Takdir itu tidak dapat di tebak, kadang apa yang di inginkan tak sejalan dengan keadaan. Fitri, harus merelakan dirinya berpisah dengan suaminya karena suatu keadaan.
Akankah dia bisa menjalani kehidupannya seorang diri, ataukah dia bisa menemukan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Achdia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Cemburu
Selama perjalanan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya, hening tiada bersua. Terlihat Fitri menatap kedepan dengan tatapan kosong, wajahnya cemberut dan bibirnya mengerucut seakan menahan sesuatu, di pikirannya terlintas pada wanita yang di temuinya di parkiran tadi. Di kepalanya banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Fajar, namun karena terlalu dongkol akhirnya dia mengurungkan niatnya. Yang ada dia cuma diam menahan diri.
Melihat Fitri yang diam saja tak seperti biasanya, Fajar berinisiatif membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Fit, kamu kenapa, kok diem aja! " tanya Fajar.
Fitri terus diam saja tanpa menggubris pertanyaan dari Fajar, dia memalingkan wajahnya menghadap jendela sambil menopang dagunya dengan telapak tangannya.
"Fit, ada apa sih? kamu ngambek?" tanya Fajar lagi sambil tangan satunya mengelus rambut Fitri yang terurai.
"Fit, ngomong donk, biar aku tahu kesalahan ku apa?" bujuk Fajar tetap mengelus rambut Fitri.
"Perempuan tadi cantik, tubuhnya sempurna dan mungkin dia masih gadis juga" ucap Fitri dengan nada tak suka.
"Loh... Kamu lebih cantik sayang" ucap Fajar gemas, tangannya beralih mencubit pelan pipi Fitri.
"Mas masih suka sama dia?" ucap Fitri dengan masih cemberut.
Kemudian Fajar menepikan mobilnya di sebuah jalan yang agak sepi.
"Lihat sini deh sayang" ucap Fajar, sambil memegang pipi Fitri dengan kedua tangannya. Cuuuppp Fajar mengecup bibir Fitri sekilas.
"Denger aku baik-baik, Lucy itu masa laluku, aku sudah gak mencintai dia lagi, sekarang aku hanya mencintai kamu seorang, kamu itu masa depan aku, Faham" ucap Fajar sambil mencubit gemas Hidung mancung Fitri.
"Kamu serius kan mas" ucap Fitri.
"Iya sayang" ucap Fajar meyakinkan.
Kemudian mereka saling berpelukan cukup lama, lalu melepaskan pelukan mereka dan beralih pada bersatunya bibir lembut mereka, saling gigit dan saling *****. Karena terlalu terbawa suasana, tangan Fajar hendak beralih ke dada Fitri. Namun Fitri tersadar, di tahannya tangan Fajar agar tak menyentuh dadanya dan menghentikan ciumannya.
"Jangan mas, ini tidak baik. Nanti ada saatnya" cegah Fitri sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf sayang, mas cuma terbawa suasana. Mas gak akan pernah lakukan itu lagi, mas janji" ucap Fajar penuh penyesalan.
Hari mulai gelap, Fajar pun kembali melajukan mobilnya.
"Kita makan dulu sebelum nyampe rumah" ucap Fajar, Fitri hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Malam makin larut, Fitri dan Fajar sampai di depan rumah Fitri. Fajar langsung pergi dengan mobilnya setelah berpamitan dengan Fitri. Dan Fitri pun masuk ke dalam rumahnya kemudian langsung menuju ke kamarnya.
Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena seharian terkena paparan matahari hingga membuat tubuhnya terasa lengket. 30 menit sudah akhirnya Fitri keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang di lilitkan di tubuhnya. Ia menuju lemari memilih baju tidur dan memakainya. Lalu dia menjatuhkan dirinya ke kasur karena lelah.
"Tadi aku kenapa yah? uring-uringan gak jelas. Gara-gara wanita itu sih muncul tiba-tiba bikin jengkel aja... Huft. Tapi apa perasan ini yang dinamakan cemburu. Apa, Aku cemburu? tau ah" batin Fitri yang bergelut dengan perasaan nya.
Di tempat lain, Fajar pun berbaring di kasurnya, sambil senyum-senyum mengingat tingkah Fitri yang sangat menggemaskan. Dia tahu jika Fitri sedang cemburu. Dia bahagia, dengan Fitri bersikap seperti itu berarti Fitri telah benar-benar mencintainya.
Tak lama, merekapun terlelap di tempat tidurnya masing-masing dengan mimpi indah yang menghiasi tidur malamnya.