Kintan terpaksa menikah dengan Aksara, karena suatu alasan menyebabkan keputusan itu terjadi. Ketika Nila yang merupakan istri pertama Aksara mengalami kecelakaan dan dalam keadaan tidak baik-baik saja, meminta Kintan menyanggupi permintaan terakhirnya itu, sekaligus merawat putranya yang masih kecil.
Tepat dua hari setelah pernikahan Kintan dan Aksara terjadi, Nila mengembuskan napas terakhir. Saat itu pula, Kintan menjadi istri satu-satunya dari Aksara. Namun kenyataan justru membuat pernikahan mereka tidak bahagia. Aksara masih belum sanggup melupakan mendiang Nila dan menilai Kintan tak sebanding dengan istri pertamanya itu. Permintaan cerai sering terucap dari bibir Aksara agar Kintan pergi dari sisinya. Di sisi lain, Kintan justru bertekad untuk bertahan. Karena pernikahan itu adalah amanat dari istri pertama suaminya.
Lantas, apakah Kintan mampu membuat hati Aksara luluh? Serta mendapat haknya sebagai seorang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22-Keputusan Kintan
Pada saat Kintan hendak mengatakan apa yang harus ia sampaikan, ketika tangannya juga mencengkeram tas selempang kecil, justru getaran ponsel terasa di kulitnya. Benar juga, sejak tadi benda persegi panjang itu telah berbunyi dan sengaja ia redam suaranya, lantaran malas berbicara dengan Aksara.
Alhasil, Kintan membatalkan rencana untuk memberikan jawaban pada sang mantan pacar yang masih memasang wajah penuh harap. Setelah mengembuskan napasnya, juga menurunkan pandang ke arah tas tersebut, tangan Kintan membuka penutupnya dan segera meraih ponsel itu.
Dia telepon aku sampai dua belas kali? Kintan menelan saliva. Rasa khawatir pun datang seketika itu juga. Herannya dari setiap panggilan Aksara, ia tidak menyadarinya sama sekali. Apa karena David? Sepertinya begitu.
“Dav, aku harus pulang. Putraku menungguku,” ucap Kintan sembari mengerjabkan mata sebanyak tiga kali.
David menggeleng cepat. “Jawab dulu, Tan!” tegasnya.
“Semua sudah jelas, kamu hanya masa laluku. Aku sudah bersuami, pernikahan kami telah resmi secara agama dan negara.”
“Tan! Pernikahan itu bisa diakhiri! Kalian tidak saling mencintai.”
“Ya, tentu saja, kecuali jika aku sudah jatuh hati padanya. Tidak saling mencintai, bisa saling mencintai karena terbiasa, bukan?”
“A-apa? Itu nggak mungkin, aku yakin sekali perasaan kamu masih buatku, kamu bukan tipikal wanita yang mudah jatuh cinta. Aku paham akan dirimu, Kintan.”
Kintan menurunkan pandang. David benar, rasa cintanya memang masih ada pada pria itu. Sampai sekarang, bahkan ia nyaris mempertimbangkan. Namun Aksara mengingatkannya, ia sudah bersuami. Selamanya. Demi amanat sahabatnya yang sekaligus istri pertama suaminya, demi si kecil Gibran, juga ... demi Aksara agar tak lagi mengalami mimpi buruk.
Dengan segala pemikiran itu, Kintan kembali meyakinkan dirinya. David hanya masa lalu. Pria itu masih bisa mendapatkan wanita yang tepat. Sementara Aksara dan Gibran, belum tentu. David kaya raya, bule tampan yang merupakan pewaris perusahaan tambang di New Zealand. Berbeda dengan Aksara yang hanya karyawan swasta biasa yang pasti akan kesulitan mencari ibu bagi Gibran setelah Nila dan dirinya.
Kemudian, Kintan beranjak. Ia mendorong kursi yang ia duduki. Matanya memandang David dengan sayu, hingga sekian detik berikutnya ia memutuskan untuk merundukkan sedikit kepala beserta pundaknya.
“Aku harus pulang, Dav. Suamiku mencariku,” ucap Kintan.
Wajah David yang sebelumnya memelas kino berubah masam, nyaris mengerikan. “Aku nggak percaya. Itu hanya alasanmu untuk menghindariku, Kintan!” ucapnya sembari berdiri.
“Terserah, kuharap kamu tahu batasan kamu, Dav. Kita nggak berjodoh, kamu bisa mencari wanita yang lebih baik, cantik, pintar, dan tentu saja satu negara dengan ayahmu, Dav. Tidak dengan suami dan putraku, mereka membutuhkanku.”
David bergerak cepat, kemudian meraih tangan Kintan. “Aku menginginkamu! Mereka hanya memanfaatkanmu, Kintan! Sadar!”
“I don't care, Dav! Ini jawaban sekaligus pilihanku! Kamu harus terima dan jangan pernah ikut campur masalah kami.”
“He doesn't love you, but I love you! Aku akan membuat kamu bahagia, Kintan! Aku akan ikut campur selama kamu nggak bahagis.”
Kintan menghela napas. Ia menatap wajah David dengan nanar, sampai akhirnya keputusan untuk segera pergi ia ambil. David masih mengejarnya hingga keluar dari ruang kafe tersebut.
Sejujurnya, Kintan merasa iba. Namun, ia tetap harus kuat. Demi semua yang telah ia korbankan sekaligus lindungi pasca kepergian Nila. Meski ia tahu jika pernikahan itu tidak bahagia, sementara David akan memberikan bahagia padanya. Kintan bertekad untuk tetap teguh pada keputusan yang telah ia ambil.
