Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.
Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.
"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"
Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....
(MASIH DALAM TAHAP REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Kunjungan ke rumah Nata sangat menyenangkan, mulai dari perbincangan ringan membahas proyek yang sedang dikerjakan Nata hingga kehidupan Rena di Yogyakarta.
"Mama udah percayain butik ke gue, jadi gue bisa atur tuh butik semau gue sendiri deh. Termasuk bebas cuti kapanpun seperti saat ini," ucap Rena menaik turunkan alisnya.
"Waah, hebat nih calon Bu Bos!" sahut Tara.
Rena termasuk wanita hebat. Disela waktu kuliahnya, dia juga disibukkan dengan menghandle butik milik mamanya. Begitu juga dengan Nata, salah satu lelaki pekerja keras. Meski belum memiliki usaha sendiri dan masih harus melanjutkan kuliah, Nata sudah banyak dikenal oleh orang-orang besar berkat kemampuannya yang bisa menangani proyek besar di Medan.
Pembahasan mengenai bisnis terhenti saat Vano menyadari bahwa Rio sedari tadi menatap diam-diam adiknya.
Sudah tertangkap basah, Rio pun akhirnya mengeluarkan jurus menjinakkan wanita andalannya. Rio tak henti menggoda Deska meski Deska hanya tertawa saja.
Vano yang ternyata sudah cukup akrab dengan mereka pun tak canggung untuk memberi sahutan atas godaan Rio pada adiknya.
"Eh, bule nyungsep, mau lo jadiin yang ke berapa nih adik ipar gue?" tanya Tara.
"Satu-satunya dihatiku, Tar. Gue kan cowok setia," sahut Rio.
"Setiap tikungan ada," sahut Rena kemudian.
Semuanya tertawa meledek Rio, ditambah celetukan Deska yang tiba-tiba membuat mereka tak bisa menahan tawa. "Gantengan kang parkir di sekolahku, Kak."
...
Hari berlalu begitu cepat, hubungan Tara dan Vano kini telah berjalan hampir dua tahun. Rasa cinta Tara maupun Vano kian bertambah seiring berjalannya waktu.
Bahkan mereka sudah mulai membicarakan acara pernikahan yang rencananya akan dilaksanakan tahun depan. Untuk saat ini sembari mencari lokasi tanah yang tepat untuk dijadikan rumah impian mereka, Tara dan Vano memulai kembali mendesain rumah sesuai kemauan mereka berdua. Tidak perlu memikirkan desain baru, Tara ternyata hanya menggabungkan beberapa desain rumah yang sudah Vano rancang agar tidak terlalu ribet jika harus memulai dari awal.
Kedua orang tua mereka belum saling bertemu untuk membahas kelanjutan hubungan kedua putra putri mereka. Namun Vano dan Tara sudah berdiskusi untuk mengadakan tunangan terlebih dahulu tiga bulan lagi. Bersamaan dengan hari jadi anniversary mereka yang ke dua tahun.
Hari ini juga tepat empat bulan Tara bekerja di tempat bermain anak yang terdapat disalah satu mall terbesar di Jakarta. Ya, Tara berhenti bekerja dari mini market itu lima bulan lalu, lebih tepatnya tiga bulan setelah lebaran. Tara berhenti kerja karena ia sudah mulai jengah dengan atasan barunya yang selalu bertindak seenaknya saja kepada pegawai lainnya. Tara jika sudah tidak nyaman, maka tidak ada keraguan dihatinya untuk meninggalkan pekerjaan itu.
Ditempat kerjanya yang baru ini Tara tidak terlalu akrab dengan semua partner kerjanya. Hanya tiga orang teman yang sangat akrab dengan Tara, yaitu, Siska, Mayang, dan Putri. Pertemuannya dengan sirkel perkumpulan baru itu membuat seorang Tamara banyak belajar, terlebih dalam hal keagamaan.
Ketiga teman baru Tara ini bukan ahli agama, namun entah dari mana mulanya, saat Siska mengajak mereka untuk melihat tausiah yang dipimpin oleh seorang Qari muda yang selalu dinanti para kaum hawa dizaman sekarang karena suara merdunya saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Sejak saat itu juga mereka sering kali mendatangi masjid-masjid yang sering mengadakan majelis taklim. Bukan hanya untuk mendengarkan lantunan ayat suci dari suara merdu para Qari di sebuah masjid, tapi juga untuk mendengar tausiah dari para ustad disetiap majelis taklim yang ia datangi. Kini, majelis taklim sudah menjadi rutinitas Tara setiap minggunya bersama ketiga teman barunya.
Semakin kesini, Tara menjadi semakin tertarik untuk memperdalam ilmu agama. Bahkan Tara sekarang sudah mulai menutup auratnya dengan berhijab.
Semakin banyak ia mendengar tausiah dan membaca terjemahan ayat suci Al-Qur'an, wanita itu perlahan mulai menyadari keteledorannya dalam segala hal yang ia lakukan selama ini. Ia memutuskan untuk memperbaiki semuanya mulai dari merubah penampilannya, yaitu menutup aurat!
