Hijrahnya Ernest adalah titik awal perjalanannya untuk menjadi seorang hamba yang bertaqwa sekaligus perjuangannya untuk meraih bahagia bersama Aisya.
Pendidikan yang berjauhan menjadi ujian Aisya dan Ernest berikutnya, bersama kesibukan masing-masing yang semakin membuat hubungan keduanya berjarak, hingga seiring waktu keduanya hanya saling menitipkan pada Yang Maha Kuasa.
Setelah perpisahan lama, Ernest memutuskan untuk pulang dan berencana meminang Aisya, lalu ujian hubungan seperti apa yang Tuhan berikan untuk keduanya demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan? Bagaimana usaha mereka untuk meraih kebahagiaan yang diridhoi Sang Pencipta?
"Dear My'Adam...
jika memang kamulah Adamku, aku yakin Rabb akan menjaga raga, telinga, mata, dan hatimu hingga kamu kembali..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM'A_ part 23
Aisya masih berdiri bersama bu Dini dan jamaah lain, ia mengeluarkan coklat dari dalam tas lalu membuka bungkusnya.
"Padahal kita masih pagi loh bu, tapi tetep aja ngantrinya jauh..." Bu Indira menyeka keringat yang belum apa-apa sudah bercucuran.
"Ini tuh---" tunjuk bu Indira pada Aisya.
"Saya Aisya bu," jawab Ai.
"MasyaAllah! Pangling, soalnya kemaren masih jilbab terbuka," ia melihat Aisya dari atas sampai bawah.
Mata Aisya menyipit tanda ia tersenyum di balik sana, "iya." tanpa banyak berkata, Aisya hanya menjawabnya singkat-singkat.
"Sesek ngga pake begituan? Kalo saya sih ogah," gidiknya acuh.
"Untuk awalnya lumayan bu, masih dalam tahap belajar bu...minimalnya waktu ngga bareng suami," jawab Ai.
"Buka tutup dong?!" tembaknya lagi. Bu Dini menggelengkan kepalanya, "ngga usah di dengerin Sya. Dapat menjaga pandangan kaum adam lain saja sudah bagus...nurut sama suami aja udah alhamdulillah," bisik bu Dini. Aisya mengangguk, "iya bu. Ngga apa-apa."
Ditatapnya bu Indira yang cukup menyentil hatinya barusan, sosok ibu-ibu gemuk dengan pergelangan tangan dan leher yang dipenuhi emas itu sesekali mencibir jamaah lainnya seraya mengipasi dirinya dengan kipas yang dibawanya.
Aisya menggelengkan kepalanya, memang benar umi bilang, sebaik-baiknya teman dan sahabat adalah partner hidup kita sendiri. Sebaik-baiknya telinga dan tempat bersandar adalah suami, dan sebaik-baiknya tempat mengadu adalah Tuhan.
Aisya mengolongkan potongan coklat ke bawah niqab lalu mengunyahnya. Mungkin untuk Aisya yang awam, ia sedikit risih memakai benda itu, tapi karena atas permintaan Ernest dan atas kesetujuannya, Aisya mencoba beradaptasi.
Cuaca saat ini cukup membuat kulit banjir karena keringat. Aisya mengeluarkan sebuah kipas angin kecil dari tas, untung saja ia prepare sebelumnya. Hingga sedikit demi sedikit antrian yang mengular itu maju.
"Bu ibu, langkahnya diperhatikan ya! Ngga usah dorong-dorong !" ujar Bu Dini mengatur para jemaah perempuan layaknya mengatur anak tk.
Aisya masuk ke dalam pintu gerbang 24, yaitu Usman bin Affan, pintu kayu berukir tembaga kuning di atasnya. Hawa sejuk AC menyapa kulit yang terbalut syar'i.
"Alhamdulillah ya Allah...."
"Dingin ya, Sya?" bu Dini berjalan di samping Aisya di antrean belakang.
"Iya bu."
Mereka berjalan mengagumi masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah setelah masjid Quba di Madinah, "masya Allah!" gumam mereka termasuk Aisya.
Sebuah ruangan yang memiliki luas 330 meter persegi, ditandai 15 tiang diukir bunga / garis emas dengan nama tersendiri.
"Raudhah, taman surga...." bu Dini melirik perempuan muda di sampingnya itu demi melihat ekspresi serta mendengarkan penjelasan Aisya.
Batas area Raudhah di sebelah kiri adalah makam rasulullah, sebelah kanan adalah mimbar nabi dan di tengah-tengah adalah mihrab Nabi.
"Usthuwaanah Aisyah..." Aisya menghampiri sebuah tiang yang berdiri kokoh di tengah Raudhah, tiang ketiga dari mimbar dan dinding makam Rasul.
"Tau kisahnya, Sya?" tanya bu Dini, Aisya menoleh dan mengangguk cepat, "Imam Tabrani menyebut jika Aisya RA meriwayatkan hadist Rasulullah mengatakan, ada tempat yang sangat penting di masjid Nabawi yang mulia, jika seseorang mengetahuinya. Mereka mengadakan undian untuk mendapatkan kesempatan beribadah disana...." jeda Aisya sambil terus memandangi penuh sorot mata kagum, ia sungguh terharu melihatnya sampai cukup membuat hidungnya mampet.
