Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Hati, Jiwa Dan Raga Ku!
"Kenapa kamu selalu curigaan! Apa tidak puas aku memilih kamu!" jawab Biru dengan nada tinggi, pria itu seolah dituduh.
Lalu Maya bangun dari duduknya melemparkan lembaran-lembaran foto yang berada di tangannya.
"Ini apa? Kamu bilang memilihku itu hanya di bibir saja, iya kan!" ucap Maya masih dengan berteriak, wanita malang itu melemparkan foto-foto tersebut di wajah Biru.
"Ok, sekarang kamu sudah mengetahui dan saya rasa tidak ada yang perlu saya sembunyikan lagi!" kata Biru pria itu melemparkan tas kerjanya begitu saja, berkacak pinggang menatap Maya yang berderai air mata.
Lalu Biru mengambil kumpulan foto itu, merobek-robeknya tepat di depan wajah Maya. Biru merasa kesal karena tetap saja ketahuan, padahal baru saja pria itu merasa kalau Maya sudah tidak mengawasi.
Maya yang menangis berlari ke dapur, wanita itu ingin membuktikan kalau ucapannya yang akan memotong denyut nadinya itu bukanlah gurauan.
Lalu Maya kembali pada Biru yang berdiri di bawah tangga.
"Kamu lihat ini hah! Kamu memilih jadi siapa yang akan ku potong?" teriak Maya seraya mengacungkan pisau dapur.
Biru pun panik melihat Maya membawa pisau, Biru takut kalau Maya akan melukai dirinya sendiri.
"Lepaskan, May!" bentak Biru seraya tangannya berusaha meraih pisau itu.
"Kenapa? Kamu takut aku terluka?" tanya Maya, ia mendorong Biru supaya menjauh darinya.
"Tanpa pisau ini melukaiku, hatiku sudah lebih dulu terluka, Mas!" teriak Maya.
"Kenapa kamu bohongi aku?" tanya Maya, wanita itu merasa frustasi, melemparkan pisau yang berada di tangannya lalu Maya terduduk.
"Aku tidak akan berbohong kalau kamu mengizinkan aku tetap menikah dengan dia, May!" jawab Biru, pria itu tidak tau lagi harus berkata apa selain mengatakan apa yang selama ini ia pendam.
Maya bangun dari duduknya, wanita itu menampar Biru yang bodoh.
"Bodoh kamu, Mas! Mana Ana wanita yang mengizinkan suaminya menikah lagi!"
Biru terbawa emosi karena Maya telah berani menamparnya sehingga Biru meladeni amarah Maya.
"Ayo tampar aku, tampar aku sepuasmu! Kalau perlu pukul aku seperti adikmu memukuliku!" perintah Biru seraya menuntun tangan Maya untuk memukuli dadanya.
Melihat Maya yang terus menangis ada rasa tidak tega di hatinya, lalu Biru melepaskan tangan Maya dan pergi meninggalkan Maya ke kamarnya.
"Bajingan kamu, Mas! Aku mencintai kamu penuh dengan kesabaran tapi kamu membalasku dengan luka!" teriak Maya membuat Biru menghentikan langkah kakinya.
"Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang yang aku mau hanya kalian untuk mengerti perasaan ku!" jawab Biru dalam hati, pria itu tidak menghiraukan Maya yang sedang melampiaskan amarahnya, Maya menyibakkan semua yang berada di meja makan.
Maya menangis dan suaminya terlihat tidak perduli semakin menambah kekecewaan di hatinya.
"Untuk apa kamu menjemputku kemarin, sialan! Bajingan!" teriak Maya dalam hati.
Sementara Biru melihat kamarnya sudah seperti kapal pecah, pria itu memikirkan dari mana Maya mendapatkan gambar itu, "Apa dia mengirim mata-mata?"
"Aaaargghh," geram Biru, pria itu meninju lemari kaca miliknya.
"Di sini istri dan anakku, di sana juga anakku! Kenapa kamu tidak bertanya lenih dulu!" geram Biru, pria itu mengatakan unek-uneknya dalam hati.
Setelah pertengkaran itu Maya dan Biru tidur di kamar terpisah, Maya berharap kalau Biru akan benar-benar memilihnya dan Ifraz, tapi kenyataannya keduanya tidak berkomunikasi dengan baik, keduanya saling diam.
