Pernikahan bagi seorang Karlyn adalah ikatan yang begitu sakral dan suci. Pernikahan yang ia idamkan sejak duduk di bangku SMP adalah pernikahan bak di negeri dongeng. Gaun indah serta delman yang menggiringnya.
Siapa sangka akibat ayah tirinya, ia harus merelakan semua mimpi indahnya untuk menikahi seorang pria yang sama sekali jauh dari kriteria impiannya.
Pernikahan yang penuh derita terus mengusik tidur malam hingga memilih nekat keluar dari zona menakutkan itu.
Berharap akan dapat ketenangan. Justru dirinya di hadapkan dengan nasib yang jauh lebih menakutkan.
Menikah terpaksa dengan seorang duda beranak satu membuat air mata seorang Karlyn tak hentinya mengalir.
Pernikahan yang di dasarkan dengan paksaan dari bocah kecil yang tengah berjuang melawan sakitnya.
Akankah pernikahan kedua Karlyn akan berbeda nasibnya dengan pernikahan kedua? Akankah Karlyn wanita yang tepat menggantikan sang mommy untuk Jesslyn!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Terima
Setiba di rumah sakit, Gavin langsung di sambut oleh dokter yang biasa menangani Jesslyn selama ini. Air mata tak bisa tertahankan lagi saat melihat sang anak memejamkan mata dengan darah yang terus mengalir tanpa henti di hidung Jesslyn. Anak kecil yang lucu tampak begitu menyedihkan. Sama halnya dengan Karlyn yang turut merasakan sedih luar biasa. Sungguh Jesslyn begitu berarti untuknya.
"Tuan, tenanglah sedikit. Dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk Jesslyn." ujarnya yang berusaha menguatkan Gavin.
Pria itu terjongkok di lantai memukuli kepalanya. Entah harus bagaimana lagi ia berusaha membuat sang anak bisa pulih dari penyakitnya. Tidak, Jesslyn tidak boleh pergi dari hidupnya yang tak akan berarti apa pun jika sampai sang anak pergi.
Tangisan pria itu terhenti kala suara dering ponsel terdengar dari saku celana Gavin. Panggilan telepon dari rumah terlihat jelas Gavin baca saat ini.
"Tuan, Nyonya...Nyonya Rachel membanting beberapa guci di rumah, Tuan. Saya sudah memintanya keluar tapi beliau..."
Tanpa mendengar penjelasan sang security, Gavin memintanya untuk memberi tahu wanita gila itu agar segera ke rumah sakit.
"Suruh dia ke rumah sakit tempat Jesslyn biasa, Pak." panggilan telepon pun sudah terputus sepihak bahkan Gavin tidak menghiraukan ucapan security yang menjawab dengan ragu.
"Ba-baik, Tuan..." ponsel itu ia jauhkan dari telinga dan terlihat jika panggilan ternyata telah berakhir.
Dengan rasa gemas security pun masuk kembali ke rumah. "Nyonya, anda di suruh ke rumah sakit biasa Nona Jesslyn di rawat."
Kedua bola mata Rachel membulat sempurna. Dugaannya ternyata salah jika mereka tengah senang-senang. Melainkan tengan terjadi sesuatu pada Jesslyn saat ini. Segera Rachel pun berlari keluar rumah melajukan mobil dan meninggalkan rumah sang mantan suami yang sudah ia buat kacau saat ini.
Sebelum Rachel tiba, Elis sudah tiba lebih dulu dengan taksi yang mengantarkannya ke rumah sakit. "Nyonya, bagaimana? Nona Jess baik-baik saja kan?" tanya Elis mendekati Karlyn yang duduk dengan tatapan sedih. Bahkan wanita itu tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan anak sambungnya.
Bahkan pernikahan ini pun kemungkinan tidak akan terjadi jika Jesslyn tidak sakit. Sebab Karlyn tidak menginginkan pernikahan kedua yang dengan jalan terpaksa pula.
Beberapa menit berada di dalam ruangan pemeriksaan, Dokter masih tak kunjung keluar. Hingga Gavin memilih untuk bangkit dari duduknya dan berdiri menatap pintu ruangan yang tertutup. Di lihatnya pintu itu seakan berharap segera terbuka agar ia bisa mendapatkan kabar baik dari sang dokter.
Namun, harapannya masih terus membuatnya harus menunggu.
"Dasar wanita pembawa sial!" teriakan dari arah lorong rumah sakit membuat semuanya tampak kaget.
Rachel sudah berjalan dengan langkah cepat dan tatapan mata yang menajam ke arah Karlyn. Bukan sebab Jesslyn, namun matanya jelas melihat jika wanita yang paling ia benci saat ini tengah menggunakan kebaya simpel dan make up tipis serta Gavin yang berpakaian layaknya mempelai pria.
Sumpah demi apa pun, Rachel tak akan merestui pernikahan keduanya sampai kapan pun itu.
"Hel, berhenti berteriak." tutur Gavin setengah membentak.
Namun, kemarahan di kepala Rachel sudah menguasai diri wanita itu. "Gav, apa yang kamu lakukan? jadi kalian ingin menikah diam-diam? Dan itu yang menyebabkan Jesslyn kambuh kan?" pekiknya hendak menyerah rambut Karlyn, secepat kilat tangan besar milik Gavin mencegah dengan mencengkram erat tangan sang mantan istri.
Rachel meringis kesakitan. "Bukan ingin menikah, tapi kami sudah menikah, Hel. Hentikan perlakuan gila mu ini." tutur Gavin yang mengakui status barunya.
Sontak saja, mendengar kejujuran Gavin. Rachel terdiam mematung dengan bibir yang terbuka lebar lantaran syok. Berbeda halnya dengan Elis yang cekikikan dalam hati dan hanya tersenyum di dunia nyatanya.
"Menikah? Tidak, Gav. Itu tidak boleh terjadi. Kalian tidak boleh menikah sampai kapan pun. Tidak, aku tidak akan terima hal itu." Kepala Rachel hanya bisa menggeleng tak rela mendengar kenyataan pahit yang seperti mimpi buruk baginya.
Melihat keadaan Rachel, meski pedih rasanya melihat sang anak di dalam ruang pemeriksaan Gavin berusaha kuat untuk menampilkan senyuman smirknya.
"Aku sudah menikah dan kamu tidak akan ada hak apa pun untuk menerima atau tidak pernikahanku dengan Karlyn, Hel. Hakmu hanya menemui Jesslyn dan mengetahui kabarnya. Tidak lebih. Jangan lupakan dengan apa yang sudah kamu perbuat selama ini pada Jesslyn dan aku."