Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Dicari Mantan Suami.
Yusuf yang tidak tahan lagi dengan kelakuan Ibunya, meminta sang bapak untuk menjemput Ibu Sella. Agar tinggal di rumah mereka yang ada di kampung, walaupun kedua orang tuanya telah berpisah. Namun, Ibunya masih memiliki harta warisan dari kakek/neneknya. Berupa rumah.
Bu Sella meraung-raung memanggil Yusuf agar membantunya. Sedang Yusuf hanya diam walau dalam hati ia menangis tapidia tetap diam. Hal itu dilakukan demi kebaikan Bu Sella sendiri.
Sampailah mereka di balai desa. Maimunah istri Marwan datang setelah diberitahu oleh tetangga perihal suaminya indehoy dengan Bu Sella.
"Gila kau bang. Masih sempat kau main gila sama nenek peyot saat perutku besar begini." Dengan mata berkaca-kaca Maimunah berkata sambil mengelus perut.
"Dek tolong abang. Abang khilaf, jangan tinggalkan aku." Marwan meminta tolong pada istrinya.
"Huuuuuu giliran ketahuan baru bilang khilaf dasar pasangan mesum!." Ucap salah satu warga menimpali omongan Marwan tadi.
"Harap tenang para warga biarkan kita dengarkan penjelasan mereka". Pak RT mencoba menjadi penengah.
"Arrghhhh perutku." Tiba-tiba keluar darah yang deras dari celana yang dipakai Maimunah.
"Kamu kenapa dek.?" Marwan mencoba membantu.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!!!!!." Maimunah menepis tangan suaminya itu dengan jijik
"Tolong bawa Maimunah ke rumah sakit."
Pak RT menyuruh beberapa warga mengantarkan Maimunah ke rumah sakit agar mendapat pertolongan.
"Coba kalian jelaskan baik-baik tentang yang tadi kalian lakukan." Pak RT sengaja tidak meneyebut secara gamblang karna risih.
"Dia Pak datang kerumah saya. Dan ingin memperkosa saya." Ucap Bu Sella sambil menunjuk kearah Marwan. Dan mengkambing hitam kan Marwan, seolah-olah dia lah korban disini. Supaya dia tak terseret.
"Apa maksudmu bukankah kau yang menyuruhku. Dia bohong Pak RT." Marwan tak terima dengan tuduhan Bu Sella.
"Sudah-sudah jangan ribu. Sebenarnya saya sudah mengetahui semua. Tapi saya masih berharap kalian jujur mengakui kesalahan dan menyesal. Malah saling menyudutkan, disini ada bukti video kalian. Disitu terlihat jelas kalian melakukan nya suka sama suka tak nampak paksaan." Jawab Pak Rt sambil memperlihatkan video yang direkam Yusuf.
"Tidak… tidak, itu semua tidak benar. Pasti itu kiriman video yang sudah di edit sebelumnya. Ada orang yang membenci saya lalu melakukan fitnah keji."
"Itu bukan fitnah tapi fakta sebab saya sendiri yang merekam." Dengan mantap kata-kata meluncur dari mulut Yusuf.
"Yusuf!!!." Secara kompak Marwan dan BuSella memanggil nama Yusuf. Tampak terkejutan di mata Bu Sella lalu berubah menjadi marah sekejab mata.
"Sampai hati kau perlakukan ibu seprti ini Yusuf. Mana hati nuranimu. Dasar anak maling Kundang. Durhaka, tak tau diuntung."
Begitu banyak cacian yang keluar dari mulut Bu Sella.
"Aku sudah memberikan ibu kesempatan. Tapi ibu tetap mengulang kesalahan yang sama." Kata Yusuf tak kalah sengit.
"Udah dibakar aja mereka. Jangan kasih ampun." Teriakan beberapa warga yang ingin main hakim sendiri.
"Sabar bapak-bapak, ibu-ibu biarkan kami rundingkan dulu baiknya bagaimana. Nah semua saya kembalikan ke kepada kalain berdua."
"Aku akan pulang kerumah orang tua saya di sumatra pak Rt. Besok akan kukemas barang-barang beserta istri." Marwan sudah memberikan jawaban diiringi sorak bahagia para warga.
"Lalu bagaiman dengan Bu Sella.?" Giliran Bu Sella yang mendapatkan pertanyaan yang sama dari pak Rt.
"Malam ini juga saya akan membawa ibu pulang kampung dan atas nama ibu, saya minta maaf sebesar-besarnya." Kata Yusuf tegas.
