Sistem Harimau Perunggu adalah warisan seorang penguasa sekaligus pelindung dari benua hitam. Seorang pemuda terpilih untuk mewarisi sistem tersebut. Sistem yang akan membuatnya sebagai petarung yang hebat. Bagaimana kisahnya? Apa yang akan di lalui nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ang Bay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beres
Akira adalah seorang yang pemberani dan tidak mengenal kata takut, hanya satu yang dia takuti, itu adalah ayahnya.
Melihat raut wajah Larry yang tidak begitu bagus, dia tersenyum dan berkata.
"Ayah, kenapa ayah ada di sini? Aku bisa mengatasi masalah ini sendiri. Kenapa ayah harus datang sendiri?"
"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan!" Larry mengumpat dan mengangkat kaki lalu menendangnya.
Untung saja Larry kembali lebih cepat.
Kalau tidak, bocah kecil ini pasti akan mendapat masalah besar.
Dia sebenarnya ingin meledakkan anaknya berkeping keping.
Ini masalah masa depan.
Semakin Larry memikirkannya, dia semakin marah. Dia bahkan menendang Akira beberapa kali.
"Aarrgh! Sakit sekali!" Akira berteriak berkali kali. "Ayah, berhenti menendangku, ada apa?"
"Apakah kau tahu siapa yang sedang kau singgung!"
"Dia adalah pemegang saham terbesar di hotel kita, tuan Radja!"
Larry menggeram.
"Apa?"
"Tuan Radja?"
Kepala Akira mulai mendengung.
Dia segera mengerti bahwa yang di maksud manajer tentang orang besar, bukanlah Alundra.
Tapi orang di sebelahnya.
"Ini---,,,"
"Ini salah paham, ini adalah kesalah pahaman saja."
Akira mengalami fase kepanikan luar biasa.
Larry menarik dan mendorongnya ke depan.
"Cepat dan minta maaf pada tuan Radja!"
"Iya, iya, baik." Akira membungkuk berulang kali dan berkata kepada Rafael. "Tuan Radja, saya salah. Saya benar benar tidak tahu itu anda. Ini adalah kesalah pahaman. Hehehehe."
Rafael juga tidak menganggapnya serius.
Dia hanya berpikir bahwa Akira ini lucu.
Sambil tersenyum, Rafael kemudian bertanya.
"Tuan muda Byzko kan? Kenapa kau tidak di sini saja dan makan bersamaku?"
"Tidak tidak, panggil saja saya Akira." Dia buru buru berkata. "Saya tidak akan mengganggu makan malam anda."
Teman temannya yang berdiri di belakangnya yang melihat pemandangan ini tahu dia dalam kesulitan.
"Akira, bagaimana kalau kita setuju saja?"
Akira menoleh dan berteriak dengan marah. "Apanya yang setuju! Aku bisa makan di tempat lain! Jika bukan karena kalian hari ini, bisa saja aku berakhir dengan menyedihkan. Mau apa kalian? Pergi sana!"
Beberapa orang menunduk dan menarik nafas panjang, berbalik dan membubarkan diri.
Larry melangkah maju dan sedikit membungkuk lalu berkata.
"Ketua, maafkan saya karena tidak mendidiknya dengan baik."
"Oh, tidak tidak, jangan seperti itu."
Rafael melambai dengan murah hati.
Dia benar benar tidak mempermasalahkan sama sekali.
Akira mendengar hal itu tertegun sejenak dan tersenyum dengan sopan.
"Silahkan nikmati makanan dengan perlahan. Jika ada sesuatu yang di butuhkan, silahkan panggil saya kapan saja."
"Oke."
Rafael mengangguk.
Dia berpikir bahwa nama akira ini agak aneh.
Dia tidak terlihat berdarah oriental sama sekali.
Setelah itu.
Kerumunan orang keluar dari ruang pribadi itu, Akira sendiri kini berdiri di depan pintu.
Badannya tegak.
Penuh energi.
"Hei kalian, dengarkan aku, jangan ijinkan siapapun masuk ke dalam dan mengganggu ketua."
".........." Para pengawal tidak bisa berkata kata.
Bukannya dari tadi memang begitu. Kecuali Akira, tidak ada yang nyelonong masuk dari tadi.
***
Melihat Akira pergi dengan tergesa gesa, Alundra tidak bisa menahan senyumnya.
Pada saat yang sama, dia semakin mengagumi Rafael.
Bahkan dalam tingkat mulai memuja.
Dia memiringkan tubuhnya dan menempel lembut pada Rafael.
Mereka berdua melanjutkan makan malam romantis mereka.
Kemudian, mereka langsung pergi ke presidental suite di sebelah ruang makan pribadi untuk beristirahat setelah makan malam.
Harga normal di tempat ini adalah 180 ribu dollar per malam. Dekorasinya sangat mewah, mulia dan suasana yang megah.
Tempat tidurnya yang besar sangat empuk dan bisa membuat semua orang tejebak kenyamanan di sana.
Apalagi dengan wanita cantik di sebelahnya.
Rasanya sangat nyaman.
Alundra berbaring di tempat tidur, kakinya yang ramping di ayun ayunkan. Dia sedang mengutak atik ponselnya.
"Kamu akan membantu Catrina besok. Apakah kamu sudah punya kontaknya?"
"Tidak."
Rafael berkata santai.
Dia hanya berpikir itu sahabat kekasihnya, buat apa dia memiliki kontaknya.
"Aku sudah membuatkan grup chat, aku akan memasukanmu."
