NovelToon NovelToon
The Privacy Life Of My Secretary

The Privacy Life Of My Secretary

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:188.1k
Nilai: 4.6
Nama Author: Nona Cantik

[Cerita lain dari Me vs Boss]

[Judul Diperbaharui!]

Bagaimana rasanya memiliki boss yang cerewet dan kepo?
Pasti rasanya mengesalkan, bukan?

Dan itulah hal yang dialami Giselle-sahabat Chelsea- yang menjabat sebagai sekretaris baru di sebuah perusahaan gadget dengan cabang terbesar di Indonesia.

Ia harus rela menghadapi pertanyaan aneh tak masuk akal, ketika sang boss menanyai tentang kehidupan privasinya.

Usia kamu berapa?
Gimana kabar mama?
Sehat-sehat aja, kan?
Kamu ada niatan untuk menikah?
Ada seseorang yang kamu suka?
Tipe cowok idaman kamu, seperti apa?
Apa yang kamu sukai dari cowok?

Dan mau tidak mau, Giselle harus menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari bosnya itu. Kadang dia berpikir,

"Apa yang diinginkan si boss?" gumam Giselle, sembari menatap langit-langit di kamarnya.

Start: 29 Maret 2020

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22. Tercengang!

Tut... Tut... Tut...

Nomor yang Anda tuju tidak menjawab, silakan coba lagi nanti...

"Diangkat gak?" Seorang wanita dengan setelan pakaian hangat dengan sebuah kacamata oval yang bertengger di hidung mancungnya, bertanya pada pria yang berdiri di samping tubuhnya.

Pria itu dengan raut wajah serius, menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan si wanita yang tak lain adalah istrinya.

"Tumben. Ini kan udah hampir siang." gumam wanita itu terheran-heran. Tangannya lalu mulai meraih benda pipih persegi panjang dia taruh di dalam tasnya.

"Tuh, ini baru aja jam setengah delapan. Masa iya, masih pada tidur?" gumam wanita itu sembari menatap layar ponselnya yang menyala.

"Ya udahlah, kita langsung pulang aja. Ngapain telepon-telepon segala. Nanti juga pas sampe di sana, ketumu." ujar pria itu tampak biasa-biasa saja.

Wanita yang menjadi istrinya itu tampak mengerucutkan bibirnya, kesal. Lalu mendengus setelahnya, dilanjut berjalan gontai mendekati sebuah mobil hitam yang baru saja tiba dihadapan mereka.

Pria itu memilih membuang napasnya terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya dia mulai mengejar istrinya yang sepertinya tengah merajuk.

"Kamu kenapa, sih? Kita itu baru aja sampe dari Inggris, lho! Jangan marah-marah dong. Ntar di rumah kan, kita bisa langsung liat si kembar. Bisa meluk juga, kan?" kata pria itu ketika memasuki mobil dibagian penumpang, disamping tubuh istrinya.

Wanita itu nampak mendelik tajam pada suaminya. "Kamu mah nggak ngerti! Udah hampir tiga hari aku nahan rindu sama anak-anak aku! Kamu mah gampang ngomong begitu!" katanya dengan penuh kekesalan.

"Kata siapa mereka anak-anak kamu doang? Anak-anak aku juga kali," ucap pria itu, seakan tidak mau kalah.

Hening setelahnya. Keduanya memilih diam ketika mobil yang mereka tumpangi telah bergerak meninggalkan area bandara.

Setelah cukup lama menempuh jarak hampir lima belas menit, mobil yang mereka tumpangi itu akhirnya tiba juga didepan sebuah gerbang bernuansa putih.

Dari dalam gerbang, seseorang dengan setelan satpam berlari kecil ke arah gerbang tersebut, lalu membukakannya dengan sigap.

Ketika gerbang terbuka dan mobil yang mereka tumpangi memasuki pekarangan rumah mewah itu, seorang wanita dengan tergesa keluar dari sana yang diikuti oleh pria yang menjadi suaminya dibelakang.

"Sayang! Pelan-pelan dong jalannya! Gak capek apa, hei!" teriak pria itu lagi, yang tak lain adalah Kenan. Dan wanita yang berlarian keluar dari mobil itu sudah pasti, Chelsea.

Tanpa memedulikan teriakan demi teriakan Kenan dibelakangnya, Chelsea terus saja melangkahkan cepat kakinya menuju kamar tamu yang digunakan Giselle dan kedua bayinya.

