Sekuel Ketos Itu Suamiku.
🍁🍁
"Nikah yuk, Bi!" ajak seorang cowok pada seorang gadis yang berjalan di dekatnya.
"Nggak mau!" balas gadis berkerudung lengkap dengan cadarnya tersebut. Menolak mentah-mentah ajakan menikah dari seorang cowok yang dia ketahui bernama Alther Davindra Bagaskara.
🍁
Siapa yang tidak mengenal cowok bernama Alther Davindra Bagaskara? Murid pindahan yang langsung menjadi most wanted di SMA Mahardika.
Wajahnya yang tampan paripurna, postur tubuhnya sesuai idaman para kaum hawa, serta praupannya yang dingin itu sungguh menjadikannya seorang pangeran di sekolah barunya. Bahkan statusnya sebagai ketua geng motor semakin menjadikan Al sebagai cowok idaman mereka.
Namun, siapa sangka jika cowok keren dan brandalan seperti Al malah jatuh hati kepada perempuan bercadar dan sangat menutup penampilan serta menjaga batasannya? Tidak akan ada yang percaya, bukan?
Siapakah perempuan yang berhasil menarik hati Al?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 23. Perasaan Bersalah
Bab. 23
Pagi ini Bina berangkat lebih awal dan segera masuk ke kelas. Di tangannya ada sebuah kotak yang berisi beberapa obat untuk mengobati luka luar.
Bina duduk dalam perasaan resah, ia begitu khawatir dengan keadaan dua murid baru yang semalam menolong dirinya. Bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka baik-baik saja. Itulah yang Bina ingin tahu.
Hingga tidak berapa lama Bina duduk, Gita datang dan cukup terkejut melihat Bina sudah ada di tempatnya.
"Tumbenan banget lo datangnya pagi, Bi?" tanya Gita. Karena Gita tahu, selama ini Bina datangnya agak mepet jam masuk kelas. Karena gadis bercadar itu harus menyiapkan sarapan dan beberes rumah.
"Udah nggak ada kerjaan di rumah, Gi. Semua dikerjakan Bunda tadi," jawab Bina jujur.
Melihat kepulangannya yang terlalu larut dan dalam keadaan gemetar, bundanya Bina tentu saja khawatir namun tidak berani langsung mencecar putrinya. Oleh sebab itu pagi-pagi sebelum berangkat kerja, bunda mengerjakan semuanya agar Bina tidak perlu memasak hari ini. Fokus dengan sekolahnya.
Mata Gita menangkap sesuatu asing yang belum pernah Bina bawa.
"Terus itu di tangan lo apa, Bi?" tanya Gita penasaran. Gadis itu kemudian menatap ke arah kotak yang dituju Gita.
"Obat, Gi," jawab Bina membuat Gita langsung mendekat ke arahnya. Menggeser tempat duduknya hingga mepet ke arah Bina.
"Lo sakit? Atau luka? Bagian mana, Bi? Biar gue yang obatin!" seru Gita tanpa sadar. Sedangkan keadaan kelas mulai banyak murid yang duduk di tempat mereka masing-masing.
Bina menundukkan wajahnya di kala mereka menjadi pusat perhatian gara-gara ucapan Gita barusan.
"Jangan keras-keras bicaranya, Gi. Mereka natap ke arah kita, loh!" ingat Bina menahan gemasnya kepada temannya tersebut.
Sementara Gita hanya menyengir. Menyadari teman-temannya menatap ke arah mereka dengan tatapan penasaran.
"Bina kenapa, Gi?" tanya seseorang yang kemudian mendekat ke arah meja mereka.
"Kalau emang sakit, bawa aja ke UKS. Dari pada nanti pingsan, nggak ada yang berani gendong dia, kan?" sahut temannya yang lain.
Bina langsung melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Aku nggak sakit. Gita salah paham," ujar Bina meluruskan tanggapan mereka.
"Lah, terus itu kotak obat buat siapa, abi? Kalau emang bukan lo yang luka?" cecar Gita yang sebenarnya khawatir dengan keadaan Bina. Takut kalau sampai temannya itu menahan rasa sakitnya sendiri.
Bina menghela napas pelan. Tidak mungkin ia mengatakan kalau obat itu sebenarnya untuk Al dan temannya cowok itu yang Bina tahu namanya Genta. Karena mereka berdua yang sudah menolong dirinya semalam.
Belum sempat Bina membuka suara, rombongan Al masuk ke dalam kelas dan seperti biasa, mereka selalu menjadi pusat perhatian.
Iyan yang terkenal paling ramah di antara mereka, cowok itu langsung menuju ke tempat yang dikerumuni oleh beberapa siswi.
"Ada gosip apa nih, pagi-pagi?" tanya Iyan dengan senyuman manisnya. Bahkan cowok itu sambil menepuk bahu beberapa siswi yang dia lewati. Barulah Iyan sampai di depan Bina.
Sedangkan Al yang mengenakan masker pun menatap cuek ke arah mereka. Cowok itu duduk di tempatnya, pun begitu dengan Genta.
"Nggak ada apa-apa! Udah, semua bubar!" seru sang ketua kelas, yakni Ayla. Gadis itu menatap sinis ke arah beberapa orang yang mengerumuni meja Bina. Lebih tepatnya lagi gadis itu menatap ke arah Bina dengan tatapan tidak suka.
Bina sendiri juga cuek. Tidak peduli dengan tatapan mereka, yang terpenting dirinya tidak merugikan orang lain.
'Tumben banget dia makai masker. Apa jangan-jangan semalam dia kena tonjok?' gumam Bina di dalam hati yang sempat melirik ke arah Al.
Ada rasa bersalah di dalam dirinya. Namun, ia tidak mungkin menghampiri Al dan berterimakasih sekaligus meminta maaf di saat keadaan sedang ramai seperti ini. Di tambah lagi mereka akan kena gosip kalau sampai berdekatan. Walau sebatas mengobrol semata.
pengen tau kelanjutannya