Perawan Tua, begitulah orang-orang memanggilnya. Di usia yang ke 30 tahun Safira dituntut untuk segera menikah dan membangun rumah tangga seperti kedua Kakaknya. Namun, di usia yang sudah terbilang tidak muda lagi rintangan Safira untuk mendapatkan sang imam justru diuji berkali-kali oleh Sang Pencipta.
Dia harus mendapatkan penolakan dari laki-laki yang tidak dia cintai dan dia harus bersabar dari orang-orang yang memandang rendah kesepiannya. Diantara semua ujian itu dia sangat tahu bahwa jauh di dalam hati ada seseorang yang terus di langitkan namanya.
Dia Muhammad Ali Althalib, pemuda tampan lulusan pondok pesantren dengan segala kelebihannya. Ali panggilannya, pengisi hati sang pemilik gelar "PERAWAN TUA" yang selalu merendahkan diri karena perbedaan usia yang jauh.
Selisih 6 tahun, jarak yang selalu menghantui Safira.
Untuk Ali, dia ingin menjadi seperti Khadijah RA istri Rasulullah Saw yang menyatakan cintanya langsung kepada sang kekasih. Namun, hatinya takut karena mungkin Ali tidak mau menjadi Muhammad kedua untuknya.
Jika tidak bisa mengikuti jejak Khadijah RA, maka Safira akan mengikuti jejak Fatimah putri Rasulullah Saw untuknya. Merayu Sang Pencipta di sepertiga malam agar mau menjadikan Muhammad Ali Althalib sebagai Ali-nya selayaknya perjalanan kisah cinta Ali dan Fatimah putri Rasulullah Saw yang mengguncang seluruh penghuni langit.
Namun, akankah Allah mau mendengar doa-doa yang dia langitkan sang pengikut Fatimah putri Rasulullah Saw?
Jawabannya ada di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4.2
"Lho, inikan Mbak Safira dari komplek perumahan B. Mbak Safira di sini ada keperluan apa?"
Salamnya terpotong karena kedatangan Kayana yang tidak disangka-sangka.
"Aku ada pertemuan dengan Bimo." Jawab Safira kalem.
"Ya Allah, jadi Mbak Safira toh yang dibicarakan Tante sama Mas Bimo dari tadi. Ayo Mbak, ikut aku ketemu sama mereka." Dia langsung manarik tangan Safira tanpa perlu menunggu responnya terlebih dahulu.
"Jangan tarik, aku bisa jalan sendiri." Safira melepaskan tangannya tidak senang.
Kayana berdecak tidak senang, dia memalingkan wajahnya ke depan dan memutar bola matanya.
"Oh, kalau gitu Mbak Safira harus hati-hati biar gak nyadar di rumah ini." Peringat Kayana berisi ejekan.
Tapi Safira tidak menganggap serius provokasi dari Kayana, dia pikir itu terlalu kekanak-kanakan untuk usianya.
"Apa hubungan mu dengan Bimo?" Di tengah perjalanan Safira iseng bertanya.
"Dia adalah sepupu ku dari pihak Papa, kenapa Mbak?" Dia terdengar bangga.
"Tidak ada yang penting." Jawab Safira tidak tertarik.
Kayana meliriknya, tersenyum miring.
"Mas Bimo, aku sudah membawa Mbak Safira ke sini."
Mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan besar nan hangat yang didekorasi indah seperti gaya Eropa klasik.
Di luar, Safira mengambil nafas panjang sebelum masuk dan memberikan salam.
"Assalamualaikum, aku-A.." Salamnya terhenti ketika kedua matanya bertemu dengan pemilik mata nan gelap itu.
"Astagfirullah..aku lupa memberitahu Mbak Safira kalau di sini bukan hanya aku saja yang datang tapi Mas Ali juga ikut kok." Kayana pura-pura kaget, memasang ekspresi menyesal seakan-akan dia memang lupa.
Safira tersenyum tipis, menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Ali. Saat ini dia sangat malu bertemu dengan orang yang dicintai di waktu yang tidak tepat.
Dia merasa bersalah.
"Ekhem, aku sibuk jadi apa kita bisa memulainya?" Wanita berpenampilan mewah dan glamor yang duduk di sofa tinggi menarik perhatian Safira.
"Ah..kita bisa memulainya." Ini sungguh diluar ekspektasinya.
Di ruangan ini ada 6 orang termasuk Safira. Duduk di sofa panjang ada wanita glamor itu dengan gadis cantik di samping kiri dan laki-laki dewasa di samping kanan. Sekilas, Safira bisa menebak jika laki-laki itu adalah Bimo.
Sedangkan di sofa panjang yang Safira sekarang duduki ada Kayana di sampingnya. Sedangkan Ali duduk di sofa single sendirian, diam membisu menatap Safira dengan kekecewaan yang samar.
"Jadi namamu Safira?" Tanya wanita itu memulai acara perkenalan.
Dia terlihat sangat santai namun pada saat yang sama juga tidak.
