NovelToon NovelToon
Kisah Pilu Shanum

Kisah Pilu Shanum

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:287.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji

shanum gadis 25 tahun yang terjebak dalam pernikahan bak neraka baginya. sanggupkah shanum menjalani hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 23

Kini tinggalah Shanum dan bi Mina yang di rumah besar itu. Semua orang sudah melakukan aktivitas masing-masing. Shanum nampak berjalan keluar masuk rumah, ia bingung ingin melakukan apa. Biasanya bu Estu atau Lena selalu dirumah. Namun hari ini mereka ada acara diluar. Ia memutuskan untuk melihat acara tv. Tiba-tiba ia teringat pembicaraannya dengan bi Mina tadi pagi terpotong karena Wildan. Shanum memutuskan untuk mencari keberadaan bi Mina, tak lama kemudian ia menemukan bi Mina di taman samping rumah. Terlihat ia sedang menyiram tanaman disana.

"Bi, masih lama nyiramnya?" tanya Shanum

"Ah nggak non, ini sebentar lagi sudah selesai. Ada apa non?"

"Nggak papa. Mau ngobrol aja, aku bingung mau ngapain. Lagipula bibi belum menyelesaikan obrolan kita tadi pagi."

Bi Mina nampak mengingat ingat obrolannya tadi pagi. Sejurus kemudian ia mengingatnya

"Oh yang tadi pagi. Iya non sebentar saya lanjutkan ini dulu ya non. Habis itu kita ngobrol."

"Nggak ada kerjaan lagi bi? Kalau masih ada nggak papa aku bantu sambil kita ngobrol. Kalau ngobrol doang ntar nggak selesai kerjaanya."

"Bibi tinggal nyuci aja non. Nggak papa nanti bibi sambi cerita sama non."

Bi Mina segera menyelesaikan pekerjaannya. Nampak Shanum sedang duduk santai di bangku taman, menunggu bi Mina selesai melakukan pekerjaannya. Tak lama kemudian bi Mina membereskan alat untuk menyiram tanaman lalu mengajak Shanum masuk untuk melanjutkan cerita.

"Tadi bibi sampai mana ya non ceritanya?" tanya bi Mina seraya memasukkan pakaian ke mesin cuci

"Mas Davin sama wildan saudara kandung."

"Iya mereka itu saudara kandung tapi beda ayah non. Jadi dulu itu waktu tuan Davin masih berusia 3 tahun diajak berlibur sama nyonya dan suaminya. Tapi sayang ditengah perjalanan mereka mengalami kecelakaan dan ayah tuan Davin meninggal di tempat. 2 tahun setelah itu nyonya menikah lagi dan punya anak tuan Wildan."

"Oh jadi begitu. Pantesan banyak perbedaan diantara mereka ya bi. Mulai dari wajah dan sifat-sifat mereka juga beda. Terus papa mertua aku meninggal udah lama bi?"

"2 tahun yang lalu non."

"Sakit?"

"Iya, tapi bukan sakitnya yang membuat tuan meninggal."

"Lalu?"

"Non janji ya jangan tanyakan ini sama siapapun di rumah ini. Papa mertua non meninggal karena dibunuh seseorang."

"Apa? Dibunuh?" teriak Shanum kaget.

"Sssttt. Jangan keras-keras non," ucap bi Mina seraya menempelkan jari telunjuk ke mulutnya.

"Maaf bi maaf. Siapa yang tega bubuh orang bi?"

"Maaf non saya nggak bisa cerita kalau itu."

"Iya bi nggak papa. Di rumah ini nggak ada foto Papa bi? Aku nggak pernah lihat fotonya."

"Sebenarnya ada non, tapi sebelum tuan Davin menikah sama non, bu Estu mengambil semua foto-foto yang ada suaminya. Entah itu foto pernikahan, foto mereka berempat. Semuanya deh non."

"Kenapa?"

"Bibi kurang tahu kalau itu. Non mau makan siang pakai apa non?"

"Nggak ah bi. Nanti aja aku makannya. Aku mau tidur aja," ucap Shanum lalu pergi ke kamar.

Sementara Davin yang berada di kantor nampak gelisah. Entah kenapa ia selalu memikirkan Shanum. Ia seperti sedang jatuh cinta. Mungkin memang ia sedang jatuh cinta pada istri keduanya itu. Padahal ungkapan hati tempo hari yang ia ungkapkan pada Shanum adalah bentuk dari ia tak mau kehilangan Shanum karena ia sangat bersalah pada wanita itu".

