Genre: Romance, Angst.
Warning: Novel ini mengandung tema
dan muatan dewasa (21+). Juga
mengandung cerita yang
menyesakkan dada. Bagi
pembaca yang belum cukup umur
atau tidak nyaman dengan
konten tersebut,
dianjurkan tidak membacanya.
Follow ⬇️
ig : @aegiyaa5
wattp@d : @aegiyaa
***
"Bukankah ini yang kau inginkan, Yoon Ji? "
Sehun memiringkan kepala sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Matanya sudah dipenuhi kabut gairah yang disertai emosi menggelora. Area sensitifnya sudah menegang hingga dia butuh pelampiasan dengan segera. Entakan keras menusuk dari daging tak bertulang yang sudah berdiri menantang sejak tadi, akhirnya menjadi wujud nyata dari semua ancaman Sehun yang tak pernah main-main pada istrinya yang kini sudah mulai kurang ajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aegiyaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Confession
Sehun tak bereaksi. Membalas tidak, menolak pun tidak. Matanya lurus menatap ke depan, dan hanya membiarkan Sejeong menangis terisak di punggungnya.
" Aku sangat merindukanmu, Sehun."
" . . . . . "
" Aku. "
Sejeong semakin mengeratkan lilitan tangannya.
" Aku tidak pernah sekalipun mencoba berpaling darimu. Aku tidak bisa untuk tidak mencintaimu, Hun~ah. Aku hanya."
" . . . . . "
" Masih sangat mencintaimu. Dari dulu. Sampai sekarang. "
Sejeong mencium punggung Sehun bertubi-tubi, lalu kembali membenamkan wajahnya di sana. Tubuh yang sangat menenangkan itu, Sejeong ingin terus berada di dekatnya. Juga kalau bisa, gadis itu ingin waktu berhenti di detik ini. Agar dia tak perlu lagi merasakan kehilangan yang begitu berat.
" CUKUP !!! "
Sehun menyentak tangan Sejeong yang melingkar erat di tubuhnya hingga gadis itu terdorong ke belakang. Kaget. Sehun berbalik menghadapnya. Menatap Sejeong dengan tatapan membunuh yang mampu membuat tubuh gadis itu bergetar. Tangisnya semakin deras. Sehun sama sekali tak bisa mengasihaninya.
" Kau pikir kau siapa? Omong kosong apa yang sedang kau katakan, hah? Dulu kau bilang kau tidak lagi mencintaiku. Kau mencintai oranglain! Kau masih ingat apa yang bibirmu katakan padaku, bukan? Atau kau pura-pura lupa ??? Kau tahu sakitnya aku waktu itu? Disaat aku sangat mencintaimu, kau membuangku. Jadi jangan salahkan aku juga kalau sekarang aku pun membuangmu!"
Amarahnya meledak. Dan itu adalah tumpukan dari amarah yang dari kemarin ia tahan dan sekarang ia lampiaskan kepada gadis yang tengah menangis sesenggukan dihadapannya. Sejujurnya tanpa Sejeong menjelaskan ini itu pun Sehun sudah tahu. Ia tahu Sejeong bukan meninggalkannya karena tak cinta lagi. Mencintai laki-laki lain itupun hanya alasannya saja. Karena menurut sumber yang bisa dipercaya, Sejeong tak pernah menjalani hubungan dengan laki-laki manapun pasca putusnya hubungan mereka. Sejeong pun orang yang tertutup, ia tak memiliki banyak sahabat perempuan ataupun laki-laki yang bisa Sehun curigai.
Hanya saja Sehun tak mau mencari alasan sesungguhnya yang membuat Sejeong bersikap demikian. Alasannya mudah. Dia sudah jatuh pada pesona Yoon Ji yang secara tak sengaja ia temukan. Sehingga ia tak merasa butuh lagi untuk tahu informasi terbaru tentang ex-girlfriend-nya. Sikap dingin, angkuh, dan kejam yang ia tampilkan pada Sejeong, semata-mata untuk mematahkan perasaan Sejeong sendiri agar ia berhenti mencintai dirinya. Karena kalau tidak begitu, gadis itu akan semakin terluka. Atau... Sehunnya yang akan bersikap tak tega nantinya.
Lebih baik jangan bermain api daripada terbakar.
