Qaireen selalu merasa sendiri, tidak ada yang menyukainya dengan tulus. Semua orang yang dekat dengannya akan memutus hubungan begitu Qaireen hilang dari pandangan mata mereka.
Sampai akhirnya ada satu orang yang datang tiba-tiba dan menyatakan akan membantunya. Qaireen yang tidak percaya dengan orang lagi memutuskan untuk menolak awalnya. Dia masih terus datang tapi Qaireen memperkirakan itu hanya sebentar, paling lama selama satu bulan.
Tapi dia datang lagi, dan lagi. Haruskah Qaireen percaya padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elfian Syera Nasution, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Dara
Qaireen keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu. Dia ingin memastikan keberadaan adha. Qaireen terkejut melihat adha masih berbaring di sofa.
Qaireen terkejut melihat keadaan adha yang tampak pucat. Dia menempelkan tangannya di dahi adha, suhu tubuh adha sangat panas saat itu.
Qaireen berlari-lari kecil ke dapur dan kembali ke ruang tamu dengan air es di tangannya.
"Kau baik-baik saja" ucap Qaireen sambil menempelkan kompres dingin di dahi adha.
"Aku minta maaf" jawab Adha hampir tak terdengar.
"Aku yang minta maaf, seharusnya aku memeriksa keadaanmu" Qaireen merasa bersalah, dia lupa bahwa adha juga terluka dan dia bukan siluman yang bisa sembuh dengan sendirinya.
Adha meraih tangan Qaireen dan memegangnya kuat. Dia meletakkannya di atas dadanya yang panas. Qaireen tidak melawan, mungkin dengan begitu adha akan merasa cukup tenang.
"Aku antar ke dokter, aku akan minta bantuan Adnan" ucap Qaireen lagi karena khawatir.
"Begini saja sudah cukup" jawabnya sambil tersenyum kecil.
Adnan datang dengan satu piring makanan yang ada di tangannya. Perasaannya kacau begitu melihat apa yang ada di hadapannya sekarang, tentu saja karena dia cemburu.
"Adha sakit dan mungkin dia butuh dokter sekarang" tutur Qaireen begitu menyadari keadaan Adnan.
"Begitu" jawab Adnan singkat sambil mengepal tangannya kuat.
"Apa kau bisa membawa kita ke rumah sakit sekarang? apa kekuatanmu udah pulih" tanya Qaireen tampak sangat khawatir.
"Aku akan pulih dengan cepat, aku akan istirahat disini" jawab Adha pelan sambil terbatuk.
Adnan tak peduli, dia meletakkan makanan yang ada di tangannya di meja yang ada di hadapannya, lalu berlalu dari sana.
Mata Adha berubah menjadi merah begitu sampai di kamarnya. Dia sudah berusaha menahan amarahnya saat di hadapan Qaireen.
Adha menghempas dan menunjang semua yang ada di hadapannya sekarang. Bahkan tangannya sudah mengeluarkan darah segar karena meninju cermin besar yang ada di sana.
Baru saja dia merasa sedikit lega karena pelukan dari Qaireen dan sekarang Qaireen kembali membuat dia marah dan ingin membunuh lagi.
Blitz.
Adnan sudah berada di rumah Amira. Amira yang sedang menyantap sarapan paginya terhenti karena kejadian Adnan.
"Kau ingin membunuh seseorang dan menahan rasa sakit" ucap Amira seperti tahu isi kepala Adnan.
"Kau tahu apa yang terjadi? aku gak pernah merasakan sakit yang begitu menyakitkan" ucap Adnan jujur.
"Hati-hati dalam menggunakan kekuatanmu dalam keadaan begini. Kau gak melepaskan aura cemburu siluman kau menahannya jadi kau merasakan sakit yang luar biasa"
"Kau bisa mati jika menggunakan kekuatan dalam kondisi seperti ini" tambah Amira lagi.
"apa saja yang gak ku tahu tentang kita" ucap Adnan sambil menahan rasa sakit.
"Harusnya kau belajar banyak hal sebelum datang kesini" jawab Amira mulai khawatir.
"Bantu aku, kumohon" jawab Adnan sambil menangis.
Baru kali ini Amira melihatnya menangis begini. Amira jadi takut, seharusnya siluman gak boleh mencintai manusia sedalam ini. Amira tahu betul mengenai hal itu.
"Aku akan bantu sebisa ku" ucap Amira sedih.
Adnan istirahat dan tertidur di sofa ruang tamu Amira. Amira menatapnya dengan penuh kesedihan. Amira meletakkan telapak tangan nya di dada Adnan dan mengeluarkan sedikit kekuatannya untuk menyembuhkan luka dalam Adnan.
Blitz
Dara yang tiba-tiba hadir dengan senyum yang menakutkan membuat Amira sedikit takut.
"Setelah mencari begitu lama, rupanya kalian ada sini. Ada apa ini? kalau tinggal serumah? Cinta kalian bersemi kembali" ucapnya asal menyudutkan Amira.
