"Tidak!!" teriak seorang wanita yang masih memakai baju pengantin di tubuhnya. wanita itu bernama Renita Aprilia Anggraini. seorang wanita cantik yang memiliki kulit seputih porselen. dan wajah yang sangat cantik.
Sayangnya, kecantikannya itu tidak sejalan dengan kebahagiaannya. karena, tepat di malam pengantin, sebuah tragedi terjadi dan menimpa sang suami. hingga membuat wanita itu, seketika menjadi histeris.
Apalagi, saat semua orang mengatakan bahwa suaminya yang bernama Adrian Marcel Wijayanto dinyatakan meninggal oleh semua orang.
Membuat Reni, begitulah sapaan orang-orang. seketika jatuh pingsan. dan harus menjalani perawatan hingga berhari-hari
Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya jika gadis cantik itu tahu kebenaran tentang sang suami dan juga keluarganya? apa yang akan dilakukan oleh Renita, terhadap tradisi konyol yang diterapkan di keluarganya sendiri?
Mampukah, gadis cantik itu melawan tradisi keluarganya yang terkesan sangat aneh dan kuno?
Yuk Simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Bertemu
Setelah melakukan perjalanan hampir 1 jam, akhirnya Renita sampai juga di sebuah jalan besar yang menghubungkan antara hutan itu dan juga sebuah desa kecil.
Langkah wanita itu semakin melebar. saat matanya, melihat ada pemukiman kecil yang berbatasan langsung dengan hutan itu.
Renita memang tidak mengenali jalan keluar dari hutan itu. karena memang malam itu, dirinya merasa diri guna-guna oleh laki-laki biadab itu.
"maaf neng mau ke mana?"tanya seorang warga yang kebetulan lewat dan berpapasan dengannya.
Sepertinya warga itu, hendak mencari kayu bakar ke dalam hutan sana. karena terlihat dari pakaian dan juga alat-alat yang dibawa oleh wanita itu.
"eh, Bu! saya mau ke jalan besar. apakah ibu tahu di mana jalan besar itu?"tanya Renita dengan penuh harap.
Karena Wanita cantik itu tidak ingin, dirinya kembali tertangkap dengan Yudha. orang yang telah merenggut masa depannya itu.
Sementara wanita paruh baya yang saat ini berada di hadapannya itu, menatap Renita dari atas sampai bawah. membuat wanita cantik itu, seketika merasa salah tingkah karena diperhatikan seperti itu oleh seseorang.
"neng ini dari mana?"tanya wanita paruh baya itu Seraya menatap Renita dari atas sampai bawah.
Sontak saja, wanita cantik itu segera menceritakan semuanya pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu. tentu saja, Renita tidak menceritakan kejadian terenggutnya kesuciannya itu. karena pastinya, wanita itu akan merasa malu jika sampai hal itu benar-benar ia katakan.
"oh begitu,"ucap wanita paruh baya itu menganggukkan kepala.
"jadi bagaimana Bu, apa di desa ini ada akses telepon umum ataupun ponsel?"tanya Renita saat mereka telah lama terdiam.
Wanita paruh baya itu, seketika terkekeh pelan. yang membuat Renita semakin merasa kebingungan. karena menurutnya, apa yang ia katakan itu tidak ada yang lawak.
"apakah ada yang lucu, Bu?"tanya Renita dengan raut wajah kebingungan.
"tentu saja lucu nak, di desa seperti ini mana ada yang mempunyai ponsel. sepeda motor aja jarang yang punya,"ucap wanita paruh baya itu masih dengan kekehan kecil.
Tentu saja hal itu membuat Renita yang mendengarnya, meringis karena merasa pertanyaannya itu, adalah pertanyaan konyol.
"duh kenapa sih aku harus bertanya itu? jelas-jelas tempatnya seperti ini!"gerutu Renita dalam hati Seraya memukul kepalanya Pelan.
"tapi kalau telepon umum, ada neng!"ucap wanita paruh baya itu dengan senyuman manis.
Renita yang mendengar itu, seketika menggila nafas panjang. dan setelah itu, Renita meminta untuk diantarkan ke rumah kepala desa.
Untungnya, wanita paruh baya itu tidak keberatan untuk mengantarkan Renita. karena memang wanita itu, tidak terburu-buru untuk melakukan pekerjaannya.
Di sepanjang perjalanan, Renita memperkenalkan diri pada wanita paruh baya itu.
"saya Sulastri neng,"ucap wanita paruh baya itu Seraya menjabat tangan Renita.
