I Love You, Om
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flobamora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Suatu sore, pukul 15.12 di area parkir sekolah Yuri. Kala itu Yuri mengabari supir untuk menjemput Rico saja, sementara ia akan pulang bersama Debora.
Di dalam mobil Debora.
“Halo. Mama, aku pulang agak terlambat, ya? Aku menemani Yuri dulu. Iya, seperti itu, Ma. Iya... Oke, Ma. Love You,”
ucap Debora menelepon mamanya.
“Sudah, beres, Yur,”
ucap Debora kepada Yuri.
Yuri pun menjawabnya dengan mengacungkan jempolnya.
“Ayo, Pak. Kita jalan sekarang. Nanti ikuti saja arahan Yuri,”
ucap Debora.
“Baik, Non,”
jawab supir Debora.
Mobil pun mulai berangkat ke tempat tujuan.
Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di area parkir sebuah resto. Yuri dan Debora pun turun dari mobil.
Begitu turun dari mobil, pandangan Yuri langsung liar ia layangkan ke sekeliling tempat itu, terutama ke pintu masuknya.
Yang Yuri lihat di depan matanya adalah kenangan lamanya ketika ia bersama dengan Om Seno yang dulu sering pergi ke tempat ini.
Ia melihat dirinya sedang tertawa terbahak-bahak sambil keluar dari pintu resto bersama Om Seno sembari melayangkan beberapa pukulan kecil tangannya di bahu Om Seno.
Kemudian ia juga melihat dirinya sedang menekuk wajahnya saat keluar pintu resto sembari menghentak-hentak kakinya dengan keras. Kemudian, Om Seno mengejarnya dari belakang sambil tertawa kecil.
Melihat kenangan itu, Yuri lalu senyum-senyum sendiri di samping Debora. Melihat itu, Debora kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Wey!”
kejut Debora kepada Yuri.
“Jadi masuk, tidak?”
tanya Debora.
“Iya.. iya.. Yuk, masuk,”
ucap Yuri.
Mereka berdua pun masuk ke dalam resto itu. Setelah masuk, pandangan Yuri langsung tertuju pada sebuah panggung kecil tempat live music. Dulu, Om Seno sering perform di tempat itu dengan gitarnya.
“Gadis cantik paman....”
sapa seorang lelaki berambut panjang terurai dan berjanggut seraya mendekati Yuri sambil merentangkan kedua tangannya.
“Om John,”
ucap Yuri menyambut lelaki itu.
“Sudah lama sekali Om tidak melihat kamu. Rupanya, kamu masih ingat jalan ke sini. Om rindu sekali dengan kamu, Yuri,”
ucap lelaki itu.
Om John adalah pemilik resto yang merupakan teman akrab Om Seno. Ketika Om Seno tidak sedang memegang proyek pekerjaan, maka Om Seno sering mengisi hiburan di resto ini untuk menambah pendapatannya.
“Ini temanmu?”
tanya Om John.
“Iya, ini Debora, Om. Dia teman sebangku Yuri di sekolah,”
ucap Yuri mengenalkan Debora.
“Debora, Om,”
ucap Debora mengenalkan diri sambil tersenyum.
“Oke.. Eh, ngomong-ngomong kita duduk dulu, Om pesankan makanan dan minuman spesial untuk kalian. Tunggu, ya?”
ucap Om John, kemudian ia pergi meninggalkan mereka berdua.
Tidak ingin menunggu lama, Yuri lalu menghampiri panggung kecil itu. Ia kemudian mengambil gitar yang biasa digunakan pengisi live music termasuk digunakan oleh Om Seno.
Kini resto Om John memang buka, namun pada jam-jam ini pengunjung sedang sepi. Di sana hanya ada beberapa pengunjung pemesan kopi dan ada yang sedang berfokus dengan leptopnya.
Karena kondisi sepi seperti itu, Yuri memberanikan diri untuk mencoba memainkan gitar itu dan membawakan sebuah lagu.
“Hatiku berharap, mungkin engkau kan berubah..
Bisa mencintai aku, seperti hatiku padamu..”
“Cintamu tlah menjadi candu..
Cintamu talh membuatku membisu..
Cintamu oh seindah lagu..
Membuat ku tak bisa berpaling darimu..”
“Kau adalah belahan jiwa..
Ku tahu itu sayang sedari dulu..
Kau cinta yang hembuskan aku..
Surga dunia di sepanjang nafasku..”
“Kau adalah belahan jiwa..
Aku cinta kamu sedari dulu..
Dan aku tak kan berpaling darimu..
Sayangku..
