Demi menghindari rentenir kejam yang hampir melecehkannya, Raisa terpaksa meninggalkan kekasihnya Yudha dan memilih merantau ke Kota metropolitan.
Raisa mengikuti jejak temannya bekerja di kelab malam, tanpa diduga Raisa bertemu dengan seorang pengusaha muda angkuh dan berwatak dingin yaitu Dava. Pertemuan itu membawa mereka pada kontrak pernikahan.
Bagaimana rumah tangga Raisa dan Dava yang diawali tanpa ada cinta?
Pada siapa akhirnya cinta Raisa akan berlabuh? Dava atau Yudha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kewajiban
"Tunggu di situ!" Dava mengajak Raisa masuk ke dalam kamar utama. "Duduk tenang sampai aku kembali," ucapnya seraya menunjuk sofa.
"Mau ngapain? Kita nggak satu kamar 'kan?" Raisa mematung di ambang pintu. Ia ragu masuk ke dalam kamar seperti perintah Dava.
"Sudah jangan banyak tanya, ini perintah!"
Dava menarik tangan Raisa, ia mengunci kamar dan menyembunyikan kunci ketika wanita itu sudah masuk, lalu ia membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah memastikan sisa-sisa keringat luntur dari badan, Dava ke luar dari walk in closet dengan hanya memakai celana pendek atau boxer.
"Lakukan tugasmu!" ucap Dava tanpa melihat Raisa, ia berjalan santai naik ke tempt tidur. "Aku lelah sekali," keluhnya seraya merenggangkan otot-otot tangannya.
Begitu melihat Dava kembali dengan bertelanjang dada, Raisa langsung berpaling muka. Otot-otot pria itu tercetak sempurna. Ini pertama kali Raisa melihat pemandangan seindah itu. Indah? Raisa menggelengkan kepala berharap otaknya tidak berfikiran yang aneh-aneh. Tidak mungkin ia dan Dava melakukan hubungan selayaknya suami dan istri 'kan? Sungguh Raisa ingin menjaga otak, hati dan kesuciannya dari laki-laki ini.
"Tugas apa?" tanya Raisa saat Dava tidur telungkup di ranjang berukuran raksasa itu.
"Sini!" seru Dava, ia duduk dan bersandar di kepala ranjang. Berselonjor kaki menunggu Raisa mendekatinya.
"Masih ingat perjanjian kita 'kan?" Raisa mengangguk mendengarnya. "Seluruh badanku pegal-pegal. Kamu tahu untuk apa aku menyuruhmu mendekatkan?" Dava tersenyum tipis. "Kenapa wajahmu jelek begitu? Kamu kecewa karena aku tidak akan melakukan seperti apa yang kamu pikirkan?"
Blushhh!!!!
Pipi Raisa terasa panas, ia berdecak kesal kepada suami yang mulutnya selalu asal bicara. Tanpa kata ia mendekati ranjang, hentakan kaki menjelaskan kalau ia sedang kesal.
"Maaf Mas, aku gak ngerti memangnya tugas apa?"
"Aku lelah cepaat pijat tanganku!" Dava mengangsurkan tangan lagi. "Jangan berhenti sebelum aku suruh!" Ia telungkup lagi seperti semula.
"Apa susahnya sih tinggal bilang pijat!" ketus Raisa, ia duduk di bibir ranjang sedikit ragu menyentuh tangan Dava. Matanya bahkan tidak bisa berhenti melihat punggung kokoh Dava.
"Selama ini apa yang kau makan? Kenapa kamu tidak bertenaga?" keluh Dava, pijitan yang diberikan Raisa tidak ada apa-apanya dibanding digigit semut.
"Bukannya nggak bertenaga, tapi aku nggak mau sentuh Mas Dava!"
"Kenapa? Kamu takut tergoda? Ya, aku tahu semua wanita tergila-gila padaku."
Dava mengubah posisinya menjadi telentang menghadap Raisa membuat pandangan mereka bertemu.
"Aku mengajakmu tinggal di rumah ini, bukan untuk liburan, dan bukan untuk bulan madu seperti yang kamu pikirkan, aku mengajakmu kesini supaya aku leluasa menyiksamu!"
"Menyiksa? Mas Dava sinting! Aku setuju nikah sama Mas Dava karena uang dan hubungan yang saling menguntungkan! Bukan berharap disiksa!" Ia memukul lengan Dava.
"Karena uang 'ya? Akh,aku hampir lupa," jawab Dava, ia menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.
"Tapi sampai sekarang Mas Dava belum membayar aku! Cepat penuhi kewajiban Mas Dava itu!" sentai Raisa, ia hendak berdiri tapi Dava menarik tangannya sampai ia terjatuh menimpa dada Dava.
Dava menyeringai jahat, jarak wajahnya dengan Raisa sangat dekat.
"Baiklah, aku akan memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami, aku juga akan membayarmu seperti yang sudah kita sepakati, tapi kamu juga harus melakukan tugasmu dengan baik, apa kamu mengerti?"
Raisa merinding seketika, hembusan nafas Dava terasa hangat menerpa wajahnya. Dava menatapnya seperti mendamba.
"Le-lepas, Mas Dava mau apa ? "
"Aku mau kita melakukan tugas kita sekarang...," ucap Dava, secepat kilat ia mengubah posisinya hingga Raisa berada di bawah kungkuhannya.
🤭Unboxing, gak?🤣
lanjut kakakakk...
💖💖💖💖
Raisa beda loh mas Dava dr cewe2 yg lain 😁