Warning 21+
Sekuel Virgin
Harap bijak dalam membaca..
Valerie Angelina Putri merupakan seorang gadis yang terlahir dari kalangan keluarga berada, dengan semua fasilitas yang ia miliki ia bebas melakukan apa saja sesuka hatinya. Dulu Valerie adalah gadis yang begitu lugu dan polos namun setelah mendapatkan kekecewaan yang begitu mendalam kini ia berubah menjadi sosok yang bertolak belakang dengan sebelumnya.
Sampai suatu hari ia di pertemukan kembali dengan sosok pria yang selama ini ia rindukan, namun situasi dan kondisi yang telah berubah membuat gadis itu membenci sosok yang ia rindukan itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? akankah semua nya berubah?
Sambungan dari novel Virgin (true love)
#Slow update
#banyak typo
#alur sesuai isi otak othor
salam othor kecil 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Ditempat lain, sepulang sekolah Alan pergi menuju perusahaan Adison group untuk memenuhi panggilan Ernan, semua telah mengetahui kalau Alan adalah putra dari Leo hingga bisa dengan mudah untuk ia mendapatkan akses keluar masuk perusahaan itu. Tok tok tok. . . di ketuk nya pintu sebuah ruangan CEO oleh pria muda yang kini masih mengenakan seragam sekolah nya.
"Masuk." Ucap Ernan dari dalam ruangan yang kini tengah sibuk dengan sebuah berkas di depannya.
Alan pun bergegas masuk dan berdiri di hadapan Ernan.
"Ada apa om?" Tanya Alan yang masih berdiri.
"Duduklah dulu." Sahut Ernan yang mempersilahkan Alan untuk duduk.
Setelah Alan duduk, Ernan menutup berkasnya dan menatap Alan dengan penuh harap, ia kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri pria muda itu.
"Om lihat kini kamu telah tumbuh dewasa dengan sempurna, dan om yakin kamu punya rasa tanggungjawab yang begitu besar." Ucap Ernan.
Alan hanya terdiam dan tersenyum mendengar ucapan Ernan tanpa ia tau maksud tertentu dari pria yang awet muda itu.
"Kamu tau Valeri gadis yang seperti apa dan om ingin kamu menjaganya, om mempercayakan semuanya sama kamu apa kamu siap?" Tanya Ernan.
"Maksudnya, om mempercayai aku untuk menjadi pengawalnya?" Tanya Alan.
"Bukan sebagai pengawal." Sahut Ernan.
"Jika bukan sebagai pengawal lalu...." Ucapan Alan terhenti.
Ernan mengangguk dan tersenyum, "sebagai calon suaminya, om ingin kamu yang menjadi pendamping hidupnya kelak." Sahut Ernan.
Deg... Seketika apa yang di katakan Ernan membuat Alan tercengang kaget, bisa-bisanya pria biasa seperti dia di jodohkan dengan seorang wanita yang layaknya putri kerajaan. Ernan kembali ke meja nya dan mengambil sebuah berkas yang berisi sebuah saham sebesar 10% atas nama Alan, ia menyodorkan berkas itu ke hadapan Alan hingga membuat pria itu semakin bingung.
"Apa ini?" Tanya Alan.
"Saham perusahaan, jika kamu menerima permintaan om maka 10% saham itu akan jadi milik kamu dan akan membiayai semua kuliah kamu sampai selesai." Jelas Ernan.
"Maaf om, bukan aku menolak tapi aku gak bisa melakukan semua itu, Vale punya pilihannya sendiri aku takut jika om memaksa dia akan semakin berontak." Ucap Alan yang mencoba menolak secara halus.
"Pilihannya sendiri, apa maksud kamu Elang? Tanya Ernan yang mencoba menebak.
Alan mengangguk pelan menyauti ucapan Ernan. "Meski dia membencinya tapi aku tau dalam hatinya tersimpan cinta yang begitu besar." Ucap Alan.
Ernan hanya tersenyum tipis dan kembali beranjak dari duduknya ia berjalan perlahan mengelilingi ruangannya sampai langkah nya terhenti di dekat sebuah jendela dan menatap pemandangan kota.
"Itulah yang om dan tante Vanya cemaskan, kamu sendiri tau kalau mereka berdua saudara dari tatapan mereka om tau perasaan masing-masing dan itulah alasan om ingin menjadikan kamu sebagai pendampingnya untuk mencegah hal itu terjadi, kamu pikirkan baik-baik." Ucap Ernan.
Lagi-lagi Alan tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah terdiam sambil memikirkan semuanya. Selesai bicara ia pun segera keluar dari ruangan itu dan meninggalkan perusahaan dengan beban yang begitu berat. Alan merogoh sakunya dan mengambil sebuah ponsel, ia langsung menekan nomor Friska dan mencoba untuk menghubungi nya.