" Sehun. Sehun~ah. Tolong jangan seperti ini. Ma-af... Hiks... Aku minta maaf padamu. "
" APA YANG KAU LAKUKAN SEHUN !!! "
Sang Hyun yang awalnya ingin mencari keberadaan anak kandungnya, bergegas berlari ketika mendengar keributan yang berasal dari ruang kerja Sehun. Dan ia sangat marah ketika anak angkatnya itu membentak dan mendorong kasar Sejeong hingga ia terhuyung dan menangis sampai seperti itu.
Sang Hyun melangkah lebar ke arah Sehun dan...
" PLAAAKK. "
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Sehun. Dan apa yang Sang Hyun lakukan itu membuat Sejeong berteriak sambil menutupi wajahnya. Dada pria baya itu naik turun karena emosi yang memuncak. Ia tak terima Sejeong diperlakukan kasar seperti tadi. Dan menurutnya Sehun sangatlah kurang ajar. Memang. Sang Hyun sempat mendengar apa yang mereka ributkan sebelum ia sampai di tengah-tengah mereka dari luar.
" Beraninya kau membentaknya seperti itu ! Dia hanya bilang kalau dia mencintaimu. Dan kau sekasar itu? Dasar anak kurang ajar! "
Sehun tak habis pikir, kenapa ayahnya membelanya sedemikian rupa? Ternyata dugaannya selama ini benar. Ayahnya mencintai Sejeong. Itu alasan konkret yang menyebabkan perubahan sikap yang begitu dramatis pada diri ayahnya.
" KALAU DIA MENCINTAIKU LALU AKU HARUS APA, HAH ??? AKU HARUS MENGATAKAN CINTA JUGA PADANYA PADAHAL DIA TAHU AKU SUDAH MEMILIKI YOON JI !!! APA AKU HARUS BERKATA AKU JUGA MENCINTAINYA??? ITU YANG KAU INGINKAN??? "
" . . . . . "
Sang Hyun tak langsung menjawab. Yang paling dominan disana sekarang adalah deru napas yang saling memburu dan suara tangisan seorang gadis. Sang Hyun mencoba menata emosinya yang tak terkendali agar lebih tenang.
" Aku hanya tak suka kau bersikap kasar pada Sejeong. "
" Oh, sangat manis. "
Sehun bertepuk tangan dan tertawa mengejek
" Kau tidak suka aku bersikap kasar pada wanita yang kau cintai bukan? Mengaku sajalah. Bahwa sebenarnya kau tergila-gila padanya. Benar begitu??? Ck...ck...ck... Kau harus sadar umur, Ayah. Aku pun tak sudi jika dia menjadi ibu tiriku. "
" KAU SUNGGUH KURANG AJAR SEHUN!!! IYA AKU MEMANG MENCINTAINYA KARENA DIA ITU PUTRI KANDUNGKU. "
Bersamaan dengan teriakannya yang semakin meninggi, tangan Sang Hyun pun ikut terangkat tinggi ingin mengulangi tindakannya tadi. Tangan Sang Hyun yang ia ayunkan lagi ternyata tidak mendarat di pipi Sehun, melainkan mendarat di pipi kanan seorang gadis yang dengan sigap menjadikan dirinya tameng di depan Sehun.
" JANGAN PUKUL DIA ... AAARRGGGHH... "
Tubuh kecil Sejeong yang beradu dengan tangan kekar Sang Hyun terpelanting keras membentur kursi hingga ia tersungkur.
" Sejeong!!! "
Teriak kedua laki-laki yang berada di ruangan itu. Dan disaat itulah Yoon Ji datang. Matanya semakin membulat sempurna saat melihat Sejeong yang tak sadarkan diri di lantai. Suara keributan yang terdengar hingga ke kamar Sejun memancing Yoon Ji untuk turun. Dan pemandangan yang tersuguh didepannya sungguh tak kondusif. Sang Hyun panik. Dahi Sejeong terluka akibat terkena ujung kursi dan hidungnya untuk kesekian kalinya kembali berdarah. Sang Hyun berlari mengangkat tubuh Sejeong menuju mobilnya.
Yoon Ji menatap bingung kepada Sang Hyun dan Sehun. Mereka terlihat sangat kacau. Di situasi genting ini akhirnya Yoon ji memutuskan untuk mengekori ayah mertuanya ke luar untuk membantu mengurus Sejeong dan membiarkan suaminya sendiri sementara waktu. Sedangkan Sehun, ia masih terdiam. Tak bergeming.