"Apa aku termakan oleh omonganku sendiri? Aku mengatakan cinta agar dia tak pergi dariku. Aku tak mungkin membiarkan dia pergi dengan kondisi yang begitu kan? Lalu kenapa sekarang aku jadi seperti merindukan dia? Astaga Davin, apa yang kau pikirkan". batin Davin kesal

Ia mengotak-atik ponselnya. Ia ragu ingin menghubungi Shanum lebih dulu. Tapi rasa rindunya entah kenapa semakin memuncak. Padahal mereka baru terpisah setengah hari. Dengan ragu ia mengetik nama Shanum di ponselnya.

Tuuuut tuuuuutt

Terdengar bunyi nada sambung di sebrang sana. Namun tak ada jawaban. Hingga Panggilan ke tiga tak ada jawaban juga. Davin semakin gelisah. Ia takut terjadi sesuatu dengan wanita keduanya itu. Lalu ia beralih menghubungi nomor rumah

"Halo selamat siang," ucap Lena

"Lena? Kamu udah pulang?"

"Udah mas, baru aja sampai. Kenapa mas kok telepon pakai telepon rumah?"

"Iya aku tadi telpon Shanum tapi nggak

diangkat-angkat."

"Ada yang mau disampaikan ke Shanum? Nanti biar aku yang sampein kalau ketemu dia."

"Nggak ada sih. Aku cuman pengen tahu keadaan dia aja. Nggak tahu kenapa kepikiran

terus dari tadi."

"Sebentar aku cari dia dulu ya mas."

"Hanya ingin tahu keadaan sampai segitunya," batin Lena kesal.

"Cari Shanum kemana coba?" gumam Lena

"BI, bi Mina," teriak Lena.

Merasa ada yang memanggil, bi Mina segera menghampiri ke sumber suara

"Iya non. Ada yang bisa saya bantu?"

"Shanum mana?

"Tadi bilangnya tidur di kamar non."

Setelah mendapat informasi dari bi Mina Lena segera menuju tempat diletakkannya telepon rumah.

"Halo mas. Kata bi Mina Shanum lagi tidur."

"Oh begitu, ya sudah kalau begitu. Kau jangan lupa makan lalu istirahat ya."

"Iya mas," ucap Lena lalu menutup telepon.

Davin merasa lega setelah tahu bahwa Shanum baik-baik saja. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal.

*

Jam baru menunjukkan pukul 3 sore, namun Davin sudah pulang. Ia masuk rumah, namun tak ada satupun orang di dalamnya. Mungkin lagi di kamar masing-masing, pikirnya. Ia terus melangkahkan kaki menuju kamar Shanum.

Ceklek

Nampak Shanuk masih tidur dengan nyenyaknya. Ia berjalan mendekati Shanum.

"Sudah jam 3, bukankah aku telpon rumah tadi masih jam setengah 12. Itu artinya dia tidur dari tadi siang sampai sekarang belum bangun, apa dia sudah makan siang?" gumam Davin pada diri sendiri.

Dengan langkah lebar ia kembali turun untuk mencari bi Mina.

"Bi Mina...bi Mina," teriak Davin.

"Iya tuan?"

"Shanum sudah makan siang?"

"Belum tuan, tadi non Shanum sudah saya tawari mau makan apa untuk makan siang, tapi non Shanum bilang mau istirahat dulu."

"Astaga bi, ini sudah hampir sore. Kenapa bibi nggak bangunin dia buat makan?"

"Maaf tuan saya tidak berani ganggu istirahat non Shanum."

"Ya sudah siapkan makanan untuknya," perintah Davin.

Setelah itu Davin kembali ke atas, ia berniat untuk membangunkan Shanum.

"Num bangun makan dulu," ucap Davin seraya menggoyangkan tubuh Shanum.

Tak ada pergerakan dari Shanum. Tak kehabisan akal, Davin pun menggelitik pinggang Shanum agar ia bangun. Tak lama kemudian ada pergerakan dari tangan Shanum yang berusaha untuk melepas gekitikan dari Davin. Refleks Shanum tertawa karna geli. Davin masih terus menggelitik pinggang Shanum hingga akhirnya tubuh Davin oleng dan ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan

Bugggghhh

Davin terjatuh di atas tubuh Shanum. Wajah mereka sangat dekat. Shanum nampak sangat gugup, ia menutup matanya untuk menutupi gugupnya. Namun Davin salah mengartikannya, Davin justru semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Shanum. Shanum tersentak kaget atas reaksi Davin, ia berusaha untuk menolak sentuhan itu namun bukannya melepaskan davin justru semakin masuk kedalam bibir Shanum. Merasa tak bisa melakukan apa-apa lagi, Shanum pasrah dengan sentuhan yang berakhir dengan *******. Mereka sama-sama menikmati sentuhan demi sentuhan hingga lima menit kemudian mereka melepaskan pergulatan lidah tersebut.

