Juliana, si perfeksionis, sinis, ketus dan menjunjung tinggi nilai kehormatan seorang wanita, sementara Harsa adalah bentuk nyata dari kerusakan moral manusia yang ada diseluruh dunia, yeah, setidaknya dimata Juliana.
Mereka adalah musuh bebuyutan sejak jaman primitif hingga takdir membawa dua orang itu bekerja dalam satu divisi dan satu ruangan yang sama. Saling membalas umpatan, makian, dan pertengkaran hingga perdebatan sudah bukan lagi hal baru. Tapi siapa yang menyangka, rupanya kebencian mereka malah membawa mereka berdua terbangun suatu pagi di atas ranjang yang sama!
"Kau pasti menjebakku, kan? Kau sengaja mau mencoreng reputasiku sebagai wanita terhormat!" Tuding Juliana.
"Hei, aku mungkin bejat dimatamu, meski begitu aku mempunyai syarat dan ketentuan berlaku untuk wanita yang bermain denganku, dan kau tidak memenuhi semua persyaratan dan ketentuan yang ada." Harsa menyeringai.
Lalu, bagaimana bisa semua itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Pria Berengsek.
Pak Ditto.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ditto.
Kenapa baru sekarang aku dan Pak Ditto sering bertemu, sering berinteraksi, padahal dulu aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Juliana membatin.
"Saya tidak apa-apa, Pak."
"Siang Pak!" Harsa datang, berdiri dengan sikap posesif di samping Juliana. "Sedang menyapa karyawan lagi, Pak?" tanya Harsa penuh sarkas.
"Tidak. Hanya saja sepertinya tadi tidak sengaja Juliana menubrukku."
"Benarkah?" Harsa melihat Juliana. "Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja."
Oh Tuhan, cepat selamatkan aku dari moment ini!
"Jadi kabar itu benar?" Ditto melirik jari manis Juliana dimana sebuah cincin melingkar disana. "Kalian bertunangan?"
"Wah, cepat juga kabarnya menyebar." Harsa menyengir lebar.
"Tapi kenapa aku lihat Juliana seperti terlihat tertekan, ya?" Ditto cukup terbuka juga rupanya.
"Kau tertekan?" tanya Harsa dengan tatapan sendu.
"Ya! Aku tertekan dengan semua penggemarmu!" Omel Juliana.
Seulas senyum menghiasi wajah Harsa, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Juliana, mengusapnya lembut sebentar. Juliana menjamin sentuhan Harsa bahkan tidak sampai satu detik, tapi aliran darahnya seperti terombang-ambing.
"Jangan khawatir, kau tetap yang ada dihatiku. Dari semua wanita itu, pilihanku hanya kau." Gombal mode on.
"Well, selamat kalau begitu." Ditto mengulurkan tangan, mengajak Harsa berjabat tangan. Harsa menyambutnya dengan gentle. Ditto pun mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Juliana, tapi Harsa lagi yang menyambut uluran tangan Ditto. Senyum miring terpampang pada wajahnya di hadapan Ditto.
"Baiklah." Ditto mencoba mengerti sikap posesif Harsa pada Juliana. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama." Ajak Ditto.
"Wah, dalam rangka apa nih, Pak?" tanya Harsa.
"Hanya sebagai ucapan selamatku untuk kebahagiaan kalian."
"Oh, terima kasih, Pak, tapi kami ingin menikmati hari kedua kami sebagai sepasang tunangan di kantor, lagi pula, semua orang perlu tahu siapa pemilik hati Harsa yang tampan ini sekarang."
Sumpah demi apa pun, aku ingin sekali menyumpal mulut harsa dengan hak sepatu pantofelku! Omel Juliana dalam hatinya, tapi pada kenyataannya, dia harus tersenyum-senyum mendengar segala kata yang keluar dari bibir Harsa.
"Baiklah, kalau begitu, aku mengerti. Mungkin lain kali."
"Lain kali?" tanya Harsa lagi. "Tapi kenapa Bapak sepertinya ingin sekali akrab dengan kami?"
Ditto tersenyum. Ia berdiri mantap, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana setelan jasnya. Ia menatap Harsa, mencoba mengintimidasi Harsa, tapi gagal, Harsa bukan orang yang mudah diintimidasi, dong!
"Begini, ya, aku sama sekali tidak mempunyai maksud apa-apa, tapi sebagai sesama pria, aku tahu kau berpikir aku adalah pesaingmu, benar?"
"Memangnya bukan?" tanya Harsa.
"Tentu saja bukan." jawab Ditto tenang.
Tapi sesuatu menghantam hati Juliana.
"Kau tahu bagaimana aku dengan semua karyawan, aku hanya bersikap baik pada Juliana seperti aku pada karyawan yang lainnya."
"Jadi saya tidak perlu khawatir kalau Bapak mungkin akan PDKT kepada Juliana?"
"Tentu saja tidak." Kekeh Ditto.
Kenapa rasanya sakit? Padahal waktu itu di depan lift, Pak Ditto terlihat begitu peduli dan... pasti itu hanya halusinasiku saja. Bodoh sekali aku! Seharusnya aku tahu, aku dan Pak Ditto bagaikan langit dan bumi.
"Baiklah kalau begitu, lain kali saya akan ajak seluruh tim saya untuk makan siang bersama Bapak, tapi jika Bapak yang traktir."
"Tidak masalah."
"Kalau begitu kami permisi, Pak. Selamat siang!" Harsa meraih tangan Juliana, menggenggamnya, yang anehnya sentuhan-sentuhan kulit Harsa pada kulitnya selalu memberikan sensasi aneh yang tidak pernah Juliana rasakan sebelumnya.
