Irene, sosok gadis biasa yang begitu mencintai teman satu sekolahnya yang bernama White. Bagi Irene, White adalah cinta pertamanya. Rumah kedua baginya, namun nyatanya rumah kedua yang dianggapnya dapat membuat hidupnya lebih baik, nyatanya sama seperti rumah pertamanya.
Irene selalu rindu akan rumahnya yang dulu pernah ia rasakan dengan begitu nyaman dan tentram. Namun akankah ia bisa kembali merasakan dan melepaskan rasa rindunya pada rumah yang diimpikannya selama ini? Ataukah, ia tidak akan selamanya dapat melepas kerinduannya pada rumah impiannya itu.
“Aku rindu rumah yang tentram dan damai. Tapi, apakah aku masih bisa merasakan rumah seperti itu? Rumah yang hanya ada di dalam mimpiku,” -Irene Sachiara-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Mommy
Hari berganti hari, kini Irene dan yang lainnya sudah selesai melaksanakan ujian nasional. Tidak sedikit para pelajar yang merasa gelisah, deg-degan, cemas, dan bahkan stres saat harus menghadapi ujian di sekolah. Irene sendiri pun juga merasakan hal yang sama dengan teman-temannya.
Beruntung Thomas, Anita, Reksa dan Cala memberikan semangat untuknya selama Irene melaksanakan ujian sekolah. Mendapat dukungan dan motivasi dari keluarganya sangat berpengaruh dalam dirinya. Semangatnya kembali saat mengingat keluarganya selalu mensupport dirinya.
Kini Irene tinggal menunggu kabar kelulusan saja. Sesuai janji Anita pada Irene dan yang lainnya, kalau malam minggu ini mereka akan berkumpul sambil barbeque di rumah mereka.
Anita sejak pagi tadi sudah terlihat sangat sibuk. Beruntung ada Oma Sari dan Opa Rian yang ikut membantu mempersiapkan semuanya. Thomas dan Reksa pun tak kalah hebohnya, mereka juga ikut serta membantu Anita mengatur tempat agar mereka nyaman menikmati malam minggu ini dengan pesta kecil-kecilan.
“Nak, kamu sudah memberitahukan teman-temanmu?” tanya Anita pada Irene yang sedang cuci piring.
Irene mengangguk. “Sudah, Bun.” Jawab gadis itu.
“Kira-kira ada berapa orang?”
Irene sekilas menoleh ke arah sang bunda. “Hanya Alya, Citra dan Hanzel saja.”
Mendengar hanya segitu yang diundang oleh Irene membuat Anita mengerutkan dahinya.
“Kok hanya mereka saja? Kamu tidak mengajak semua teman di kelas mu?”
Irene menggelengkan kepala. “Aku hanya dekat dengan mereka saja,” lirih Irene.
Anita menyadari kesalahan, ia lupa kalau putrinya itu sangat sulit untuk dekat dengan seseorang. Tambah lagi Irene sangat sulit untuk berbaur dengan orang-orang baru. Sedangkan ketiga sahabatnya itu sudah sangat kenal dengan Irene, karena mereka berteman sejak SMP. Kecuali Hanzel, mereka baru dekat saat masuk sekolah SMA.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Nanti kan juga ramai dengan teman-teman Kakakmu,” ucap Anita.
“Hmm,” Irene mengangguk paham.
Reksa datang menghampiri kedua wanita yang sangat ia sayangi itu. Pria itu tersenyum dan mendekat ke arah Irene. Dengan sangat iseng, Reksa mencipratkan air di wajah Irene setelah berpura-pura mencuci tangan di wastafel.
“Iihhh, Kak Reksa!” pekik Irene saat terkena cipratan air di wajahnya.
Irene tidak tinggal diam, ia pun dengan sangat kesal kembali menyipratkan air dari kran ke badan Reksa.
“Astaghfirullah, kalian ini!” pekik Anita yang sudah menggelengkan kepalanya.
