Adeeva harus rela menikah dengan pria yang bernama Arion demi membantu perusahaan ayahnya yang sedang di ambang kehancuran.
namun di balik itu Adeeva bisa bernafas lega karena biaa keluar dari tempat yang di bakalan rumah namun menurutnya adalah neraka.
akankah Adeeva biaa mendapatkan kebahgiaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
023
Typo masih berkeliaran di setiap sudut cerits.
__________
Adeeva segera melepaskan ciumannya, menatap mata Arion sebentar lalu kembali menatap Julian.
"Aku mencintai Arion, dan kami telah menikah" seru Adeeva.
Julian menatap Arion tidak suka.
"Jangan bercanda Deva, aku tahu kau sangat mencintaiku bukan" Julian memegang kedua bahu Adeeva.
Arion yang melihat itu lagsung menghampiri Adeeva dan melepaskan tangan Julian dari Adeeva.
"Kau tidak mendengar apa yang istriku katakan"
Julian menatap Arion. "Ini urusanku, jangan ikut campur" seru Julian.
Arion menarik Adeeva kedalam pelukannya. Menatap Julian dengan tatapan permusuhan.
"Sebaiknya kita pulang, aku sudah tidak berminat untuk berjalan-jalan" seru Arion dingin. Adeeva hanya mengangguk.
Arion membawa Adeeva pergi menuju mobilnya, meninggalkan Julian yang masih berteriak pada mereka berdua. Bahkan beberapa orang yang ada di sana menatap Julian.
Dalam perjalanan tidak ada yang berbicara, baik Arion maupun Adeeva.
Adeeva masih memikirkan tentang Julian. Mengapa pria itu kembali hadir di hidupnya. Dan sekarang bahkan memohon padanya.
Apa Julian lupa jika dulu dia lebih memilih Amel daripada Adeeva.
FlashBack.
Adeeva menatap dua orang yang sedang berpelukan di depan gerbang rumahnya. Adeeva tahu itu kakak tirinya Amel namun Adeeva tidak melihat sosok pria yang sedang mengeluk Amel lembut.
Hingga sebuah cahaya mobil menghindari mereka. Itu Mobil Diva.
Berapa terkejutnya Adeeva ketika melihat pria tersebut adalah pria yang di cintainya. Pria yang menjadikan Adeeva untuk kuat bertahan.
Adeeva berjalan menghampiri mereka bertiga dengan Nafas yang memburu. Kesal marah dan sakit hari bercampur menjadi satu.
"Julian" seru Adeeva, dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi. Adeeva butuh penjelasan namun semua sikap Julian yang berubah akhir-akhir ini sudah menjelaskan semuanya.
"Ah, kau ada di rumah Rupanya" seru Amel santai.
Adeeva menatap Amel marah. "Kenapa kau melakukan ini Kak, kau tahu jika Julian adalah kekasihku bukan" deru nafas Adeeva semakin tidak terkontrol.
"Aku tahu, namun tanyakan sendiri pada kekasihku, oh maksudku mantan kekasihmu ini mengapa dia bisa bersamaku" seru Amel.
Adeeva menatap Julian yang menatap Adeeva dingin. Bahkan di mata Julian tidak ada rasa cinta seperti dulu.
"Apa yang dikatakan Kak Amel itu benar, dan yang aku lihat barusan itu benar " Adeeva mencoba menahan isak tangisnya.
Julian tersenyum remeh. "Ya itu benar, Amel kekasihku, aku bosan dengan hubungan kita dan tentunya aku bosan dengan mu" seru Julian.
"Bahkan setelah sekian lama"
"Sudahlah Deva, hubungan kita telah berakhir dan aku harap kau tidak mengganggu hubunganku dengan Amel"
"Apa salahku pada mu dan kak Amel. Mengapa kalian tega padaku" tangisnya mulai pecah. Adeeva tidak bisa menahannya lagi.
Amel menatap Adeeva dengan rasa jijik. "salah mu adalah mendapatkan sedikit kebahagiaan di keluarga ini, dan aku tidak menyukainya. kau adalah parasit di keluargaku." bentak Amel.
Amel mendorong tubuh Adeeva hingga terjatuh, sedangkan Julian hanya diam saja tidak berniat untung melerai.
Flashback off
Adeeva menundukan kepalanya menyeka Air mata yang mulai keluar.
"Kau tidak perlu menangisai orang brengsek itu, atau kau masih mencintainya " seru Arion dengan nada dingin.
Adeeva melirik kearah Arion. " tidak" seru Adeeva.
"Lalu mengapa kau menangis "
"Aku tidak menangis ini hanya kemasukan debu" kilah Adeeva.
Arion kembali menatap lurus pada jalan raya.
"Tadi kau melanggar kesepakan kita, dan kau harus mendapatkan hukuman" seru Arion.
Adeeva menatap Arion tidak percaya. " aku sudah meminta tolong padamu"
"Tapi aku belum menyetujuinya"
"Kau sangat perhitungan "
"Aku bukan perhitungan, namun kompeten. Kau melanggar perjanjian kita dan aku hanya memberi tahu itu"
"Terserah kau saja, aku sedang tidak ingin berdebat"
P.s
Selamat membaca. Buat kalian yang selalu minggu cerita aku selalu jaga kesehatan ya.
See u