“Pilih melayaniku atau … kuberitahukan pada semua orang kalau kamu Open B.O?”
Sasha terjebak dengan tindakan yang ia ambil tanpa berfikir panjang.
Sasha. Gadis berusia 18 tahun tersebut menolak mentah-mentah bantuan dari Austin, Si Ketua Geng Motor yang merupakan penyebab ayahnya koma dan tak bisa bangun entah sampai kapan. Ia memutuskan untuk Open B.O dan menjual mahkotanya dengan imbalan uang demi membayar biaya rumah sakit Sang Ayah.
Sebelum mahkotanya direnggut, Sasha memutuskan untuk membatalkan transaksi gelap tersebut. Sayangnya, saat ia tahu bahwa Austin lah yang mem-bookingnya, bukan hanya tak bisa membatalkan transaksi tersebut … Austin juga memaksanya melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan kesehariannya.
Penasaran hal apa saja 'kah yang mereka lalui berdua?
Ikuti kisah Sasha dan Austin dengan meng-subscribe novel ini! 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Don't Want To Let You Go
..."Kenapa keluar di dalam?"...
..."Because i don't wanna let you go."...
...- Austin Xaquille Mendes -...
...💨💨💨...
Kruyukkk!
Bunyi yang berasal dari perut Sasha membuat gadis yang sedang tidur itu mengerutkan dahinya. Matanya yang semula terpejam, perlahan terbuka.
"Ughh..." Sasha meringis saat merasakan seluruh tubuhnya hancur dan remuk. Seperti ... habis melakukan pekerjaan berat tanpa henti.
Sasha melihat ke kiri. Ke arah sosok pria yang terlihat sedang memperhatikannya. Karena sosok itu begitu mengganggu dari sudut matanya.
"Kak Austin?" pikir Sasha dalam hati.
Austin menatapnya dengan tatapan yang dingin. Pria itu menyamping dengan satu tangan yang menopang kepalanya. Pria itu bertelanjang dada dan ....
"Hah?!" Sasha langsung tersentak saat melihat Austin bertelanjang dada dan sebagian tubuhnya tertutup selimut.
Sasha bergegas melihat tubuhnya. Tak ada sehelaipun pakaian yang melekat di tubuhnya selain selimut tebal yang menutupi.
"Mhhh..." Sasha menggigit bibirnya sembari memejamkan matanya sesaat saat merasakan ada sensasi perih dan panas di antara kedua pahanya.
"Masih sakit?" tanya Austin dengan suara baritonnya.
Sasha tak menjawab ucapan Austin tersebut. Ia hanya diam tanpa berkata-kata.
"Pagi tadi ..." Sasha bergumam dalam hati sembari mengingat kejadian panas yang ia lewati dengan Austin tadi.
"Kak!" Sasha langsung duduk dari tidurnya sambil memeluk selimut menutupi dadanya. Namun punggung mulusnya yang indah tetap terekspos. Sesaat ia sempat meringis kesakitan merasakan perihnya organ bagian bawahnya yang duduk dengan paksa.
"Yes, Baby?" sahut Austin sambil menaikkan satu alisnya.
"Kenapa Kakak keluar di dalam?! Dan ... dan bukannya Kakak pernah bilang kalau Kak Austin mau melakukan itu saat keduanya saling sadar dan tak terpengaruhi obat?!" Sasha kembali teringat dengan ucapan Austin saat hari pertama mereka bertemu di hotel gara-gara Open B.O.
"Ck!" Austin menyeringai dan tersenyum miring. Ia menyentuh lembut punggung mulus Sasha dengan tatapan liarnya.
"Hmm. Dulu sih, aku emang mau melakukannya dalam keadaan sadar. Tapi ... kalau menunggu saat seperti itu, bisa aja kamu kasih virginmu ke orang lain dulu sebelum aku 'kan?"
"M-maksud, Kakak?" Sasha menempik tangan Austin yang membelai punggungnya. Kemudian ia menatap Austin.
"Yah... melihat kejadian kemaren. Aku ragu kamu bisa mempertahankan virginmu. Kan kamu selalu pasrah saat tubuhmu di sentuh oleh siapapun," cemooh Austin dengan sangat tajam.
Tanpa Austin sadari, ucapannya itu benar-benar membuat Sasha kecewa dan sakit hati. Apa sehina itu dia di mata Austin? Bahkan, selama delapan belas tahun, ia tak pernah sekalipun berpacaran.
"Ah ... kamu tanya kenapa keluar di dalam?" Austin mendekatkan wajahnya ke punggung Sasha. Kemudian ia menghirup aroma khas dari tubuh Sasha. "Because i don't wanna let you go."
Cup!
Austin mengecup lembut punggung mulus gadis itu sembari memejamkan mata.
"Sekali lagi kuperingatkan. Jangan berfikir untuk pergi dariku. Kasian bayi yang nantinya ada di rahimmu. Memangnya, kamu bisa membesarkannya? Apa kamu punya uang? Apa kamu punya kekayaan yang bisa membuat bayi itu hidup dengan nyaman?"
Sasha menggigit bibirnya menahan amarah. Ia merem.as selimut putih tersebut dengan sangat kuat. "Kak Austin bajingan!"
"Hmm. Pria memang begitu. Kalau bukan bajingan, ya banci." Sahut Austin sembari mengecup lembut punggung Sasha. Ia juga melakukan itu sambil memposisikan tubuhnya duduk berdampingan dengan Sasha.
"Aku lebih memilih menjadi bajingan untuk bisa memilikimu. Lupakan hubungan kakak beradik yang konyol itu. Karena kamu ... bukanlah adikku," bisik Austin dingin ke telinga Sasha.
Ting Tong!
"Mandilah. Setelah itu kita makan siang bersama. Karna kita melewatkan sarapan dengan melakukan olahraga pagi yang panas," ucap Austin menyeringai.
Austin menuruni ranjang dengan tubuh yang tak berbalut sehelai pakaianpun. Sasha langsung menutup wajahnya menggunakan kedua tangan karena tingkah Austin yang sama sekali tak memiliki rasa malu itu.
"Ck! Ngapain tutup mata? Kamu harus terbiasa dengan milikku yang gagah ini," Austin menyeringai sendiri sambil mengambil handuknya yang ia lemparkan di atas lantai tadi. Kemudian ia lilitkan handuk tersebut ke pinggangnya.
Di saat Austin mengambil makanan yang dibawakan oleh petugas hotel, di saat yang sama juga Sasha mencoba menilik sprei putih yang sedang ia duduki.
"Arghhh!!! Semua ini gara-gara Open B.O!!!" umpat Sasha kesal saat melihat bercak darah yang sudah mengering di sprei putih itu. "Kalau aku nggak sok-sok an Open B.O, pasti sampai sekarang aku masih perawan!"
...💨💨💨...
BERSAMBUNG...
...💨💨💨...
tp sejauh q membaca ceritamu semua bagus-bagus 👍😀
lanjutin dong novel2 nya,
semoga segera di lanjut, karena sudah mampir nech