Thomas yang baru masuk pun cukup terkejut melihat interaksi antara Irene dan Reksa. Bahkan pria itu sudah mengulum senyumnya menahan tawa.
“Kak Reksa duluan, Bun.” adu Irene pada Anita.
Sementara itu Reksa hanya tertawa terbahak-bahak saja, karena sudah berhasil kembali membuat sang adik kesal padanya.
“Reksa, berhenti menjahili adikmu!” ujar Thomas yang sudah berkacak pinggang.
Reksa yang masih tertawa pun langsung meninggalkan dapur. Ia segera menuju ruang keluarga dimana Cala sedang bermain dengan Opa Rian dan Oma Sari.
Thomas menggeleng melihat tingkah Reksa. Lalu ia mendekati ke arah Irene dan tersenyum pada putrinya.
“Maafin Reksa ya, Nak. Kakakmu itu memang suka jahil,” ujar Thomas.
Anita yang mendengar Thomas minta maaf pun hanya tersenyum. Sedangkan Irene hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
“Sepertinya Irene akan terbiasa dengan kejahilan Reksa,” bukan Irene yang menjawab tetapi Anita yang berkata demikian sambil tertawa.
Thoma menghela nafas sambil menatap Irene. Ia takut putrinya tidak nyaman dengan sikap Reksa yang suka jahil.
“Benarkah?” tanya Thomas dengan hati-hati.
Irene lagi-lagi tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya,” jawabnya dengan sangat singkat.
Sementara ditempat lain, seorang pria sedang terlihat gelisah dan bingung. Pria itu menatap beberapa pakaian yang tergantung di lemarinya. Bahkan sudah ada beberapa baju dan celana yang sudah berserakan di lantai akibat ulahnya.
Pria itu menggaruk kasar rambutnya dengan kedua tangan. Rasanya ia sangat frustasi dan bingung harus pakai baju apa saja.
“Astaga, aku bingung harus pakai baju yang mana?”
Matanya menatap ke sekelilingnya, ia merutuki dirinya yang sudah membuat kamarnya berantakan.
“Aish, jadi berantakan begini. Arrrgggh…. Saking bingung pakai baju apa malah jadi seperti ini,” keluhnya lagi.
Pria itu menghela nafasnya. “Padahal cuma ke rumah Reksa untuk pesta barbeque doang, dan nggak perlu formal banget. Kenapa gue jadi gugup begini sih!”
“Tapi bagaimanapun juga gue harus berpenampilan menarik didepan Irene. Ya, gue harus terlihat menarik di hadapannya,”
Semangat pria itu kembali meletup-letup, pria yang dikenal memiliki sikap dingin dan cuek. Namun entah bagaimana dirinya nanti jika berhadapan dengan Irene.
Pintu kamar terbuka, seorang wanita berhijab syar'i seusia Anita pun masuk. Nampak wanita itu begitu terkejut saat melihat kondisi kamar sng putra begitu berantakan.
“Astaghfirullah, Zef!” pekiknya wanita itu.
Sementara pria yang bernama Nakula Zefario Dewangga itu hanya menampilkan cengirannya di depan sang mommy.
“Maaf, Mom. Nanti Zef rapikan kembali kok!” ujar Zef yang merasa tak bersalah.
Wanita itu berjalan sambil menatap nanar ke arah pakaian yang berserakan di lantai.
“Apa yang kamu lakukan, hah?” tanya wanita itu dengan lembut.
“Zef hanya lagi cari baju yang pantas untuk nanti malam, Mom.”
Dahi sang mommy berkerut. “Kemana? Kencan? Sama siapa?”
Zef tertawa mendengar pertanyaan sang mommy. Pria itu menggelengkan kepalanya.
“Zef mau kerumah Reksa, Mom. Sekalian mau ketemu Irene,” jawabnya malu-malu.
Rose tersenyum melihat wajah putranya bersemu merah seperti itu. Ya, Rose tahu jika sang putra sudah begitu lama memendam perasaannya pada gadis yang bernama Irene itu. Bahkan Rose pernah sekali bertemu dengan Irene di jalan tanpa sepengetahuan gadis itu.
