"Akan aku perjuangkan cintaku, sampai aku bisa memilikimu."
~Abimanyu Ardianta~
"Akibat sebuah pengkhianatan, membuatku enggan menjalin hubungan dengan seorang pria."
~Feriska Nandhita~
Simak kisah selengkapnya »
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sesampainya di rumah ibunya, Erlangga mendapati rumah yang sepi. Dia memutuskan ke kamar untuk mencari Veronica.
"Ke mana dia? Bisa-bisanya dia pergi tanpa izin aku lebih dulu," ucap Erlangga.
Tanpa mengganti pakaiannya, Erlangga keluar dari kamar menuju kamar ibunya.
"Bu, Vero ke mana? Kok di kamar nggak ada," tanya Erlangga sambil duduk di dekat sang ibu.
Ibu Erlangga melirik sekilas pada sang putra lalu berucap, "Ibu bukan asistennya yang harus tahu ke mana saja dia pergi. Sebagai suami, tentunya kamu sudah tahu tabiat istrimu yang kurang ajar itu."
"Maksud ibu apa? Apa dia menyakiti ibu?" tanya Erlangga dengan raut wajah khawatir.
"Ya, dia sudah menyakiti hati ibu. Menantu macam apa yang berani melawan mertua saat dinasihati, bahkan tak segan berbicara ketus pada ibu."
Erlangga meraih tangan ibunya kemudian menciumnya dengan lembut, "Maafin Erlan, Bu. Ini semua karena kebodohan Erlan."
Keduanya sama-sama terdiam, hingga suara sang ibu memecah keheningan.
"Kenapa jam segini kamu pulang? Apa nggak ada kerjaan di kantor?"
Erlangga menatap wajah sang ibu yang kini memperlihatkan guratan halus di pipinya. Sejenak dia menundukkan kepala kemudian memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, Erlangga nggak bisa mempertahankan perusahaan peninggalan ayah, Bu."
"Maksud kamu apa?" Ibu Erlangga menatap serius sang putra dengan perasaan yang tak karuan.
"Perusahaan kita sudah bangkrut, kita sekarang nggak punya apa-apa lagi."
Duarrr
Hati siapa yang tak sakit mendengar kabar buruk seperti ini? Satu-satunya aset peninggalan sang suami harus hilang dalam sekejap.
Ibu Erlangga memegangi dadanya yang berdenyut nyeri, usai menerima kabar dari putranya.
"Ibu! Ibu kenapa?" tanya Erlangga dengan cemas.
"Hiks, hiks, sekarang apa yang akan kita lakukan? Satu-satunya sumber rezeki keluarga kita sudah tidak ada." Tangis kesedihan yang tak bisa disembunyikan, membuat ibu Erlangga semakin tergugu dalam pelukan sang putra.
Tak berselang lama, terdengar suara heels yang beradu dengan lantai. Erlangga yang sudah tahu siapa yang baru datang, segera keluar meninggalkan ibunya yang masih terisak.
"Dari mana aja kamu?" tanya Erlangga dengan lantang.
Sontak, Veronica yang tak mengetahui kedatangan Erlangga langsung terkejut.
"Mas, kamu kok udah pulang?"
"Itu nggak penting. Dari mana kamu? Bukannya aku sudah bilang, kalau pergi harus atas izinku?"
Erlangga melihat beberapa tas belanja yang ada di atas meja. Dia lantas mengambil tas itu lalu membukanya.
"Kamu menghabiskan uang hanya untuk membeli barang nggak penting ini, iya?" teriak Erlangga seraya membantinv tas yang dipegangnya.
"Kamu apa-apaan, sih? Ini semua barang mahal, tapi seenaknya kamu banting-banting," ujar Veronica tak kalah sengit.
"Berapa kali aku harus ingatkan kamu, Ver? Jangan membeli barang yang nggak penting! Lebih baik kamu tabung uang itu untuk keperluan yang akan datang."
Veronica tersenyum sinis menanggapi ucapan Erlangga. "Dengar, ya, Mas! Sebagai seorang suami, sudah sewajarnya kamu memenuhi kebutuhan aku baik lahir maupun batin. Jadi, jangan melarang aku untuk membeli apa yang aku mau."
"Dan mulai saat ini, aku nggak akan bisa memenuhi kebutuhan finansial kamu itu. Karena apa? Karena perusahaan sudah bangkrut dan aku sekarang jadi pengangguran."
Setelah mengatakan itu, Erlangga berlalu pergi dari hadapan Veronica. Sementara Veronica masih terdiam mencerna perkataan sang suami.
"Bangkrut? Itu berarti, sekarang mas Erlangga jatuh miskin. Ini nggak bisa dibiarin, aku nggak mau hidup susah lagi," gumam Veronica.
udh mmpir nih....
d tnggu up'ny y....smngttt....