"Suatu hari para sahabat bertanya pada ummu Aisya tentang tempat ini....namun Aisya hanya tersenyum dan menolak memberitahukannya. Hingga sampai para sahabat memperhatikan Abdullah bin Zubair RA, keponakan Rasulullah yang khusyuk beribadah disana sambil menitikan air matanya. Rupanya di titik itulah Rasulullah mengimami salat selama beberapa hari setelah perubahan kiblat dari Aqsa ke Kabbah di Masjidil Haram...." jelas Ai membuat bu Dini takjub, "masya Allah..."
Aisya kemudian duduk bersimpuh dan bersujud penuh berserah diri disana, "ya Allah...." ia terisak, sunggu beruntung ia bisa berada di titik ini. Berkesempatan memasuki tempat yang nantinya akan diangkat ke surga itu.
"Rasul pernah bersabda, tempat yang berada diantara rumahku dan mimbarku adalah salah satu diantara taman-taman surga," gumamnya teredam karpet.
"Iya Sya, di area inilah Rasulullah menerima wahyu, berdakwah, dan juga tempat beribadahnya bersama para sahabat..." bu Dini ikut bergabung dengan Aisya, ketimbang bergabung dengan ibu lain yang sesekali mencuri-curi potret untuk pamer.
# Masya Allah Raudhah indah banget! Beruntungnya bisa diundang, next semoga bisa kembali kesini ❤❤, sent.
"Saya ngga nyangka pengetahuan kamu luas, Sya. Usia bukanlah jaminan untuk pengetahuan dan akhlak seseorang." pujinya.
"Suami saya yang kasih tau bu, kita sering mendongeng bareng, katanya biar bisa mimpi bagus..." balas Aisya terkekeh renyah.
"Indah?" ralat bu Dini.
"Kan saya perempuan bu, masa mimpiin perempuan lagi..." kelakar Aisya ditertawai bu Dini.
"Masya Allah. Alhamdulillah..."
Yeah! Alhamdulillah, susul Aisya dalam benaknya.
"Raudhah adalah tempat mustajab untuk memanjatkan do'a. Kamu do'a apa Sya?" tanya bu Dini. Aisya mengulas senyuman seraya menghapus jejak air mata di ekor matanya, bukan anak, bukan tahta dan pekerjaan, tapi yang terbersit di pikirannya adalah Erja, selain dari kesehatan Ernest dan keluarganya.
Ya Allah, maha pembolak-balik hati manusia. Tak ada siapapun yang maha tau selain Engkau, ya Rabb....berikanlah yang terbaik untuk semuanya. Mudahkanlah urusan Erja dan Husna....
Belum mengenal dekat, namun nama keduanya telah Aisya selipkan diantara do'a-do'a lainnya.
Aisya berlari kecil ke arah lelaki yang begitu dikenalnya luar dalam. Meski kini tatapannya seperti dibingkai.
"Gimana tur taman surganya?" tanya Ernest.
"Pokoknya masya Allah banget, by! Masih pengen disana..." rengek Aisya.
"Kenapa ngga bekel nasi pincuk sama termos? Jadi ngga bisa lama disananya!"
Bu Dini sampai tertawa mendengarnya.
"Yang bener aja! Mau ibadah apa piknik!" ketus Ai.
"Dua-duanya," kekeh Ernest berseloroh menepuk-nepuk puncak kepala Aisya.
"Masih ada waktu," Ernest melirik arlojinya, "mau aku anter ke hotel atau nunggu? Abis ini jadwal kita ke kebun kurma,"
"Bener kan bu?" Ernest memiringkan badannya demi melihat dan meminta jawaban bu Dini.
"Iya betul kang Ernest."
"Aku sama bu Dini, nyari tempat buat istirahat sambil jajan aja ya, laper ih.." bisik Aisya.
"Boleh. Kalo bisa yang mojok bu tempatnya, biar Aisya bisa buka niqab tanpa ada adam yang liat..." request Ernest diangguki bu Dini, "siap kang!"
Namun saat Aisya dan Ernest kembali berpamitan, karena Ernest akan masuk melalui gerbang berbeda yaitu gate 37, Bilal bin Rabah dari arah samping mereka sesama jamaah satu rombongan berteriak histeris, "pah! Hapeku jatoh! Ilang! Ilang!" serunya berteriak.
"Innalillahi, sebentar Sya...kang Ernest..." bu Dini dan kang Tio menghampiri bu Indira.
"Kenapa itu?" tanya Ernest, "heboh amat," lanjutnya.
"Hapenya jatoh??" Aisya tak yakin seraya pandangan yang fokus melihat ke arah bu Indira yang dikelilingi bu Dini, kang Tio, suaminya dan jamaah lain.
"Yaa, sayang atuh.." ucap Ernest.
"Iya sayang. Padahal tadi bu Indira banyak foto selfienya di dalem sana." Angguk Aisya.
"Kurang amal tuh---" celetuk Ernest menghardik. Aisya mendaratkan cubitannya sambil melotot, "ishh!"
Ernest tertawa renyah disana.
.
.
.
.
.
penasaran ending nya
Nunggu notif ernest dan Ai
Semoga ide” y bermunculan kak thor Sin