(SEKUEL PERFECT HUSBAND)
Dave dan Zea yang akhirnya menyatakan perasaan satu sama lain, akan cinta itu berjalan dengan lancar hingga mereka bisa bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khay_Za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
Dave menghentikan semua permainan panasnya. Ia tidak ingin semua menjadi tak terkendali.
"Kita kebawah aja yuk, ini gak bisa diterusin atau aku gak akan bisa berhenti." Ucap Dave menyudahi semua itu. Zea tertawa lucu mendengar semua yang dikatakan Dave.
"Aku percaya kamu." Ucap Zea menangkup kedua pipi Dave.
"Dan aku lebih percaya kamu daripada diriku sendiri." Balas Dave melakukan hal yang sama pada Zea.
"Ya udah kita kebawah yuk, siapa tau bunda udah datang." Ajak Zea, Dave tersenyum dan mengangguk. Mereka berdua memilih untuk menghentikan semuanya saat itu juga.
"Keknya bunda kejebak hujan deh." Kata Zea melihat kearah jendela. Hujan belum juga reda padahal sudah setengah jam berlalu.
"Iya, tapi untungnya bunda gak pergi sendirian. Aku laper, kita makan dulu yuk." Ajak Dave.
"Astaga aku lupa. Aku tadi beliin kamu kue, bentar aku ambilin." Zea lalu pergi kedapur dan memindahkan kue keatas piring dan membawanya ke ruang makan.
"Wow, makasih ya sayangku." Zea tersenyum melihat tingkah Dave yang senang mendapat kue kesukaannya.
"Makan gih, aku udah kenyang. Tadi dikampus udah makan." Jawab Zea menolak.
"Yach, masa aku makan kamu ngelitin aja?"
"Mau aku suapin?" Kata Dave bertopang dagu dengan kedua tangannya dan melihat kearah Zea.
"Enggak sayang, aku udah kenyang, serius deh."
"Kalo gitu kamu yang harus nyuapin aku."
"Manja ih." Kata Zea mengerucutkan dahinya.
"Gak apa-apa manja sama pacar sendiri kok." Zea meraih piring kue lalu menyuapi Dave membuat Dave tersenyum bahagia.
"Heeemmmm enak ya dirumah pacaran, suap-suapan." Suara Davin mengagetkan keduanya.
"Abang udah pulang? Bunda mana?" Kata Zea yang langsung menghampiri Davin.
"Ze, kapan datang sayang?" Sapa Dara dari arah teras sambil membawa beberapa kantong belanjaan ditangannya. Dengan cepat Zea mengambil kantong tersebut dan membantu Dara membawanya ke dapur.
"Setengah jam yang lalu bun. Kok bunda belanja? Bukannya makanan untuk nanti malam udah pesen di kateringan ya?" Tanya Zea mengeluarkan belanjaan dari dalam kantung.
"Iya, bunda cuma beli beberapa bahan tambahan aja kok. Mommy gak kesini?"
"Ummm Zea belum pulang kerumah bun, pulang dari kampus Zea langsung mampir kesini."
"Kangen Dave ya?" Kata Dara menggoda gadis itu, Zea langsung tersenyum menutupi rasa malu.
"Zea kesini mau bantu-bantu bunda kok." Sahut Zea memberi alasan. Dara tersenyum mendengar alasan yang keluar dari mulut Zea.
"Oke mau bantu bunda, bunda percaya itu." Jawab Dara tertawa, mendengar hal itu Zea juga ikut tertawa malu karena sangat terlihat jika ia rindu pada Dave.
Saat ini Zea sedang membantu Dara menata belanjaannya.
"Ze, bunda boleh tanya sesuatu?" Tanya Dara sedikit ragu.
"Bolehlah, kenapa bunda?" Sahut Zea melihat kearah Dara. Dara menghentikan sejenak pekerjaannya untuk fokus bicara.
"Bunda gak pernah ragu sama sekali tentang perasaan kamu untuk Dave. Bunda percaya kamu sebagai mana bunda percaya Dave. Tapi ada satu hal yang terus menerus menggangu pikiran bunda. Tentang kedua orang tua kamu dan oma. Bagaimana tanggapan mereka jika mereka tau tentang hubungan kalian?" Ucap Dara yang terlihat sangat khawatir akan hubungan kedua anaknya. Ia hanya tidak siap jika kedua anak itu merasakan sakit hati karena sebuah penolakan. Zea tersenyum lalu meraih tangan Dara.
"Bunda, bunda jauh lebih dulu kenal sama mommy dan daddy. Apa menurut bunda mereka orang yang sangat keras hati dan kepala hingga tidak akan menerima diskusi dalam bentuk apapun? Malam ini Zea dan Dave bakal ngomong ke mommy dan daddy tentang hubungan kami." Sahut Zea mencoba menanamkan rasa percaya pada diri Dara jika semua akan baik-baik saja.
"Dan oma Mela? Oma bahkan mengira kamu sedang berpacaran dengan Tian." Tambah Dara yang masih merasa ragu.
