NovelToon NovelToon
Lebih Berwarna

Lebih Berwarna

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Ketos / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:158.6k
Nilai: 5
Nama Author: atps0426

Rana Anandita, seorang gadis remaja yang baru saja duduk dibangku kelas 2 SMA. Disinilah Rana mulai mengenal yang namanya jatuh cinta. Bertemu seseorang yang membuatnya malu tanpa sebab. Rana tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan pemuda yang bernama Zevan, akan mengubah beberapa hal dalam hidupnya.

Bukan hanya tentang perubahan, namun sebuah kebenaran dibalik orang-orang terdekat Rana. Rana mulai menyadari, tidak semua orang yang bersikap baik padanya selalu memiliki niat baik juga.

Dengan adanya Zevan, Rana mulai menghabiskan banyak waktu dengannya, meninggalkan sahabat kecilnya Dean. Rana yang selalu bersama Dean kemanapun kini posisi Dean tergantikan oleh Zevan.

Zevan menunjukkan banyak cinta kepada Rana. Menjadikan pasangan ini layaknya bucin dimata teman-teman mereka. Namun Rana sangat beruntung, mendapatkan pemuda sebaik Zevan, pemuda yang mungkin tidak akan pernah kalian temui didunia kalian.


Selamat Membaca !!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atps0426, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LB - 23

Zevan dan teman-temannya sedang berbincang diparkiran selepas pulang sekolah. Mereka membicarakan mengenai pertandingan basket yang akan diadakan dilapangan didekat taman kota. Acara itu akan dilaksanakan pada hari Minggu pekan ini. Mereka berencana untuk berolahraga sekalian menonton pertandingan tersebut.

"Deaaan, yuk pulang." teriak Rana berlari menghampiri Dean. Bukannya bergegas mengambil motornya, Dean malah memandangi Rana dengan tatapan yang aneh. Gadis itu bertanya mengapa Dean menatapnya seperti itu. Langsung saja Dean menggerakkan tubuh Rana untuk menghadap kearah Zevan.

"Apa sih? Jangan kode-kode gini dong, ntar giliran di kasih kode gak peka. Hm..." oceh Rana lalu berbalik memukul kepala Dean. Ia menatap geram kearah Dean, sedangkan Dean menepuk jidat dan menggelengkan kepalanya.

Zevan mengeluarkan motornya dan bersiap untuk pergi. Ia memanggil Rana, menyuruh gadis itu untuk menghampirinya. "Yuk pulang, mulai sekarang aku yang anterin kamu pulang sayang." ucap Zevan seraya mengikatkan jaket pada pinggang Rana dan memakaikan helm padanya. Rana yang merona menoleh kearah Dean dan yang lainnya, ia mengacungkan jempol dengan senyum lebarnya. Sontak hal itu mengundang tawa dan godaan dari Dean dan teman-temannya.

"Iya-iya sayang" teriak Tito sambil mengedipkan matanya. Beberapa murid yang melihatnya bergidik ngeri, dan berlagak seolah mau muntah. Hal itu malah membuat candaan semakin besar. Zevan dan Rana berpamitan pada semua lalu pergi meninggalkan sekolah.

Zevan melajukan motornya dengan pelan, menikmati setiap detik perjalanan mereka. Belum saja mereka jauh dari sekolah, Zevan sudah menghentikan laju motornya. Ia menoleh kearah Rana yang menatapnya dengan bingung. "Masih aja pegang tas, bisa gak kalau pegangannya dipinggang kayak kamu boncengan sama Dean?" kata Zevan dengan wajah memelasnya. Rana tertawa kecil, ia mengangguk lalu merangkul pinggang Zevan. Seketika hal itu membuat Zevan terkejut karena detak jantungnya berdebar dengan kencang. Rana menaruh dagunya dipundah Zevan, sambil menunggu kekasihnya itu melajukan motor.

