Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!
*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.
Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.
"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.
Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Clarissa Hamil.
Hari berlalu dengan cepat, setelah kejadian Gamma kesakitan waktu itu, pria itu kini jarang sekali berbicara pada Luna. Atau mungkin lebih tepatnya karena Gamma juga sangat sibuk dikantornya. Ia menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum ia berangkat ke pulau Bintan untuk mengecek lokasi proyek dan menemui klien barunya.
Arsen sudah beberapa kali membujuk Gamma untuk mengurungkan niatnya, tapi pria itu sama sekali tidak merubah pendiriannya. Besok ia akan tetap pergi bersama Luna ke pulau Bintan.
"Sayang, kenapa kau memasukkan baju-bajumu ke koper? Kau mau kemana?" Clarissa yang malam itu baru saja pulang, langsung menegur suaminya, ia kaget karena Gamma tiba-tiba,memasukkan bajunya ke koper.
"Aku akan pergi-"
"Kemana Sayang? Kenapa kau ingin pergi? Apa yang sebenarnya terjadi?" Clarissa langsung menyela, ketakutan dalam dirinya membuat ia tidak bisa berpikir jernih.
Gamma mendengus kecil, ia menyelesaikan acara berkemasnya lalu menatap Clarissa begitu dingin. "Besok aku ada pekerjaan di Pulau Bintan, mungkin aku sekitar 2-3 hari disana. Bagaimana? Apa kau sudah pergi ke Dokter kandungan?" Gamma menjelaskan dengan wajah cueknya, ia lalu menanyakan hal lainnya kepada Clarissa.
Kali ini Clarissa tersenyum sangat manis, ia mengangguk dengan semangat. "Sudah Sayang, dan apa kau tahu hasilnya apa?"
"Apa hasilnya? Kau pasti belum hamil 'kan? Aku sudah bilang kalau kau itu hanya kecapekan makanya mual dan muntah," ujar Gamma memang tidak mau Clarissa hamil, jadi saat wanita itu pagi tadi mengeluh sakit ia sudah yakin kalau Clarissa memang tidaklah hamil.
"Siapa bilang? Hasilnya positif Sayang, sekarang aku sudah hamil, taraaaa ..." Clarissa mengucapkan kabar yang ditunggu-tunggunya itu, ia juga mengeluarkan sebuah foto USG kecil yang baru didapatkannya.
"Ka-kau hamil? Bagaimana bisa?" Bukannya senang, Gamma malah sangat syok, karena seingatnya ia tidak pernah membuang di dalam saat melakukannya dengan Clarissa. Alasannya tentu saja karena ia tidak mau wanita itu hamil dan ia akan repot jika harus terikat dengan wanita itu seumur hidupnya.
"Kok gitu sih Sayang? Kau tidak senang ya aku hamil? Ini pasti hasil dari program kehamilan kita, tidak aku sangka akhirnya hasilnya secepat ini. I love you Sayang, i love you so much," ucap Clarissa beranjak mendekati Gamma lalu memeluk pria itu segera, ia benar-benar bahagia saat Dokter mengatakan ia hamil. Entah itu anaknya siapa, Clarissa tidak perduli, yang jelas kini ia sudah hamil dan harus membuat Gamma semakin tidak bisa lepas dari cengkeramannya.
Gamma tidak bereaksi apapun, ia masih terlalu syok dan bingung dengan kabar ini. Sekarang apa yang harus dilakukannya?
******
Keesokan harinya Gamma terbangun saat merasakan perutnya sangat mual, ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Padahal ia tidak memakan apapun sejak semalam, tapi kenapa tiba-tiba perutnya sangat mual?
"Astaga Gamma, ada apa denganmu?" Clarissa yang tadinya tidur juga langsung terbangun saat mendengar suara Gamma yang muntah-muntah.
Gamma menggeleng pelan sebagai jawaban, ia juga tidak tahu kenapa bisa mual dan muntah tiba-tiba, kepalanya juga mendadak sangat pusing sekali.
"Apa masuk angin? Istirahat gih, aku minta Bibi buatin teh hangat," ujar Clarissa menuntun Gamma tapi pria itu menolak.
"Tidak usah, aku harus pergi sekarang," ucap Gamma teringat akan pekerjaannya pagi ini, ia tidak mau sampai gagal pergi karena ia sudah tidak sabar ingin bersama Luna tanpa ada gangguan dari siapapun.
"Kau sedang sakit, apa tidak diundur saja pekerjannya?" Clarissa langsung mencegah.
"Jangan mengaturku Risa," sentak Gamma malah kesal sendiri, sepertinya ia masih tidak terima jika saat ini istrinya sedang hamil.
"Tapi Gamma, kau itu sedang sakit. Jangan memaksakan dirimu, biarkan saja Arsen yang menggantikan mu dulu." Ucapan Clarissa selanjutnya itu malah membuat Gamma kian meradang.
