SQUEL TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Kisah tentang ketulusan ....
Dan sungguh setelah kesulitan terdapat kemudahan.
Sebuah peristiwa nahas mempertemukan dua sosok terpaut usia 20 tahun.
Keduanya patah hati dan merana sebab kehilangan orang tercinta. Hingga kekosongan itu saling melengkapi ...
Kebersamaan perlahan menumbuhkan benih-benih cinta itu ...
Rasa yang sekian lama seolah mati, kini memiliki tempat berlabuh.
Mampu kah hubungan itu mudah ditempuh?
"Setiap melihatmu aku seakan sedang melihat Dia ... Dan darimu aku kembali tau ada ekspresi wajah bernama senyum dan ada sebuah rasa bersama bahagia ...." (Dimas)
"Siapa sebetulnya pemilih wajah ini? Apakah ia begitu berarti untuk Om?" (Shofie)
Selain kisah kedua tokoh di atas, kisah anak-anak Dimas juga akan ditampilkan di sini❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AYO MENIKAH!
Seruan adzan membangunkan raga Dimas yang ternyata sejak dini hari tadi tertidur di balkon. Ia membersihkan diri dan menuju mushola terdekat. Sekembalinya ia langsung menuju kamarnya kembali setelah sebelumnya melirik kamar Shofi yang tenang di sisi kamarnya.
Tubuhnya kembali di daratkan ke ranjang sebab matanya masih terlalu berat. Hingga ia terbangun dan kaget melihat cahaya masuk melalui celah gorden berwarna soft blue tersebut yang menandakan hari telah siang.
Diliriknya jam di nacash yang menunjukkan pukul 08:05 saat itu. Dengan cepat Dimas menuju lantai bawah dan kondisi di sana tampak sunyi. Dengan santai wanita paruh baya dengan keranjang belanjaan masuk dan kaget melihat tuannya berdiri tegap menatapnya.
"Pak Di-mas? Ada apa ya, Pak?" lontarnya bingung.
"Bibik lihat Shofi?"
"Teh Shofi sudah berangkat tadi dijemput mas Aldo, Pak." Setelah membuang napasnya kasar Dimas berbalik tanpa kata.
"Pak!" panggil bik Ira.
Dimas menoleh menatap ARTnya. "Iya?"
"Nasi goreng seafoodnya sudah siap, Pak!"
"Siapa yang memasak?"
"Teh Shofi."
"Bawa ke kamarku!" Raga Dimas seketika naik kembali ke kamarnya.
_____________
Di perjalanan Shofi menceritakan kejadian yang terjadi semalam pada Aldo. Bagaimana ia ragu Dimas memiliki rasa padanya, sebab Dimas tak merespon apa pun saat ia melontarkan hubungannya pada Aldo.
Dengan berat hati Shofi melontar pula bahwa ia ingin secepatnya pergi dari kediamaan Dimas. Aldo tampak tersenyum menanggapi ujaran Shofi, ia tetap yakin Dimas sebetulnya memiliki rasa pada Shofi tapi ia pun tak bisa menolak permintaan Shofi untuk membantunya ke luar dari rumah itu. Ya, Aldo ingin Dimas merasakan jauh dari Shofi, agar ia semakin yakin pada rasanya.
Siang menjelang, setelah membuat daftar beberapa bahan yang habis dan berusaha menghubungi supplayer Shofi berkali-kali menatap ke arah luar ruko memastikan mobil Dimas datang, namun nyatanya yang di harap tak jua terlihat. Dimas yang melontar akan mengantar Shofi ke makam telah di tolak Shofi, namun hati kecil Shofi tak bisa dibohongi mengharap Dimas akan berkeras mengantarnya.
Sore menjelang Dimas benar-benar tak datang hari itu. Mood Shofi memburuk, bukan ke makam ia justru meminta Aldo mengantarnya mencari kossan untuknya tinggal. Atas bantuan Aldo Shofi mendapat kossan yang sesuai keinginannya, bersih dan tertutup. Ia merencanakan kepindahannya esok dan Aldo siap membantu.
Pukul 19:10 Alya Aldo berhenti di muka Vila Dimas. Tampak Terios Dimas terparkir cantik di sana. Shofi melontar terima kasih dan segera turun ingin secepatnya membereskan pakaian yang ia miliki.
Raga Shofi melewati pintu depan dan ia dikejutkan dengan kemunculan bik Ira dari arah dapur dengan wajah panik yang langsung berjalan cepat mendekatinya.
"Ada apa, Bik?" tanya Shofi.
"Bapak, Teh!"
"Om Dimas?"
Ira mengangguk dan berucap kembali setelahnya dengan bahasa cepat, kegelisahan menyelimutinya. "Bapak sejak pagi tidak ke luar kamar, Teh!"
"Mungkin ia sedang sibuk, Bik!" lontar Shofi sambil perlahan menuju dapur, mengambil air putih dan meneguknya.
"Tapi Bapak juga tidak turun untuk makan siang, Teh! Saya khawatir Bapak kenapa-napa!"