Tara terlihat lebih anggun dengan hijabnya. Tak sedikit partner kerja Tara yang memujinya, bahkan keluarganya pun turut heran melihat penampilan Tara yang baru. Biasanya hijab akan melekat dikepalanya saat hari raya idul fitri atau sedang pergi ke suatu acara tertentu, namun wanita manis itu berani mengenakan hijab di waktu kerja dan kesehariannya.
Bukan hanya keluarga dan rekan kerja, Vano pun selalu mendukung apapun keputusan Tara meski ia merasa sedikit aneh saat jalan berdua bersama Tara yang mengenakan hijab.
...
Dua bulan sebelum acara tunangan dilaksanakan, Tara dilanda keraguan yang tidak main-main. Ada sesuatu yang membuat mood nya berantakan. Ada suatu keraguan untuk melangkah lebih jauh bersama seorang Devano.
Tara belum memberi tahu orang tuanya akan rencana pertunangan ini. Ia bingung harus melakukan apa, ia takut akan keraguannya jika harus memberitahu orang tuanya sekarang.
Hampir setiap malam menjelang tidur, Tara selalu meneteskan air matanya saat ia mengingat kembali rencananya bersama Vano sepuluh bulan mendatang. Apakah ia serius dengan pernikahan ini?
Bahkan Tara sudah dua hari ini tak sekalipun menjawab telfon atau sekedar membalas pesan chat Vano. Ia butuh menenangkan diri akan keraguannya yang semakin menjadi.
Vano yang sudah tak bisa menahan sabar karena dua hari Tara tak menghubunginya, kini ia melajukan mobilnya menuju tempat kerja Tara. Vano tidak tahu Tara shift apa hari ini, tapi di jam tiga sore seperti ini biasanya Tara pasti ada di lokasi kerjanya, kecuali jika ia libur.
Dan benar saja, wanita berhijab moca yang sudah dua hari ini dirindukannya, terlihat sedang tertawa bersama pengunjung pria yang sedang menggendong seorang anak perempuan berusia sekitar tiga tahun. Vano tidak suka melihat pemandangan itu, disaat ia harus menahan rindu yang tak pasti, kini wanitanya malah asik tertawa bersama pria lain.
Vano menghampiri Tara dengan wajah yang dikuasai kecemburuan, ia meraih tangan Tara dan membawanya menjauh dari area bermain.
Tara yang terkejut karena tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang, dengan spontan ia menjerit. "Aahh."
Tara mendongak, ternyata pria yang sudah dua hari tak ditemuinya ini yang menarik tangannya. Pria yang juga ia rindukan, sama halnya dengan Vano.
Tara tidak protes, ia masih dalam mode terkejut karena Vano menghampirinya sampai ke tempatnya bekerja saat ia sedang bertugas dan membawanya pergi dari area.
Vano menghentikan langkahnya setiba di tempat yang lumayan sepi pengunjung mall. Mereka tidak ada yang saling bicara, hanya saling tatap untuk meluapkan rasa rindu yang dua hari ini dipendam sendiri.
Tanpa ragu Vano memeluk Tara erat tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Aku rindu, Tar."
Mata Tara berkaca-kaca, ia tak tahu harus mengucapkan apa. Jujur, dia juga rindu dengan pria ini, tapi keraguan dihatinya tak kunjung pudar. Apalagi saat pria ini memeluknya, ada rasa nyaman sekaligus tak nyaman, ia juga tak tahu kenapa bisa seperti ini. Tara sungguh benci dengan perasaan aneh ini.
Vano melepaskan pelukannya, ia menggenggam erat tangan Tara sembari menatapnya penuh rindu. Vano mengusap air mata yang perlahan membasahi pipi cubi pacarnya itu.
"Kamu kenapa menghindariku, Tar? Apa aku punya salah?" Tara diam tak menjawab, ia hanya menatap wajah pria didepannya dengan air mata yang masih menetes meski telah berusaha ditahannya.
"Kalau ada masalah, kita bisa bicarakan baik-baik kan, Tar? Dua tahun pacaran kita tidak pernah bertengkar, loh. Kenapa tiba-tiba kamu menjauhiku?" tanya Vano dengan lembut.
Tara menundukkan wajahnya. "Maaf." Hanya kalimat singkat itu yang dapat Tara ucapkan. Vano memeluk tubuh ramping wanitanya yang sedang menangis sembari mengelus punggungnya agar Tara sedikit tenang.
"Aku kerja dulu." Tara menjauhkan tubuhnya dari Vano.
"Kamu shift pagi?" Tara mengangguk pelan tanpa menatap Vano.
"Yasudah, kamu kerja lagi. Nanti sore aku jemput ya, kita jalan."
Tara menatap Vano sendu. "Aku bawa motor," jawab Tara pelan.
"Kita jalan pake motor kamu." Tara menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku kerja dulu," pamit Tara dan diiyakan Vano.
Vano menatap Tara yang berjalan menjauh menuju lokasi kerjanya. Ia masih bingung, kenapa Tara menghindarinya? Bahkan tadi Tara terlihat tak bersemangat bertemu dengannya. Apakah Tara tak merindukannya, seperti ia yang merindukan Tara?
Tepat pukul 16:35 Vano telah berada didepan tempat kerja Tara. Ia berdiri menunggu kedatangan sang kekasih yang belum juga kelihatan batang hidungnya.
******
Ditunggu Like, Coment, serta Vote nya...
Jazakamallah khair..