Bianca Sabian adalah seorang siswi yang sering bermasalah di sekolahnya. Banyak kenakalan yang sudah ia lakukan. Mulai dari bolos sekolah, mengecat rambut, hingga membuat rusuh satu kelas saat guru mengajar.
Tapi hidupnya berubah saat ia harus menerima nasib dipaksa menikah dengan gurunya sendiri. Yang lebih menyebalkannya lagi ternyata sang guru adalah seorang duda beranak satu.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Bianca setelah terpaksa menikah dengan gurunya sendiri??? Apakah sang guru mampu menerima Bianca sebagai istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ian_Zimanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua puluh dua
"Ah, nggak nyangka bisa ketemu lagi. Kamu kerja disini?" tanya Bianca. Agak terkejut juga ketika bertemu dengan pria tampan di bandara tadi.
Pria itu mengangguk, "Anak pamanku yang biasa kerja disini lagi sakit, jadi aku yang diminta untuk gantiin dia selama satu minggu disini. Kebetulan yang punya café ini pamanku"
"Oh, pasti repot banget harus ke Jepang"
"Nggak juga, aku senang jadinya aku malah bisa ketemu sama kamu?" ujar pria tampan itu sambil memasang senyum mautnya.
Tanpa disadari Bianca, wajahnya merona sendiri karena ucapan pria itu, "Oh ya, namaku-"
"Cumi bakarnya dua" tiba-tiba saja Rava memotong kata-kata Bianca, "Dan tolong gak pake lama." tambahnya dengan nada yang super super dingin.
Pria tampan itu hanya tersenyum sinis, lalu beranjak pergi untuk membuatkan pesanan.
"Kasar sekali ngomongnya" celetuk Bianca yang masih memandang punggung pria itu.
"Oh maaf, apa aku mengganggumu dengan pacar barumu itu, hm?"
"Pacar? Namanya aja aku belum tahu. Mas kenapa sih?"
Rava memutuskan untuk tidak membalas. Tidak lama pesanan mereka sudah datang dan pria itu lagi yang mengantarnya.
"Oh ya, rasanya aku belum tahu namamu" ujar pria itu yang sukses memperkeruh raut wajah Rava, "Namaku Alex Darmawan" ujarnya lagi sambil mengulurkan tangan.
( ALEX DARMAWAN )
Bianca membalas jabat tangan itu sambil tersenyum manis, "Bianca Sabian dan ini Rav-"
"Ups maaf Bianca, aku punya urusan yang lebih penting daripada sekedar tahu nama orang yang nggak penting buatku." gumam Alex dengan matanya melirik sinis pada Rava yang membalasnya dengan tatapan tajam, "Oke, sampai nanti Bian" Alex lalu beranjak pergi.
Namun sebelum benar-benar pergi Alex membalikkan lagi badannya, "Kami punya menu baru, kalau nggak keberatan, apa nanti malam kamu bisa kemari? Aku traktir"
"Yang bener? Oke, aku dan Rav-"
"Ah, kalau bisa aku ingin kamu datang sendiri" potong Alex.
"Eumm…" Bianca melirik Rava ragu, "Akan kuusahakan"
Alex tersenyum tipis lalu beranjak pergi dari meja Rava dan Bianca.
"Nggak apa, pergi aja" celetuk Rava sambil memakan cumi bakarnya.
"Apa?"
"Aku bilang kamu boleh pergi dinner sama pacar barumu itu"
Bianca memiringkan kepalanya bingung, "Kau nggak suka sama Alex, ya?"
"Apa aku terlihat seperti menyukainya?"
Bianca menatap Rava serius, kemudian sebuah seringaian terpampang diwajahnya, "Kamu cemburu?"
"A-apa?"
"Kamu cemburu ngeliat aku deket sama Alex, ya 'kan?"
"Aku nggak cemburu" sangkal Rava.
"Nggak perlu bohong Pak Guru, aku tahu kamu cemburu. Akui sajalah…"
"Oh ya? Bukannya kamu yang cemburu kalau melihatku sama Ara?"
"Apa?"
Rava hanya terkekeh kecil melihat Bianca yang mati kutu. Bianca sendiri memanyunkan mulutnya sambil melahap cumi bakarnya. Inginnya membalas ucapan Rava, tapi dia tidak tahu harus menjawab apa.