Hanya kamu...”
Beberapa pengunjung yang ada di sana begitu menyukai penampilan Yuri dan mereka pun merekamnya melalui ponsel mereka.
Kemudian, ada beberapa pengunjung mulai berdatangan. Beberapa di antaranya datang karena melihat unggahan rekaman di ponsel teman mereka yang terlebih dahulu ada di resto itu.
Melihat pengunjung berdatangan, Om John pun tersenyum dan sontak ikut mengabadikan penampilan Yuri itu dengan ponselnya.
Om John lalu mengirimkan rekaman itu kepada Om Seno yang kini berada di New York.
******
Om Seno sedang duduk di meja kerjanya seorang diri. Ia menonton rekaman yang dikirimkan oleh Om John sambil tersenyum. Kemudian, ia melirik kalender kecil yang berdiri di atas mejanya.
Mata Om Seno lalu tertuju pada deretan tiga buah angka yang berwarna merah. Ia mengambil spidol, kemudian melingkari ketiga angka di kalender tersebut.
******
Yuri usai melakukan live perform-nya. Orang-orang lalu bertepuk tangan kepadanya. Yuri tersenyum kepada mereka.
Kemudian, pandangan matanya mengarah pada suatu meja bar tempat Om Seno biasa duduk. Ia melihat bayangan Om Seno sedang bertepuk tangan memandanginya.
Yuri lalu kembali ke meja tempat Debora duduk. Di sana sudah ada makanan yang menunggu untuk disantap.
“Sudah lama sekali. Sudah berapa bulan, ya? Om sampai lupa. Hampir setahun, ya, sepertinya? Sejak om dan tantemu...”
ucap Om John yang kemudian tidak melanjutkan kata-katanya.
“Iya, Om. Yuri begitu merindukan Om, semuanya, maka itu aku datang ke sini,”
ucap Yuri.
Mereka bercakap-cakap sambil menikmati hidangan yang sudah disajikan.
“Jadi, sekarang kamu tinggal di mana, Yuri?”
tanya Om John.
“Aku sekarang dalam proses ikatan kontrak dengan Perusahaan Def Jam, Om. Aku tinggal di apartemen kawasan Chatan-cho, Om. Fasilitas dari perusahaan,”
ucap Yuri.
“Perusahaan Def Jam? Agensi label rekaman terkenal itu? Wah, hebat sekali kamu, Yuri? Agensi naungannya Universal Studio itu, kan? Beruntung sekali!”
ucap Om John terkejut.
“Yuri memang hebat, Om. Bukan Yuri yang beruntung, tapi agensi itu yang beruntung bisa menemukan seorang berbakat seperti dia,”
ucap Debora.
“Waaa... Om Seno akan bangga sekali dengan kamu, Yuri,”
ucap Om John.
“Aduh. Jangan bilang-bilang ke Om Seno, ya Om?!”
ucap Yuri sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya ke arah Om John.
“Loh, memangnya kenapa?”
tanya Om John.
“Yuri itu sudah me....”
ucap Debora. Namun, sebelum selesai bicara maka tangan Yuri langsung membekap mulut Debora.
“Yuri? Yuri sudah apa?”
tanya Om John.
Yuri lalu tersenyum kikuk lalu menggelengkan kepalanya.
Debora lalu mengacungkan telunjuknya, kemudian Yuri melepaskan mulut Debora.
“Maksudnya Yuri masih training, Om. Kontraknya baru akan dimulai setelah dia lulus,”
jelas Debora dengan ucapan yang cepat.
“Nah, seperti itu maksudnya, Om,”
sambung Yuri.
“Oh, seperti itu. Ya, tidak masalah kan. Hanya perkara waktu saja,”
ucap Om John.
“Tapi, Om, please jangan kasih tahu Om Seno tentang aku, ya?”
ucap Yuri dengan nada memohon.
“Baiklah.. baiklah..”
ucap Om John.
******
Pukul 21.30 di apartemen Yuri. Yuri baru saja pulang dari kegiatannya berlatih vokal bersama pihak agensi.
Begitu pulang, Yuri langsung bergegas mandi untuk melepaskan keletihannya.
“Bagaimana harimu? Sepertinya kegiatan hari ini begitu padat, ya?”
tanya Rico yang sedang duduk bersandar di kasurnya sambil memangku sebuah leptop.
“Ya, begitulah, Kak. Musim ujian akhir sekolah kan sudah dekat. Aku meminta pihak agensi agar memadatkan jadwal, agar menjelang dan selama ujian nanti aku bisa fokus,”
jelas Yuri sambil menggesek-gesekkan rambut basahnya dengan handuk.