"Oke." Rafael mengangguk dan melihat ponselnya, di dalam grup itu hanya ada mereka bertiga.
Catrina sepertinya sudah lama menunggu hal itu.
Dia buru buru mengirimkan alamat rumahnya.
Juga menentukan waktu untuk pertemuan besok.
Catrina sebenarnya tinggal di daerah Dorpie dan tidak jauh dari manor Rafael.
Kebetulan.
Ternyata mereka ber tetangga.
Selain itu, Rafael juga menerima undangan pernikahan dari teman kuliahnya, Alicia Taylor.
Dan mengharapkannya untuk hadir.
Rafael ingat bahwa terakhir kali teman sekelas mereka makan malam, seseorang mengatakan kepadanya bahwa akan ada acara pernikahan Alicia.
"Hm,, baiklah."
Rafael bergumam pelan dan mematikan ponselnya.
Dia menoleh.
Melihat Alundra dengan penuh kasih sayang sedang menatapnya juga.
Hari sudah mulai malam.
Waktunya untuk olah raga malam.
***
Keesokan paginya.
Rafael bangun tepat waktu dan Alundra masih tertidur, mungkin karena lelah berolah raga.
Bulu matanya yang panjang tertutup dengan tenang, dan pipinya merah karena lelah. Dia tampak cantik dan menawan. Dan tubuhnya yang tanpa busana, tertutup selimut tebal.
Rafael tidak ingin mengganggunya.
Dia turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi besar di ruangan itu.
Setelah mandi.
Dia berganti dengan pakaian bersih yang telah di sediakan.
Dia menatap dirinya di depan cermin.
Di perkirakan bahwa obat yang di minumnya sudah bereaksi sepenuhnya.
Sangat tampan sehingga tidak ada orang yang bisa melampaui ketampanannya. Kecuali autihor.
Rafael sangat puas dengan hasilnya.
Matanya melihat ke jam tangan, waktu yang di sepakati dengan Catrina hampir tiba.
Dia langsung keluar dari pintu.
Pelayan wanita dan beberapa penjaga di koridor membungkuk hormat.
Satu per satu mereka menyapa dan berkata.
"Selamat pagi, ketua!"
Rafael memasuki lift dan datang ke tempat parkir bawah tanah.
Tempat parkir hotel Belonings secara alami sangat spektakuler, dengan banyak mobil mewah berjejer di sana.
Tapi tetap saja tak ada yang menandingi Bugatti yang ada di sana.
Rafael mengeluarkan kunci dan menekannya.
Dua lampu berkedip seperti monster yang sedang tidur yang membuka matanya.
Rafael masuk dan menginjak pedal gas nya.
Dia pergi meninggalkan hotel.
Petugas keamanan dan pelayan yang sedang lewat semua menoleh ketika dia lewat.
***
Di rumah keluarga Perez.
Sebuah Maserati putih di parkir di depan pintu. Seorang pemuda berdiri di sampingnya, dia memegang bunga di tangan dan tersenyum lebar di wajahnya.
"Catrina, aku membelikanmu bunga, apa kau suka?"
"Alberto, bukankah aku menyuruhmu untuk tidak datang?"
Catrina sedikit kesal.
Pemuda itu tidak marah.
Tapi malah tersenyum.
"Aku membeli mobil baru dan menghabiskan uang lebih dari 10 juta dollar. Aku ingin mengajakmu jalan jalan."
"Aku tidak berminat."
Catrina langsung menolak.
Alberto adalah salah satu pelamarnya minggu ini. Seperti lalat, dia hampir setiap hari ke rumah Catrina.
Intinya adalah orang ini cukup kaya.
Dia membeli mobil seharga 10 juta dollar.
Pada saat ini, seorang pria paruh baya keluar dari rumah dan melihat mobil bernilai jutaan dollar itu, seolah olah dia sangat puas.
"Catrina, kenapa kamu sangat kasar? Alberto datang menemuimu dan kau tidak mempersilahkan dia masuk."
"Ayah, aku---,,,"
Catrina akan mengatakan sesuatu.
Tapi ayahnya mengabaikan sama sekali.
Sebaliknya dia melangkah maju.
"Ayo, Alberto, masuk dan mengobrol."
"Terima kasih, paman."
Alberto sedikit tersenyum.
Catrina melihat ini hanya diam dan melangkah ke depan.
Mereka bertiga ke paviliun depan.
"Cat, menurut ayah, Alberto ini baik. Kalian berdua sebaiknya saling mengenal."
Kata ayah Catrina.
Catrina tidak marah.
"Kenapa harus mengenalnya, aku sudah punya pacar."
"Siapa memangnya pacarmu?" ayahnya tidak langsung percaya. "Selain itu, penampilan Alberto tidak buruk. Hanya ada sedikit orang di kota Jama. Bisakah kau menemukan kekasih yang lebih baik darinya?"
"Paman, jangan terlalu memuji."
Alberto merendah dengan sederhana.
Tapi hatinya sangat bangga.
"Sudahlah, pacarku itu lebih baik darinya." Catrina yakin.
Hanya saja, ayahnya melambaikan tangan tak perduli.
"Jangan membicarakan orang lain, lihatlah mobil baru Alberto, itu hanya di miliki beberapa anak muda di kota Jama."
Catrina sedikit mengerutkan kening.
Berpikir dalam hati.
Dia tahu Rafael kaya.
Tapi dia benar benar tidak tahu, mobil apa yang di milikinya.