Ketika Chelsea tiba didepan daun pintu itu, ia nampak sedikit ragu ketika hendak menarik knop pintu tersebut. Entahlah, sepertinya ada yang mengganjal dalam hatinya.

"Sayang!" Kenan memanggil sembari menepuk halus salah satu pundak Chelsea, membuat wanita itu terlonjak, hingga tatapannya beralih pada Kenan.

Dilihatnya, Kenan tampak tengah berusaha mengatur napasnya. Mungkin, karena pria itu sempat berlari mengejar Chelsea yang terlihat terburu-buru—ingin segera menemui kedua buah hatinya.

"Kamu marah, hm?" sahut Kenan, tiba-tiba. Tatapan matanya berubah sendu ketika menatap sepasang mata cantik dihadapannya.

"Aku gak marah. Aku cuman pengen tau aja keadaan Kanza sama Kenzo, kok." kata Chelsea, yang sukses membuat Kenan mengembuskan napas lega.

"Kirain marah." gumam Kenan. "Ya udah, pintunya langsung dibuka, gak pa-pa 'kan?" lanjut Kenan, sembari menatap Chelsea dengan tatapan yang lembut.

"Mm... Coba aja." kata Chelsea, lalu menekan knop pintu tersebut hingga daun pintu itu terbuka sepenuhnya.

"HAH!!" Chelsea menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Kedua matanya yang semula biasa saja, kini memelotot— kaget dengan apa yang tengah dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Kenan yang semula hanya menatap wajah istrinya, kini tatapannya ikut tertuju pada apa yang tengah Chelsea lihat.

Dan... BOOM!!!

Kedua mata Kenan ikut membulat hampir sempurna, akibat sebuah pemandangan sepasang Bos dan Sekretaris yang tengah tertidur lelap di atas ranjang yang sama, dengan posisi saling berpelukan.

Glek

Kenan berusaha berpikir jernih tentang apa yang mereka berdua lakukan di atas ranjang yang sama dengan posisi yang mampu membuat siapa pun akan salah paham dibuatnya.

Namun, nihil. Bukannya berpikir jernih, pikiran Kenan malah meluncur bebas ke mana-mana.

Lain halnya dengan Chelsea. Wanita itu kini sudah memasang raut wajah sendu yang sepertinya emosinya itu sudah akan segera meluap.

Kenan yang menyadari gelagat aneh dari istrinya pun sontak langsung membekap mulut Chelsea dengan sebelah tangannya.

Kenan tahu, istrinya ini akan berteriak sebentar lagi. Sebelum pada akhirnya istrinya ini berteriak, dan membuat Aiden dan Giselle terbangun hingga berakhir disituasi canggung, Kenan langsung saja membekap mulut Chelsea secara tiba-tiba.

Dan benar saja. Chelsea bergumam tidak jelas ketika mulutnya telah dibekap oleh Kenan. Tatapan matanya yang semula tertuju pada Aiden dan Giselle, kini beralih menatap Kenan yang sepertinya tengah memberi kode-kode aneh padanya.

"Hmmm mmm mmmm." Chelsea bergumam sembari terus bergerak gelisah di pelukan Kenan.

Ya. Selain membekap mulut istrinya, Kenan juga memeluk tubuh Chelsea supaya wanita itu bisa diam secara lisan maupun secara fisik.

"Suttt... Jangan berisik." ujar Kenan berbisik, tepat didepan telinga Chelsea.

"Hm?" Chelsea yang mulutnya masih setia dibekap, dia hanya bertanya dengan gumaman seperti itu. Kedua alisnya mengerut bingung.

"Mending kita biarin aja mereka kayak gini, oke?" bisik Kenan lagi. Sembari melepas bekapannya pada mulut Chelsea.

"Kok, gitu? Nanti kalo Giselle-mmmptff," Kenan kembali membekap mulut Chelsea, ketika wanita itu hampir saja berteriak.

Chelsea merengut sebal. Dia tidak bisa berbicara apa-apa karena mulutnya dikunci oleh Kenan. Menyebalkan.

"Dia gak bakal kenapa-kenapa. Kamu lihat, mereka masih pake baju. Udah, kita tinggalin aja mereka. Oke?" Kenan kembali melepas bekapan dimulut Chelsea. Membuat wanita itu berdecak sebal.

