NovelToon NovelToon
Sesetia Langit Menemani Senja

Sesetia Langit Menemani Senja

Status: tamat
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:180k
Nilai: 4.5
Nama Author: Arrafa Aris

Senja tak pernah menduga, jika di rahimnya bakal hadir dua sosok malaikat kecil akibat pelecehan yang dilakukan Bumi terhadapnya.
Pasca menikah dengan Bumi, Senja seringkali mendapat perlakuan kasar.

Bahkan Bumi tega beberapa kali mencelakai Senja hanya untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya.

Di saat Senja tak mendapat kasih sayang dari suaminya, kehadiran Langit sudah cukup menjadi pelipur lara baginya. Namun, kehadiran Langit justru membuat Bumi menjadi cemburu sekaligus takut jika Senja akan jatuh ke pelukan Langit.

“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Senja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. SLMS

Dalam dekapan Bumi, Senja masih terisak. Jiwanya kini seolah hampa. Satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya pergi untuk selamanya.

“Mas, selama ini aku rela menahan sakit akibat siksaan yang terus kamu lakukan padaku. Aku nggak peduli meski tubuh ini berulangkali terluka sakit luar biasa. Demi apa, Mas? Demi putraku. Keinginanku cuma satu, ingin hidup bahagia bersama putraku Kala dan Aru.”

“Tapi, kenapa kamu tega membu*nuh bayiku Mas, kenapa? Kenapa kamu nggak sekalian membu*nuhku juga? Lantas, akan seperti apa aku menjalani hari-hariku tanpa bayiku, Mas. Hidupku kini hampa.”

Lagi ... ucapan lirih isi hati Senja membuat Bumi terpekur tak bisa berkata-kata. Entah harus bagaimana lagi menjelaskan jika dia bukanlah dalang dari kecelakaan itu. Ia merasa kini bagaikan buah simalakama.

Sedangkan Pak Andara langsung membekap mulut demi meredam suara tangisannya. Pilu yang ia rasakan mendengar ungkapan isi hati Senja.

Ia menarik nafas dalam-dalam sembari menyeka air mata. Mencoba tegar seolah tak terjadi apa-apa.

“Senja ... Bumi,” tegurnya dengan senyum tipis.

“Papa.” Bumi dan Senja berucap lirih.

Senja melepas dekapan sang suami kemudian beralih memeluk Pak Andara. Kembali menumpahkan air mata dalam pelukan pria paruh baya itu.

“Pah, katakan ... putraku ada bersama Bik Riri kan? Mereka sehat kan, Pah? Apa Papa tahu, wajah Kala dan Aru persis seperti Mas Bumi. Benar kan, Pah?”

“Senja,” ucap Pak Andara nyaris tak terdengar. Sepasang mata mengarah pada sang putra.

Melihat Bumi yang sedang menangis, nalurinya sebagai ayah turut merasakan kesedihan.

“Senja, maafkan Papa. Kala dan Aru sudah meninggal satu bulan yang lalu. Mereka nggak bisa diselamatkan.”

Semakin deraslah air mata Senja mengalir. Dunianya seketika runtuh mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Perlahan mengurai dekapan Pak Andara lalu kembali ke bed pasien.

Duduk sembari memangku bantal dengan tatapan kosong disertai air mata yang seolah enggan berhenti mengalir.

“Pah!” Bumi memeluk erat Pak Andara seraya berbisik, “Aku harus bagaimana? Bantu aku untuk membuat Senja percaya bukan aku pelaku apalagi dalang dari kecelakaan itu?”

Tak ada jawaban. Pak Andara hanya menepuk punggung Bumi. Antara percaya dan masih ragu pada sang putra.

*********

Sore harinya ....

Langit kembali lagi ke rumah sakit. Tak lupa ia membawa parcel buah untuk Senja.

Ketika membuka pintu, alisnya langsung bertaut memandangi Senja sedang duduk dengan pandangan kosong sembari memangku bantal.

“Bumi, ke mana dia?” gumam Langit. Meletakkan parcel buah di atas meja kemudian menghampiri Senja. “Senja.”

Langit duduk berhadapan dengan Senja. Menyentuh jemari seraya menatapnya.

Tanpa menjawab, Senja langsung membenamkan wajah di dada Langit.

“Mas, bawa aku ke makam putraku.”

“Senja.”

“Aku mohon, Mas, bawa aku ke sana,” pinta Senja.

“Tapi, kamu belum bisa berjalan dengan baik,” protes Langit sekaligus cemas. “Atau pake kursi roda saja.”

