Siapakah gadis kampung bernama Lily ini, sehingga Eko Barata memberikan syarat kepada tiga puteranya? Untuk mendapatkan hak waris kekayaan Barata, salah satu dari mereka harus berhasil menikahi Lily.
"Ingat! Papa tidak akan memberikan kalian warisan jika salah satu dari kalian tidak bisa menikahi Lily, camkan itu!" kata Eko Barata tegas.
Syarat yang diberikan Eko Barata terdengar konyol bagi banyak orang. Mereka menganggap Lily tidak pantas menjadi menantu keluarga Barata. Namun, ketika satu per satu kemampuan hebat Lily terungkap, dia berhasil membungkam semua mulut yang menyepelekannya.
Siapa sebenarnya Lily, dan apa rahasia di balik kehebatannya? Temukan jawabannya dalam "Lily: Rahasia Gadis Kampung".
Selamat membaca ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuhume, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
**Esok hari di rumah sakit Barata.**
Lily datang diam-diam membawa sebuah sampel rambut miliknya dan milik Agam, dia ingin membuktikan apakah benar mereka benar-benar adalah saudara atau tidak. Dia mengisi seluruh daftar persyaratan dan akhirnya pergi begitu saja. Hal itu juga Lily lakukan di rumah sakit yang berbeda, untuk menghindari asumsi Nyonya Helsi jika hasilnya dipalsukan hanya karena rumah sakit pilihan Lily bukanlah Barata.
"Wanita tua itu tidak akan mengelak lagi, jika hasil dari dua rumah sakit ini menunjukan bahwa kami bukanlah saudara kandung dan Ibuku bukanlah wanita sembarangan yang seenak jidatnya dia tuduh begitu saja!" gumam Lily, hatinya penuh dengan tekad.
Tanpa sengaja Bagas melihat Lily melintas di rumah sakit miliknya, dia segera meminta seseorang mengecek CCTV dengan ciri-ciri warna baju yang dikenakan oleh Lily. Tidak berselang lama, rekaman CCTV masuk ke dalam ponsel Bagas dan dia melihat ke mana arah Lily saat itu.
"Apa yang dia lakukan di sana?" gumam Bagas, penuh rasa ingin tahu.
Bagas berjalan ke ruangan tersebut dan Menemui salah satu dokter yang sedang bertugas dan memperlihatkan foto Lily kepadanya.
"Apakah dia baru saja dari tempat ini?"
"Benar tuan," timpal dokter tersebut, sedikit ragu.
"Apakah aku boleh melihat laporannya?" tanya Bagas dengan nada otoritatif.
Dengan cepat dokter tersebut memberi laporan yang ditulis Lily beserta sampel rambut yang diberikan oleh Lily. Sebelum Bagas benar-benar membaca laporan tersebut, dia meminta dokter itu keluar dari ruangan untuk ke ruangan yang lain mengambil laporan hasil operasi miliknya yang ketinggalan.
"Apakah permintaanku berat?" tanyanya dengan tegas.
"Ti-tidak tuan, baik saya akan ambilkan," ucap dokter tersebut kemudian berlalu, wajahnya pucat.
Seluruh dokter di rumah sakit Barata tahu siapa yang berani melawan Bagas, yang menjadi direktur rumah sakit, terlebih lagi dia adalah anak dari keluarga Barata. Perintahnya sangat penting.
Bagas kemudian membaca laporan milik Lily dan alasan di balik laporan itu tertulis jelas untuk mengetahui hubungan pemilik rambut tersebut, apakah saudara atau bukan.
"Pasti ini milik Agam, ha ha ha," gumam Bagas dengan senyum sinis.
"Aku tidak akan melepaskan kalian," lanjutnya, kemudian mengambil beberapa lembar rambut miliknya dan mengganti rambut milik Lily di dalam sampel tersebut.
Bagas tersenyum sinis, dia akan menjalankan rencananya selanjutnya. Tiga hari lagi hasilnya akan keluar, Bagas tidak akan sabar menunggu hari itu, hari kehancuran Agam, karena pembalasan yang paling menyakitkan adalah ingin memiliki sesuatu yang tidak bisa dimiliki.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan Lily, Agam pun tidak bisa, aku tidak akan membuat kalian bersatu, ha ha ha."
