Naima, anak ABG yang baru merasakan yang namanya jatuh cinta terhadap lawan jenis. Diam-diam ia mengagumi sosok laki-laki tampan yang terlihat sangat menyayangi keluarganya. Takdir membuat cinta pertamanya itu datang sendiri menghampirinya.
Siapa sangka suatu peristiwa telah membuat Naima berada pada situasi yang tidak terduga. Dia mengalami hal yang tidak seharusnya terjadi dengan lawan jenis. Namun, peristiwa itu telah membuat harapannya terwujud dalam sekejap. Ia dinikahi oleh cinta pertamanya.
Namun, apakah pernikahan itu akan berjalan dengan indah seperti harapan Naima sebelumnya? mampukah Naima bertahan jika mempelai pria sesungguhnya tidak mencintainya?
Seperti apa perjalanan nikah muda Naima?
Ikuti terus kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ney-nNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Keesokannya Naima merasa tidurnya terganggu dengan bunyi dering handphone tanda bahwa ada telepon yang masuk.
Naima mulai mengerjapkan mata. Tangannya merayap meraba seprei di atas tempat tidur untuk mencari keberadaan handphonenya. Ketika mendapatkannya ia pun memicingkan mata melirik pada layar di handphonenya yang cukup menyilaukan itu. Lalu ia menggeser tanda hijau pada layar itu tanpa membaca nama kontak si penelpon.
"Halo, Assalamualaikum!" ucapnya dengan suara lirih khas bangun tidur.
"Waalaikumussalam, baru bangun tidurkah?" sahutan dari seberang.
Naima segera melihat pada layar handphonenya.
"Mas Reynand!" gumamnya tanpa suara. Ia melirik jam yang tertera pada handphonenya. Waktu menunjukkan pukul 05.00.
Astaghfirullah, udah lewat adzan subuh! batin Naima yang seketika panik.
"Mas, aku salat dulu yah? nanti dilanjut lagi!" ucap Naima segera memutus sambungan teleponnya. Bahkan tanpa mengucap salam. Ia beranjak bangkit dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Aduh, bikin malu aja bangun kesiangan kepergok sama doi!" gerutu Naima sendiri.
Setelah melaksanakan salat ia bergegas mandi. Kemudian bersiap untuk ke sekolah. Naima buru-buru menyisir rambutnya dan mengikatnya. Tiba-tiba handphonenya berdering lagi. Diliriknya layar pada handphone. Ternyata permintaan video call dari Reynand.
"Astaghfirullah ... mana belum pake kerudung lagi!" Naima segera berlari mengambil kerudung berwarna putih dan melipatnya menjadi dua hingga berbentuk segitiga. Ia menyampirkannya di kepala barulah menggulir tombol hijau pada layar.
"Halo, Mas. Assalamualaikum," ujarnya sembari memasang jarum di bagian bawah dagunya.
"Eh kok, udah cantik begini! Siapa yang punya?" goda Reynand yang seketika membuat Naima tersipu malu.
"Apaan sih, sok amnesia deh!" Naima mengalihkan pandangannya ke arah cermin sembari menahan tawa.
"Oh, jadi sudah ada yang punya ya? ciyee yang sudah laku!" goda Reynand lagi.
"Apa sih Mas Reynand berisik banget. Pasti kalau baik-baikin aku gitu karena sadar habis bikin salah deh! semalem ke mana aja gak balas chat aku dan nggak angkat telepon?" Naima memberondong pertanyaan. Kini ia fokus menatap ke arah layar handphonenya. Ingin melihat mimik muka Reynand saat menjawab pertanyaannya.
"Masa sih aku kaya gitu? aku nggak ngerasa lagi bikin salah kok. Orang semalem itu lagi ngobrol penting sama Opa. Handphone ada di kamar. Aku nggak tahu kalau ada chat masuk atau telepon. Jadi aku nggak salah dong! pas udah selesai aku juga langsung telepon kamu tapi nggak kamu angkat," tutur Reynand.
"Aku udah tidur lah, Mas. Semalem Mas Reynand telepon pas udah larut malam. Kalau boleh tahu ngobrol apa sama Opa, Mas?" tanya Naima hati-hati.
"Ngobrol tentang masa depan. Nanti aku cerita kalau pas udah pulang. Gih sarapan dulu, nanti telat!" ujar Reynand.
"Emang Mas Reynand pulangnya kapan?" tanya Naima.
"Belum tahu, sih! Nanti kalau udah beres urusannya sama Opa. Kenapa emang, pengen aku pulang cepet? udah kangen?" tanya Reynand yang mulai nakal.
"Hah? gimana-gimana?" Naima memicing ke arah Reynand yang merasa malu untuk mengakuinya.
"Ya udah kalau gitu nggak pulang aja deh, toh nggak ada yang kangen juga!" Reynand pura-pura ngambek.
"Kalau Nai bilang kangen emang bisa pulang besok?" Naima menanggapi.
"Ya tergantung, minta pulang besok emang mau dikasih apa?" cecar Reynand.
"Emang maunya apa?" tanyanya seraya terkekeh. Naima menangkap ada yang tidak beres dari pertanyaan Reynand.
