Semua berawal dari kesalahan.
Tapi kesalahan itu lah yang mengantarkan mereka pada akhir yang mungkin bahagia.
"Kak Genta itu kayak es krim🍦Dingin tapi manis😋"
~Kinara Adinda A~.
Tapi ini bukan akhir dari segalanya.
Melainkan adalah awal perjalanan mereka.
mohon dibaca ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FIFITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23.Jadian
Genta POV
Aku lagi asik asiknya nih memandang wajah Dinda eh malah datang perusuh siapa lagi kalau bukan Chelsea.
Ku perhatikan dia dari mulai menyentak tangan Dinda yang membuat Dinda jatuh ke tanah.
Ku dengar Chelsea mulai bilang kalau aku miliknya,ya kali.
Aku terus mendengarkan perdebatan mereka sampai ku lihat telapak tangan Dinda yang mengeluarkan cairan berwarna merah yang biasa disebut orang dengan darah.
Sakit pasti pikirku.
Aku pun melangkah ke arah Dinda dan merangkul pundaknya.
Dapat ku lihat ekspresi terkejut dari makhluk yang ku rangkul dan orang orang di sekitarnya.
"Gama. lo urus noh pacar lo" aku melirik Gama sebelum membimbing Dinda ke arah tenda guna mengobati lukanya.
"Pacar gue?gila ya lo?amit amit" Gama menjawab dengan ekspresi yang sangat lebay.
"Alah kemarin lo bilang lo suka sama Chelsea" Juan menimpali dengan mencolek colek lengan Gama.
Semua orang terdengar tertawa sedangkan si Gama sudah misuh misuh saja.
Genta POV end
Genta dan Dinda sudah sampai di tenda.
Genta mengambil kotak P3K yang memang selalu dibawanya kemana mana.
sebenarnya dia nggak mau sih tapi ibunda ratu selalu memaksanya.
Genta memposisikan dirinya tepat disebelah Dinda dan di raihnya tangan Dinda guna membersihkan darah yang bercampur tanah.
"Nggak usah kak nggak parah kok.Btw makasih ya kak buat yang tadi,untung lo
nggak nolak gue kalau nggak mau tarok dimana ni muka cantik" ujar Dinda sedikit sambil menarik tangannya yang di pegang oleh Genta.
Genta yang memang tak suka di bantah itu kembali menarik tangan Dinda dan membersihkannya dengan alkohol.
"Diam aja.kamu itu pacar aku sekarang" Ucap Genta di sela sela kesibukkannya.
Dinda yang mendengar Genta memakai embel embel aku kamu seketika tersedak air liurnya.
(Lebay amat lu Din)
"Haha kakak bercanda ya?" Dinda bertanya sambil tertawa garing.
"Kan kamu yang barusan nembak aku.kok malah bilang bercanda" Duh dih bang kan jadi sayang kalau lembut lembut gini ngomongnya.
Dinda langsung terdiam kaku.
Nggak bener ini.awas lo Tiya gue rujak lo.
Suasana yang memang dingin dan sepi disini menambah kesan canggungnya.
Dinda yang sudah tak tahan dengan momen awkward memilih untuk masuk ke dalam tenda.
"Mau kemana?" Genta yang melihat itu langsung bertanya sambil menarik tangan Dinda.
Dinda POV
Mati sudah ini kenapa lagi pakai pegang tangan segala.
"Mau ke tenda kak" Ku jawab dengan sikap se normal mungkin.
Ya kali aku harus shy shy cat.
Ku lihat kak Genta mulai berdiri dari duduknya.
Dia mendekat mulai mendekat guys dan hap.
"Aku suka rambut kamu" Ternyata oh ternyata dia malah lepasin ikat rambut aku dan otomatis membuat seikat besar rambut itu jatuh ke tangannya.
"Eh kok lo lepas sih kak" Aku berkata dengan nada kesal sambil menormalkan detak jantung ku yang tak karuan.
Ni anak mau bikin aku mati kali ya.
"Aku kamu.mulai sekarang nggak ada lagi lo gue" ucapnya membenarkan kosa kata ku yang salah.
"Ya udah sana masuk.langsung tidur ya,Good night pacar"
Ajaib sungguh ajaib setelah mengucapkan sepenggal kalimat itu Si kampret Genta kecup kepala aku guys lebih tepatnya rambut lah ya.
(Sama aja Din kan letaknya juga di kepala😒).
Seketika tubuh ku membeku,tak pernah terlintas di benakku hal seperti ini akan terjadi.
Wajah ku sudah terasa memanas ku yakin pasti saat ini wajah ku sudah merah seperti kepiting rebus😣.
"Lo napa Din?" Suara Reksa seketika langsung menarik ku kembali ke dunia nyata.
"Lo sakit?" Tangan Tiya mulai mengusap lembut pipi ku yang. sudah merah.
"Ng....gak kok Sa.itu panas,iya gue kepanasan" Aku menjawab sambil mengibaskan tangan ke arah wajah ku.
"Gila lo ya Din.dingin gini lo bilang panas" ku lihat Reksa menggelengkan kepalanya sambil berlalu ke arah tenda.
Ku coba normalkan detak jantungku dan melangkah menyusul Reksa ke arah tenda dengan senyum yang masih setia mengembang di wajah ku.
Aduh kok aku seneng ya di gituin sama kak Genta.
Santai Dinda santai.
Ku tepuk tepuk pelan pipi ku supaya tak linglung.
Dinda POV end
Sementara di kejauhan ada Genta yang memperhatikan Dinda dengan senyum yang juga mengambang di wajahnya.
Benar setelah mengecup rambut Dinda tadi Genta langsung pergi ke arah Juan.
Ia bingung kenapa ia bisa se lancang itu.
Yang jelas hanya satu yang ada di pikirannya.
**Dinda adalah miliknya.
🍁🍁🍁🍁**
**Sekian dulu ya guys untuk chapter ini.
Jangan lupa like,vote,dan komennya ya.
😘😘😘😘😘**
Terus gimana dengan Genta,kapan Dinda mau ngomong ke Genta??akan kah Genta bisa percaya dengan mudah nya??? hadeehh,,,