"Tapi aku pengen lihat- mmmptfff,"

"Sutttt... Nanti aja, oke?" lagi-lagi Kenan membekap mulut Chelsea, sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya.

Dengan kesal, Chelsea menepis kasar tangan Kenan yang masih setia membekap mulutnya, lalu berlari menjauhi Kenan.

Tempat yang akan Chelsea jadikan pelarian saat ini adalah kamar dirinya dan juga Kenan.

Disisi lain,

"Waduh! Ngambek beneran, nih?" dumel Kenan, sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

Kenan hendak menyusul Chelsea, namun langkahnya terhenti ketika ingat bahwa pintu kamar yang tengah Aiden dan Giselle tempati masih terbuka.

"Gaswat kalo orang lain liat. Bisa digrebek mereka." gumam Kenan, sembari menutup pintu kamar itu, lalu berlari mengejar Chelsea.

****

Eunghh...

Giselle menggeliat dalam posisi tidurnya. Kedua matanya yang semula menutup, kini perlahan mengerjap sedikit demi sedikit.

Ketika kedua matanya telah terbuka dan kesadarannya mulai terkumpul setengahnya, Giselle merasa dirinya ada yang berbeda ketika terbangun dari tidur.

"Kenapa hangat?" racau Giselle, belum sepenuhnya sadar.

Dan ketika tatapan matanya tidak sengaja mengarah ke samping kanannya, kedua bola matanya membulat sempurna. Dia hampir saja memekik, jika dirinya tidak langsung membekap mulutnya dengan sebelah tangannya.

Aiden. Pria itu tengah tertidur dengan pulas disampingnya dengan posisi tubuh menyamping menghadap Giselle. Sebelah tangan Aiden juga tengah memeluk pinggangnya.

Gilaa!!!

Jadi begini rasanya tidur satu ranjang bersama seseorang yang kita cintai? Jantung dag dig dug ser gimana gituh!?

Astaga!

Giselle segera mengenyahkan pemikiran itu sebelum pada akhirnya dia mulai terlena tentang apa yang sedang terjadi saat ini.

Dengan kesadaran yang kian penuh, Giselle berteriak sebisa mungkin untuk menyadarkan dirinya dan juga Aiden yang masih setia tertidur.

"Aaaaaa...." teriakan Giselle, bahkan terdengar sampai ke luar kamar.

Dan teriakan itu juga disadari oleh Kenan dan Chelsea yang pada saat ini tengah berada di ruang kamar mereka setelah sekian lamanya marahan. Namun keduanya memilih merebahkan diri mereka di atas ranjang, ketimbang berlari untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.

"Giselle kayaknya baru sadar, ya?" gerutu Chelsea. Kedua matanya terpejam dengan sebelah tangannya yang memeluk tubuh Kenan.

"Heem. Biarin aja. Cocok kok, mereka." balas Kenan, sekenanya. Kedua matanya juga sama terpejam.

Aiden yang sedang enak-enaknya tertidur, dia diharuskan membuka kedua matanya karena mendengar teriakan melengking yang dari suaranya sangat dia kenali.

Ketika kedua matanya mulai mengerjap beberapa kali, dirinya langsung melompat dari tempat tidur, ketika disampingnya sudah ada Giselle dengan wajahnya yang memerah seperti tomat.

Aiden sontak salah tingkah. Otaknya terus berpikir, mengapa dirinya bisa sampai satu tempat tidur dengan Giselle?

Dan lagi, kenapa harus ada adegan peluk-pelukan sih?

"Ekhem. Itu... Saya nggak ngapa-ngapain kamu, kan?" ucap Aiden. Rasa gugup mulai menguasai dirinya. Namun sebisa mungkin, Aiden menutupi rasa gugup itu.

Mendengar ucapan tiba-tiba dari Aiden, Giselle langsung memeriksa pakaiannya, lalu dilanjut menyingkap selimut.

Aman, batin Giselle.

Wanita itu mulai bisa sedikit menghela napas lega. Namun, dirinya merasa begitu canggung untuk hanya sekedar bertatap muka dengan Aiden.

Aghhh.. Sial. Pasti ini semua gara-gara kemarin dirinya dan juga Aiden yang terlalu lelah dan mengantuk, sampai tidak sadar bahwa keduanya tidur dalam satu ranjang yang sama.

Dan lagi, keadaan ruang kamar kemarin begitu gelap karena lampunya yang memang sengaja dimatikan. Jadi, ini salah siapa dong, kalau sudah begini!?

