Ganteng tapi galak. Euh, punya manager gitu bikin nggak betah di kantor nggak sih?
Kerja di luar negeri memang enak. Punya banyak teman dari negara lain plus memiliki kesempatan untuk dapat calon laki yang H.O.T banget
Tapi apa daya jadi budak corporat startup, sebagai copywriter, Dania Daneswara cuma bisa duduk di balik komputer sambil di marahin sama manager super duper galak yang bikin hari tambah runyam di negeri asing.
"Ganteng mah bebas ya," pikirnya setiap kali si manager berkoar-koar di balik mejanya.
Keagan O'Malley, pria berdarah campuran Indonesia-Jerman. Sebagai manager, ia kerap dianggap galak dan tidak berperasaan.
Tapi ketika bertemu Dania, pelan-pelan pribadinya berubah. Lebih usil dan tengil.
IG : @althamirafrishka
Saran dan kritik sangat diterima. Terimakasih sudah membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althamira Frishka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Meyakinkan
Dania tergopoh-gopoh ketika sampai di rumah sakit. Sementara Roki mengikuti di belakangnya. Baru saja Dania hendak ke resepsionis untuk menanyakan pasien atas nama Keagan, Lee Nan muncul dari sampingnya.
“Sudah sampai?”
“Lee! Mana Keagan?!” tanya Dania menarik lengan Lee Nan.
“Ada kok. Ayo sini, kamarnya ada di sana.” Ucap Lee Nan menunjuk ke ujung lorong.
“Nggak serius kan?!”
Lee Nan hanya tersenyum dan jalan mendahului Dania dan Roki. Dania menatap Roki. Seolah ingin memastikan apa yang dia lihat tidak salah. Darurat gini kok dia ketawa-ketawa sih?
“It’s okay.” Roki menepuk bahu Dania. Dania menoleh menatap Roki. Mereka berjalan lurus melewati lorong-lorong rumah sakit. Begitu sampai di kamar yang dituju, Mai terlihat menempati kasur rumah sakit.
Loh. Dania melihat sekeliling. Semua staff divisi copywriter berkumpul di kamar itu. Kecuali Keagan. Dania masih belum mengerti situasi yang telah terjadi.
“Mana Keagan?” ucapnya cemas.
“Dia ada tadi.” Jawab salah satu staff divisi.
Sementara Mai yang setengah terbaring hanya menikmati ekspresi Dania. Roki terbengong-bengong tapi tidak berkomentar. Dia hanya berusaha memahami situasi saat ini. Tidak lama kemudian, Keagan datang membawa satu tas kantong kresek besar.
“Ini dia akhirnya datang. Terima kasih Pak Manager, nyonya kita sudah lapar sekali. “ ucap Lee Nan.
Tanda sadar Dania berjalan mendekati Keagan. Keagan yang tadinya berjalan memasuki ruangan menghentikan langkahnya dan mendapati ekspresi muka Dania yang setengah akan menangis tapi bertanya-tanya. Melihat sekeliling. Penonton hanya mengulum senyum mereka. Sementara Roki hanya terbengong.
“Bapak sakit? Bapak jatuh di mana? Makanya kalau langi nyebrang jangan meleng!” tanyanya bertubi-tubi sekaligus menasehati. Dania meraba dan memutar-mutar tubuh Keagan. Memeriksa dari ujung kepala hingga ke kaki.
“Siapa? Saya?” tanya Keagan masih memegang kantong kreseknya. Keagan menahan senyumnya, masih mempertahankan ekspresi dinginnya dan menikmati kekhawatiran dari Dania.
“Katanya bapak kecelakaan. Kok malah jajan?” tanyanya melihat isi kantong kresek yang di bawa Keagan. “Kok kalian diam aja sih?!” tanya Dania menuduh kepada teman-temannya.
Lee Nan sontak tertawa sekeras-kerasnya. “Hei, yang terkena musibah Bu Mai.”
Dania menoleh dan melihat Bu Mai. Bu Mai melambaikan tangannya dan mengangkat bahunya.
