Adelia Fredella baru saja kehilangan orang tuanya dalam sebuah tragedi kecelakaan. Belum sembuh dari duka yang dialami, Adelia diteror rentenir yang menagih hutang peninggalan sang ayah. Disaat yang bersamaan Adelia bertemu dengan Larina, wanita kaya yang sedang mencari istri pengganti untuk putra sulungnya dengan menjanjikan sejumlah uang. Adelia yang terdesak akhirnya tergiur dengan penawaran yang diberikan Larina dan menyetujui perjanjian yang telah dibuat. Adelia harus menyembunyikan pernikahan dan statusnya sebagai istri dari pengusaha muda tersukses se Asia. Dari keputusan itu pula Adelia mulai mendapatkan masalah baru yang tak kunjung selesai. Akankah Adelia mampu memenuhi perjanjian yang telah ditandatanganinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muksin Rafiq Zikrillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asisten Pribadi
Sang surya perlahan menampakkan diri, menyebarkan cahaya fajar dari ujung negeri. Adelia masih memejamkan mata walau dia telah sadar dari tidurnya.
"Hmmm, nyaman sekali bantal ini." Gumam Adelia, dia memeluk erat guling yang baru kali ini dia rasakan, hangat, dan ... berdetak.
"Sejak kapan bantal guling punya jantung." Racaunya lagi, saat belum tersadar seutuhnya.
Sontak kelopak mata Adelia terbuka lebar, saat merasakan detak jantung yang terdengar ditelinganya.
"Aaaaaaaaaaaaa"
Teriakan keras Adelia mampu membuat Eros terjaga. "Tak bisakah kau menutup mulutmu? Ini masih pagi!" Kesal Eros karena tidurnya terganggu.
Semalaman Eros berusaha keras untuk tidur, walau dengan posisi yang membuatnya tak nyaman.
Ya .... Eros merasa kasihan melihat Adelia terus mengigau didalam mimpinya. Memanggil sosok yang disebut sebagai ibu, bahkan wanita itu sampai menangis tersedu-sedu.
Naluri Eros membuatnya mengalah, awalnya dia hanya ingin menenangkan Adelia karena merasa iba, namun wanita itu menarik tubuh Eros dan memeluknya dengan erat. Hingga lama kelamaan Eros terpaksa memberikan tangannya sebagai tumpuan untuk Adelia.
Adelia bangkit dan menutupi tubuhnya dengan selimut, padahal dia masih mengenakan pakaian lengkap, tanpa kurang satu apapun, bergeser sedikit menjauh dari tubuh Eros.
Tangan kanan Eros terasa kebas, ditindih badan Adelia semalaman. "Aaaakkkkhhhh" erangnya menahan sakit, dan berusaha untuk menggerakkan tangannya.
"Kau tidak macam-macam kan? Kau tidak melakukan itu pada ku kan?" Cerca Adelia.
"Kalau ku lakukan pun kenapa memangnya? Bukankah kau sudah sah menjadi istri ku?" Jawab Eros santai, dia membalikkan badan, dan melanjutkan tidurnya lagi, matanya masih lengket menahan kantuk.
"Eros! Kau jangan macam-macam!" Rengek Adelia.
"Eros!"
Dia kesal karena pria itu tak menjelaskan apapun padanya.
Eros yang merasa jengah dengan rengekan Adelia pun bangkit, lalu mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
Jantung Adelia berdebar kencang, matanya tak sanggup memandang Eros, hingga memilih memandang kearah lain.
Namun, Eros menarik wajah Adelia, membawanya ke hadapannya, membuat pandangan mereka saling beradu. "Apa kau mau, aku melakukannya sekarang huh?"
Sudah cukup sabar Eros menahan diri, namun Adelia masih tak sadar, jika dia sedang dalam posisi bahaya. Jelas tegangan tinggi dipagi hari, sulit untuk dihindari Eros, terlebih sudah lama sekali dia tidak melepaskan hasratnya.
"Enggak!" Tegas Adelia sambil menyilang kan kedua tangannya di dada.
Eros membuang nafas kasar, dia membuka selimut dan turun dari tempat tidur, hanya dengan mengenakan boxer diatas lutut.
Adelia menutup matanya, segan melihat kearah Eros yang berjalan kearah balkon, mengambil handuknya lalu menghilang ditelan pintu kamar mandi.
Seperti biasanya, Larina duduk menikmati sarapan seorang diri. Namun perasaannya ada yang kurang, kenapa Adelia belum turun juga? Apa dia masih malu-malu dirumah itu.
Larina pun meminta salah seorang pelayan untuk memanggil Adelia. Namun urung dilakukan karena gadis cantik itu telah sampai diruang makan.
"Selamat pagi nyonya, emmm maksud ku mommy!" Adelia dengan cepat mengoreksi panggilannya, karena takut dengan lirikkan tajam Adelia.
"Pagi! Duduklah! Kau sudah rapih? Mau kemana hari ini?" Belum sempat Larina mendengar jawaban dari Adelia dia sudah dikejutkan dengan kehadiran Eros yang telah siap dengan pakaian kantornya.
Jelas Larina terkejut, ini adalah pertamakalinya Eros tidur dan sarapan dirumah itu, setelah sekian tahun menghilang.
"Aku ingin kembali ke toko bunga!" Jawab Adelia.
