Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Matahari baru saja terbenam, menyisakan semburat jingga di langit Jakarta, namun semangat Arunika justru baru saja mencapai puncaknya. Masih dengan sisa riasan wisudanya yang cantik—meski toganya sudah ia ganti dengan kaos merchandise konser dan celana jins yang nyaman—ia menarik tangan Thomas dengan tidak sabar di area parkir sebuah stadion terbuka.
"Mas ayo... Keburu penuh nanti tempat duduknya! Kita dapet section festival, kalau telat dikit kita bakal di paling belakang dan cuma bisa liat punggung orang!" seru Arunika sambil setengah berlari.
Thomas, yang masih mengenakan kemeja putihnya namun dengan kancing atas yang sudah dibuka dan lengan digulung, menatap pemandangan di depannya dengan sangsi. Ribuan anak muda dengan pakaian warna-warni, atribut lampu-lampu berkelap-kelip, dan suara dentum sound system yang mulai terdengar dari kejauhan membuatnya sedikit pening.
"Kamu serius mau nonton ini, Nika?" tanya Thomas, suaranya hampir tenggelam oleh suara klakson kendaraan. "Ini ramai sekali. Kita bisa makan malam romantis di hotel tadi, atau setidaknya nonton di VIP yang ada kursinya."
Arunika berhenti mendadak, berbalik dan menatap suaminya dengan tatapan 'protes'. "Ih, Mas! Makan malam di hotel itu udah biasa, tiap hari juga bisa. Ini tuh perayaan wisuda aku! Aku mau seru-seruan."
Arunika mendekat, merapikan kerah kemeja Thomas yang sedikit berantakan. "Serius lah, Mas. Biar Mas yang jiwanya milenial itu nggak monoton... Biar Mas ngerasain gimana rasanya jadi anak muda lagi, nggak cuma ngurusin saham sama rapat doang."
Thomas menghela napas panjang, namun tangannya tetap menggenggam erat jemari Arunika agar tidak terlepas di tengah kerumunan. "Milenial? Aku memang milenial, Nika. Tapi aku tipe milenial yang lebih suka ketenangan."
"Nggak ada tenang-tenang hari ini! Ayo!"
Begitu mereka melewati gerbang pemeriksaan dan masuk ke area konser, Thomas merasa seperti masuk ke dimensi lain. Cahaya lampu panggung yang megah menyapu seluruh stadion, menciptakan atmosfer yang luar biasa enerjik.
"Mas, sini! Di sini agak lowong!" Arunika menarik Thomas ke tengah kerumunan.
Suara musik pembuka mulai menggelegar. Bass-nya terasa bergetar sampai ke ulu hati. Arunika mulai melompat-lompat kecil, mengikuti irama musik dengan wajah yang sangat bahagia.
"Mas! Mas tahu lagu ini nggak?" teriak Arunika di telinga Thomas agar terdengar.
Thomas menggeleng, tapi ia tidak bisa menahan senyum melihat binar mata istrinya. "Tidak! Tapi iramanya lumayan!"
"Ini lagu tentang jatuh cinta, Mas! Dengerin liriknya!" Arunika mulai bernyanyi dengan lantang, meski suaranya kalah oleh ribuan penonton lainnya.
Thomas berdiri di belakang Arunika, memposisikan dirinya seperti benteng. Kedua tangannya melingkar longgar di pinggang Arunika, menjaga agar orang-orang yang terlalu bersemangat tidak menabrak istrinya. Di tengah kebisingan itu, Thomas justru menemukan kedamaian tersendiri dengan memperhatikan puncak kepala Arunika yang sesekali bersandar di dadanya saat ia lelah melompat.
"Mas, haus nggak?" tanya Arunika setelah tiga lagu berturut-turut. Wajahnya berkeringat, namun senyumnya makin lebar.
"Sedikit. Kamu tunggu di sini, aku cari minum," ujar Thomas.
"Jangan! Nanti Mas ilang! Di sini aja, aku bawa botol minum di tas kok," Arunika merogoh tas kecilnya dan memberikan botol air mineral pada Thomas.
