Vivian tidak pernah menyangka jika hatinya akan terpaut pada sahabatnya sendiri. Vivian jatuh cinta pada Leon sejak 10 tahun yang lalu. Tapi tak mudah bagi Vivian memenangkan hati Leon. Sudah ada orang lain dihatinya.
Jika saja yang Leon cintai sama seperti dirinya. Mungkin akan lebih muda bagi Vivian untuk memenangkan hatinya. Tapi sayangnya Leon mencintai kakak kandungnya sendiri.
Mampukah Vivian bertahan dalam sebuah hubungan yang dipenuhi luka dan air mata, ataukah Vivian akan menyerah karena tidak sanggup? Hanya Waktu Yang bisa menjawabnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Sebuah Pengecualian
Dua minggu telah berlalu dan perlahan Vivian melupakan kesedihannya. Dia mulai menerima keadaannya. Meskipun masih belum tau siapa orang tua kandungnya tapi setidaknya dia tau jika dirinya bukanlah anak haram ataupun anak yang tidak diinginkan.
"Di mana kekasihmu itu? Apa dia tidak datang untuk menjemputmu?"
Vivian yang sedari tadi di sibukkan dengan ponselnya mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan dan tepukan Vania pada bahunya. Saat ini kedua sahabat itu sedang berada ditaman kampusnya.
Gadis itu melirik jam yang melingkari lengan kirinya lalu mengangkat bahunya acuh."Entahlah, aku sendiri tidak tau. Mungkin sebentar lagi." Jawabnya acuh tak acuh.
"Vivian?"
Panjang umur. Baru saja di bicarakan orang itu sudah datang. Vivian tersenyum lebar menyambut kedatangan Leon. "Aku sudah di jemput, aku duluan." Vivian meraih tas-nya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Vania sendiri di bangku taman.
Vania mendesah panjang, ia pun beranjak dan pergi dari taman itu. Ia tidak ingin terlihat konyol karna satu-satunya gadis yang tidak berpasangan di taman itu. Dino sedang sakit perut, dia mengalami diare parah karna itu tidak bisa menjemputnya.
"Nak, Mama ingin sekali makan sesuatu yang pedas. Jadi sebaiknya kita pergi ke kedai bibi Sunmi saja oke. Setelah ini kita menemui Papamu. Papa sangat prihatin pada keadaannya sekarang." Ujar Vania sambil mengusap perutnya.
Vania positive hamil dan usia kandungannya baru memasuki minggu ke tiga. Rencananya dia dan Dino akan menikah minggu depan.
Sementara itu. Motor besar milik Leon sudah melesat jauh membelah kota yang ramai dan padat kendaraan. Leon melajukan motor besarnya dengan kecepatan sedang, dan alasannya adalah Vivian.
Leon tau jika kekasihnya itu sangat takut jika di bawah ngebut dan itulah kenapa doa tidak pernah mengebut saat membonceng Vivian.
"Leon, bisakah kita mampir ke minimarket? Aku ingin membeli minuman dingin."
"Baiklah."
Leon menoleh kebelakang untuk memastkan keadaan, setelah di rasa aman. Leon menambah kecepatan pada motornya, motor besar Leon meliuk menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya. Dan otomatis Vivian semakin mengeratkan pelukannya pada perut Leon karna ketakutan.
Tidak sampai 10 menit berkendara. Mereka tiba di sebuah swalayan, Vivian pun bergegas memilih minuman dingin mana yang hendak ia beli sementara Leon mengambil minuman kaleng bersoda lalu membawanya menuju kasir untuk membayar.
"Aku akan menunggu di luar." Ucap Vivian yang kemudian di balas anggukan oleh Leon.
Setelah membayar minumannya dan minuman milik Vivian, Leon bergegas meninggalkan swalayan dan menghampiri gadisnya yang sudah menunggunya di luar.
"Ayo," ucap Leon sambil merangkul bahu Vivian.
"Ini masih siang, bagaimana jika kita pergi ke taman?" usul Vivian. Gadis itu menghentikan langkahnya menatap Leon penuh harap.
Leon mendengus geli. "Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku ingin segera pulang dan beristirahat. Kepalaku sedikit pusing." Vivian tersenyum dan mengangguk cepat.
"Sebaiknya motormu letakkan saja di sini, kita jalan kaki saja. Tidak jauh kok, hanya 10 meter dari sini."ucap Vivian begitu antusias.
Leon mengacak rambut Vivian gemas, melihat wajah ceria gadisnya membuat hati Leon menghangat. Keduanya pun berjalan beriringan menuju taman.