"Bukan urusanmu, Seharusnya kau gak masuk ke wilayahku dengan seenaknya" jawab Amira mencoba tidak terintimidasi oleh Dara.
"Kami memutuskan untuk bersama, jadi jangan coba melakukan hal apa pun" tambah Amira berbohong.
"Adnan memang pecundang, kembali padamu yang sudah membuangnya terlebih dulu" ejek Dara.
"Tapi, apapun yang menghalangiku bersama Adnan cepat atau lambat akan mati di tanganku. Kau tahu aku punya kuku yang tajam sekarang sedangkan kau hanya manusia hina" ancam Dara.
"Kau mencintai Adnan atau kau hanya ingin singgasana ratu" ejek Amira sambil tersenyum penuh arti.
"A-pa maksud-mu, itu bukan urusanmu. Saat waktunya tiba kita bisa tentukan siapa yang layak" Dara tampak sedikit gugup karena dia tidak mengira bahwa Amira akan bertanya mengenai hal itu.
Blitz, Dara menghilang di udara.
Dunia siluman
"Apa yang kau dapat dari kunjunganmu ke dunia manusia" ucap ayah Dara mengikuti melihat putrinya ada di depannya sambil menuangkan teh hijau di cangkir kecil miliknya.
"Amira kembali bersama Adnan, sepertinya rencana kita akan semakin sulit ayah" jawab Dara dengan wajah cemas.
"Amira salah satu dengan garis keturunan terbaik, perkiraanmu bisa jadi betul" jawab ayahnya setelah menyeruput teh hijau.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus membunuh Amira"
"Ayah akan bicarakan hal ini pada tetua siluman kita, setelah itu baru kamu bertindak. Kau harus mendapatkan singgasana ratu" jawab ayahnya menegaskan.
"Baik"
...****************...
Qaireen melamun saat pelajaran berlangsung. Dia bingung dengan Adnan yang tiba-tiba menghilang pagi ini. Dia sudah mencari ke seluruh penjuru rumah, Adnan tidak ada dan di sekolah pun dia gak ada.
"Dia kemana" tanyanya dalam hati.
"Qaireen, ada masalah" ucap seorang guru dari depan kelas.
"Maaf pak, tidak ada"
"Baik kita lanjutkan pelajaran"
Bel istirahat berbunyi tapi tanda-tanda kehadiran Adnan belum juga ada. Gak biasanya Adnan begitu, biasanya dia selalu ada di sekitar Qaireen sepanjang hari.
Qaireen berjalan dan mencari ke tempat yang mungkin ada Adnan di sana. Namun hasilnya tetap sama.
"Kau mencari seseorang" ucap Adnan dari belakang.
"Kau tampak khawatir, karena itu kau sampai disini" tambahnya lagi sambil melihat sekeliling hutan pinus belakang sekolah.
Amira langsung memeluk Adnan erat, memastikan bahwa Adnan benar ada di hadapannya sekarang.
"Ku pikir kau sudah meninggalkan ku" ucapnya sambil terisak.
"Kau mencariku? Kau takut aku pergi" tanya Adnan sambil tersenyum tipis walaupun dia sangat senang mendengar hal itu dari Qaireen.
"Iya, aku takut. Kau puas" teriak Qaireen cukup keras.
"Aku takut kau mati karena aku" tambah Qaireen kali ini dengan suara yang bergetar karena tangisannya.
"Aku baik-baik saja" ucap Adnan sambil mempererat pelukannya.
Setelah cukup tenang, Adnan melepas pelukannya dan meraih wajah Qaireen dengan kedua tangannya. Terbawa suasana tubuh Adnan bereaksi dengan sendirinya.
Cup
Adnan mencium kening Qaireen dengan lembut dan cukup lama. Dia terkejut dan tanpa sengaja dia mendorong Adnan cukup keras.
Bukannya kesal, Adnan malah tersenyum bahagia. Matanya membiru sempurna.
"Sekarang matamu biru, itu bukan lensa kan? Jelas-jelas tadi warna normal" tanya Qaireen penasaran dengan perubahan warna mata Adnan.
"Apa arti warna matamu ini? Saat kau marah dia berubah jadi merah dan sekarang biru" tambahnya lagi.
"Itu gak ada artinya" jawab Adnan berbohong, dia takut Qaireen bisa membaca perasaan dengan jelas setiap saat mereka bersama dan membuat Qaireen gak nyaman.
"Apa itu artinya kau senang, sedih, atau apa" Qaireen gak mau diam.
"Bel udah bunyi, sebaiknya kau masuk" jawab Adnan mengalihkan pembicaraan.
Qaireen berlari-lari kecil meninggalkan Adnan. Dia tersenyum menatap Adnan ke belakang sambil melambaikan tangannya.
Adnan membalas lambaian tangan Qaireen walaupun dia sudah hilang dari pandangan Adnan.
Bersambung.....
blm mudeng aqu....
tlg dong, thor....