"Aku tidak akan menggantikan pekerjaanku dengan siapapun, sebaiknya kau diam dan siapkan saja bajuku," sergah Gamma memilih langsung menutup pintu kamar mandi daripada melihat wajah Clarissa.
Clarissa mengepalkan tangannya erat, ia pikir Gamma akan berubah sayang padanya lagi setelah tahu dia hamil, nyatanya sikapnya semakin kesana kesini.
"Apa benar Gamma seperti ini hanya karena curiga aku selingkuh? Atau memang ada alasan lain yang membuatnya jadi seperti ini?" gumam Clarissa berpikir keras, karena seingatnya Gamma itu sangat mencintainya.
Pria itu merasa berhutang budi padanya karena kejadian beberapa tahun lalu, hal itu juga yang membuat Gamma sibuk mengejar-ngejar Clarissa dan meminta wanita itu menjadi istrinya.
Setelah beberapa saat, Gamma akhirnya keluar kamar mandi. Pria itu sudah lumayan tidak mual meski kepalanya masih pusing. Gamma segera memakai bajunya dan bersiap untuk pergi ke Bandara.
"Gamma, jangan lupa minum obatnya dulu, aku tidak akan membiarkan kau pergi sebelum meminum obat ini." Clarissa kembali menghampiri Gamma sebelum pria itu berangkat.
"Kenapa kau harus minum obat ini lagi? Aku hanya pusing dan mual." Gamma mengangkat alisnya tidak mengerti kenapa Clarissa selalu meminta ia meminum obat itu.
"Ya siapa tahu aja itu juga efek dari penyakitmu, minum dulu ya? Kalau kau sakit disana siapa yang akan repot? Atau aku ikut saja ke Pulau Bintan?" Ujar Clarissa.
"Tidak perlu, aku akan meminumnya saja," tukas Gamma tidak akan membiarkan Clarissa merusak rencananya.
Clarissa tersenyum kecil, ia memberikan obat itu dan memastikan Gamma meminumnya, dengan begini kan dia sudah tenang.
Teruslah minum racun ini Gamma, minum yang banyak agar dia bisa secepatnya bekerja, membunuh tubuhmu secara perlahan-lahan.
******
Gamma masuk kedalam mobilnya, tanpa sepengetahuan Clarissa, ia sejak tadi tidak menelan obat yang wanita itu berikan. Ia langsung memuntahkannya setelah sampai di mobil.
"Sebenarnya ini obat apa? Aku merasa ini bukanlah obat untukku, karena setiap aku meminumnya badanku malah sakit semua," gumam Gamma menatap obat ditangannya, ia berpikir keras dan menebak sebenarnya apa yang diberikan Clarissa padanya.
"Kita berangkat sekarang Tuan?" Tanya Supir Gamma.
"Ya, tapi aku ada tugas untukmu lagi Harun," jawab Gamma menatap supirnya.
"Tugas apa, Tuan?" Tanya Harun lagi.
"Bawa obat ini ke laboratorium, aku curiga kalau Clarissa tidak memberikanku obat yang benar," ucap Gamma memberikan obatnya tadi kepada Harun.
"Baik Tuan." Harun mengangguk mantap tanpa membantah sama sekali.
"Kalau hasilnya keluar berikan langsung padaku. Sekarang katakan apa yang kau dapat kemarin?" Ujar Gamma lagi.
"Saya sudah menyelidikinya Tuan, dan memang hubungan Nyonya Clarissa dengan pria itu sangat dekat. Bahkan belakangan ini Nyonya Clarissa sering datang ke rumahnya." Harun langsung menjelaskan informasi apa yang didapatkannya selama menguntit istri bosnya itu.
Ya benar, Harun memang ditugaskan Gamma untuk selalu mengawasi Clarissa selama ini tanpa sepengetahuan wanita itu.
"Kau yakin dia bukan Managernya yang selama ini bekerja dengannya?" Tanya Gamma dengan dahi berkerutnya.
"Yakin Tuan, Nyonya Clarissa tidak pernah lagi menemui managernya setelah beliau memutuskan kontrak kerja sama itu. Kalau tidak salah pria yang bersama Nyonya Clarissa bernama ..." Harun mengingat-ingat siapa nama pria yang belakangan ini ditemui istri bosnya itu. "Darren, ya Darren Tuan. Umurnya pun bukan seumuran dengan Nyonya Clarissa, tapi seumuran sama dengan bapak," sambung Harum akhirnya ingat siapa nama pria yang bersama Clarissa.
"Darren?" Gamma mengerutkan dahinya lebih dalam, ia semakin bingung dengan semuanya.
Siapa Darren? Kenapa pria itu berhubungan dengan Clarissa? Kenapa juga umurnya seumuran dengan Papanya? Apa sekarang Clarissa lebih suka pria yang lebih tua?
"Awasi terus dia Harun, dan aku ingin kau mendapatkan informasi tentang Darren segera."
Happy Reading.
TBC.
eh awal bab so 🔥🔥🔥