Thomas meminumnya, lalu memberikan sisa airnya pada Arunika. Saat Arunika sedang minum, Thomas diam-diam memperhatikan sekeliling. Ia melihat banyak pasangan yang juga menonton, namun ia merasa dialah yang paling beruntung karena memiliki "anak kecil" yang sangat ekspresif ini di sampingnya.
Tiba-tiba, lampu panggung meredup. Suasana menjadi lebih tenang saat sang penyanyi mulai menyanyikan lagu ballad yang melankolis. Ribuan orang serentak menyalakan flashlight dari ponsel mereka, menciptakan lautan bintang di dalam stadion.
"Mas... liat deh, bagus banget," bisik Arunika. Ia membalikkan badannya, melingkarkan tangannya di leher Thomas.
Thomas menatap pantulan cahaya lampu di mata Arunika. "Iya, bagus sekali."
"Makasih ya, Mas, udah mau nemenin aku ke sini. Aku tahu Mas pasti risih sebenernya sama keramaian begini," ucap Arunika tulus. "Tapi ini kado wisuda paling berharga buat aku. Bisa ngerayain hal yang aku suka sama orang yang aku sayang."
Thomas tertegun sejenak mendengar kata 'sayang' yang diucapkan Arunika begitu alami, tanpa ada embel-embel akting atau tekanan dari siapa pun. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Arunika lama di tengah riuhnya suara penonton yang ikut bernyanyi.
"Apa pun untukmu, Nika. Selama kamu bahagia, berdiri di tengah ribuan orang pun aku tidak keberatan," balas Thomas lembut.
"Eh, Mas... Mas tadi bilang apa? Nggak kedengeran!" goda Arunika, sengaja ingin mendengar Thomas mengulanginya.
Thomas terkekeh, ia menarik hidung Arunika gemas. "Aku bilang, suamimu yang 'biasa saja' ini mulai menikmati konsernya!"
"Hahaha! Tuh kan, asik kan? Makanya jangan kaku terus!"
Acara berlanjut ke lagu yang lebih up-beat. Thomas, yang tadinya hanya diam, mulai ikut mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama. Ia bahkan sesekali ikut mengangkat tangannya saat Arunika memintanya melakukannya.
"Mas! Ikutin gerakannya! Tangan ke atas, ke samping!" perintah Arunika layaknya instruktur senam.
"Nika, ini memalukan kalau ada klienku yang lihat," keluh Thomas, namun ia tetap melakukan gerakan tangan yang diminta Arunika dengan wajah pasrah yang lucu.
"Nggak ada klien di sini, Mas! Adanya cuma aku sama Mas Thomas!"
Malam itu, di bawah langit Jakarta dan dentuman musik konser, Thomas menyadari bahwa Arunika telah berhasil mendobrak dinding-dinding kaku dalam dirinya. Ia tidak lagi peduli pada citra CEO yang harus selalu serius. Bersama Arunika, ia merasa lebih muda, lebih hidup, dan lebih berani untuk menunjukkan sisi dirinya yang paling santai.
Saat konser berakhir dan mereka berjalan menuju parkiran dengan kaki yang terasa pegal, Arunika menyandarkan kepalanya di bahu Thomas.
"Capek ya?" tanya Thomas sambil merangkul bahu istrinya.
"Heem... capek tapi seneng banget. Besok kita bangun siang ya, Mas? Jangan ada jadwal meeting pagi-pagi," pinta Arunika.
"Jadwalku besok adalah mengurus istriku yang baru wisuda ini. Tidak ada rapat, tidak ada berkas," jawab Thomas mantap.
Arunika mendongak, matanya berbinar. "Beneran?"
"Beneran. Dan mungkin kita bisa mulai membicarakan soal 'kucing kedua' kalau kamu mau."
"MAS THOMAS! SERIUS?!" Arunika langsung memeluk Thomas erat di tengah keramaian parkiran, membuat beberapa orang menoleh iri pada pasangan yang tampak begitu serasi itu.
Malam perayaan wisuda itu berakhir dengan sempurna. Bukan dengan kemewahan hotel berbintang, tapi dengan keringat, suara yang serak karena bernyanyi, dan pemahaman baru bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan di tempat yang paling tidak terduga—seperti di tengah konser musik yang bising, selama orang di sampingmu adalah orang yang tepat.
gagal
coba lagi dong 🤭