Seorang anak merupakan anugerah bagi sebuah keluarga, namun bagaimana jika anak itu terlahir dari sebuah hubungan yang salah?
Claresta, gadis dengan sikap yang dingin karena hasil perlindungan dirinya dari kerasnya kehidupan yang harus ia hadapi,
Luka itu bukan dari orang lain melainkan dari orang tuanya sendiri, orang tua yang seharusnya bisa disebut Rumah, Resta justru tak mendapati hal itu dari kedua orang tuanya ...,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JackRow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian Sederhana,
"Dia sungguh manis juga ramah, jauh berbeda dengan ibunya, ku harap semua akan baik-baik saja Nak! beberapa luka yang ada dalam dirimu, itu membuat ku turut menyesal! tapi tak ada yang bisa kulakukan sebelum diriku memiliki bukti yang akurat,"
"Diriku hanya lah orang asing bagimu untuk saat ini ...," lelaki paruh baya itu kembali menitikkan air mata sembari menatap gambar seorang balita perempuan dengan tampilan tinta yang sudah terlihat memudar.
Kerinduan nya terhadap sang putri kembali membuat Tuan Dominic menangis dalam diam, lelaki itu kembali nampak lesu dan menutup album foto dan kembali menyimpannya.
"Kenapa ayah selalu melupakan untuk meminum vitamin yang telah ku resep kan? dan darimana saja ayah hari ini?"
"Apa kau tidak ke rumah sakit Nak?" pria tua itu kembali mencoba tenang dalam menanggapi pertanyaan putra sulungnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan ayah!"
"Baiklah, ayah menghabiskan waktu untuk bersenang-senang hari ini Erdogan! bukankah dirimu berkata hati yang bahagia adalah obat yang mujarab?"
"Diriku tak melarang ayah untuk mencari kesenangan, tapi ayah juga harus ingat untuk menjaga pola makan serta mengkonsumsi vitamin dengan tepat waktu! apa ayah paham?"
"Baiklah dokter Erdogan, saya sungguh minta maaf! saya memang lalai untuk hari ini,"
Dokter muda dengan paras cukup tampan dengan iris mata berwarna amber itu kembali terkekeh mendengar kalimat sanggahan dari ayahnya.
"Jadi, apa ayah bertemu dengan sahabat lama ayah? ku lihat ayah cukup bersemangat saat kembali ke rumah," Erdogan memilih duduk di samping sang ayah yang kembali terlihat sibuk dengan majalah berita.
"Bukan sahabat lama Nak! seseorang yang istimewa lebih tepatnya."
"Orang istimewa?" kening pria itu kembali nampak berkerut,
Tuan Blare hanya menanggapi dengan anggukan diiringi sebuah senyuman.
"Katakan ayah! apa ayah kembali menggoda wanita paruh baya lagi? ayah seharusnya mengingat usia ayah, jangan lagi bermain wanita ayah!"
"Apa maksudmu Erdogan? siapa yang bermain wanita? ayah sudah tak tertarik untuk melakukan hal semacam itu! apa kau tak ingat ayah juga memiliki anak perempuan?" Tuan Blare kembali menanggapi serius kalimat pertanyaan putra nya sembari membalik setiap halaman pada majalah.
"Lihat lah, ayah kembali membicarakan nya! tapi ayah tak mau diriku mengetahui nya sama sekali. Jika ayah memberitahu diriku, setidaknya aku bisa membantu mu ayah!" Erdogan berdecak kesal dan seketika beranjak mengakhiri percakapan dengan ayahnya.
Pria itu juga terlihat memainkan jemarinya, sebelum akhirnya menjawab sebuah panggilan dari seseorang.
Maaf kan ayah, Erdogan
ayah hanya tidak ingin gegabah untuk kali ini,
Ayah tak ingin wanita itu kembali membuat dia pergi, dan meninggalkan kota kelahiran nya ini.
Tuan Blare sama sekali tak bergeming, lelaki paruh baya itu hanya terlihat memandangi punggung sang putra yang semakin menjauh darinya.
...*****...