"Gak, gak, gak. Aku gak mau balik ketempat kumuh itu lagi." Bu Sella mengeleng cepat tak terima dengan keputusan sepihak yang diambil anaknya.
"Tidak ada kata penolakan. Sekarang juga aku mengantar ibu suka atau tidak suka. Titik!!!!. Atau ibu mau jadi bulan-bulanan warga." Ancam Yusuf.
Bu Sella pun kali ini hanya bisa manut ke anak semata wayangnya tersebut.Tak mungkin ia sanggup jika diamuk masa.
Yusuf melepaskan baju di badan lalu berjalan sambil menutupi aurat Bu Sella. Meski sesekali di iringi sorakan dari warga dengan menahan malu Bu Sella memeluk Yusuf.
Mereka pun sampai dirumah Bu Sella lansung menghempaskan Yusuf dan melepaskan pelukan, masuk kamar menutup pintu dengan kasar. Nampak jelas Bu Sella sangat marah kepada anaknya. Hanya di tanggapi Yusuf dengan santai.
"Bu cepatlah berkemas, setelah sholat subuh kita berangkat. Ibu dengar gak?." Yusuf memberi instruksi kepada Bu Sell. Lebih mirip perintah.
"Iya aku dengar!!!!!!!!!." Jawab Bu Sella dengan teriakan keras.
Didalam Bu Sella menangis tersedu-sedu reputasi yang dibangun selama ini hancur dalam semalam.
"Semua ini salah Yusuf. Kenapa dia begitu tega melempar t*i dimukaku. Habislah aku semua orang pasti mengetahuinya apa lagi hal seperti ini pasti viral dan cepat atau lambat para temen arisan, kolega, serta keluarga akan menjauhiku." Bu Sella meringkuk memeluk kaki. Bayangan buruk yang akan menimpanya.
Sampai fajar menyingsing tak nampak batang hidung ibunya membuat Yusuf khawatir. Takut terjadi hal buruk. Dia membuka pintu dan melihat keadaan ibunya memprihatinkan persis seperti orang depresi.
"Apa aku terlalu berlebihan, sampai ibu menjadi terpuruk seperti ini.?" Ada penyesalan di lubuk hatinya karena dirinyalah Bu Sella seprti itu
"Bu… ayo kita siap-siap berangkat ke rumah nenek." Sambil bantu nya bangun.
"Peduli setan!!! , sampai mati pun aku gak akan balik ke gubuk derita itu." Bu Sella berteriak histeris, spontan teriakan tersebut mengagetkannya.
"Baiklah untuk sementara kita cari kontrakan untuk ibu yang penting di luar komplek ini." Lemah lembut kata Yusuf keluarkan demi membujuk ibunya agar tak terguncang jiwa Bu Sella.
"Iya, cepat cari taksi ibu gak mau naik motor malu dilihat tetangga." Suara Bu Sella melemah dan agak serak.
Mendengar itu Yusuf dengan cekatan menekan ponsel pintar miliknya san memesan taksi di aplikasi hijau.
[Pesan taksi yang berada dekat dengan daerah ********.]
[Saya berada dititik itu. Mau kemana mas?.]
[Saya di ******** mau cari kontrakan nyaman dan murah di komplek sebelah, apa bapak tau?.]
[Kebetulan ada kontrakan kosong tapi bangsalan, Lima ratus ribu udah sama air dan lampu. Mau gak mas?.]
[Mau, Pak.]
[Okeh. Saya otw.]
Tak lama taksi datang. Dengan cepat Bu Sella masuk mobil takut diliat tetangga. Padahal para tetangga sudah menunggu diluar memastikan bahwa Bu Sella benar-benar pergi dari wilayah permukiman mereka. Yusuf memasukkan barang-barang ke bagasi. Setelah selesai masuk lalu mobil pun melesat menuju hunian baru yang akan di tinggali Bu Sella sementara waktu.
Mereka pun sampai rumah kontrakan nampak ramai dan sempit. Melihat itu pun Bu Sella langsung menolak mentah-mentah ajakan Yusuf mengontrak disitu.
"Ibu gak bisa tinggal disini, bawa ibu ketempat yang lebih nyaman". Jawab Bu Sella protes.
"Gak ada tempat lain uang ku hanya cukup menyewa kontrakan ini. Kecuali ibu mau pulang ke kampung."
"Mending ibu pulang kampung dari pada harus tinggal disini."
"Aku udah sms bapak buat jemput ibu."
"APA?!!!."
sabar yak, Febri😌