Aku tak menyangka setelah membawa istriku ke rumah ibu, aku tak tahu jika banyak tekanan yang Sari hadapi saat itu. Dimana sifat ibu yang tadinya baik berubah derastis, ia memperlihatkan sifat aslinya.
Setiap malam Sari sering menangis, membelakangi tubuhku, mengabaikan aku. Setiap kali aku bertanya, ia tak pernah menjawab selalu terlelap tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 Menelepon. ( Pov Riki.)
Aku mencoba melepaskan tangan ibu yang menjambak rambut Sari, "lepaskan bu. kasihan, Sari. "
Sari meringis kesakitan, kedua matanya berkaca kaca, aku mengira jika wanita yang melahirkanku akan menyadari kesalahannya setelah ia sakit.
"I-b-u be-nci d-i-a. "
Terlihat ibu begitu benci pada Sari, sampai ia tidak mau melepaskan jambakannya.
"Bu."
Dengan terpaksa aku sedikit mendorong ibu, hingga kursi roda yang ditumpangi ibu terguling.
"Ri-ki."
Suara ibu terdengar pelan, membuat aku langsung mengeceknya, " Ibu. "
Ibu ternyata pingsan, dengan sigap membopong tubuh ibu. Menaruhnya di atas kasur.
"Ahk."
Mendengar suara Sari, membuat aku menghampirinya, terlihat jika tangan istriku itu terluka dan mengeluarkan darah.
"Sari, tanganmu. "
Membuka kemeja, menutup darahnya yang terus mengalir," kita ke rumah sakit?"
"Tidak perlu mas, nanti juga sembuh sendiri kok!"
Sari kini bangkit, ia terlihat muram, aku yang mengerti keadaannya sebagai seorang suami berusaha menahan tangannya.
"Kamu jangan keras kepala sekarang kita pergi ke rumah sakit."
Sari menundukkan pandangan, terlihat jika istriku tak kuasa menahan air mata yang akan keluar dari kedua matanya yang berbinar itu.
"Sari, kamu dengar tidak apa yang aku katakan. "
Menganggukkan kepala, aku langsung membawanya ke rumah sakit, takut terjadi apa apa dengan ibu.
"Bi, tolong jaga ibu ya. Saya pergi dulu. " Memerintah pembantu di rumah, aku berjalan terburu buru menuju mobil.
"Mas, ini terlalu berlebihan, hanya luka kecil saja. Tak perlu dibawa ke rumah sakit segala."
"Luka kecil bagaimana, darahmu dari tadi mengalir terus Sari, sudah sekarang kamu menurut saja. "
Sari pada akhirnya diam, ia tak menjawab perkataanku, kini mobil telah sampai di rumah sakit terdekat.
Untung saja aku tidak telat membawa istriku ke rumah sakit, ia hampir saja mengalami infeksi karena luka bekas pecahan beling.
"Kamu lihat sendiri kan, kalau aku tidak membawa kamu buru buru ke rumah sakit gimana nasib tanganmu itu?"
Sari hanya menghela napas di saat aku berbicara panjang lebar dihadapannya.
"Kamu dengar tidak, apa yang mas katakan padamu Sari?"
Sari kini menatap ke arah wajahku, " aku dengar kok mas, kamu jangan kuatir. "
Membalikkan badan ke arahnya, memegang kedua tangan, " Sari, aku begini karena sayang padamu. "
Terlihat raut wajah Sari menampilkan kesedihan, ia seperti terpaksa tersenyum di hadapanku.
"Apa yang ibu katakan pada kamu?"
Pertanyaanku, membuat Sari melepaskan tangannya, kedua matanya berkaca kaca.
"Sari ayo katakan?"
Wajah yang menunduk penuh kesedihan itu, kini aku angkat perlahan, dimana air mata mengalir membasahi pipi istriku.
"Kamu menangis, coba katakan padaku? Ibu bilang apa pada kamu Sari?"
Sari terlihat begitu ragu, hingga aku mengusap pelan pipinya, " ayo katakan. "
"Ibu, menyuruh kita untuk berpisah mas!"
Jawaban dari Sari, membuat aku mengepalkan tangan kanan, " Di saat ibu sedang sakit, ibu bisa bisanya mengatakan hal itu?"
Sari menganggukkan kepala, tidak biasanya ia berani mengatakan kejujuran akan perkataan ibu.
"Ini tidak bisa dibiarkan. "
Sari mulai menahan tanganku," Mas, kasihan ibu dia sudah tua, kamu jangan memarahinya."
Perkataan Sari ada benarnya, tapi ibu sangatlah keterlaluan, ia bisa bisanya mengatakan hal yang tak seharusnya.
"Kalau aku biarkan ibu, dia akan semena mena padamu, dan kenapa kamu tidak pernah melawan dan selalu mencegahku, Sari. Aku heran dengan kamu, sebenarnya hati kamu ini terbuat dari apa? Bisa sabar menghadapi sifat dan perlakuan jahat ibu. "
Sari terlihat menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman lebarnya. " Jika orang lain menyakiti kita, tak usah kita balas dengan menyakitinya lagi, tapi balas dengan kebaikan yang kita bisa lakukan. Karena itu hal yang lebih baik. "
"Mm, tetap saja Sari sayang. Kalau orang itu sudah keterlaluan dan diluar batas kesabaran kita, kali kali kita harus menegurnya, agar dia sadar."
"Nggak gitu juga kali mas. "
Obrolanku dengan Sari tiba tiba tertunda, saat pembantu di rumah menghubungiku.
"Siapa mas. "
"Bi Asih. "
"Ada apa ya dia menelepon, apa terjadi sesuatu pada ibu?"
Perasaanku sudah tak tenang, dimana aku langsung mengangkat panggilan telepon dari Bi Asih.
"Halo, bi. Ada apa?"
"Anu, Tuan Riki, ibu mengamuk dari tadi ibu memecahkan barang barang di kamarnya!"
"Ya sudah bi, kalau begitu saya pulang sekarang juga. "
"Baik, tuan. Hati hati di jalan. "
Sambungan telepon pun kini terputus, Sari bertanya padaku dengan raut wajah kuatir, " ibu baik baik saja kan mas?"
Aku menatap ke arah Sari, mengusap kasar wajah, " Ibu mengamuk lagi. "
"Ya ampun mas, kasihan ibu. Ya sudah, sekarang juga kita harus pulang."
"Iya, ayo. "
Kami berdua mulai masuk ke dalam mobil untuk segera pulang melihat keadaan ibu.
"Mudah mudahan Bi Asih bisa menghentikan ibu. "
Aku mulai mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, cemas akan keadaan ibu.
Setelah sampai, aku mendengar teriakan ibu dari luar rumah.
"Ibu."
Wanita tua itu memanggil nama Puja, dengan nada bicaranya yang kurang terdengar jelas.
"Ri-ki."
Ia berada di atas lantai, terbaring dengan satu tangannya yang masih bisa digerakan. " M-a-na Pu-j-a. "
Selalu saja yang ditanyakan ibu itu selalu nama Puja, membuat aku tak tega dengan istriku yang mendengarnya.
Pastinya Sari sakit hati dengan kepedulian dan keinginan ibu bertemu dengan Puja, dimana aku tak bosan bosan menjelaskan pada ibu agar menyayangi Sari menantunya sendiri.
𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚒 𝚏𝚋 𝚐𝚊𝚔 𝚙𝚞𝚊𝚜 𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚐𝚛𝚎𝚐𝚎𝚝𝚗𝚢𝚊