"Zevan, kok diem aja, kenapa?" Tanya Rana pelan. Zevan tersadar dari keterkejutannya, ia tertawa kecil, lalu memegang tangan Rana dan menaruhnya didadanya. Kini gadis itupun bisa merasakan detak jantung Zevan yang berdetak kencang. Karena hal ini, detak jantung Rana pun ikut berdetak kencang. Tak ingin berlama-lama, Zevan pun segera melajukan motornya.

Sesekali Zevan memegang dan mengelus tangan Rana yang melingkar di pinggangnya. Mereka menikmati setiap waktu yang terlewat dengan senyuman. "Zevan, makan es krim yuk." pinta Rana dengan manja. Zevan melirik gadisnya itu lewat spion, "Dimana?"

Rana terlihat senang dengan jawaban itu, ia pun menuntun Zevan untuk pergi ke tempat yang ingin ia tuju. Tak butuh waktu lama, mereka sampai ditempat penjual es krim tersebut. Tempat yang mereka tuju terletak didekat sekolah SMP Rana, dan sekarang adik Rana juga bersekolah disana. Rana turun dari motor dan berjalan untuk membeli es krim rasa coklat dan vanilla. Sembari ia bertegur sapa dengan Bapak penjual yang masih mengingat dirinya dan Dean, sebab mereka selalu membeli es krim disana setiap pulang sekolah.

Zevan menunggu Rana seraya memainkan game diponselnya. Sesekali ia melikir kekasihnya yang masih asik berbincang.

"Weh, anak selingkuhan nih" ujar seorang siswi dengan keras. Seketika semua murid yang mendengarnya menoleh. Siswi itu dan teman-temannya sedang berhadapan dengan seorang siswa yang tertunduk lesuh. Begitu banyak hal yang siswi itu katakan, tentu saja perkataannya terdengar sangat menyakitkan bagi orang dewasa sekalipun. "Ckckck, gak malu gitu sekarang, disaat loe bahagia dengan semua hal mewah, ada anak lain yang terluka. Loe.." celoteh siswi itu dengan makian dan kebencian.

Beberapa siswa menghampiri tempat kejadian itu, mereka merangkul anak laki-laki yang tertunduk lesuh. "Terus salah dia apa? Salahin aja orang tuanya, dia juga gak mengharapkan ini kan. Dan loe, kalau gak tau apa-apa diem aja, bacot." bela salah seorang siswa itu. Siswi itu semakin geram dan terus saja mengoceh walau siswa yang ia hina sudah berjalan menjauh darinya. Zevan melihat semuanya, sangat heran melihat tingkah para remaja SMP yang begitu kasar perkataannya.

Rana meniup telinga Zevan, membuat pemuda itu terkejut dan hampir saja terjatuh. Rana tertawa melihat keterkejutan diwajah Zevan, membuat pemuda itu mencubit gemas pipi Rana.

"Kak Rana" panggil seseorang menghentikan candaan mereka. Wajah Rana semakin tersenyum lebar melihat teman-teman kompleksnya disana. Gadis itu melambaikan tangannya dan memanggil para remaja itu. Merekapun berlari menghampiri Rana dengan semangat. "Gue mau dong Kak" celetuk salah satu dari mereka sambil melirik es krim yang berada ditangan Rana. Rana mengangguk dan meminta mereka untuk memesan es krim atas namanya. Tentu saja mereka sangat senang, bergegas berlari menuju penjual es krim tanpa berterimakasih terlbih dahulu.

Melihat antusias teman-temannya, Rana tersenyum lebar, ia juga merasa sangat senang. "Rian gak mau es krim juga?" Tanya Rana seraya mengelus rambut Rian. Rian menggeleng, ia bahkan tidak menatap Rana. Rana heran melihat adiknya yang terlihat begitu sedih, ia pun bertanya apakah terjadi sesuatu dengannya. Rian menggeleng dengan kepala yang masih tertunduk. Rana mengangkat dagu anak itu, menatap Rian dengan sayang, "Nih kenalin, pacar Kakak."

