Arabella Elisa Jodie, gadis tomboy dengan segudang keahlian, pandai beladiri dan menyukai kebebasan. Memiliki beberapa sahabat pria yang sudah akrab dengannya sejak bertahun lamanya.
Bagaimana bila tiba-tiba Ara harus terpaksa menjadi seorang istri?
Istri dari tuan muda tampan yang sejak kecil sudah memiliki kehidupan berkelas.
"Apa dia wanita?" (Dilano Danuarta)
"Dia terlalu mulus untuk ukuran seorang pria matang." (Ara)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azra ziya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin?
Arabella masih mengingat pembicaraan antara dia dan Lano pagi tadi.
Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Apa pernikahannya dengan Lano memang disengaja?
Dia masih takut menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah membohongi dan mengkhianati dirinya.
"Ara?!" Kaget Bara melihat tamu yang ia kenali sudah berada di sofa.
Bara baru selesai mandi dan bermaksud membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
"Jangan pedulikan aku, aku sedang berpikir."
"Apa yang kamu pikirkan? Memikirkan malam pertama semalam?" Bara menggoda Ara. Lebih tepatnya mencari tau sedikit informasi.
"Jangan bahas itu, Bara! Pernikahan ini bukan pernikahan yang sesungguhnya." Ara menoleh Bara. Gadis itu menatap sinis.
"Baiklah, aku mengerti. Aku hanya bercanda, Ara." Bara berbalik badan. Menuju pantry. Dalam hati, entah kenapa ia begitu senang mendengar kejujuran Ara. Setidaknya ia bisa mengobati perih hatinya sedikit. Ara belum mencintai suaminya.
"Kopi susu, Bar!" serunya.
"Iya, Tuan Putri." Bara melengkungkan bibirnya.
Melayani gadis itu seperti ini menjadi hal menyenangkan bagi Bara. Meskipun ia dibilang bucin, tapi laki-laki itu sama sekali tidak peduli.
Baginya, entah dia perempuan atau laki-laki tidak masalah kalau dia harus menunjukkan rasa cintanya dengan cara melayani pasangannya. Karena itu satu bentuk perhatian kecil yang nyatanya mampu membuat kebahagiaan besar bagi orang yang ia cintai.
.
.
.
.
Sedangkan di dalam gedung menjulang tinggi. Tampak tiga pria sedang duduk di sofa dengan ekspresi serius.
Dilan, Boy dan Lano, masih memikirkan cara terbaik untuk memberitahukan Ara tentang hal yang sebenarnya terjadi.
Pernikahan yang masih penuh misteri bagi gadis itu.
"Sejak kapan kamu tau, Lano?" Dilan menoleh putranya yang nampak tenang.
"Sebenarnya aku sudah lama curiga, tapi belum yakin sepenuhnya. Tapi saat tau bahwa yang menjadi istriku adalah Ara. Aku semakin yakin kalau ini hanya rekayasa." Lano menatap ayah dan mertuanya satu-persatu.
"Apa kamu marah? Dan menyesali pernikahan ini?" tanya Dilan khawatir.
"Siapapun istriku aku tidak masalah, Dad. Selama itu membuat kalian senang, aku akan melakukan apapun semampuku," jawab Lano.
"Jadi yang harus kita pikirkan sekarang hanyalah Ara. Jangan sampai dia curiga." Boy berpendapat seperti itu.
"Menurutku, sebaiknya kita katakan saja yang sejujurnya sebelum Ara tau semuanya sendiri. Bukankah dia wanita cerdas seperti yang sering Paman bilang?" Lano melirik Boy. Mengingatkan mertuanya pada pujiannya tentang sang putri.
"Ya, kamu benar Lano. Dia perempuan cerdas, tapi Paman takut Ara tidak akan bisa menerima kenyataan. Paman takut dia akan membenci kamu nantinya." Boy terlihat khawatir.
"Sebaiknya kalian berusahalah saling membuka hati, Lano. Daddy yakin pernikahan kalian akan menjadi pernikahan yang bahagia nantinya." Dilan sangat berharap.
"Sepertinya itu tidak mungkin terjadi, Dad." Lano bangkit dari duduknya. Laki-laki tampan itu berjalan menuju jendela besar di dekat meja kerjanya. Tatapan Lano jauh keluar gedung.
"Apa putri Paman mengatakan sesuatu yang menyakitimu, Lano?" Boy curiga. Nampaknya menantunya itu menyimpan sesuatu.
"Tidak, itu hanya firasatku saja. Ara masih ingin bebas. Dia perempuan yang berbeda." Lano memasukkan tangannya ke saku celana.
"Daddy yakin kalian akan saling mencintai suatu hari kelak. Sebaiknya suruh saja Ara menjadi asisten pribadi Lano lagi, dengan begitu mereka akan sering bersama."
"Baiklah, Tuan." Boy ikut setuju dengan usul Dilan.