“Jadi, sudah mulai pendekatan nih?” goda Rose pada putra semata wayangnya itu.
Zef menggaruk lehernya yang tak gatal. “Bisa dikatakan seperti itu, Mom. Doain Zef ya, Mom. Biar Irene suka dan jatuh cinta juga sama Zef,” pinta Zef seraya menggenggam tangan sang mommy.
Rose tersenyum dan mengangguk. “Itu sudah pasti, Mommy akan selalu mendukung kamu bersama Irene. Tapi, kamu harus ingat juga. Kalau hati itu tidak bisa dipaksakan. Jika Irene bukan jodohmu, maka kamu harus menerimanya dengan hati lapang dan ikhlas. Walau ikhlas itu terasa sangat sulit dan berat untuk dijalani,” pesan Rose pada putra kesayangannya itu.
Zef tersenyum. “Iya, Mom. Zef akan selalu ingat pesan Mommy. Zef juga akan terus berusaha agar Irene dapat menerima Zef untuk menjadi calon imamnya,” jawab Zef seraya tersenyum.
Rosa mengusap kepala Zefario dengan lembut. “Itu baru putra Mommy,”
“Kalau begitu Mommy akan bantu kamu pilih baju yang cocok untuk bertemu dengan Irene,” ucap Rosa.
Zefario hanya mengangguk dan membiarkan sang mommy mencarikan pakaian untuk dirinya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Rosa menemukan pakaian yang cocok untuk dipakai Zef saat ke rumah Reksa malam ini. Pakaian yang terlihat casual, namun sangat pantas dan cocok dikenakan oleh Zef. Sebenarnya Zef memakai apapun akan terlihat cocok olehnya, mengingat wajah pria itu begitu tampan dan juga ia memiliki tubuh atletis dan juga tinggi. Hanya saja terkadang Zef suka merasa tidak percaya diri jika dirinya ingin bertemu dengan wanita yang dicintainya.
“Ini pakai untuk kamu menginap disana,” Rosa memberikan beberapa pakaian pada Zef.
“Terimakasih, Mom. Maaf sudah merepotkan Mommy,” jawab Zef dengan lirih.
Ia sedikit merasa bersalah pada sang mommy karena hal sekecil ini saja harus melibatkan Rosa.
“Tidak apa, Mommy senang kok dengan kamu yang masih mau melibatkan Mommy dalam segala urusanmu itu saat ini. Jika nanti kamu sudah menikah dan memiliki keluarga baru, Mommy tidak akan bisa lebih ikut campur dalam segala urusan kamu maupun istrimu. Karena kamu adalah pemimpin keluarga kecilmu kelak, jadilah imam yang arif, bijaksana serta pintar. Niscaya keluarga kecilmu akan merasakan kedamaian luar biasa,”
“Ingat pesan Mommy ini, Nak. Kamu itu punggung keluargamu, janganlah kamu sekali-kali mengeluh. Karena keluhanmu hanya akan membuat istrimu sedih. Sebab seorang ayah harus siap menderita untuk keluarganya.”
“Nak,” Rosa membasahi bibirnya yang sedikit kering sebelum melanjutkan ucapannya.
“Mommy sudah semakin tua, bimbinglah keluargamu kelak untuk menuju jalan yang diridhoi oleh Yang Maha Kuasa. Sehingga ketika Mommy kamu ini menghadap-Nya, Mommy tidak malu karena berhasil mendidik seorang Imam keluarga yang baik,”
Tanpa terasa Zefario meneteskan air matanya setelah mendengar petuah dari sang mommy. Zefario tidak bisa berjanji pada dirinya untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecilnya kelak. Namun, ia akan berusaha untuk menjadi yang terbaik dan selalu ada untuk keluarga kecilnya nanti. Bahkan dirinya akan selalu menjadi garda terdepan dalam setiap hal demi kebahagiaan istri dan anak-anaknya kelak.