Bagas menyimpan sampel tersebut dengan senyum licik dan meninggalkan ruangan.
Tiga hari berlalu, saat yang dinanti akhirnya tiba. Lily bertekad membuktikan bahwa ucapan Nyonya Helsi selama ini salah. Selama tiga hari, Lily berusaha menahan diri agar tidak terpancing oleh ucapan Nyonya Helsi, meskipun terkadang ia sangat ingin membalasnya.
Lily menghindar sejauh mungkin, tetapi sepertinya Nyonya Helsi selalu mencari cara untuk memancing Lily agar melawan, menjadikannya senjata baru untuk membuat anggota keluarga Barata yang lain membenci Lily. Kehadiran Sera yang setiap hari berusaha mencari perhatian Agam dan Helsi, membuat Lily semakin muak.
"Kenapa belum sampai juga?" gumam Lily di kamarnya, berjalan mondar-mandir tanpa henti.
Akhirnya, karena lelah, ia berjalan ke ruang tamu. Di sana, seluruh anggota keluarga Barata, termasuk Agam, sedang berbincang-bincang.
"Lily... ayo sini, kita sedang berbincang mengenai bisnis baru Paman," ucap Eko ramah.
Lily tersenyum santai dan berjalan bergabung dengan mereka. Wajah Helsi menajam dengan tatapan sinis, mencari celah untuk memancing keributan.
"Kau tidak sopan sekali, seharian di kamar saat semua orang sedang sarapan," sindir Helsi.
"Sudahlah, hanya perkara sarapan, kenapa harus begitu marah," ucap Eko kepada istrinya, mencoba meredam ketegangan.
"Kak Lily, sedari tadi kakak melihat ke arah pintu. Apa yang kakak tunggu?" tanya Daren penasaran.
Lily mengangguk, menjelaskan bahwa ia menunggu kedatangan Pak Edi, sopir kepercayaan keluarga Barata, yang membawa dokumen penting dari rumah sakit Barata dan rumah sakit lainnya.
"Kau sakit?" tanya Eko Barata khawatir.
Lily menggelengkan kepala, tersenyum tipis. "Sebentar lagi kalian akan mengerti," ujarnya penuh misteri.
Bagas mendengar itu tersenyum sinis, menunggu momen kehancuran Agam saat mengetahui bahwa wanita yang dicintainya adalah adik kandungnya sendiri.
"Ha ha ha... Agam, kali ini aku menang," batin Bagas penuh kemenangan.
"Ada apa ini? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Eko kebingungan.
Daren mengangkat bahu, menunjukkan ketidaktahuan, sementara Agam hanya terdiam. Bagas sibuk melap kacamata, menyembunyikan kegelisahannya. Tiba-tiba terdengar langkah seseorang, Pak Edi muncul membawa tiga amplop yang berisi hasil tes DNA milik Lily dan Agam.
Lily berdiri dari tempatnya, meraih amplop tersebut. Amplop itu masih tertutup rapi, hasilnya belum diketahui siapapun. Lily menjelaskan bahwa di dalam amplop tersebut, adalah hasil tes DNA dari tiga rumah sakit, termasuk rumah sakit milik Barata.
"Bibi Helsi, mulai saat ini Bibi harus berhenti menghina ibuku dan juga berhenti mengatakan bahwa ibuku memiliki hubungan dengan Paman," jelas Lily dengan tegas, tatapannya dingin menusuk ke arah Helsi.
"Apa??!" Eko terkejut dan berdiri dari tempatnya.
"Benar kan Papa? Tidak usah mengelak, mama sudah tahu semuanya!" Helsi menyela.
Eko kembali duduk, menyenderkan tubuhnya di kursi, memijat kepalanya yang terasa berat. Ia sering menjelaskan kepada istrinya bahwa semua ucapannya itu hanya praduga, tidak ada hal yang seperti itu.
"Bagaimana bisa kau menjamin, semua hasilnya tidak dipalsukan? Hah!?" Helsi menantang.
BENAR BENAR HP AJAIB,,MERK APA YA KIRA KIRA HPNYA THORRR?????
ngak bertele2
sangat memuaskan BG yg baca 🩵👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🙏🏻