"Toko bunga?" Tanya Larina, setelah selesai menyeruput teh hangatnya.
Adelia mengangguk pelan, Larina sedikit melirik kearah Eros yang malah sibuk menikmati sandwich. Seharusnya itu untuk Adelia, karena Larina tak tahu jika Eros berada dirumah jadi tak meminta bibi menyiapkan untuk Eros.
"Duduklah terlebih dahulu!" Pinta Larina pada Adelia.
Adelia berjalan kearah belakang Larina, lalu duduk disampingnya, lebih tepatnya berhadapan dengan Eros.
Kini meja panjang itu telah terisi oleh tiga orang, walau suasana hampir tidak jauh berbeda. Hanya Larina dan Adelia yang berbicara, sedangkan Eros sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan tak sedikitpun memandang kearah Larina.
"Kau tahu tentang gosip yang beredar?" Tanya Larina pada Adelia, membuat Eros memperlambat kunyahannya, dia sudah menduga kemana larinya arah pembicaraan pagi itu.
"Gosip?" Tanya Adelia tak mengerti.
Larina mengambil handphonenya, dan memperlihatkan sesuatu pada Adelia.
"Ini?" Mata Adelia terbelalak melihat headline news yang hampir semuanya berisi tentang kabar pelakor didalam rumah tangga Eros.
"Melihat situasi saat ini, sangat tidak aman jika kau berada jauh dari pengawasan keluarga Kalendra." Larina berucap serius.
"Jika mereka sampai mengetahui identitas mu yang sebenarnya, itu tidak hanya membahayakan mu saja! Namun juga membahayakan sahabatmu." Sambungnya lagi.
Adelia faham maksud Larina, ada benarnya juga apa yang dikatakan wanita itu, sebaiknya Adelia menjauh sebentar dari Hana.
"Aku sudah memikirkan dan memutuskan rencana untuk mengatasi masalah ini. Jalan satu-satunya adalah ...." ada jeda dalam pembicaraan itu, Larina melirik pada Eros terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kau akan diangkat menjadi asisten pribadi Eros."
Pyurrrrrrr
Kopi hangat yang baru dihidangkan dan dicicipi Eros, menyembur begitu saja. Untung tidak mengenai wajah Adelia yang duduk dihadapannya.
"Eros! Hati-hati kalau minum!" Kesal Larina, karena hampir mengenai Adelia.
Pelayan bergegas mengambil kain lap, untuk membersihkan meja makan yang dikotori Eros.
"Apa aku tak salah dengar?" Tanya Eros dengan wajah serius.
Larina menggelengkan kepala dengan yakin.
"Tidak! Dafin juga sudah menyetujuinya." Tegas Larina.
"Tapi, kenapa harus asisten pribadi ku? Kenapa tidak untuk mu? Atau untuk pria tua itu?" Eros memang tak pernah sopan memanggil kedua orang tuanya, sejak rasa kecewa didalam dirinya mulai tumbuh dan berkembang.
"Karena kau adalah pemeran utamanya Eros Kalendra! Adelia adalah istrimu, dan ingat sesuai perjanjian, Adelia harus memberikan keturunan untukmu, bagaimana itu semua bisa terwujud jika dia berada jauh darimu. Jika Adelia menjadi asisten pribadi mu, tentu ada alasan untuknya selalu berada di sampingmu, dan orang luar tak akan berani mengusik keberadaannya."
"Tapi !" Eros ingin membantah.
"Tidak ada tapi-tapian! Mulai hari ini, Adelia akan bekerja diperusahaan sebagai asisten pribadimu! Atau perjanjian kita batal!" Larina mengancam Eros, membuatnya tak lagi bisa ucapan membantah Larina.
"Kau mau kemana?" Tanya Eros pada Larina, karena wanita itu kini telah berada disampingnya yang hendak masuk kedalam mobil.
"Ikut denganmu, numpang ke kantor." Jawab Larina.
"Kau pikir aku ojek online huh? Sana bawa kendaraan sendiri." Tangan Eros melambai-lambai mengusir Larina.
"Tapi, aku nggak tahu dimana kantor mu, lagi pula sepeda motor ku rusak, karena kau yang menabraknya waktu itu."
Eros terlihat bingung, dahinya berkerut. Dia tidak ingat kapan menabrak sepeda motor Adelia.
"Kau tidak ingat kejadian beberapa waktu lalu, saat aku mengantarkan buket bunga untuk istrimu, dan kalian sedang bertengkar dihalaman, lalu kau pergi begitu saja, melajukan mobilmu dengan kencang, tanpa memberikan ku waktu untuk memindahkan sepeda motor ku ..."
Eros menutup mulut Adelia yang tak berhenti berbicara. Telinganya terasa bising tak sanggup mendengar penjelasan Adelia yang luar biasa panjangnya.
"Masuk! Dan jangan banyak bicara. " Tegas Eros, Adelia melepaskan tangan Eros yang menutupi mulutnya, lalu hendak membuka pintu belakang.
"Kau pikir, aku supirmu huh! Duduk didepan!" Bentak Eros lagi, ah emosi pria itu sangat tidak stabil, membuat Adelia bersungut kesal.
Mau tak mau Adelia duduk disamping kursi kemudi, jalanan yang macet membuatnya jengah. Eros terlambat hari ini, dan itu semua karena Adelia.