Dendam memang bisa membuat siapapun terlihat tak memiliki hati, seperti seorang pria muda dengan kesuksesan dan harta yang berlimpah. Karena rasa dendam di masa lalu ia menculik seorang gadis tak bersalah di hari pernikahannya.
"Kau hanya akan mendapatkan siksaan seumur hidupmu, mulai hari ini." Tekan seorang pria dengan setelan jas dan kemeja putih yang terlihat sempurna di tubuhnya.
Akankah sang gadis tahan dengan siksaan yang pria itu berikan padanya?
Gak update setiap hari, tapi diusahakan ✨
Follow Instagram aku
@Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan seorang ayah
Diandra berlari masuk ke dalam rumah, perutnya sejak tadi sudah tidak bisa terkontrol. Rasa mual dan pusing kembali menyerang dirinya.
Uwekkkk....
"Aku harus makan sebelum minum obat," gumam Diandra kemudian mulai mencari bahan apa yang ada di dalam kulkas.
Ternyata bahan bahan di kulkas sudah menipis, mungkin hari ini ia harus berbelanja. Namun ia tidak punya uang, jadi harus menunggu Aryan pulang lebih dulu.
Diandra hanya memakan martabak telur sederhana yang ia buat dengan bahan seadanya, berkali-kali dirinya ingin muntah namun ditahan agar bisa minum obat dan meredakan rasa mual ini.
"Sabar ya nak, bunda makan dulu setelah itu minum obat." Cicit Diandra mengusap perutnya dengan gerakan pelan.
Setelah selesai makan, Diandra mencuci piringnya kemudian mengambil obat yang sudah ia tebus di apotek tadi. Sesuai dengan anjuran dokter hanya di minum satu kali sehari setelah makan.
"Ahh sekarang kita istirahat ya sayang, bunda lelah sekali," ucap Diandra kemudian mengambil tasnya dan pergi ke kamar.
Diandra mengganti pakaiannya, setelahnya ia merebahkan diri di ranjang dengan tangan yang tak henti mengusap perutnya, bahagia rasanya karena kini ia tidak akan hidup sendiri lagi. Ia dan anaknya akan hidup bahagia bersama, namun tiba tiba Diandra teringat dengan Aryan, anak ini juga adalah anaknya dan dia berhak tahu. Tapi ketakutan Diandra akan kehilangan anaknya membuatnya mengurungkan niat untuk memberitahu Aryan soal kehamilannya.
"Aryan, aku minta maaf jika merahasiakan soal kehamilan ku. Aku takut jika kau akan menyakiti anakku, aku takut kau memintaku untuk menggugurkan nya dan aku tidak mau itu semua terjadi," ucap Diandra lirih, air matanya meluruh membasahi pipinya.
Perlahan-lahan matanya mulai terpejam, dengkuran halus terdengar menandakan jika wanita itu sudah tidur pulas.
Aryan masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa, ia sudah tidak tahan untuk meluapkan semua amarahnya pada wanita itu. Sudah ia katakan untuk datang tapi wanita itu justru tidak datang padahal ada berkas yang ia perlukan dan hanya Diandra yang tahu dimana.
"Diandra?!!!!" panggil Aryan berteriak-teriak memenuhi rumah.
Tiga kali Aryan berteriak memanggil nama Diandra, dan saat itu Diandra keluar dari dalam kamar menghampiri Aryan yang terlihat marah, tangannya terkepal kuat dengan tatapan mata setajam elang.
"Aryan, ada apa?" tanya Diandra dengan suara serak karena baru bangun tidur.
"Darimana kau?" tanya Aryan dingin.
"Aku, aku sakit jadi aku memutuskan untuk istirahat." Jawab Diandra seraya menguncir rambutnya yang berantakan.
"Aku memintamu datang bukan? kenapa kau tidak datang hah?!!!" bentak Aryan sampai membuat Diandra memejamkan matanya saking takutnya.
"Aku ingin datang, tapi aku tidak sanggup berjalan Aryan. Aku mohon mengertilah," balas Diandra pelan.
"Siapa kau meminta untuk di mengerti olehku?" tanya Aryan menatap jijik pada Diandra. "kau bilang kau sakit, lalu lebih sakit mana dengan ini?" tanya Aryan kemudian tanpa ragu ia menampar wajah istrinya.
Diandra sampai tersungkur ke lantai karena kerasnya tamparan Aryan, Diandra tidak peduli jika wajahnya berdarah tapi yang ia pedulikan adalah anaknya. Diandra memegangi perutnya yang sedikit sakit seraya mencoba untuk bangun.
"Jika aku kehilangan tender milyaran ini karena dirimu, akan aku pastikan ini tahun terkahir kau melihat dunia." Ancam Aryan menunjuk Diandra yang masih sibuk mengatur nafasnya.
Diandra menggigit bibir, entah kenapa ia tidak bisa balas marah pada Aryan. Dalam hati ia sudah berniat membalas ucapan Aryan tapi naluri nya diam saja. Bahkan ia bukan membalas menampar Aryan, tapi perasaanya malah ingin memeluk tubuh Aryan.
"Aryan?" panggil Diandra pelan seketika membuat Aryan. menatapnya dengan alis terangkat.
Tanpa berkata-kata, Diandra memeluk Aryan dimana perlakuan seperti ini tak pernah ia lakukan sebelumnya pada Aryan. Diandra menyesap aroma tubuh Aryan yang sejak kemarin membuatnya tenang, Diandra melepas pelukannya seraya menyeka air matanya yang entah mengapa bisa keluar.
"Maaf," lirih Diandra kemudian berlari masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Aryan, ia terpaku menerima pelukan Diandra. Entah mengapa pikirannya yang kacau seharian ini berubah menjadi tenang setelah mendapat pelukan dari Diandra. Namun Aryan menggelengkan kepalanya, ia menepis semua pikirannya tentang Diandra dan langsung masuk ke dalam kamar.
Sementara Diandra, ia menangis di dalam kamarnya entah kenapa tiba tiba dirinya berubah manjadi cengeng dan begitu sensitif. Sikap Aryan yang kasar padanya tidak bisa ia balas, sementara dirinya seakan terus ingin berada di dekat pria itu.
Mungkinkah ini karena anak yang ada di dalam kandungannya? ia merindukan sentuhan ayahnya?
"Sayang, kenapa kamu buat bunda jadi mellow begini?" tanya Diandra menyeka air matanya yang justru semakin keluar banyak.
"Hiks hiks Aryan, aku tidak mau berdekatan dengan mu tapi anakku merindukan sentuhan ayahnya." Teriak Diandra frustasi sambil menjambak rambutnya.
KASIHAN SEKALI DIANDRA
BERSAMBUNG.........