Drrtt... drrttt... Sebuah ponsel milik seorang gadis berdering, Friska merogoh tasnya dan mengambil ponsel untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Val duluan aja, Alan telfon." Ucap Friska.
Valeri hanya mengangguk ia berjalan sendiri menuju parkiran nya sampai langkahnya terhenti ketika melihat sekerumunan mahasiswa lainnya, ia pun menghampiri kerumunan itu dan terlihat sosok pria yang begitu di kenalnya sedang berdiri di depan sebuah mobil mewah miliknya.
"El?" Ucap Valeri.
"Hello baby.. kau sudah selesai?" Tanya Elang.
"Hm, kalian bubar lah! dia bukan pertunjukan sirkus yang patut kalian tonton!" Ucap Vale dengan tatapan kebencian.
"Ayo masuk, aku akan mengantar mu pulang." Ucap Elang yang telah membukakan pintu mobilnya.
"Tunggu sebentar, apa kau telah mengabulkan permintaan ku?" Tanya Vale.
"Permintaan yang mana?" Tanya balik Elang.
"Sudahlah, aku gak mau ikut dengan mu." Sahut Vale yang hendak pergi.
Dengan cepat Elang menarik Vale dan membawanya paksa masuk kedalam mobil. Dengan segala upaya Elang menggoda gadis itu namun tak satupun godaannya yang berhasil mencarikan hati Valeri saat ini. Ia hanya menatap ke arah samping tanpa melirik elang yang duduk di sampingnya sedikit pun.
Hilang kesabaran, akhirnya El menepikan mobilnya dengan menginjak rem yang cukup kuat sampai membuat Valeri kaget sendiri.
"Katakan sesuatu!" Ucap Elang dengan tatapan tajam nya.
"Gak ada yang perlu aku katakan." Sahut Vale yang kemudian membuka pintu mobilnya dan bergegas melangkah pergi.
Tak hanya tinggal diam, Elang mencoba untuk mengejar Valeri dan menahannya untuk pergi. "Kita bicarakan semuanya baik-baik ayo kembali." Ucap Elang yang menggenggam tangan Vale. Disaat yang bersamaan ponsel Elang berdering dan Jane lah yang menghubunginya, perlahan ia melepaskan genggaman tangan nya dan menerima panggilan tersebut. Hal itu tentu saja membuat Vale semakin kesal, ia pun pergi meninggalkan Elang dan menghentikan sebuah taksi.
"Ck sial, kenapa aku harus pergi? bukan kah itu hal yang bagus untuk aku menyingkirkan dia dengan perlahan?" Gumam Valerie dalam sebuah taksi.
Valeri pun menyuruh sang sopir untuk kembali memutar balikkan mobilnya ke tempat asal, namun sayang nya mobil Elang telah pergi entah kemana.
"Shitt! bagaimana pun caranya aku gak akan membiarkan kamu pergi lagi." Gumam Valeri.
Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Elang untuk menghubungi nya.
"Kamu dimana Val? kenapa pergi gitu aja?" Tanya Elang dalam sambungan telponnya.
"Aku di halte tak jauh dari tempat tadi, cepat kembali." Sahut Valeri.
"Tapi aku..." Ucapan Elang terputus ketika ia mendengar suara Valeri yang merintih.
"Akhhh... sakit" Rintih Vale yang hanya ingin menarik perhatian El.
"Aku segera kesana, jangan kemana-mana." Ucap Elang.
Gadis itu pun memutuskan sambungan telponnya dan tersenyum senang. "Kau cerdas Vale, kini saatnya kamu untuk maju mempertahankan apa yang kamu inginkan, lupakan marah mu mari kita bahagia bersama haha.." Gumam Vale yang bicara sendiri.
Tak lama kemudian Elang pun datang dan menepikan mobilnya ia bergegas keluar dan menghampiri Valeri yang sedang meringis kesakitan memegang perutnya. Dengan cepat Elang menggendong Valeri dan membawanya masuk kedalam mobil. Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. "Tunggu.. dia mau membawaku kemana? rumah sakit? gak, itu gak boleh terjadi aku harus segera mencegahnya." Batin Valeri sambil memutar otaknya untuk berfikir.
"Aku mau membawaku kemana?" Tanya Valerie.
"Rumah sakit, tahan sebentar lagi." Sahut Elang.
"Aku gak mau, bawa aku pulang ke apartemen." Ucap Vale.
"Tapi bukannya kamu sakit?" Tanya Elang.
"Istirahat di rumah sudah cukup, pokoknya aku gak mau ke rumah sakit!" Sahut Vale.
Elang hanya mengangguk dan memutar balikkan mobilnya menuju apartemen Valeri.
***
Bersambung. . .
sukses
semangat
mksh