“Bapak nggak apa-apa?” tanya Dania lagi pada Keagan.
Keagan hanya terus menahan senyumnya dan tetap berekspresi datar. Masa iya sih? Pikir Keagan.
“Aku kan nggak bilang siapa yang di rumah sakit.” Lee Nan membela diri karena mendapat tatapan aneh dari Dania.
“Bu Mai?” tanya Dania kini berjalan mendekati Bu Mai. Terlihat linglung.
“Bu Mai kenapa? Bu Mai baik-baik saja?” ulang Dania kemudian memeriksa Bu Mai sama seperti saat Dania memeriksa Keagan.
“Saya nggak apa. Ini cuma retak sedikit pergelangan kaki…”
“Aduh. Aduh. Sakit pasti.” Potong Dania.
“Di tabrak sama pengendara sepeda motor waktu jalan di trotoar…”
“Siapa itu pelakunya?! Kok nggak di sini? Nggak nemenin ibu?!” Lagi-lagi Dania memotong penjelasan Bu Mai yang tak kunjung selesai. Sepertinya penglihatan Dania jauh lebih penting dari penjelasan orang-orang.
“Hei, calm down girl.” Ucap Keagan menaruh kantong kreseknya di sebelah meja pasien. Menepuk pundak Dania nyaris merangkulnya.
“Ini udah tak beliin nasi goreng di depan kantor sesuai permintaan Nyonya Mai. Semuanya dapat.” Ucap Keagan masih setengah merangkulnya dan tidak lama kemudian ia melepaskan sentuhan kecilnya pada Dania. Begitu kalimat 'semuanya dapat' diucapkan Keagan sontak sambutan sorak-sorai para staff nya yang kelaparan meramaikan kamar Bu Mai.
Dania terbengong-bengong. Sementara Roki mulai paham. Ternyata mereka salah paham bahwa Keagan yang kecelakaan. Padahal, Bu Mai. Dania hanya asal menebak saja.
🍃🍃
Sebelum kejadian mengabari Dania dan Roki.
Keagan mengoreksi pekerjaan Lee Nan yang sedikit keliru. Mengoreksi beberapa pemilihan kata dan mengubah alur cerita. Dari pola piramida, menjadi piramida terbalik. Keagan menggunakan teknik jurnalistik yang menurutnya lebih langsung pada inti. Sehingga user website tidak akan bertele-tele dalam mendapatkan informasi.
Setelah Lee Nan paham dengan revisi dari Keagan, ia mengajak atasannya untuk makan siang.
“Pak, ayo makan siang di dekat cafe sini. Ada yang baru buka.” Ajak Lee Nan bersemangat.
“Ya. Ajak juga lainnya.” Ucap Keagan membetulkan letak kacamatanya.
Mereka pun makan siang bersama-sama. Lee Nan meminta kursi pada waitress untuk lima orang dan digiring ke tempat duduk yang terletak agak masuk ke dalam ruangan.
“Jadi, pada tahu nggak? Chattingan ku terbaru dengan Dania.”
“Ada apa?” tanya Bu Mai yang memang notabene paling gembira dengan gosip meng-gosip.
“Ini waktu dia masih di Indonesia. Gila ini Dania.” Ucapnya menahan tawa.
“Tak bacain ya. Hari ini Pak Keagan baik banget Lee. Masa dia ngijinin aku pulang ke Bandung. Ikut nginap lagi. Sopan sama orang tua ternyata.” Lee Nan membacakan pesan singkat dari Dania.
Keagan hanya menyimak sambil mengunyah makanannya. Antara percaya dan tidak percaya. Keagan hanya tahu, biasanya Dania selalu mengosip tentang dirinya yang buruk-buruk saja.
“Pesan kedua nih ya. Pak Keagan rupanya sama kayak aku suka film horor. He he he. Sama kayak aku Lee!"
“Ada rasa dengan Pak Keagan pasti tuh.”
“Gosip saja kalian.” Ucap Keagan.
“Betulan, Pak. Naksir pasti nih.” Kata Lee Nan memanas-manasi.