“Kintan!” seru David.
“Stop, Dav!” Kintan menghentikan langkah pada saat David hampir meraih lengannya. “I'm sick of you, Dav! So, don't ever see me again ....”
David meluruhkan tekadnya demi menahan diri Kintan. Bukan karena menerima pilihan wanita itu, tetapi ucapan Kintan begitu sadis seolah mampu merobek hatinya. Kintan muak padanya, tak mau lagi jika ia sampai datang kembali. David tak berdaya, seperti itukah rasanya ditinggalkan oleh orang tercinta? Apakah Kintan juga sehancur dirinya, ketika ia mengatakan kata pisah empat tahun yang lalu?
Tanpa memedulikan sang mantan pacar, Kintan terus berjalan. Ia menuju titik di mana bisa mendapatkan taksi atau angkutan umum lainnya. Kepalanya terasa pening, hatinya semakin tak karuan. Namun kali ini, ia tidak mau menangis lantaran akan berbicara dengan Aksara.
Ketika ponselnya kembali bergetar, Kintan meraih benda itu. Lagi-lagi, Aksara memanggilnya. Kintan menghela napas, tersenyum, kemudian berdeham untuk menepis keadaan hati yang sedang tidak baik-baik saja.
“Halo, Mas?” sapa Kintan sesaat setelah menerima panggilan itu.
“Kamu di mana?!” balas Aksara dari kejauhan sana. Suaranya begitu keras sampai membuat Kintan tersentak dan lantas menjauhkan ponsel dari telinga. “Aku di kantormu, habis dimarahi sama bapakmu!”
“Lho? Bukannya belum jam makan siang, Mas? Memangnya, ada jadwal pulang cepat? Atau jangan-jangan bolos? Waaah!”
“Kamu pikir aku sampai bolos kerja karena siapa, hah?! Masih berani tanya dengan nada polos begitu, hah?!”
Kintan menelan saliva. Matanya bergerak ke sana ke mari, mencari tempat yang tepat untuk dijadikan alasan. “Aku di restoran cepat saji dekat dengan mal elit, Mas. Sama David. Tapi, dia sudah ak—”
“Gila ya kamu, Tan! Enak-enakan berdua di sana, sementara aku mm, maksudku Gibran diabaikan! Ibu macam apa kamu?”
“Ya, maaf, Mas. Aku ada urusan sedikit tadi— ”
“Aku ke sana, awas kalau kalian kabur. Enak saja, aku sudah dihina sama bapakmu, kalian enak-enakan berdua.”
“Tapi, Ma—”
Aksara mematikan panggilan itu sebelum Kintan memberikan jawaban. Membuat wanita itu berdecak, sekaligus heran. Tentang bagaimana Aksara bersikap berlebihan. Lagipula, jika tidak cinta, mengapa harus sampai marah besar? Meski sudah memberikan larangan agar ia tidak bertemu David, Aksara tidak berhak untuk ikut campur. Toh, tadi malam pria itu masih menganggapnya sebagai Nila.
Karena terlanjur memancing emosi Aksara, mau tidak mau Kintan membatalkan rencana untuk pulang. Sebelum pergi ke sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari posisi kafe, Kintan menoleh—memastikan David tak mengikutinya. Ia hanya tidak mau pertemuan kedua pria itu terjadi, sebab bisa saja ada pertengkaran lebih parah.
“Hmm ... begini amat hidupku? Kapan aku bahagia? Haruskah aku membatalkan keputusanku? Aksara benar-benar galak!” gumam Kintan.
Tanpa menggunakan kendaraan apa pun, dengan kata lain berjalan kaki, Kintan menuju ke restoran yang tertangkap oleh matanya. Kendati, perasaan kesal pada Aksara sudah tumbuh, kepiluan perihal hubungannya dengan David justru berangsur pergi. Meskipun tidak sepenuhnya hilang, Kintan tidak jadi menangis atau merintih pasca mengusir David dari hidupnya, sebab Aksara justru datang dan mengubah emosinya.
Harapan Kintan tetap sama, supaya David bisa mendapatkan wanita terbaik. Sementara pada Aksara, entah, ia pun tidak tahu harus bagaimana pada pria itu.
***
Likenya yaa
aku salut dengan novel yang berani menghancurkan PEBINOR
karena faktanya kebanyak novel begitu memuja pebinor
*lelaki lain yang baik pada kintan di puja2 dan dibilang lelaki baik2 tapi wanita lain yang baik pada aksara dilaknat dan dibilang pelakor dan janda gatal lah (kalian waras)
*kintan intraksi dengan lelaki lain dan menyambut baik kebaikan pria lain dibilang dibenarkan tapi aksara hanya mendengarkan wanita lain bicara saja sudah dilaknat dibilang tidak tegas (kalian sehat)
wahai wanita (reader jablay) pakai otak kalian sikit saja biar tidak kelihatan munafiknya
Lama2 juga tenang...
❤❤❤❤
pelakor dipandang hina, menjijikan, apapun dia buat pasti salah, dipermalukan, diperlakukan kasar, dan akhirnya dibinasakn
pebinor dipandang lelaki cinta tulus, bebas menghajar suami orang dan itu tidak dipermasalahkan, bebas berbuat semaunya dan pada akhir diperlakukan lembut supaya iklas, sosok terlalu di spesial kan dan akhir bisa merasakan kebahagiaan
sudut padang wanita jablay dan egois, pelakor menjijikan sedangkan pebinor pria sejati dengan cinta tulus harus dihargai
sudut pandang wanita sejati dan setia, pelakor dan pebinor sama2 mahluk menjijikan dan harus diperlakukan sama