"Jadi, apa alasan mu kali ini Claresta? menghabiskan senja di sungai Lucia? hanya itu? kau yakin hanya itu?"
Bagaikan seorang terdakwa yang tengah dihakimi, gadis itu terduduk diam dengan memainkan jemari tangannya.
"Katakan Claresta!" nada suara yang semakin tinggi itu kembali terlontar dari lisan Nyonya Emili.
"A-aku, aku hanya menghabiskan waktu untuk mencoba mengetahui hal-hal baru mom!"
"Hal baru? bicaralah yang jelas! kau pergi dengan siapa? siapa yang menjemput mu?" Nyonya Emili kembali berucap tegas dengan menyilang kan kedua tangannya di dada.
"Hanya seorang teman! teman baru, yang bersedia mendengarkan semua keluh kesah ku!" ucapan Claresta terdengar begitu lirih, gadis itu pun nampak tertunduk.
Raut wajah Nyonya Emili nampak berubah, wanita itu terlihat sedikit luluh mendengar ucapan Claresta.
Tak ada salahnya memberikan dia sedikit kelonggaran bukan? lagipula keputusan akan tetap berada ditangan mu Clara, dia putri mu!
Kau berhak melakukan apapun padanya, dia harus berterima kasih atas segala upaya mu dalam membesarkan nya seorang diri!
Nyonya Emili kembali memandangi Claresta yang masih saja tertunduk dan diam di sofa,
"Baiklah, mom akan memaafkan mu kali ini! tapi ingat! tak ada lagi toleransi jika kau mengulang kembali kesalahan dan mengingkari janji seperti ini! kau paham Claresta?"
Claresta, gadis bermata indah itu akhirnya mendongak dan menatap sang ibu sebelum akhirnya mengangguk perlahan.
"Mom mungkin akan keluar kota untuk tiga hari ke depan! kau jadilah gadis baik, dan ingat jangan pulang larut malam!"
Dia terlihat seperti seorang ibu yang baik jika bertingkah manis seperti ini,
"Mom? bolehkah aku memeluk mu?" suara gadis itu terdengar terbata.
Wanita itu tersenyum, perlahan ia melangkah mendekati putri semata wayangnya dan seketika memeluk nya dengan erat.
Seperti inikah rasanya pelukan seorang ibu?
Dada Claresta kembali terasa sesak begitu ia kembali mendapatkan kesadaran nya,
Impian sederhana nya, kembali memudar seiring dengan derasnya buliran air mata yang kembali tertumpah di pipinya.
Rasa perih pada pergelangan tangannya kembali terasa, gadis itu tak menyangka dirinya akan selamat dari ruangan bising yang semula ia datangi bersama sang model ternama.
Ibu macam apa yang tega menjual anaknya sendiri demi mendapatkan ketenaran? dia benar-benar wanita gila,
Claresta, gadis itu terlihat pilu meratapi hal yang hampir saja terjadi padanya.
Atensinya nampak teralihkan tatkala layar ponselnya kembali menyala,
Puluhan panggilan tak terjawab dari Nyonya Emili, Tuan Adam, juga Liam nampak memenuhi notifikasi layar ponselnya, namun ia kembali mengacuhkan itu semua.
"Apa dirimu sudah bangun?" suara lembut itu kembali terdengar di telinga Claresta.
"Diriku tidak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih padamu, jika tak ada dirimu mungkin diriku ...,"
"Jangan bahas hal itu lagi! kau bisa tinggal disini kapan pun kau mau Claresta," belaian lembut dari tangan Christian kembali membuat gadis itu bungkam.
Claresta kembali tertunduk dengan air mata yang tak juga surut, ia masih tak percaya dengan kenyataan pahit yang harus kembali ia telan.
"Tak apa, menangis lah jika itu bisa membuat mu kembali tersenyum lega! diriku selalu berada disini untukmu,"
Lagi, dekapan hangat dari tubuh Christian kembali membuat gadis itu merasa nyaman, meskipun suara isak tangisnya masih sedikit terdengar, setidaknya Claresta tak lagi merasakan kesakitan itu seorang diri.