Apa benar yang ia dengar? Sang Hyun mengatakan dengan sangat lancar bahwa Sejeong itu anak kandungnya. Apa itu berarti... mereka kakak adik? Seperti itukah?
Ataukah itu hanya kata-kata bulshit yang keluar dari mulut pria tua itu karena marah. Kalau mereka saudara kandung, kenapa ayahnya tak pernah cerita dari dulu? Apa karena ini juga Sang Hyun dulu menghalangi mereka untuk saling jatuh cinta? Dan sekarang mati-matian membelanya. Dalam hal ini, ia merasa dipermainkan dan dibohongi mentah-mentah oleh ayahnya sendiri.
.....***My Regret***.....
" Sebenarnya ada apa Sehun? "
Yoon Ji memeluk Sehun dari belakang. Setelah dia mengantar Sejeong pergi ke rumah sakit, Sang Hyun menyuruhnya untuk pulang dan mempercayakan Sejeong padanya. Yoon Ji langsung menurut karena dia pun sudah gatal untuk mengetahui apa yang terjadi dan apa yang mereka ributkan. Ia ingin suaminya itu menceritakan semuanya padanya.
" . . . . . "
" Sehun~ah... Kau masih marah kepadaku karena aku pulang telat dua hari yang lalu? Aku minta maaf, sayang. "
" . . . . . "
" Aku janji aku tak kan mengulanginya. "
Yoon Ji menangis tanpa suara. Ia sedih diacuhkan oleh suaminya sendiri. Dan Yoon Ji tak suka Sehun yang seperti ini. Merasakan punggungnya basah, pria itu akhirnya berbalik dan menatap Yoon Ji. Istrinya itu menangis. Dan itu karenanya. Tatapan matanya mulai melembut. Di tangkupnya pipi Yoon Ji dengan kedua tangannya dan menghapus airmatanya yang mengalir dengan ibu jari. Sehun menyesal.
" Maaf sayang. Aku membuatmu menangis. Aku hanya sangat cemburu padamu kemarin."
Sehun menyisipkan rambut yang menghalangi wajah Yoon Ji dari penglihatannya ke telinga gadis itu. Dikecupnya dahi Yoon Ji mesra dan dalam. Mata Yoon Ji terpejam. Sehunnya telah kembali.
" Aku cemburu saat kau diantar oleh laki-laki lain yang tak aku kenal. Itu membuatku hilang kendali dan menyakitimu. "
Gadis itu membuka matanya dan menatap Sehun.
" Aku lupa cerita. Dia Kim Taehyung, teman dari Jun Myeon tunangannya Jennie. Aku tak sengaja bertemu dengannya di Tesco. Dan dia menawariku bantuan karena aku cerita kalau aku belum begitu mahir menyetir. Aku takut jalanannya licin. Yaaahh seperti itu kejadiannya. Sebenarnya ada satu mobil lagi yang mengikutiku di belakang. Taehyung meminta bantuan temannya yang rumahnya tak jauh dari Tesco agar ia membawa mobil Taehyung. Setelah Taehyung mengantarku pulang, dia pindah ke mobilnya sendiri. Cerita lengkapnya seperti itu. "
Senyumnya mengembang. Ternyata suaminya itu cemburu dengannya. Dan bodohnya ia tak cepat sadar. Sehun mengusap kepala Yoon Ji lembut lalu membawanya kembali ke pelukan.
" I Love You sayang. Maafkan aku yang sudah salah sangka. Lain kali ceritakan padaku semuanya. "
...My Regret...
" Se... Hun... Sehun... "
Entah sudah berapa kali Sejeong mengigau memanggil nama Sehun dalam tidurnya. Ia bahkan mendapati air mata anaknya turun dari sudut matanya. Sang Hyun terpukul. Sejeong terlihat sangat menderita sekarang. Dan anaknya menderita karena cintanya yang amat sangat pada Sehun. Sang Hyun tak mau Sejeong terus-terusan seperti ini selama hidupnya. Sakitnya karena Sehun, berarti obatnya pun ada pada Sehun. Dan Sang Hyun sudah menyusun rencana untuk menolong kehidupan putrinya.
. . . . .