"Kamu makan dulu, setelah makan cepatlah kembali kesini. Kau harus tanggung jawab. Kau sudah membangunkan adik kecilku," ucap Davin pelan namun berhasil membuat tubuh Shanum meremang.

Dengan segera Davin bangkit dari tubuh Shanum laku duduk di tepi ranjang. Tak mau melewatkan kesempatan Shanum segera bangkit dari tidurnya dan berlari keluar kamar. Davin yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Lalu beranjak dari ranjang untuk membersihkan diri.

15 menit Davin menyelesaikan ritual mandinya. Ia melihat ke seluruh sudut ruangan namun tak menemukan Shanum.

"Kemana perginya wanita itu?" gumam Davin lalu beranjak meninggalkan kamar.

"Bi, lihat Shanum nggak?" tanya Davin oada bi Mina yang tengah berada di dapur

"Tadi saya lihat non Shanum berjalan ke arah taman tuan."

Tak menjawab ucapan bi Mina, Davin langsung berjalan ke taman. Ia celingukan mencari Shanum hingga akhirnya matanya menangkap sosok yang ia cari sedang duduk santai tanpa dosa.

"Astaga, dia duduk santai disini, sedangkan aku berusaha keras menahan si kecil agar ia tak memberontak lebih keras lagi," batin Davin.

Davin melangkah mendekati Shanum dan hap tangan Davin menutup kedua mata Shanum.

"Mas, jangan main-main. Aku pukul nih," ucap Shanum.

"Kok kamu tahu kalau itu aku?" ucap Davin melepaskan tangannya dari mata Shanum lalu duduk di sampingnya.

"Ya tahulah kelihatan dari baunya."

"Oh jadi sekarang kamu hapal sama bau aku?" jawab davin menggoda. "Kita lanjut yang tadi yuk, udah sesak banget yang dibawah," ajak Davin dengan ekspresi memelas.

Mendadak Shanum merasa gugup. Ia berlari menuju ke dalam rumah. Melihat itu Davin hanya tersenyum dan berjalan mengikuti Shanum.

Bersambung

1
martiana. tya
harusnya jangan astaga..... apalagi shanum gadis berhijab....
Novi Smc
Luar biasa
Lina Suwanti
lucu bgt sm kisah Wildan n Aina😅
Lina Suwanti
benar kan tebakan saya.....lanjut,,makin penasaran dgn kisah Shanum n Wildan
Lina Suwanti
jgn² Wildan adik Shanum dr ayahnya?
Amalia Khaer
malas bnget dah liat shanum.
Amalia Khaer
lahh malah nerapin kesalahan org. Cetek bnget pikiranmu, Vin.
Amalia Khaer
semoga stlah ini gk ada lgi adegan2 keluarga cemara. keluarga toxic tpi keliatan adem ayem. gk cocok tauu. cpt gih kluar Num dri keluarga toxic itu.
Amalia Khaer
ohhh gitu tohhh. jdi bu Estu ini adlah wanita kaya yg di pilih oleh ayahnya Syanum. okk sih. lnjutttt..
Amalia Khaer
istri? yakin?
Safiatul Jannah
sinar lucu ku ya bilan cinta aja malu2 kucing
Safiatul Jannah: Aina Aina lucu banget ya blng cinta aja malu2 kucing
total 1 replies
Pradyta
Bagus
NiedaSofian
Kok tamat? Lena sama radit gimana? Ah tergantung ceritanya..ngak puas selagi penjahat tidak dpt pembalasannya...
no name: baca sebuah rasa.
total 1 replies
endang
ini ceritanya gimana wildan mau balas lena ma radit
Eva Pramita
Estu= es batu gitu
i.s.h.e.n
baca part ini jd ikutan ngomel. .hahaha
i.s.h.e.n
akhirnyaa..si davin nerima juga keputusan shanum...ko lega yaa rasanya mereka pisah..hihihu
i.s.h.e.n
jangan sampe shanun jatuh cinta sama davib..setelah di pukulin
Anisnikmah
nanti bucin ya Thor
Anisnikmah
oh pencetak anak.. ternyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!