Maya menginginkan Biru kembali seperti dulu, seperti belum mengenal Hafizah.
Sedangkan Biru merasa kesal dan tertekan, pria itu menginginkan Maya untuk mengerti dirinya, setidaknya sampai bayi itu lahir, bodohnya lagi Biru tidak mengatakan itu pada Maya.
Dua hari dua malam sudah Maya tersiksa oleh perasaannya sendiri, wanita itu memberikan pilihan untuk suaminya.
Maya mencoba tegar, ingin membicarakannya baik-baik.
Maya masuk ke ruang kerja Biru, berdiri di pintu.
"Aku bertanya sekali lagi, Mas. Kamu pilih aku atau dia?" tanya Maya, ia menatap nanar suaminya yang sedang menatapnya datar.
Dalam hati Biru berfikir, kalau dirinya memilih Maya sudah pasti Maya memberikan pilihan untuk meninggalkan Hafizah dan bayinya, sedangkan Biru sudah mulai menyadari ada sedikit rasa untuk Hafizah, bahkan Biru telah kembali menikahi Hafizah karena Hafizah terus menolak uang pemberian darinya dengan alasan kalau dirinya bukanlah lagi istri Biru.
"Aku tidak bisa memilih!" jawab Biru singkat, pria itu seolah kembali ke pekerjaannya, padahal kenyataannya adalah Biru sedang sakit kepala bahkan membaca berkas saja tidak.
"Ok, kalau kamu tidak bisa memilih berarti aku yang memilih, aku tidak sanggup lagi bertahan dengan rumah tangga yang tidak mempertahankan ku sebagai seorang istri, seorang ibu dari anakmu, sebagai wanita yang kamu cintai," kata Maya seraya menghapus air matanya yang seolah tidak pernah mengering.
Biru hanya diam mendengarkan Maya.
"Aku akan mundur dari pernikahan ini, walau sakit aku menerima!" kata Maya yang kemudian pergi meninggalkan Biru di ruangan itu.
Mendengar itu, Biru tidak tinggal diam, pria itu menyusul Maya dan mencegah Maya untuk pergi dari rumahnya.
Biru menyeret Maya ke kamar sebelah, di sana biru mencengkeram mulut Maya yang mengatakan kalau dirinya akan meninggalkan Biru.
"Lepaskan aku!" ucap Maya yang tidak terdengar jelas. Tersadar telah menyakiti hati dan fisik Maya sekarang Biru memilih melempar Maya ke ranjang, Maya berusaha lepas dari suaminya yang seperti telah keranjingan dedemit itu, tetapi Biru menarik lengan Maya.
"Mau apa kamu?" tanya Maya pada Biru.
"Apa lagi, aku suamimu, aku tidak akan pernah menceraikan kamu!" ucap Biru, pria mencium kasar Maya membuat Maya semakin membenci Biru saat ini.
Maya terus meronta, tetapi tenaga Maya kalah jauh dengan Biru yang sekarang sudah berhasil melucuti semua piyama Maya.
Biru bermain kasar, seperti memperkosa istrinya sendiri dengan mulut yang terus meracau, "Kamu itu istriku, harus menurut padaku!"
"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu!" lanjut Biru dengan terus bermain kasar, pria itu masih berada di atas Maya yang tak kuasa menahan sakit hatinya diperkosa oleh suami sendiri.
Maya menjawab dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
Setelah selesai, Biru kembali mengenakan pakaiannya dan meninggalkan Maya.
Maya yang belum mengenakan pakaiannya itu meratapi kesedihannya.
****
Sementara itu, Hafizah terus memikirkan Biru yang sudah beberapa hari ini belum datang lagi untuk menemuinya.
"Mau ku hubungi tapi dia bilang jangan, sudahlah aku harus menurut dengan apapun yang dia ucapkan!" Hafizah kembali meletakkan ponselnya.
"Mungkin suami kamu sedang dengan istri pertamanya," kata Bambang yang berdiri di pintu, pria itu merasa lega karena akhirnya Biru bertanggungjawab pada anaknya, Bambang pasrah akan hubungan Hafizah dan Biru, menerima kalau Hafizah sebagai istri kedua.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan dukungan di karya ini ya, pembaca yang baik tidak lupa untuk meninggalkan like setelah membaca, terimakasih^^