"Oma juga secepatnya akan Zea kasih tau. Bunda percaya kan sama Zea?" Dara menghela nafas panjang, sulit untuknya menerima semua ini. Ia terlalu takut dengan apa yang akan terjadi dilain hari. Namun saat ini hanya bisa menuruti semua ucapan Zea.
Dara tersenyum lalu mengangguk membuat Zea ikut tersenyum lalu gadis manis itu memeluk Dara.
"Tadi Zea sama Dave suap-suapan, sekarang bunda dan Zea peluk-pelukan. Gak ada yang mau suapin terus meluk Davin gitu?" Celetuk Davin yang menyaksikan dan mendengarkan percakapan Dara dan Zea sejak tadi. Dara dan Zea lalu tertawa bersamaan mendengar celetukan Davin.
***
Malam pun tiba acara syukuran untuk Devan juga berjalan dengan lancar, semua tamu sudah pulang. Kini hanya tinggal kerabat dekat yang tersisa dirumah Daniel. Dan seperti biasanya, saat ini mereka sedang berkumpul saling bercerita satu sama lain.
Dave dan Zea menghampiri para orangtua, malam ini mereka berniat mengumumkan hubungan mereka karena kedua orangtua Zea serta Rendy dan Kenan belum mengetahui hubungan tersebut.
"Kita boleh gabung gak?" Tanya Dave sedikit ragu.
"Gabunglah sini." Sahut Ken tersenyum menarik Dave dan menyuruhnya duduk disampingnya. Zea pun ikut duduk disamping Dave.
"Ummmmm ada yang mau kita omongin." Tambah Dave, Dara langsung menggenggam tangan Daniel dengan erat. Wanita itu takut jika kedua orangtua Zea menolak hubungan tersebut.
"Apa ini sebuah pengakuan?" Tanya Ken mengerutkan dahi membuat Dave makin gugup namun tidak dengan Zea. Gadis itu yakin jika kedua orang tuanya tidak akan menolak hubungan mereka.
Dave tersenyum lalu meraih tangan Zea yang duduk disebelahnya.
"Daddy, mommy, om Rendy dan om Kenan juga tante-tante sekalian. Kita mau bilang kalo kita sebenarnya sedang menjalin hubungan lebih dari seorang sahabat." Kata Dave dengan wajah serius. Semua orang terdiam sejenak saat itu, begitu juga dengan El dan Luna.
"Hahahaha ngeprank kita nih mereka berdua." Tawa Rendy terdengar nyaring memecah keheningan sesaat, pria itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh keponakannya. Semua orang pun ikut tertawa terkecuali Daniel dan Dara yang memang sudah tau hubungan anak-anak mereka.
Kenan juga ikut tertawa, hanya saja tawa Kenan berbeda. Ia tertawa bujan karena ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dave melainkan ia mengakui hubungan kedua anak muda tersebut. Walau Ken belum tau pasti dan mendengar langsung tapi ia sudah melihat dengan sangat jelas jika anak-anak itu sedang mabuk cinta.
"Kalian ngerjain kita ya?" Tanya Luna ikut tertawa seperti halnya Rendy.
"Enggak mom, Dave gak becanda. Zea dan Dave emang bener-bener lagi menjalin hubungan lebih dari persahabatan. Zea sayang sama Dave, begitu juga dengan Dave." Sahut Zea dengan serius agar orang tuanya percaya. Luna dan El lalu saling tatap dengan tatapan bingung.
"Ummm Lun, yang dikatakan sama Zea dan Dave itu benar." Tambah Dara sedikit ragu namun tetap ikut meyakinkan Luna dan semua orang yang ada diruang keluarga tersebut. Mendengar hal itu seketika suasana kembali berubah senyap dan sepi.
Jantung Dave saat ini benar-benar berdegup kencang melihat ekspresi diam dari Luna dan El. Tangannya mendadak dingin membuat Zea tau jika pria itu saat ini sedang dalam keadaan sangat gugup. Zea memegangi tangan Dave lalu tersenyum menenangkan Dave. Ingin sekali ia memeluk Dave saat ini dan berkata semua akan baik-baik saja selama kamu terus menggenggam tanganku. Tapi karena saat ini mereka dalam keadaan suasana yang tegang, mereka hanya bisa saling menguatkan tanpa suara namun terus berpegangan tangan.
"Dave.....Kesini sebentar." Ucap El dengan wajah yang benar-benar sangat serius dan sorot mata yang tajam membuat semua orang bungkam.
"El......gu...gue." Kata Daniel berusaha menjelaskan agar El tidak salah faham namun belum selesai Daniel bicara El memintanya untuk diam dan saat itu juga Daniel diam.
"Bang." Sambung Luna yang tidak ingin ada keributan disana dan hal yang sama juga terjadi. El meminta Luna untuk diam.
"Daddy....Please deng...." Belum selesai Zea bicara Dave memintanya untuk diam. Dave meyakinkan Zea jika semua akan baik-baik saja.
Bersambung........
bener gak tuh anaknya Davin ???