Rei, seorang remaja perempuan yang harus menjalani kerasnya hidup bersama neneknya. Saat merasakan kesulitan yang terus menghimpit, seorang pria tua menghampirinya, dan menawarkan pertolongan.
"Dengan satu syarat, jadilah istri kedua cucuku dan berikan dia keturunan, setelah itu berpisahlah!"
Apa yang akan dipilih oleh Rei? Bisakah dia menemukan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROZE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 Jalan Berdua
23 Jalan Berdua
Viola melirik jam di dinding. Sudah jam satu malam, tapi suami dan madunya itu belum pulang juga. Dirinya gelisah, membayangkan kalau malam-malam begini suaminya bersama perempuan lain, meski perempuan itu istrinya juga.
Sedangkan yang dipikirkan kini tengah sibuk jalan-jalan mengelilingi kota Jakarta. Marva ingin Rei melupakan kesedihannya, oleh sebab itu dia mengajak Rei jalan-jalan meski yang dilihat hanya gedung-gedung pencakar langit dan lampu-lampu kota.
Melihat bangunan-bangun yang berderet di sepanjang perjalanan, membuat Rei menghela nafas. Dirinya kembali teringat akan cita-citamya menjadi arsitek.
Kini mereka melewati yang masih ramai meski malam telah sangat larut, Marva menghentikan mobilnya di tempat itu.
"Kenapa berhenti, mobilnya mogok?"
"Enggak, kok. Kita makan nasi kucing, yuk!"
Hah, makan lagi?
"Kak Marva belum kenyang?"
"Tadi sudah, tapi sekarang lapar lagi, mungkin karena kerjaan lagi banyak jadi menguras energi. Sudah, ayo kita makan. Di sini nasi kucingnya enak."
"Kak Marva sering makan di sini?"
"Lumayan."
"Dengan kak Viola?"
"Bukan, tapi sama saudara-saudara aku."
"Saudara?"
"Iya, saudara-saudara sepupu aku. Tapi sudah beberapa bulan ini mereka susah dihubungi."
Mereka duduk lesehan dengan beralaskan tikar. Marva mengambil semua jenis makanan yang ada. Pengamen menyanyikan lagu dengan terampil dan suaranya pun cukup bagus.
Ini untuk yang pertama kalinya Rei merasakan suasana yang seperti ini. Jangankan keluar malam, kegiatan sehari-harinya hanya belajar, bekerja, dan mengurus neneknya.
"Kamu senang?"
Rei mengangguk, matanya melihat-lihat suasana tempat itu. Dia mengusap lengannya, menghilangkan rasa dingin udara malam.
"Tunggu sebentar."
Tidak lama kemudian Marva kembali dan membawa jaketnya, lalu menutupi punggung Rei dengan jaket itu.
Satu jam mereka berada di tempat itu, bukan hanya untuk makan, tapi juga mendengar pengamen yang bernyanyi kayaknya grup band ternama, karena musiknya tidak hanya menggunakan gitar saja.
"Ayo, kita pulang," ajak Marva.
Seketika raut muka Rei menjadi sendu, dan itu dilihat oleh Marva.
"Kenapa, kamu belum mau pulang?"
"Enggak kok, ayo kita pulang."
Mereka masuk ke mobil, Marva melirik Rei yang diam memandang arah luar.
Semakin lama Rei perhatikan, ini bukan jalan pulang ke mansion.
"Kita mau ke mana, Kak?"
"Puncak," jawab Marva singkat.
"Aku butuh refreshing, sebelum hari senin nanti sibuk kerja lagi."
"Nanti dicariin kak Viola?"
"Enggak."
Rei tidak lagi bertanya, dia diam menikmati perjalanan itu tanpa rasa lelah.
Tanpa terasa mereka telah tiba di Puncak. Mereka singgah di salah satu warung yang menjual jagung bakar, kacang rebus, dan berbagai macam makan ringan lainnya, juga ada wedang jahe.
Rei tidak merasa ngantuk sama sekali, justru matanya semakin terbuka lebar. Udara yang dingin membuat mereka kembali merasa lapar.
Dilihatnya banyak pasangan yang juga menikmati malam ini di sana, juga klub-klub motor yang mungkin melakukan touring.
Rei seperti gadis yang benar-benar baru melihat dunia luar. Lagi-lagi Marva melihat Rei yang terlihat sangat antusias dengan sekitarnya, menunjukkan bahwa istrinya ini adalah perempuan polos namun tangguh menghadapi kerasnya hidup.
Di mansion, Viola semakin gelisah. Dirinya tak berhenti melihat jam.
Apa dia tidak memikirkan aku di sini? Apa dia tidak tahu bahwa aku tidak bisa tidur karena memikirkannya? Ya ampun Marva, kamj dan dia kemana, sih? Kenapa belum pulang juga samoai sekarang? Sudah jam berapa ini!
Belum ada satu bulan mereka menikah sudah seperti ini. Bagaimana kalau pernikahan mereka berjalan lebih lama?
Vio mengacak rambutnya dengan kasar. Sudut matanya sudah basah.
Cemburu itu membuat resah, tidur menjadi sulit dan makan tak enak. Itulah yang kini dirasakan oleh Viola setiap harinya semenjak kehadiran Rei.
Memang kakek Frans menjanjikan bahwa pernikahan Rei dan Marva hanya sampai Rei hamil dan melahirkan saja, tapi kapan itu terjadi?
Di satu sisi dia ingin Rei segera hamil, melahirkan, lalu pergi. Namun di sisi lain dia tidak ingin Rei hamil, karena itu berarti Marva benar-benar telah menyentuh Rei dan dia tidak ingin kehilangan Marva.
Aku harus bagaimana sekarang?
Tanpa terasa akhirnya Viola tertidur juga, meski merasa gelisah dalam tidurnya.
"Kita dibsini terus?" tanya Rei.
"Kamu mau kita di sinibterus sampai pagi apa tidur di vila?"
"Memang Kakak punya vila di sini?"
"Ada, vila keluarga."
"Hm, di sini saja, deh. Enggak apa-apa, kan?"
Marva mengangguk, karena mulutnya masih mengunyah jagung bakar.
Apa seperti itu ya, yang namanya pacaran?
Rei melihat pasangan yang bergandengan tangan, saling berbisik lalu tertawa bersama.
Aku tidak pernah pacaran, tahu-tahu langsung menikah, tapi dengan orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Namun aku harus menerima takdir ini, kan? Aku percaya suatu saat nanti aku akan bersama dengan orang yang kucintai dan mencintaiku dengan tulus, tanpa mempermasalahkan masa laluku. Ya, semoga saja.
Nenek, beristirahatlah dengan tenang. Aku berjanji akan menjadi orang yang sukses dan membuatmu bangga. Sekarang nenek sudah bersama papa dan mama. Kalian jangan mengkhawatirkan aku, aku akan baik-baik saja.
Rei memandang langit malam yang bertabur bintang. Bahkan bulan sangat terang malam ini. Rei tahu bahwa kesediannya ridak akan pernah membuat neneknya kembali.
"Kamu mau nambah minum lagi?" pertanyaan Marva menyadarkan dia.
"Nanti saja, Kak."
Marva ikut memandang langit, melihat bulan yang justru terlihat seperti wajah seseorang.