Natasha delapan belas tahun yang mengalami time travel. Gadis yatim-piatu itu jatuh dari ketinggian dan terhempas ke tubuh seorang putri raja yang diperundung. mampukan Natasha menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THE KING AND THE QUEEN
Raja dan ratu diarak keliling wilayah kerajaan. Baik Natasha dan Abraham melambaikan tangan pada rakyatnya. Sorak sorai membahana.
Burung-burung terbang menaburkan bunga-bunga. Seekor burung hantu berwarna putih bersih terbang mendekati Natasha. Binatang itu hinggap di lengannya.
"Ada apa Affetto?"
Burung itu hanya mengangguk, sebuah batu ia letakkan di telapak tangan Natasha.
"Apa, jadi wilayah sengketa itu memiliki tambang permata?" desis Natasha.
"Ada apa Sayang?" Natasha menggeleng.
Abraham yang sibuk menyapa semua rakyat yang mengelu-elukan tak fokus dengan apa yang dikatakan istrinya itu.
"Baiklah ... terbanglah Affetto kembali ke sangkarmu!" perintah Natasha.
Burung putih itu mengepakkan sayapnya. Setelah satu jam mengelilingi wilayah. Keduanya memilih pergi ke istana milik Natasha.
Kerajaan Hampers dijuluki "The White palace." karena bangunan itu keseluruhan bercat putih bersih.
"Duke Hazard, beri undangan seluruh kerajaan. Kita adakan rapat tentang wilayah sengketa dan bawa bukti kuat jika tanah itu adalah milik kita!" perintah Natasha tegas.
"Ada apa dengan tanah itu istriku?" tanya Abraham.
"Tanah itu memiliki tambang permata Yang Mulia!" jawab Natasha, wanita itu menyerahkan batu yang dibawa Affetto.
"Ini hanya batu biasa," ujar Abraham ketika melihat benda itu.
"Ini belum diasah Yang Mulia!" ujar wanita itu.
"Lalu, apa kau ingin mengklaim wilayah itu sebagai bagian wilayah mu?" tanya Abraham sedikit kesal.
"Yang Mulia, aku punya bukti jika wilayah itu adalah bagian dari kerajaan ini!' tekan Natasha mengerutkan kening.
Abraham hanya mendengkus, pria itu tak mengatakan apapun. Natasha menjauh dari tubuh suaminya.
"Kau tak suka jika wilayah itu bagian dari kerajaan ini?" tanya Natasha mulai tak suka.
Abraham menatap istrinya yang memandanginya dengan pandangan curiga.
"Aku tidak begitu!" sanggah Abraham.
"Kita adakan rapat, kau akan tau jika memang wilayah itu adalah bagianku," ujar Natasha.
Tak butuh lama, para raja berdatangan. Mereka tentu protes akibat berita yang didengar.
"Apa-apaan ini wilayah itu adalah bagian dari kami!" teriak Raja Edward Huzeldburg.
"Silahkan kau berikan bukti Yang Mulia!" ujar Natasha sangat tegas.
Pangeran Marcus Colchester juga datang. Ia juga diundang karena wilayah itu berbatasan dengan kerajaannya.
Semua masuk ruangan termasuk Abraham. Beberapa diantara raja memberi selamat pada raja baru.
Natasha dan Hazard membuka peta dan menggelarnya di meja rapat. Semua melihat peta itu. Ternyata memang benar jika kerajaan Hampers yang paling dekat juga banyak bukti dari beberapa kemiripan flora juga binatang di sana.
"Untuk kerajaan milik Pangeran Marcus Colchester ...."
Natasha tiba-tiba berhenti bicara. Ia tiba-tiba memiliki ide. Ia mau semua kerajaan bekerjasama untuk berinvestasi di wilayah itu.
Sementara di tempat lain. Brigitta berhasil lolos dari jerat semak belukar hidup. Ia sudah bercinta dengan iblis penunggu bukit Bronx.
"Brigitta!" wanita itu menoleh.
Sosok hitam besar mendekatinya. Wanita itu tersenyum kecut. Ia baru saja melayani iblis itu.
"Aku ingin lagi!"
"Tapi kita sudah melakukannya sepuluh kali!" ketus wanita itu protes.
"Brigitta!" teriak iblis itu dengan mata merah.
Tubuh Brigitta mulai lemah. Sinar merah masuk dalam rongga matanya. Ia jadi terbakar gairah.
Keduanya kini saling mencari kepuasan. Brigitta bercinta dengan sosok siluet yang membuatnya mengerang nikmat dan mendapat pelepasan berkali-kali.
Usai bercinta dengan iblis. Brigitta seperti memiliki kekuatan baru. Wanita itu tampak jauh lebih muda dan sangat cantik.
"Kau boleh pergi Brigitta!"
Iblis berubah jadi sosok sangat tampan. Wanita itu terpeson, tatapannya sayu dan kembali bergairah.