Sedetik pun Leon tidak melepaskan genggamannya pada tangan Vivian dan memberikan tatapan tajam pada setiap pria yang mencuri-curi pandang pada gadisnya.
Setibanya di sana mereka melihat taman yang begitu sepi, hanya ada beberapa muda-mudi yang sedang memadu kasih dan para lansia yang berjalan di atas batu-batu tumpul untuk refleksi.
Vivian melepaskan genggaman Leon dan berbalik memeluk lengan kokok pemuda itu dan menariknya sampai pada kursi taman dan mereka duduk di sana. Vivian membuka tutup pada botol minumannya dan meneguknya , begitu pula dengan Leon yang juga membuka kaleng minuman bersodanya.
"Oya, sudah lama aku ingin menanyakan ini padamu, tapi aku selalu ragu. Kau ini kan GAY, tapi kenapa kau tidak pernah err... dengan sesama jenismu?"
Leon meneguk kembali minuman bersodanya dengan pandangan lurus ke depan. Pemuda itu tersenyum tipis. "Aku hanya kelaian selera seksual, dan itu hanya berlaku pada kakakku. Jika pada pria lain, aku tidak memiliki selera sama sekali." jawab Leon memberi penjelasan, pemuda itu menoleh dan menatap mata hazel Vivian yang juga tengah menatapnya.
"Jika begitu kasusnya, itu berarti kau itu bukan tidak normal."
"Lalu menyimpang di sebut apa?" Leon menyela cepat, nada bicaranya sedikit ketus. Terlihat Vivian berfikir, gadis itu tersenyum tiga jari sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehehe.. benar juga." Vivian nyengir lebar.
Kemudian menikmati kembali minuman berperisa jeruknya yang hanya tinggal setengah dari isinya. Mata hazelnya kembali menatap Leon yang tengah memandang lurus kedepan. Secara tidak langsung, Leon melihat tatapan itu dari sudut matanya.
"Lalu, jika kau berdekatan dengan perempuan bagaimana rasanya?" tanya Vivian hati-hati.
"Risih." Leon menjawab cepat. "Aku sungguh merasa tidak nyaman," sambungnya menambahkan.
"Benarkah? Tapi selama kau dekat denganku, kau terlihat baik-baik saja." Vivian menatap Leon sedikit heran.
Leon menyentil gemas kepala Vivian. "Karena kau sebuah pengecualian." Vivian tersenyum lebar mendengar jawaban Leon. "Oya, aku bertemu Sandara. Kau mengingat gadis itu kan?"
"Dara? Gadis gendut berkaca mata itu?" tanyanya memastikan, Leon mengangguk.
"Dia banyak berubah. Sampai-sampai aku tidak mengenalinya,"
"Maksudmu dia menjadi cantik?" lagi-lagi Leom mengangguk.
Pemuda itu memicingkan matanya melihat perubahan pada raut wajah Vivian, kecemasan terpancar jelas dari sorot matanya. "Ada apa?" tanya Leon. Pemuda itu menatap Vivian heran, gadis itu menggeleng.
"Tidak, aku hanya merasa takut saja. Aku takut, setelah normal kau akan beralih padanya dan meninggalkanku." Vivian menundukkan wajahnya, rasa cemas menggerogoti perasaannya. Ia sungguh-sungguh takut jika suatu saat Leon akan berpaling darinya.
"Dasar bodoh. Aku tidak segampangan itu Nona Astoria, aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja hanya karna ada yang lebih cantik darimu. Aku tidak butuh kecantikan fisik, tapi kecantikan hati dan aku sudah mendapatkannya. Jadi tidak mungkin aku lepaskannya begitu saja."
Vivian menggeser duduknya dan berhambur ke dalam pelukan Leon. Vivian merasa tenang mendengar penuturan pemuda itu. Rasa takut yang semula menggerogoti perasaannya kini sirnah sudah. Ia percaya bila Leon tidak akan pernah meninggalkannya.
Leon melepaskan pelukannya kemudian berdiri dari posisi duduknya. "Sudah hampir senja, ayo kita pulang." Vivian mengangguk kemudian menerima uluran tangan pemuda itu dan memeluk lengan terbuka Leon dengan mesra.
Leon tidak merasa keberatan, ia justru merasa nyaman dengan apa yang Vivian lakukan, dan Leon senang saat Vivian bersikap semanja itu padanya. Keduanya pun berjalan menuju swalayan tempat Leon meninggalkan motor besarnya tadi.
.
.
BERSAMBUNG.