"Ya, namaku adalah Safira, Tante." Jawab Safira tidak terganggu.
Matanya melirik Bimo yang juga sedang memperhatikannya, tapi ekspresi Bimo terlihat bermasalah.
Ah, hasilnya pasti sesuai harapan ku. Batin Safira justru merasa lega.
Mungkin itu karena ada Ali di sini, selain itu juga Bimo sudah memberikan kesan yang buruk di sini sehingga Safira enggan untuk melanjutkan.
"Aku dengar pekerjaan mu jaksa di kota ini, apa itu benar?"
"Benar Tante, aku sebelumnya adalah jaksa bagian kasus pidana tapi karena beberapa alasan beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk mengundurkan diri." Safira menilai wanita glamor ini tidak terlalu suka berbicara dengannya dan tampak ingin segera menyelesaikan pembicaraan.
"Beberapa alasan..apa yang kamu maksud tentang skandal yang kamu lakukan dengan atasan mu sendiri?"
"Skandal?" Safira terkejut masalah ini bisa sampai ke telinganya.
"Skandal?" Safira terkejut masalah ini bisa sampai ke telinganya.
Yah, Safira tidak perduli dengan pendapat Bimo ataupun wanita itu jadi seharusnya dia tidak perlu susah-susah mengklarifikasi. Tapi sayangnya ada Ali di sini dan Safira takut masalah ini membuat Ali membencinya.
"Ya, mereka bilang kamu merusak rumah tangga atasan mu di kantor."
"Tante, kabar itu tidak benar sama sekali. Aku dan atasan ku tidak punya hubungan apa-apa, Tante bisa bertanya langsung ke orang-orang kantor. Aku bisa meyakinkan Tante jika kabar ini tidak benar sama sekali." Jelas Safira tegas.
Safira tidak tahu bagaimana reaksi Ali saat ini, dia sangat cemas.
"Lalu, bagaimana dengan wanita yang mendatangi mu di kantor? Dia adalah mantan istri atasan mu'kan?"
Di dalam hati, Safira bertepuk tangan untuk pengetahuan luas wanita glamor ini. Dia bahkan tahu kejadian siang itu?
"Itu salah paham, Tante. Dia pikir aku akan menikah dengan mantan suaminya padahal itu tidak benar. Aku tidak akrab dengan mantan suaminya apalagi sampai mau menikah dengannya." Sejauh mana dia akan mengintrogasi ku?
Bila saja tidak ada Ali mungkin Safira tidak akan secemas ini membersihkan wajahnya di depan mereka.
"Hem, baiklah jika itu benar. Lagipula tidak ada yang tahu pembelaan mu ini benar atau tidak." Kata wanita glamor itu masih meragukan pembelaan Safira.
Safira geram!
"Tante, apa yang dia bilang semuanya benar." Suara magnetik itu langsung menenangkan kegusaran Safira.
Dia spontan menoleh ke arah Ali yang masih duduk di sofa yang sama. Jujur, dia kaget mendengar pembelaan Ali sekaligus bingung mengapa Ali tahu jika dia benar?
Apakah Ali hanya mengada-ada saja karena kasihan?
"Oh, bagaimana kamu tahu, Ali?"
"Aku tahu dari sepupuku. Kebetulan dia bekerja di kantor yang sama dengan Safira jadi apapun yang terjadi di sana sepupuku juga tahu." Jawab Ali menjelaskan.
Sepupu?
Siapa sepupu Ali?
Mengapa aku tidak tahu?!
"Oke, mungkin dia tidak skandal apapun tapi pengalamannya di bidang pekerjaan itu kurang memuaskan ku." Wanita glamor ini lagi-lagi berdalih!
"Mengapa Tante?" Safira tidak mengerti dengan jalan pikirannya.
"Kamu teliti dan terlalu ketat, Bimo pasti kesusahan. Berbeda dengan Saskia," Dia mengambil tangan gadis cantik yang ada di sampingnya.
"Dia bekerja sebagai dokter di rumah sakit ternama dan sudah terbiasa menghadapi berbagai macam orang di rumah sakit. Tentu saja Bimo akan lebih nyaman jika bersamanya." Katanya memuji-muji gadis itu.
"Mam, jangan seperti ini." Kata Bimo canggung.
Wanita glamor itu memutar bola matanya, kembali ke topik pembicaraan lagi dengan ekspresi yang lebih membosankan.
"Berapa usiamu sekarang?"
Berbicara tentang usia adalah titik rasa sakit Safira. Dia sangat malu dengan usianya yang jauh lebih tua dari Ali dan Bimo.
Tetap saja, entah untuk Bimo atau Ali, Safira punya banyak kekurangan yang sangat menonjol.
Meremat kedua tangannya malu,"Usiaku sudah 30 tahun."
"30 tahun?!" Teriak wanita glamor itu terkejut.
Bersambung..
Bisa aja bikin alasan karena tidak mau melaporkan malah dapat hukuman 🤦♂️🤦♂️🤦♂️