"Jangan dipaksa kalau dia tidak mau, Pa." Lano menghela napas. Dia juga tidak tau bagaimana nasip pernikahannya ke depan. Dia sendiri tidak tau apa dia menyukai atau membenci pernikahan ini sebenarnya.
***
Lano pulang sedikit malam hari ini, karena dia harus pergi ke jamuan makan malam bersama kliennya.
Pria tampan itu melangkah pelan melewati anak tangga satu-persatu.
Tidak ada komunikasi antara dia dan Ara sejak pagi. Dia pun tak peduli kemana istrinya itu pergi seharian ini.
Lano masuk ke dalam kamar. Menyalakan lampu kamar yang tadinya sudah dimatikan.
"Baru pulang?" tanya Ara yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Hmmm, aku pikir kamu akan tidur di rumah papa." Lano melepas jasnya.
"Mana mungkin papa mengizinkan aku tidur di rumah." Ara terlihat kecewa.
"Apa kamu masih kecewa dengan pernikahan ini?"
Ara menggeleng pelan. "Setelah aku pikir ada gunanya juga aku menikah." Ara naik ke atas ranjang.
"Maksudmu?" Melepas dasi di leher.
"Mungkin Kakak lebih baik dari papa, Kakak tidak akan melarang ku kemanapun 'kan?"
"Siapa bilang? Aku juga akan melarang bila itu bukan hal yang baik. Seperti me_"
"Aku tidak merokok lagi, Kak! Bara juga sudah melarangku. Kenapa para pria tidak suka perempuan merokok sementara mereka sendiri melakukannya?" Ara menaikan nada suaranya.
"Besok kamu harus menjadi asisten pribadi lagi, Daddy yang memutuskan." Lano masuk ke dalam kamar mandi.
Namun Lano berbalik lagi keluar.
"Ara! Kamu baru sudah buang air besar ya?!" Teriak Lano sembari menutup hidung.
"Iya, bau ya?" Ara menggaruk kepalanya.
Lano mengerjap mata berkali-kali. "Lain kali jangan lupa semprotkan pewangi kamar mandi setelah membuang sampah!"
"Lupa Kakak, maaf. Ara sudah tidak buang air besar tiga hari." Mengelus perutnya sembari menahan tawa.
"Makanya, kalau makan itu sesuaikan dengan perut bukan sesuai nafsu!"
"Kenapa kakak cerewet sekali?!"
"Kamu yang keras kepala!" Lano melepas kancing bajunya satu-persatu.
"Kenapa kakak buka baju di sini?"
"Apa kamu ingin aku pingsan di kamar mandi?"
"Buka saja di ruang ganti!"
"Bukannya kamu sudah terbiasa melihat pria bertelanjang?!"
Ara mendekati suaminya dengan wajah kesal. Hari ini dia memang sedang kesal. Apalagi sepanjang hari teman-temannya menggoda dirinya dengan sebutan pengantin baru. Membuat Ara semakin berang.
Ara menatap Lano tajam. Memandang wajah yang juga tak mau kalah dengannya. Lano membalas tatapan tajam istri tomboynya.
"Apa Kakak tidak bisa lembut dengan perempuan? Pantas saja kakak tidak punya kekasih selama ini?" Ara berkacak pinggang.
"Pria mana yang bisa lembut kalau berhadapan dengan perempuan sepertimu?!"
"Siapa bilang? Buktinya Bara tidak pernah kasar padaku?!"
"Bara? Apa kamu mencintai pria itu?" Lano mengangkat sebelah alisnya.
"Cinta? Apa Kakak pernah merasakan cinta? Tau apa Kakak tentang cinta?!" Ara tak mau kalah. Dia tau bahwa mereka sama-sama tidak pernah merasakan hal itu.
"Kalau memang kamu suka dengan Bara, kenapa tidak meminta papa untuk menikahkan kamu dengannya?!" Lano terbawa emosi.
"Jika saja itu bisa, mungkin sudah aku lakukan, mungkin Bara jauh lebih baik dari tuan muda yang egois seperti Kakak!" Ara berbalik badan. Rasa kesal di hatinya kini semakin bertambah.
Lano menarik tangan Arabella hingga tubuh kecil gadis itu menabrak dada bidangnya yang yang terekspos sedikit karena beberapa kancing kemejanya sudah ia buka sebelumnya.
Netra dua manusia yang sedang dilanda emosi itu bertemu. Ara bahkan kaget dengan apa yang Lano lakukan.
Apa jika marah dia akan menjadi seperti ini?
Kenapa aku merasa dia sangat tampan jika sedang marah?
Jangan gila Ara. Jangan tertipu dengan ketampanan pria ini. ~Ara
Kenapa kamu menarik gadis ini, Lano? Apa yang ingin kamu lakukan dengan perempuan ini? ~Lano
Perlahan emosi keduanya mulai terkontrol. Bahkan Ara tanpa sadar mengelus dada mulus suaminya.
Kenapa aku merasa mengingkannya malam ini. ~Ara dan Lano.
Bersambung....
Like & Vote!