Menjadi istri kedua tidak semudah mengucapkannya. Pada kenyataannya istri kedua harus punya kesabaran dan ketekunan lebih untuk menghadapi dunia.
Begitu pula dengan Winda, terlebih dengan status janda yang disandangnya tak luput dari sorot kebencian. Sebutan pelakor dan perusak rumah tangga orang seolah melekat pada dirinya, sejak ia memutuskan menikah dengan Detta, laki-laki yang telah beristri.
Namun Winda harus tetap bertahan demi anak yang didapat dari pernikahannya dengan Detta. Tetapi jika cacian dan cemoohan berpengaruh pada tubuh kembang anaknya, apa yang harus Winda lakukan? Haruskah ia bertahan? Ataukah ia justru menyerah dan mengakhiri semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Aku baik tanpamu
Winda, langsung berdiri dengan raut wajah penuh amarah. Meski Detta tak menceritakan secara detail kejadian di rumah Mesya. Winda bisa menyimpulkan bahwa Mesya
Winda langsung bertolak pulang, ketika Mira menelpon dan memberi tahu bahwa Detta dan Zia pulang ke rumah.
"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan tetap diam seperti pria bo doh?" Teriak Winda, dengan nada penuh emosional.
"Mana harga diri kamu, sebagai suami! Sampai-sampai kamu di usir oleh istri." Winda, merutuki kelemahan Detta. Ia sangat menyayangkan, sikap lemah Detta dalam menghadapi istrinya.
"Aku tidak bisa melawan, ada Zia di sana. Jika aku melawan, takutnya semua akan di berimbas pada Zia." Wajah Detta, lesu. Saat itu ia ingin melawan Mesya, tetapi keberadaan Zia, membuatnya mengurungkan niat. Membuatnya memilih mengalah dan pergi.
"Apa rencana kamu selanjutnya? Apa kamu akan bercerai dengan Mesya?"
"Tidak! Sampai kapanpun, aku tidak akan menceraikannya." Detta berteriak tak setuju. Keputusan tetap sama, sampai kapanpun ia tidak akan menceraikan salah satu bahkan kedua istrinya.
"Lakukan sesuatu! Jangan diam saja! Dan ingat! Secepatnya aku minta tanda tangan Mesya." Winda, kembali berteriak kemudian pergi.
***
"Apa?! Kamu ngusir Detta?" Jena membelalakkan mata terkejut.
Mesya mengangguk lemah kemudian menghela napas panjang.
"Apa kamu menyerah dan akan melepas Detta untuk wanita itu?" Jena, menatap Mesya penuh selidik.
"Aku tidak tahu, Jena. Apa aku harus mengalah pada wanita itu. Aku tidak menyangka Detta berani membawa anaknya dengan wanita sia lan itu ke rumah."
Jena menghela napas panjang. "Aku tahu, ini sangat sulit. Tapi tidak seharusnya, kamu menyerah begitu saja. Pertahankan posisi kamu. Dua puluh tahun, bukan waktu yang sebentar. Apa dua puluh tahun, itu bisa terkalahkan hanya dengan empat tahun?"
Mesya terdiam, mencerna ucapan Jena. Ia membenarkan ucapan Jena. Tidak seharusnya, ia menyerahkan begitu saja, dan membiarkan Detta hidup bersama wanita sial an itu.
"Kamu benar, tidak seharusnya aku membiarkan wanita sial an itu merebut suamiku." Mesya bergumam dengan mata menerawang jauh ke depan.
"Apa rencana kamu untuk membawa Detta kembali pulang?"
Mesya menggeleng lemah. "Aku tidak tahu."
Beberapa saat kemudian, Detta masuk ke dalam ruangan Mesya. Jena, yang saat itu masih berada di sana langsung keluar. Membiarkan Mesya menyelesaikan masalahnya dengan Detta.
Detta masih berdiri dengan menatap Mesya. Sementara Mesya membuang muka ke arah lain. Saat ini, Mesya sedang tak ingin melihat wajah Detta. Mesya merasa emosinya akan mudah terpancing jika melihat Detta. Sebab penghianatan Detta padanya.
"Aku butuh tanda tangan kamu di sini." Detta melemparkan sebuah map di atas meja kerja Mesya.
Mesya menoleh pada map tersebut. Matanya sedikit memicing sebab logo Garuda yang menempel di map tersebut. Ia sedikit khawatir jika Detta akan menggugat cerai dirinya. Dalam lubuk hatinya, yang paling dalam, tak pernah sekalipun pernah berpikir akan berpisah dengan Detta. Hanya saja ia terlalu kecewa dengan perbuatan Detta di belakangnya.
"Jadi, kamu sudah membuat keputusan?" Tanya Mesya, wajahnya di buat sesantai mungkin. Ia tak ingin, Detta melihatnya terluka oleh perpisahan. Ia ingin Detta melihatnya tetap baik- baik saja tanpa Detta.
Namun Detta tak menjawab. Ia justru berjongkok di bawah kursi Mesya dengan mata menatap Mesya pias.
Hal itu membuat Mesya terkejut, kemudian mendorong kursinya mundur kebelakang.
"Apa-apaan ini!"
"Maafkan, aku tidak bisa menjaga kesetiaan. Aku mengkhianati cinta kita. Kamu boleh marah, boleh benci. Tapi aku mohon jangan pernah meminta perpisahan." Kata Detta memohon.
Mesya terdiam sambil menelan ludah yang terasa mencekat. Wajahnya pun memanas sementara kedua matanya telah penuh dengan air mata. Sekali saja ia berkedip, air mata itu sudah pasti akan menetes di pipinya. Tapi, ia harus bertahan untuk tidak membiarkan air matanya lolos begitu saja. Menurutnya, air matanya sangat berharga untuk menangisi penghianatan Detta padanya.
"Aku tidak ingin berpisah darimu, aku mencintaimu. Dan anak-anak, kita sudah berjanji akan membesarkan mereka bersama." Detta menatap Mesya pias. Lalu meraih tangan Mesya untuk mengecupnya.
Mesya langsung menarik tangannya, dan membuang muka kesamping.
"Kamu tidak usah khawatir. Kehidupan anak-anak tetap akan terjamin tanpa kehadiran kamu bersama mereka." Suara Mesya terbata. Menahan tangis justru membuat tenggorokan terasa sulit untuk menelan ludah.
"Aku akan ikuti semua kemauan kamu." Lanjut Mesya masih dengan suara terbata. "Kamu ingin, aku tanda tangani surat ini kan? Baiklah, aku akan menandatangani." Mesya membuka map tersebut. Matanya langsung terbelalak ketika membaca keterangan atas keberadaanya memberikan Detta kuasa beristri lebih dari satu.
dimana² menang 😂