"Nggak berani minta sih, takutnya ntar nangis lagi kaya kemarin!"
Naima yang tersipu seketika menutup sebagian wajahnya dengan sisi kerudungnya yang menjuntai.
"Nai!"
Mira yang tiba-tiba datang langsung membuka pintu kamar Naima tanpa mengetuk terlebih dahulu. Hal itu pun membuat Naima seketika kaget dan membalik handphonenya yang masih tersambung.
"Mimi ih, ngagetin aja!" ujar Naima.
"Kamu tuh dari tadi ngapain aja sih, Nai? Buruan sarapan deh, keburu telat!" omel Mira.
"Iya, Mi. Ini juga mau turun, kok!" kilah Naima.
Setelah Mira meninggalkan kamar putrinya. Naima segera membuka handphonenya kembali.
"Hahahaha, tuh kan diomeli sama Mimi. Udah gih sarapan! Di sekolah belajar yang bener ya. Assalamualaikum!"
"Iya, Mas. Waalaikumussalam."
Telepon dimatikan.
******
Usai bertelepon, Reynand keluar dari kamarnya. Ia menuju ruang makan untuk sarapan dengan Opa dan Omanya.
"Pagi, Opa, Oma!" ujar Reynand dengan mulai mendudukkan diri di antara mereka.
"Pagi, Sayang!" jawab Oma Lena dengan senyum manisnya.
Opa Reza meliriknya sekilas kemudian kembali menekuni koran yang tengah dibacanya. Ia kembali membenarkan letak kacamatanya. Opanya itu masih nampak tegap dan berwibawa meskipun sudah berumur.
"Bagaimana Reynand, kamu sudah memikirkan mau kuliah di negara mana untuk mengambil S2nya?" tanya Opa tanpa mengalihkan pandangannya pada koran di depannya.
"Ada beberapa universitas yang Reynand lirik sih Opa. Tapi, Reynand masih bimbang. Nanti Reynand cari info ke temen-temen dulu deh!" ujar Reynand. Tapi ada hal penting lain yang ingin Reynand bicarakan sebelum membahas lebih jauh tentang hal itu, Opa. Karena ini juga berkaitan dengan hal itu," tutur Reynand.
"Apa?" tanya Opa antusias. Ia beralih menutup kembali koran ditangannya dan melipatnya.
"Nanti saja dibahasnya sekarang sarapan dulu!" ujar Oma seraya menyodorkan semangkuk oatmeal yang berisi potongan buah di dalamnya ke hadapan opa dan juga Reynand.
"Ayo dimakan dulu sarapannya!"
"Iya, Oma. Terima kasih!" ujarnya lalu segera menyantap sarapannya.
"Opa nggak berangkat ke kantor?" tanya Reynand.
"Enggak, Opa nanti malam mau ke Cabang Solo. Jadi ini mau istirahat aja sekalian menyiapkan energi untuk bepergian!" tutur Reza.
"Oma ikut?" tanya Reynand.
"Tadinya, Oma mau ikut. Sekalian pengen nengok Chaca yang udah lahiran. Tapi karena ada kamu di sini , Oma nggak jadi ikut deh!" ujar oma Lena.
"Mbak Chaca udah lahiran? Alhamdulillah. Anaknya cewek apa cowok, Oma?" tanya Reynand.
"Cewek lagi," jawab Lena. "Keturunannya Oma baru kamu aja nih uang cowok. Si Windy anaknya dua perempuan semua. Ini Chaca ngasih cicit dua cewek semua. Semoga anak kamu nanti cowok ya, Nand. Biar ada penerusnya yang bisa menggantikan perusahaan turun-temurun dari kakek buyutmu," ujar Oma.
"Aamiin, ntar otw dibuatin sama Reynand, Oma. Tenang aja!" ujar Reynand bercanda.
"Hush ... nikah dulu, dong. Masa dibuatin dulu. Jangan buru-buru nikah juga lah, Oma pengen kamu fokus dulu sama kerjaan kamu di kantor Opa. Nanti, Oma bantu seleksi calon yang pas buat kamu!" tutur Oma.
"Uhuk!" Reynand seketika tersedak. Niat hati ingin mengatakan tentang pernikahannya dengan Naima malah udah di ultimatum duluan sama omanya nggak dikasih ijin nikah muda.
"Aduh! pelan-pelan dong, Nand!" ujar Oma seraya menyerahkan segelas air putih kepada Reynand. Oma menepuk pelan punggung cucu kesayangannya itu.
Reynand segera meneguk minumannya hingga tinggal setengahnya.
Reynand menjadi bimbang untuk menyampaikan kata-kata yang sudah di susunnya sejak tadi pagi.
"Oh, ya. Tadi mau bicara apa, Nand?" tanya Opa Reza yang sudah menyelesaikan makannya.
...________Ney-nna________...
ehhh kak Ney sehat ??
semangat kak, selalu ku nanti kelanjutan ceritanya
sehat selalu kak
semangat
tenang nai..mas reynand bakal lbh perhatian ga akan galak dan cuek lagi koq...
ehhh apa yng tertinggal Reynand gak peke pengaman kah atau semburan nya di dalam ??? 🙄🙄🙄🤭🤭🤭