“Kalian tahu sendiri Dania baru putus. Pasti lagi trauma. Paling dia nggak serius. Cuma lagi nggak ada obrolan saja.” Jawab Keagan asal.
“Biasanya baru putus gitu, kita lebih mudah cari perhatiannya, Pak.” Kata staff divisi copywriter lainnya.
“Dania baru putus?” tanya Bu Mai.
“Iya Bu. Mantannya itu ya…” Lee Nan sang biang gosip akhirnya teralihkan membahas betapa bejatnya mantan Dania.
Hingga akhirnya mereka kembali dan Bu Mai terserempet motor yang tidak bertanggung jawab. Meninggalkan Bu Mai terduduk begitu saja di tepi trotoar. Untung saja Keagan dengan sigap menelpon ambulan.
Di rumah sakit tempat Bu Mai di rawat. Bu Mai langsung mendapat perawatan. Mereka semua berkumpul. Tiba-tiba, ide cemerlang melintas di pikiran Lee Nan. Lee Nan mau mencoba untuk mengetes Dania. Mencari tahu teorinya mengenai siapa yang ditaksir Dania saat ini.
“Lihat ya. Pasti nanti di pikiran Dania yang kenapa-kenapa itu Pak Keagan.” Ucapnya yakin.
Keagan bersedekap dan hanya menikmati sandiwara yang dimainkan Lee Nan.
“Di sana sudah selesai? Jangan kaget ya. Sekarang kami semua di rumah sakit. Aku rasa sebaiknya kalian berdua menyusul.”
🍃🍃
Dania kini memotong buah apel untuk Bu Mai.
“Ibu sukanya potongan besar-besar tebal atau tipis-tipis?” tanya Dania.
“Tipis saja. Kalau tebal susah makannya.” Ucap Bu Mai manis dengan bibirnya yang kecil dan ranum. Bahkan, sakit begini saja, ia terlihat cantik bak bidadari.
Para staff lainnya sudah kembali ke kantor dari tadi. Hanya tinggal Dania di kamar rawat inap. Dania sedikit canggung karena ini kali pertamanya ia mengobrol ringan dengan Bu Mai.
“Dania suka tipe laki-laki yang seperti apa sih?” tanya Bu Mai tiba-tiba.
“Err, saya nggak terlalu mengerti bagaimana baiknya sih, Bu.” Ucap Dania menggaruk-garuk kepalanya walau tidak gatal.
“Sopan sama orang tua?”
Dania mengangguk.
“Kalau sayang anak kecil?”
Dania mengangguk lagi.
“Menghargai kamu?”
Dania mengangguk dua kali.
“Oh saya punya kandidat yang cocok.” Ucap Bu Mai menjentikkan jarinya.
“Siapa Bu?” Tanya Dania penasaran.
“Itu orangnya.” Bu Mai menunjuk Keagan yang baru memasuki ruangan. Dia kembali setelah menyelesaikan prosedur administrasi.
“Ada apa?” tanya Keagan penasaran karena Dania dan Bu Mai menatap Keagan berbarengan.
“Nggak berani Bu kalau itu. Jangan.” Ucap Dania berbisik pada Bu Mai. “Orangnya galak.” Lanjutnya lagi.
Bu Mai tertawa melihat ekspresi ngeri di mata Dania. “Ih siapa bilang. Baik banget malahan. Luar dalam.” Ucap Bu Mai meyakinkan Dania dan sama-sama berbisik.
Keagan yang menyusun nota-nota pembayaran akhirnya menoleh lagi melihat mereka berdua. Kemudian keduanya berhenti berbisik. Dania melanjutkan mengupas apelnya, sementara Bu Mai memakan apel. Keagan kembali dengan aktifitasnya.
“Ibu kok tahu luar dalamnya?” Tanya Dania lagi sambil berbisik.
“Soalnya dia mantan Ibu.” ucapnya masih berbisik.
🍃🍃
Dania bukan selera kamu keagan 😁
mangats Dania..keagan layak diperjuangkan 😀
aku suka..aku suka 😀