"Dia pria dewasa, Bik. Mungkin om Dimas belum lapar!" Shofi mulai naik ke lantai atas dan Ira masih mengikuti langkahnya.
"Teh ... tolong tengok Bapak di kamarnya nanti ya! Bapak dan Teteh kan deket, biar tenang saya!" Shofi mengangguk.
Sampai di lantai atas Shofi melirik kamar Dimas baru kemudian masuk dan membersihkan diri di kamarnya. Ia segera membereskan pakaian setelahnya. Beberapa kali Aldo menelepon tapi Shofi sedang tak ingin menjawab, ia memilih mengabaikan panggilan tersebut.
Hingga menjelang pukul 21:00 ia teringat pesan Ira yang panik akan kondisi majikannya. Perlahan Shofi keluar kamar dan menuju kamar itu. Kamar itu gelap karena lampunya belum dinyalakan. Batin Shofi bertanya apa Om Dimas sebenarnya pergi tidak membawa mobil dan bik Ira tidak menyadari. Kamar itu seakan kosong. Baru saja ia hendak membuka kamar menuju keluar sebuah rintihan mengagetkannya.
"Sayang ma-af ... tolong jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Ma-af ...."
Shofi berbalik saat menyadari ada suara Dimas, ia mengigau ... lelaki itu memang tak ayal seperti dirinya yang sering bermimpi buruk. Ia mendekat, menyalakan sebuah lampu di atas nacash dan menggoyangkan raga itu. Ya .... Raga di hadapannya terus menyebut kata Sayang dalam ketidaksadaran yang tentunya teruntuk sang istri tercintanya.
"Omm ... sadar Omm! Omm ... bangun!"
"Jangan pergi, please! Jangan lagi tinggalkan aku! Jangan ...!" Di keremangan malam, bulir itu bak cahaya tertangkap netra Shofi, Shofi menghapusnya dan menggoyangkan tubuh itu dengan lebih kuat.
"Omm! Sadar Om! OM!!" Setelah pekikan kuat yang Shofi lontarkan netra itu akhirnya terbuka. Dengan cepat Dimas menarik jemari itu.
"Tolong jangan pergi! Jangan tinggalkan aku, please ...!"
"Om ... Om salah! Aku bukan-----
"Shofi! Kamu Shofi dan bukan Lyra!"
"Om sa-dar?" Desiran itu sungguh kuat kini antara percaya dan tidak yang ia dengar.
"Aku sadar! Kamu Shofi!" Dengan cepat lengan itu meraih raga Shofi seperti sebelumnya.
Hati kecil Shofi merasa ini semua tidak benar. Perilaku Dimas yang sering tiba-tiba memeluknya ini salah dan tidak boleh dilakukan! Bagaimana pun mereka tidak terikat apa pun secara hukum dan agama. Perilaku ini salah!
Setelah menetralkan rasanya, Shofi mendorong perlahan tubuh itu. "Sudah! Jangan Om! Ini salah! Lagi pula aku yakin Om tidak benar-benar sadar siapa aku!" lirih Shofi.
"Aku sadar!" Dimas masih menahan dekapan itu.
"Pasti karena wajah ini kan, Om! Om ingin selalu menatap wajah ini jadi Om menahanku!" ucapan itu terasa sulit dan menyesakkan untuk Shofi tapi ia lontarkan. Sudah cukup baginya menjadi bayang-bayang selama ini.
"Bukan karena wajah itu! Tapi karena hatiku menginginkannya!"
"Tidak Om!" Shofi masih tak yakin.
Dimas merenggangkan pelukannya dan menatap lekat netra Shofi. "Percayalah! Aku sadar dan sudah memikirkan segalanya seharian ini. Aku ingin kamu tetap ada di sisiku!"
Pancaran mata itu sama seperti hari-hari sebelumnya saat Dimas ingin melihat wajah Lyra darinya. Shofi terus menggeleng, selama ia masih menggunakan wajah ini sulit untuknya percaya akan ungkapan hati Dimas.
"Netra Om berbinar dan menampilkan cinta karena aku tertutup wajah ini, wajah tante Lyra! Wanita yang sangat Om cintai! Ini salah, Omm!"
"Sungguh aku menatapmu sebagai Shofi. Beri aku kesempatan Shof, please!"
Desiran itu tak bisa Shofi sangkal, andai semua benar alangkah bahagia ia, tapi ia masih tidak benar-benar yakin.
"Kesempatan a-pa?"
"Kesempatan untuk membahagiakanmu! Kita menikah, Shof!"
•
•
"Menikah? Sadar Om! Yang Om pinta bukan hal main-main!"
"Aku serius!"
Setelah beberapa saat bergeming Shofi melontar kata. "Beri aku waktu!" Dimas mengangguk.
"Sekarang bisa lepaskan aku, Om!"
"Ma-af ...!"
Shofi seketika beranjak saat lengan itu terlepas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
⛅Enjoy reading😘
makanya jadi orang jgn lemah gitu