"Kau akan terus bersamaku Brigitta. Jiwamu telah aku ikat!' ujar iblis itu dengan seringai menakutkan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya iblis itu.
"Habisi seluruh keturunan Hampers!" pinta Brigitta.
"Baiklah," ujar iblis lalu keduanya saling memagut bibir.
Rapat selesai, ide Natasha diterima semua kerajaan. Mereka melakukan kerjasama dengan menanam investasi di daerah itu. Hasil dari investasi akan ditotal per tiga bulan.
"Ini sangat menguntungkan dibanding kita berebut tanah itu dan tak bisa mengelolanya," ujar Raja Edward Huzeldburg.
Abraham juga sangat puas dengan apa yang ditawarkan istrinya itu.
"Sayang, bagaimana jika kita mempersatukan kerajaan kita?" tawar Abraham.
"Kita tak mungkin terpisah karena beda kerajaan. Dengan bersatunya kerajaan maka aku jadi kaisar dan kau tetap jadi ratu?" lanjutnya memberi ide.
Natasha hanya diam, wanita itu tak memberi jawaban. Melihat istrinya tak menanggapi idenya, Abraham pun berhenti membicarakannya.
"Kalau begitu, aku pulang ke kerajaanku," ujar Abraham pamit.
Natasha menatap kereta yang membawa suaminya pergi. Federik ada di sisi wanita itu.
"Yang Mulia?"
"Biarkan dulu Federik!" ujar Natasha tak mau diganggu.
Federik membungkuk hormat. Sementara di kereta, Abraham memandang datar cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pernikahannya dengan ratu terkuat dan terhebat.
"Yang terpenting kau sudah menjadi milikku Natasha. Selanjutnya, aku akan bisa menguasaimu," gumamnya lirih.
Tak berselang lama. Pria itu turun dan banyak satria dan pengawal istana membungkuk hormat ketika Abraham turun.
"Yang Mulia!" pria itu menoleh.
"Princess Liliana datang, beliau ada di aula barat!" lapor staf istana.
Abraham mengangguk, pria itu pergi ke arah aula di mana Liliana menunggu.
"Yang Mulia King Abraham Bernard Loudan IV tiba!" teriak Kasim.
"Yang Mulia!" semua membungkuk hormat.
"Sayang!" panggil Lilian dengan binaran rindu.
Gadis itu hendak mendekati Abraham tetapi banyak penjaga menahannya.
"Pergilah kalian. Aku bisa jaga diri!" perintah Abraham.
"Yang Mulia!" semua menunduk hormat.
"Yang Mulia ingat kau sudah memberi plakat resmi pada My Queen Natasha!' peringat Duke Bowie.
Abraham diam, kini ruangan itu sepi. Lilian yang sangat merindukan Abraham tak tahan ia pun memeluk tubuh pria itu.
"Aku merindukanmu, aku merindukanmu!" isaknya.
Perlahan Abraham melepas pelukan Lilian. Dua netra saling tatap. Abraham tak merasakan getaran pada hatinya ketika menatap iris coklat terang di depannya.
"Maaf Lilian, aku sudah menikah!' ujarnya.
"Tapi kau masih mencintaiku kan!" sahut Lilian dengan pandangan memohon.
Abraham menggeleng, ia tak lagi memiliki rasa pada gadis yang dulu sangat ia cintai ini.
"Maaf ...."
"Tapi kau menikahi Natasha hanya ingin merebut kekuasaannya kan?!' sahut Lilian lagi.
"Iya ... tadinya ... tapi aku berpikir dua kali untuk apa merebut jika kerajaan kami jadi satu," ujar Abraham lagi.
"Sayang!" Lilian menarik wajah Abraham dan mencium bibirnya.
Lilian sangat paham bagaimana cara membangkitkan gairah lawannya.
"Sayang ... kau masih mencintaiku ... balas ciumanku sayang!" pinta Lilian putus asa.
Abraham tak menyambut tautan bibir gadis cantik yang memaksa.
"Ini yang dikerjakan King Abraham setelah pergi dari istana istrinya?' sebuah suara mengagetkan Abraham.
Di sana Natasha berdiri, ia tadinya ingin menyatukan kerajaannya dengan kerajaan sang suami. Tetapi melihat adegan yang ada di depannya.
"Istriku ...."
"Aku akan menuntut mu Abraham!" ujar Natasha lalu pergi dari sana.
"My Queen!"
"Sayang ... biar dia pergi ...."
Plak! Satu tamparan keras di daratkan di pipi Lilian hingga ia tersungkur.
Abraham menatap gadis itu penuh kebencian. Lalu ia menatap cermin.
"Aku juga membenci diriku sekarang! Bodoh!"
bersambung.
Prett! Abraham ... kau harus berjuang untuk mengembalikan kepercayaan istrimu!
next?