“Nggak Mas, aku masih bisa berjalan. Selama kamu terus menggenggam tanganku. Mulai hari ini aku harus mandiri.”

Langit menghela nafas. Ia meminta Senja menunggu sebentar karena akan meminta izin pada salah satu perawat.

Sepeninggal Langit, Senja memilih mengganti pakaian lalu menunggu sahabatnya itu. Memejamkan mata membayangkan wajah sang putra yang ia lihat dalam bayangannya.

“Kala, Aru, kenapa kalian nggak mau bertahan demi momy?” Bulir bening kembali menetes di pipi.

“Senja,” tegur Langit yang kini sudah ada di hadapannya. Menyeka air mata wanita itu kemudian memeluknya sejenak. “Yuk, kita berangkat sekarang.”

.

.

.

Di makam ....

Senja langsung duduk memandangi makam sang putra dengan tatapan nanar. Sekujur tubuh langsung gemetar.

Sepasang mata wanita malang itu tak bisa lagi menahan buliran bening di pelupuk mata. Mengelus pelan makam itu dengan tangan gemetaran.

Ia kembali menangis histeris, memanggil nama Kala dan Aru berulang kali. Bayangan akan kekerasan, umpatan hinaan serta perlakuan tak manusiawi dari Bumi kembali berputar di memori ingatan.

Raungan serta ratapan tangisan Senja seketika bergema di tanah pemakaman itu. Kebenciannya pada Bumi seketika menyelimuti diri.

“Senja.” Langit langsung mendekapnya erat. “Ikhlaskan Kala dan Aru,” bisik Langit sambil meneteskan air mata.

Senja tak menjawab melainkan hanya bisa terisak dalam pelukan Langit. Mungkin ia akan membutuhkan waktu yang lama untuk melupakan peristiwa menyakitkan itu.

Cukup lama keduanya berada di makam. Meski Langit mengajak pulang, Senja tetap bergeming enggan beranjak.

“Senja, ayo kita pulang. Hari mulai gelap dan sepertinya akan hujan,” bujuk Langit.

Senja menggeleng pelan lalu berkata, “Aku nggak mau lagi ke rumah sakit, Mas. Aku ingin di sini saja bersama putraku.”

“Senja, kita sudah berbeda alam dengan Kala dan Aru. Jangan seperti ini, pikirkan juga kondisi kesehatanmu. Kamu bisa sakit jika terus-terusan begini.”

Bak sebuah tugu, Senja tetap mematung memandangi makam putranya. Jemarinya terus mengelus makam itu.

Angin yang mulai berhembus disertai suara gemuruh dilangit menandakan sebentar lagi akan turun hujan.

Langit terus membujuk sang sahabat untuk pulang. Akan tetapi, Senja tetap bergeming bahkan tak bersuara melainkan menatap nanar makam itu.

Selang beberapa menit kemudian, rintikan air dari atas langit mulai membasahi bumi.

“Senja! Ayo kita pulang!” Langit kembali membujuk, memaksa Senja berdiri sambil menangis.

Prihatin sekaligus cemas melihat kondisi Senja saat ini.

Tak bisa lagi menahan, Bumi yang sejak tadi hanya bisa memandangi dari kejauhan berlari kecil menghampiri istri juga sepupunya.

Sebelumnya ....

ketika Bumi selesai mengobrol dengan dokter Haikal di ruangannya, ia kembali lagi ke kamar rawat Senja.

Alangkah terkejutnya ia ketika Senja sudah tak berada di kamar. Karena panik ia langsung bertanya pada salah satu perawat.

Begitu mendapat jawaban, Bumi langsung menyusul ke TPU.

“Senja, Mas Langit!”

“Bumi?!” Langit menoleh.

“Senja, ayo kita pulang,” ajak Bumi dengan perasaan cemas.

“Kembalikan dulu anakku, Mas! Aku akan pulang jika kamu bisa membuat putraku bangun!” pekik Senja sambil mengepalkan kedua tangan.

“Senja!” Bumi merasa kondisi kejiwaan istrinya tidaklah baik-baik saja saat ini.

“Kembalikan! Bangunkan mereka!” pekik Senja lagi seperti orang yang sedang kesurupan.

Hujan yang semakin deras tak lagi mereka hiraukan. Bumi dan Langit masih terus berusaha membujuk Senja.

Hingga sebuah kalimat keramat yang terlontar dari bibir Senja, membuat sekujur tubuh Bumi bak disambar petir detik itu juga.

“Ceraikan aku, Mas! Aku nggak mau lagi tinggal satu atap denganmu! Putraku juga sudah nggak ada. Sudah nggak ada yang aku harapkan!”