"Ehm. A-anu. Karena... Tidak ada yang terjadi diantara kita, lebih baik, kejadian ini tidak usah dibahas lagi. Bagaimana?" sebisa mungkin Giselle berucap, walau jantungnya tengah berpacu dengan tidak wajar.

Aiden yang semulanya berdiri gelisah sembari memikirkan, apa yang harus dia lakukan, kini dia mulai kembali melirik pada Giselle yang juga tengah menatap ke arahnya. Raut wajah Giselle masih sama seperti ketika Aiden membuka matanya tadi, merah.

Aiden berdeham, mencoba untuk menghilangkan rasa canggung sekaligus gugup yang bersarang pada dirinya.

Sebelum dirinya akan mengatakan sesuatu pada Giselle, Aiden menyempatkan diri untuk menelan ludahnya susah payah.

"Ekhem. Karena kamu mau seperti itu, oke!" kata Aiden. Nada suaranya terdengar masih begitu tegang.

Gilaa!

Ini adalah kali pertamanya dirinya tidur satu ranjang dengan wanita selain ibunya, itu pun ketika dirinya masih kecil.

Aaa...

Aiden ingin berteriak rasanya, jika tidak ingat bahwa saat ini dirinya tengah berada satu ruangan dengan Giselle, wanita yang dia cintai.

Bisa hilang imej yang selama ini Aiden jaga dihadapan Giselle.

"Ka-kalau begitu, saya mau ke kamar mandi." ujar Giselle yang terdengar seperti tengah mengusir Aiden dengan cara halus.

Aiden yang mengerti dengan situasi saat ini pun hanya mengangguk kaku, lalu berjalan keluar dari kamar. Meninggalkan Giselle yang sedari tadi terus saja terduduk di atas tempat tidur.

"Huhh... Kenapa bisa satu ranjang si?" dumel Giselle, sebelum pada akhirnya wanita itu berjalan memasuki kamar mandi.

****

"Gimana tidurnya? Nyenyak?" suara sahutan berat yang terdengar dari belakang tubuh Aiden, sontak membuat pria itu mematung beberapa detik.

Kedua bola matanya juga ikut mengerjap beberapa saat sembari mencoba menelan ludahnya dengan susah payah. Entah kenapa, saat ini tenggorokan Aiden rasanya begitu kering. Apakah karena dirinya belum menyentuh air minum sama sekali!?

"Woi!" sentakan dibarengi dengan tepukan cukup keras dibahu kirinya, membuat Aiden sontak tersadar dari lamunannya.

Tatapannya lalu beralih menatap Kenan, yang berdiri disampingnya.

"Kapan lo balik dari Inggris?" tanya Aiden. Raut wajahnya langsung berubah tegang ketika melihat Kenan yang tengah menyeringai padanya.

Aiden semakin ngeri melihat raut wajah dari sahabatnya ini. Jangan-jangan...

"Tadi malem lo ngapain aja sama Giselle?"

Sekakmat.

Sepertinya, Kenan benar-benar sudah mengetahuinya.

Sial. Sial. Siallll.

To be continue...

Up lagiii:)

bonus picture buat kalean😙

Aiden

Giselle

Chelsea

Kenan

1
Suswarina
temuin gisel sm ayahnya dan gisel tidak mau mengakuinya sebagai ayah
Roberto Rino
v
Srieaniez Ñew Srieaniez
aku mau koq dikejar pak🤪🤪🤪🤪🤪,,,,,,

btw met ultah ya thorrrr,,, mga makin sukseeeeeesssss
Yusup Priyono
3
Sena
sedih...
Sena
, seru... like...
Sena
no 2
awal yg menarik, lucu...
punya bos iseng bngt y...
jejak...
k2
aron aron ingat umur, km nikain aja tuh hiyumi ngapain maksa maksa aiden , cucu sendiri disia siain. kena struk tau rasa lo
k2
gisel ma aiden nikah dong
k2
cantik gisel
k2
cantik celsee
k2
semoga baik baik saja
k2
berhasil berhasil
k2
oo km ketauan
k2
berpelukan
k2
kenapa sih den ,tinggal bilang cinta aja susah amat
k2
bayangin hebohnya , senyum senyum sendiri
k2
semangat den
k2
boleh bgt pak
k2
foto dong den ,buat kenang kenangan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!