Kakak? Zevan terkejut mendengar apa yang dikatakan Rana. Ia pun berdiri dan menghampiri kakak beradik itu, mengelus rambut Rian dengan perasaan iba. Rana belum sempat berbicara lagi pada Rian, para anak-anak itu sudah memanggilnya dengan ribut. "Sama kak Zevan dulu ya, kakak mau kesana dulu." ujar Rana menunjuk kearah penjual es krim.

Zevan mengajak Rian menuju tempat dimana sepeda motornya diparkir. Ia berusaha membuka pembicaraan dengan Rian, namun Rian hanya diam saja. "Gue lihat semuanya" ucap Zevan yang masih fokus pada gamenya. Kini Rian mulai sedikit tertarik, ia bertanya apa yang Zevan lihat. Apakah ia melihat kejadian yang baru saja terjadi? Apakah Rana juga melihat kejadian itu?

Belum saja Zevan menjawab, Rana sudah kembali menegur mereka, "Kalian udah akrab nih". Kedua pemuda itu menoleh ke arah Rana dengan senyuman kecil. "Yuk Yan pulang" ajak salah seorang anak pada Rian. Rian mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya, sambil menatap Zevan yang tersenyum padanya. Rana melambaikan tangan pada anak-anak yang mulai berjalan menjauh darinya, walau tak satupun yang melihat kearahnya. Zevan menggenggam tangan Rana yang sedang melambai, mencium punggung tangan itu dan berkata, "Kamu masih waras kan?". Mata Rana terbelalak, ia meninju perut Zevan dengan kesal.

Zevan tertawa kecil, lalu menaiki motornya dan mengajak Rana untuk pulang. Sesekali Zevan menatap gadisnya lewat spion, ia ingin mengatakan sesuatu pada Rana, namun hatinya masih terasa berat. Ia ingat jelas pandangan Rian ketika menatapnya tadi. "Apa?" Tanya Rana yang menyadari jika Zevan mencuri pandang padanya lewat spion. Rana berkata ia melihat Zevan yang menatapnya lewat spion beberapa kali. "Gak apa-apa, cuma mau bilang kalau aku sayang kamu" jawab Zevan.

1
Dwi Sulistyaningsih
ihh aneh banget pasti rasanya🤣
Dwi Sulistyaningsih
🤣
Dwi Sulistyaningsih
puitis si sekali iqbal
Dwi Sulistyaningsih
Waduh bukan prank 'kan, pak guru. kok gitu sih😞
Dwi Sulistyaningsih
wah, ati2 bar
Dwi Sulistyaningsih
banyak bener yang suka ma lo Ran, sabi lah bagi satu buat gue🤣
saygoodbye: Wkwkwkw boleh lah ya hahaha...
Mampir juga nih di ceritaku yang judulnya "Metamorphosis Cinta". Nama pemeran utamanya hampir sama tapi alurnya berbeda. Rana mengejar cinta Dean/Smile//Smile//Smile//Chuckle/
total 1 replies
Dwi Sulistyaningsih
Kok gue nyesek ya
Dwi Sulistyaningsih
wah, apa nih🤔
Dwi Sulistyaningsih
Sa ae lu van🤣
Dwi Sulistyaningsih
ekhem🙃
Dwi Sulistyaningsih
Awas entar nyaman trus jadi belok, Bara. 🤣
Dwi Sulistyaningsih
Aduh Zevan cembokur🤣
Dwi Sulistyaningsih
Gue Aamiin kan Ran🤣
Dwi Sulistyaningsih
Dim sim itu apa?
Dwi Sulistyaningsih
Eh buset, Rana yang ditanya gue yang ngeblush
Dwi Sulistyaningsih
kok, bisa.
Dwi Sulistyaningsih
Jangan-jangan cowo yang ditangga
Dwi Sulistyaningsih
hm 🙃
Dwi Sulistyaningsih
baru baca bab 1 asik banget ceritanya
anikksuriani🌼
terlalu uwuu belum siap klok smpek sini pliss smpek kuliah trus nikah🙏🙏🙏😭😭💜💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!