"Lepasakan tanganmu!" Titah Juliana dengan nada pelan dan rendah.
"Nanti setelah kita di luar jangkauan pandang gebetanmu."
...****************...
Harsa dan Juliana makan siang di sebuah restoran korea yang berada tak jauh dari gedung kantor, hanya berjalan kaki sepuluh menit.
Harsa terlihat begitu menikmati daging panggangnya sementara Juliana hanya mengacak-acak bibimbap-nya tanpa selera.
"Kau tidak lapar?" tanya Harsa.
Juliana mengela napas berat, meletakkan sendoknya di atas mangkuk.
"Kau pasti sengaja tadi, kan?" tanya Juliana.
"Sengaja apa?" Harsa membalik potongan daging di atas pemanggang portable.
"Bertanya pada Pak Ditto kalau dia tidak akan PDKT kepadaku?" tanya Juliana dengan setengah berbisik, khawatir ada orang dari gedung yang sama makan siang di restoran itu.
"Tadinya tidak terpikir olehku untuk bertanya seperti itu, tapi dia duluan yang memancingku, jadi aku hanya mengikuti arus saja." Ia meletakkan daging yang sudah matang di atas mangkuk Juliana.
"Hei, kau harus makan, kau harus ingat daftar hutangmu pada email yang aku kirimkan."
Juliana kembali mengela napas. "Tapi pada akhirnya kau sengaja, kan?"
"Sengaja apa lagi?"
"Sengaja ingin membuktikan padaku bahwa... bahwa aku dan dia itu bagaikan langit dan bumi. Aku tidak pantas... untuknya." Mata Juliana mulai berkaca. Ia menundukkan kepalanya. Tidak mau Harsa melihat harga dirinya terluka karena cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Gantian Harsa yang mengela napas. Ia melihat kanan, kiri, belakang untuk memastikan tidak ada orang yang mengenal mereka atau minimal mengenali dirinya.
"Atau dia yang tidak pantas untukmu." Ujar Harsa.
Juliana mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu? Semua orang tahu bagaimana dia."
"Ya, dia memang terlihat ramah, baik, atasan yang paling pengertian, dan bla bla bla, tapi aku harus kasih tahu kau, terkadang apa yang kau lihat itu tidak seperti apa yang terlihat."
Juliana mengerutkan kening.
"Katakan saja apa maksudmu. Tapi asal kau tahu, aku tidak akan terima kalau kau menjelek-jelekkannya hanya karena kau tidak suka padanya." Juliana memberikan peringatan dengan tatapannya yang tajam.
Harsa menggerakkan bahunya santai. "Aku mempunyai firasat dia menyembunyikan sesuatu. Seperti dia tidak sebaik yang terlihat."
"Oh, jadi maksudmu kau lebih baik darinya, begitu?" Tanya Juliana dengan nada sinis.
"Tentu tidak jika kau melihatnya hanya dari sudut pandangmu. Tapi sebagai pria berengsek, aku mempunyai firasat yang cukup sensitif terhadap pria berengsek lainnya."
"Hei! Dia bukan pria berengsek! Jangan samakan dia dengan dirimu! Dia tidak sembarangan kencan dan tidur dengan banyak wanita hanya untuk... untuk..."
"Untuk apa?"
"Melepaskan dahaga!" Sinis Juliana.
Harsa malah terkekeh sembari kembali membalik daging yang hampir gosong.
"Tidak seperti kau!"
"Ahh... panash!" Potongan daging yang hampir gosong akhirnya masuk ke dalam mulut Harsa, sambil monyong-monyong Harsa mengunyah untuk melepaskan hawa panasnya.
"Jadi menurutmu," kata Harsa setelah ia berhasil menelan potongan daging tadi. "Aku sudah tidur dengan berapa banyak wanita?" Pertanyaan itu diiringi senyuman jahil.
"Mana aku tahu!" jawab Juliana kesal. Ia meraih sendoknya dan mulai menyendok bibimbab dan memakannya dengan lahap.
Harsa tersenyum melihat bagaimana ia akhirnya berhasil membuat wanita itu makan dan mungkin juga lupa dengan kesedihannya lantaran cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Pelan-pelan, nanti tersedak."
"Apa pedulimu!"
"Tentu saja aku peduli, kau itu tunanganku, Jullie." Harsa lagi menggoda Juliana dengan memainkan kedua alis matanya.
"Jangan besar kepala, semua ini hanya sandiwara. Bahkan Dimas juga tahu!"
"Ya, tapi tetap saja Tante dan Om mu, serta keluarga ku tidak tahu. Dan mereka mempercayakan aku untuk menjagamu."
Juliana mendengkus sebal. Karena omongan Harsa terlalu benar untuk disalahkan.
.
.
.
TBC~
btw jangan lupa mampir di karya gw yg berjudul Ayunda, gadis pelunas hutang 😘
Akhirnya Every Moment Of You sudah tamat. Terima kasih yang sudah sabar menunggu setiap bab nya update, karena jujur, kisah kali ini cukup menguras energi saya, banyak hal yang saya pertimbangkan untuk saya tulis atau tidak. Misalnya seperti apakah saya perlu menuliskan adegan yang bikin kipas-kipas? Sementara tujuan saya menulis kisah kali ini adalah mengutamakan cerita cinta yang manis di kantor, pertemanan, dan menyampaikan pesan pada pembaca bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh menilai seseorang hanya dari melihatnya saja tanpa benar-benar mengenalnya.
Tapi, mungkin ada pembaca yang kecewa karena tidak ada adegan yang bikin degdegserr...maaf yaa🙏🏻
Saya akan membuat kisah yang degdegserr pada kisah lainnya... ditunggu yaa 😊✌🏻