Selesai berucap, penglihatan Senja mulai memburam. Perlahan tubuh wanita itu akan terjatuh. Namun, dengan sikap ditangkap oleh Langit.

“Bumi pulanglah, aku akan mengantar Senja ke rumahmu. Jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja.” Langit segera membawa Senja ke arah mobil.

Sedangkan Bumi tetap terpaku di tempat. Ia terduduk lalu memandangi makam putranya. Dua jiwa yang pernah ingin ia lenyapkan.

Penyesalan ....

Itulah yang kini menyelimuti segenap jiwa raganya. Terisak dalam guyuran hujan. Dingin angin yang berhembus seolah tak ia rasakan.

...----------------...

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪🙏🏻
Shifa Burhan
novel pemuja pebinor
G.I
Cerita bagus tapi goblok...goblok kek yang nulis...masih bertahan dgn orang seperti itu...omong kosong...bikin novel tentang kebohongan saja...menyesal bacanya
MallesMellow: Boss novel lo mana?
total 1 replies
arsenmakapuas
mantappp criatanya
Istifada
Luar biasa
Afternoon Honey
bagus ide ceritanya
Murti Ningsih
ceritanya bagus dan penuh bawang /Puke/
Susi Susilawati
Luar biasa
Shella Antika
jadi illfeel sama si senja gk bisa jaga marwahnya sebagai istri mw sibumi salah tapi kan masih sah suaminya ini pergi kermh pria lain meskipun itu sahabat atw sepupu suami tapi hrs jaga batasan antara perempuan sdh menikah sama pria lajang...klo gt gk ada bedanya kelakuan si senja sama si bumi dan si jingga..
Jeni Safitri
Buat apa menyesal dan ditangisi senja iklaskan aja, jangan salahkan bumi k4n di awal dia mmg ngk suka kehadiran kamu dan calon anakmu berkali" mencelakan kalian tapi kamu bertahan menjelang lahir entah buat apa dan apa untungnya pergi nunggu lahir, yg harus disalahkan itu kamu
Jeni Safitri
Rasainlah sama kamu senja sdh jelas" berkali" bumi mencelakakan kandunganmu bahkan bibik dan mang dul sdh mengajak pergi jauh kamu bertahan sampai lahiran, skrg nikmatilah kesedihan itu buat apa menyesal anakmu meninggal
Jeni Safitri
Malas kali dengar keluhan senja tidak baik" saja dan sll merasa dlm bahaya saat di dekati bumi tapi ngk mau jg pergi jauh bawa kandungannya biar selamat lahiran
Jeni Safitri
Ah banyak cerita kamu senja, mmg apa bedanya pergi skrg dgn pergi saat kamu sdh lahiran, bagusan skrg kamu pergi jauh kalau sdh lahiran 2 bayi yg akan urus di perjalanan, niat pergi atau engak sih atau bicara hanya cari simpati
Jeni Safitri
Ck. Senja sdh jelas suami spikopat masih aja bertahan kalau mau pergi ya pergi aja ngk perlu bilang" biarkan penyesalan yg dia rasakan, kalau dia tau kamu mau pergi di ambilnya anak mu nanti bagaimana
G.I: Bukan salah Senja..
salah yang nulis cerita ini...karena yang nulis cerita ini lagi sakit jadi Senja disakiti terus
total 1 replies
Jeni Safitri
Jatuh dari tangga biasanya org mormal aja bisa geger otak lah ini kandungan baik" aja apa bisa gitu ya, takutnya anaknya cacat lagi k4n mendapat benturan berkali"
Jeni Safitri
Senja kamu mmg bukan wanita murahan tapi kamu wanita yg ngk punya harga diri sudah jelas mengalami siksaan masih aja bertahan dgn pria spikopat itu, kalau kamu wanita yg punya harga diri yg tinggi kamu ngk akan mengemis sama pria itu dan ngk sudi di siksa fisik dan mental mu
AJ_86: Wkwkwk 🤣🤣✌️
total 1 replies
Jeni Safitri
Ada ya laki kejam gini
Silvia Tatipikalawan
kak lanjut kabar gembira dari langit & senja mempunyai anak kak
Silvia Tatipikalawan
sedih
aish
pemeran wanitanya di sini jadi jalang gk bngt walau bumi slh tpi yg wanita lebih parah jijik bngt berlindung di balik kata sahabat peluk cium smpe lakuin hubungan intim mlh berharap hamil anaknya si langit lgi berhenti baca krna kecewa wlw gk bisa di tebak alurnya tpi gk gini jg awal' suka bngt mkin ujung mkin aneh alurnya acakadul🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!