil menatap keempat teman nya.
“Bukan soal pengecut bro, ini masalahnya kita ditempat baru gak seharusnya kita melanggar apa yang sudah menjadi aturan mereka” tutur salah satu temannya dengan baik baik.
“Betul itu apa kata si agas cuy, kita ini ditempat baru dan lagian kita disini gak bakalan lama cuma 1 bulan buat KKN doang” Timpal nya mencoba melarang teman nya yang terkenal keras kepala dan susah diatur.
Mendengar ocehan dua teman dekatnya ia hanya mencibir bibir nya, tanpa memperdulikan sama sekali ucapan kedua nya.
“Bac*t deh lu pada yaa, ini urusan gua kalau ada apa apa juga bakal gue sendiri kok yang nanggung. Udah deh lu pada gak usah ikut campur”
tegas nya dengan nada tinggi, matanya menatap tajam enggan mendengarkan nasihat teman teman nya.
Mendengar itu keempat nya menghela nafas berat, mereka tahu betul jika dia sudah berkata seperti itu tidak akan ada gunanya melarang dia.
“Tapi Widarto Kusumo, dengerin gua nih setan. Lu mau deketin anak nya si Mak wekar mah dia bukan orang sembarangan di kampung jeruk nipis ini” ujar Fahrul yang tahu maksud tujuan wirdato mendekati gadis mak wekar.
“Alah, bodo amat sih gua mah. Mau tuh nenek sialan orang berpengaruh di kampung ini kek, mau dia begitu kek. Gua cuma mau pacaran sama anak gadis nya” timpal Widarto tetap bersikeras dengan keinginan pribadi nya.
“Ngomong Ama dia bikin capek ginjal Cok” keluh Fahrul mengacak-acak kasar rambutnya yang mulai gondrong.
“Bukan capek ginjal dong, capek hati” tegur Adam.
“Sejak kapan hati bisa capek dah? Emang lu lari?” Tanya Fahrul terkekeh geli melihat ucapan teman nya itu.
“Lah iya, elu juga lah sejak kapan ginjal bisa capek. Kalau capek terus tiba-tiba berhenti yang ada kita mokad” jawab Adam ikut tertawa geli.
Agas yang melihat tingkah random kedua sahabatnya di tengah situasi yang lagi tidak kondusif, membuat tangan nya gatal dan …
Plak …
Plak ..
Agas langsung menampar lengan kedua nya agar berhenti bercanda. Dan benar saja Fahrul dan Adam langsung diam dengan wajah cemberut.
‘ini kalau nikah terus punya anak yang suka ngambek udah pasti nurun bapak nya sih ini’ batin agas melihat langit mulai malam.
“Udah yu nongkrong nya, balik lagi ke penginapan. Udah mau malam tau ini” ujar agas mengajak kedua sahabatnya agar ikut balik ke penginapan.
“Gua sama Pedro bakal … “
“Gak gua ikut lu nongkrong sampe malam, gua mau balik sama mereka” Pedro langsung memotong ucapan Widarto. Dia tau temen nya itu punya rencana licik jika ia mengikuti kemauan nya.
Mendapatkan penolakan itu Widarto hanya bisa tersenyum kaku, ia mengepalkan tangannya dengan kuat.
“Ouh, yaudah sana pergi duluan aja. Gua bakal nyusu nanti belakangan” Widarto melihat jelas keempat temannya sudah kembali menuju penginapan.
Langit mulai malam dan adzan magrib pun berkumandang dengan merdu dari toa masjid.
Dan untungnya Widarto bisa berteduh di sebuah gubuk tua yang memang berada dekat sekali dengan gardu masuk kampung.
Widarto melihat sekitar nya yang begitu sepi, tanpa ada penerangan lampu yang terang.
“Loh, kok kamu disini? … Kenapa gak pulang ke penginapan aja nak?” Tanya seorang bapak-bapak yang keluar dari gubuk tua itu.
“Iya pak, ini mau balik ke penginapan nanti pas adzan magrib selesai berkumandang” jawab
“Masuk dulu kalau gitu, gak baik magrib seperti diluar” bapak tersebut dengan ramah mempersilahkan Widarto masuk kedalam gubuk tua nya.
Dengan senang hati Widarto masuk kedalam gubuk tua tersebut, ruangan nya hanya di sekat triplek dari anyaman bambu.
Satu jendela dekat pintu masuk, satu jendela di dinding sebelah kiri dan pintu dibelakang.
‘ada pintu lagi di situ? … Mungkin buat ke kebun belakang kali yah. Kan disekitar gardu semuanya masih hutan dan kebun gitu’. Batin Widarto tidak begitu memperdulikan hal tersebut.
Selalu cemungutt buat authornya yaaa untu up bab selanjutnyaa✨️