"saya Renita Bu,"ucap wanita cantik itu Seraya membalas uluran tangan wanita paruh baya itu.
Karena asiknya berbincang-bincang, Renita dan juga Bu Sulastri tidak sadar, jika mereka telah sampai tempat tujuan.
"permisi Pak, apakah saya boleh meminjam telepon umum ini?"tanya Renita saat mereka telah sampai di rumah kepala desa itu.
"silakan Nak,"ucap laki-laki paruh baya itu yang sejak tadi, menatap Renita dari atas sampai bawah.
Bu Sulastri yang melihat itu, segera menceritakan bahwa Renita adalah salah seorang korban penculikan. tentu saja hal itu membuat laki-laki paruh baya itu, merasa sangat terkejut. laki-laki paruh baya itu pun, juga menawarkan agar Renita segera melaporkan kepada pihak yang berwajib.
Namun dengan segera, Renita menolaknya. dengan alasan, Renita tidak ingin memperpanjang masalah itu. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah Renita tidak ingin dirinya kembali tertangkap pada keluarga Kusuma.
Karena bisa saja, mereka akan kembali menangkap dirinya jika sampai polisi menangkap Yudha. karena dapat dipastikan, bahwa Yudha tidak akan pernah mengatakan siapa yang menyuruhnya untuk menculik wanita itu.
"halo, ini siapa?"terdengar suara seorang laki-laki dari seberang sana.
"Banu, ini aku Renita."ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca. karena tidak menyangka bahwa sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan orang-orang yang sangat ia sayangi.
"Kau di mana sekarang? biar aku sama yang lain jemput,"terdengar suara Banu dari seberang sana yang sangat gembira mendengar suara Renita.
"aku ada di desa Y,"ucap wanita cantik itu dengan suara sedikit bergetar karena menahan tangis.
"baik kita akan segera ke sana,"
Tut
Setelah mengatakan hal itu, Renita kembali menempatkan ponsel itu ke tempatnya semula.
"nak Renita lebih baik tunggu saja di sini,"ucap pak kepala desa.
"kalau begitu, aku permisi!"ucap Bu Sulastri pada trinity dan yang lain.
Renita seketika tersenyum lega. karena pada akhirnya, dirinya dapat meloloskan diri dari laki-laki itu.
*****
"ke mana dia?"tanya seorang laki-laki yang baru saja masuk ke dalam gubuk itu.
"kenapa dia bisa hilang? aaarrrgggh!"teriak laki-laki yang bernama Yudha itu dengan kencang.
Tak berselang lama, laki-laki yang bernama Yudha itu mendengar ada suara langkah kaki yang semakin lemah semakin mendekat ke arah gubuknya itu.
brakk
Seseorang dengan segera, mendobrak pintu gubuk itu hingga roboh. dan hal itu membuat Yudha, seketika menelan salivanya dengan kasar. saat mata laki-laki itu, melihat sosok yang selama ini ia takuti. yang tak lain adalah Eyang Anita.
"di mana wanita itu?"tanya Eyang Anita Soraya melayangkan tatapan tajam ke arah laki-laki itu.
Tentu saja hal itu membuat Yudha yang mendengarnya, seketika bergetar karena merasa ketakutan.
"ma.. Maaf Ndoro Ayu, wanita itu berhasil meloloskan diri."ucapnya Seraya suara terbata-bata.
brugh
Seketika itu pula, salah satu anak buah dari Anita, menghantam perut Yudha dengan satu kepalan tangan. hingga membuat laki-laki itu, seketika terhuyung ke belakang.
uhuk uhuk uhuk
"maafkan saya Ndoro Ayu,"ucap Yudha Seraya menundukkan kepala.
Sementara Anita, wanita sepuh itu segera mengangkat tangan ke udara. mengisyaratkan bahwa, semuanya cukup sampai di situ.
"sudah biarkan saja, kalaupun dia selamat dia akan menanggung malu."ucap Eyang Anita Seraya melangkahkan kakinya untuk keluar dari gubuk itu.
Tentu saja hal itu membuat Yudha yang mendengarnya, dapat menghela nafas dengan lega.
*****
" kita harus ke desa Y,"ucap Banu pada kedua sahabat wanitanya itu.
"kenapa memangnya ada apa?"tanya Agnes yang memang tidak mengerti.
"Renita telah di temukan,"ucap Banu dengan senyuman.
Sontak saja, hal itu membuat Agnes Dan juga Febri yang mendengarnya, seketika saling pandang.