“Oh, iya, Kak. Bagaimana dengan motor Kakak? Sudah beberapa minggu ini masih di bengkel terus ya, Kak? Lama sekali,”
ucap Yuri.
“Em. Itu.. em.. spare part-nya itu susah dapatnya, Yuri. Jadi, dulu Kakak pesan spare part dari luar dan itu pun harus inden,”
jelas Rico berbohong.
“Oh. Seperti itu. Semoga barangnya cepat datang ya, Kak. Agar motor Kakak bisa dipakai lagi. Sayang sekali kalau harus menganggur terus di bengkel,”
ucap Yuri.
******
Di suatu pagi, pukul 8.40, Rico sedang berjalan kaki menuju halte bis.
Dua orang laki-laki berpenampilan seram mencegat perjalanan Rico.
“Nyonya menginginkan setorannya,”
ucap salah satu di antara kedua orang berpenampilan preman itu.
“Lagi? Tapi saya sudah memberikannya minggu lalu, dan itu pun jumlahnya tidak sedikit!”
protes Rico.
“Kami tidak peduli. Begitu Nyonya menginginkannya, maka kau harus segera memberikannya. Atau nyawamu akan terancam!”
ucap preman itu.
“Tidak hanya nyawamu! Tapi, juga nyawa istrimu itu juga!”
ancam preman yang lain.
“Aduh. Uang sisa penjualan motor sudah tidak tersisa sedikitpun. Darimana aku kembali mendapatkan uang?”
ucap Rico di dalam hati.
“Hey! Kenapa kau diam saja!”
bentak seorang preman.
“Baik, baik. Saya akan mentransfernya segera. Saya janji,”
ucap Rico.
“Oke lah. Akan kami sampaikan kepada Nyonya. Kalau begitu kami akan pergi,”
ucap seorang preman. Kedua orang preman itu pun pergi meninggalkan Rico.
Rico melanjutkan perjalanannya menuju kampus dengan pikiran yang melayang-layang.
Rico duduk di dalam bis. Ia menekan-nekan ponselnya dengan wajah yang begitu tegang.
“Bahkan penjualan bukuku pun sangat minim seperti ini. Tidak bisa diharapkan,”
ucap Rico.
Rico lalu melihat icon mobile banking di ponselnya. Kemudian, Rico mengingat perkataan Yuri yang mengijinkannya untuk mengambil uang di rekeningnya sesuai dengan keperluan kuliahnya.
“Untuk kali ini saja. Demi keselamatan kita,”
ucap Rico yang kemudian menekan icon mobile banking di ponselnya.
Beberapa saat kemudian sebuah nomor tidak dikenal menelpon Rico. Rico begitu cepat menerima panggilan itu.
“Halo!”
ucap Rico menahan amarah.
“Kau adalah lelaki yang pintar. Hahaha..”
ucap Tante Meriam dalam sambungan telepon.
“Minggu lalu kau sudah janji itu adalah yang terakhir! Kenapa malah kau...”
bentak Rico.
“Baiklah.. baiklah. Sudah tidak usah marah-marah begitu, sayang. Kehidupan kalian akan baik-baik saja. Kau hanya perlu menjadi lak-laki yang penurut, hanya itu saja,”
ucap Tante Meriam dengan nada santai.
Panggilan telpon itu lalu diputuskan oleh Rico. Ia begitu kesal mendengar ucapan-ucapan Tante Meriam.
******
Hari berganti hari. Transaksi dari rekening Yuri ke rekening Tante Meriam yang dilakukan oleh Rico tidak hanya terjadi sekali saja.
Hingga pada suatu hari Yuri menyadari bahwa uang bulanannya menipis. Ia hendak membeli keperluan harian di mini market, kemudian ia memeriksa ponselnya sebelum membayar belanjaannya di kasir.
Setelah melihat deretan angka yang tertulis di layar ponselnya, Yuri kemudian memisahkan beberapa barang belanjaanya.
“Maaf, Kak. Yang ini tidak jadi saja,”
ucap Yuri kemudian melayangkan senyuman miring kepada kasir mini market.
“Apa yang sebenarnya yang dilakukan Kak Rico?”
ucap Yuri di dalam hati.
Yuri kemudian pergi membawa barang-barang balanjaannya yang sudah berkurang dari daftar rencananya itu.
******
kok gak enak bgd bacanya,..
kn bisa panggil "Deb" or "Ra",.
Jangan lupa likeback😁💕
jangan lupa mampir kenapa aku ke novel aku