***
Daerah di sekitar pantai cukup ramai meski bukan sedang hari libur. Angin bertiup lumayan kencang membuat Bianca harus menundukkan kepalanya agar matanya tidak kemasukan debu. Saat ini Rava dan Bianca tengah berjalan di sepanjang pantai.
Tidak jarang beberapa pasang mata menatap mereka dengan tatapan kagum. Yah, seorang yang tinggi tampan dan bertubuh tegap dengan seorang yang berwajah cantik dan berkulit putih bersih. Yang seperti itu sudah pasti menyedot cukup banyak perhatian.
"Kalau lagi musim liburan, biasanya pantai akan lebih ramai dari ini" gumam Rava.
"Huh, yang seperti ini juga gak apa-apa kok" balas Bianca.
Kalau pantai lebih ramai artinya akan lebih banyak orang yang memperhatikan Rava. Dan Bianca tidak suka itu.
"Terumbu karang disini sangat indah, kamu mau menyelam?" tanya Rava.
"Berenang saja aku gak bisa, gimana mau menyelam."
"Nggak apa, nanti kupegangi kalau menyelam" sahut Rava, "Mau ya? Aku jamin kamu pasti suka"
"Hemm… baiklah, tapi awas aja kalau aku tenggelam ya?"
"Ya, ya, tenang aja. Kita sewa dulu perlengkapan menyelam ditempat itu" ujar Rava lalu menarik Bianca menuju tempat penyewaan perlengkapan menyelam.
Rava menyewa dua buah pakaian renang, dua pasang sepatu khusus untuk menyelam dan dua buah kacamata renang. Sebenarnya mereka membawa baju renang sendiri, tetapi akan sangat merepotkan kalau harus kembali ke hotel dulu.
Pria berambut hitam itu tidak bisa menyembunyikan kekesalannya ketika melihat pria yang menjaga tempat penyewaan itu menatap Bianca seolah ingin menelannya bulat-bulat.
Tidak lama Rava dan Bianca sudah memakai perlengkapan menyelam mereka yang sederhana. Sekali lagi diiringi decak kagum orang-orang yang menatap pesona mereka berdua.
"Nggak apa ninggalin pakaian kita disini?" tanya Bianca ketika Rava meletakkan pakaian mereka disebuah batu dipinggir pantai.
"Nggak apa, pulau ini aman kok"
Rava lalu meraih tangan Bianca dan menuntunnya menuju laut. Bianca menggenggam tangan Rava erat. Dia tidak bisa berenang, dan menyelam tentu membuatnya merasa khawatir.
"Mulai dari sini kita akan menyelam. Kalau nafasmu nggak kuat kamu bisa menarik tanganku, oke?" ujar Rava ketika mereka menjejakkan kaki di tempat yang mulai dalam. Air laut sudah setinggi dada Bianca saat ini.
Bianca hanya mengangguk, namun kelihatan sekali kalau dia masih agak ragu.
"Nggak apa-apa kok" gumam Rava seraya mencium pipi Bianca gemas.
Bianca hanya menoleh sekilas, tapi sama sekali tidak marah ataupun protes akan tindakan Rava.
Keduanya lalu menarik nafas dan langsung menenggelamkan seluruh tubuh mereka ke laut. Rava melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang ramping Bianca.
Sedangkan Bianca menggenggam tangan Rava erat. Perlahan Rava menggerakkan kakinya hingga mereka mulai bergerak di dalam laut. Baru beberapa menit Rava merasa Bianca menarik tangannya. Mengerti isyarat itu Rava lalu menarik tubuh mereka ke permukaan laut.
"Gimana? Menarik 'kan?"
Bianca hanya mengangguk sambil mengatur nafasnya. Wajahnya kelihatan lumayan pucat. Kedua tangannya ia tumpukan pada bahu Rava sementara tangan Rava melingkar di pinggang rampingnya.
"Bi, kamu baik-baik aja, kan?"
kalau kau Terima berarti novel tidak masalah
tapi kalau kau tidak Terima berarti pemikitan mu ada masalah saat kau tidak suka suamimu baik, sok manis, dan perhatian pada pria lai tapi novel malah Bianca seorang istri sok manis, dan sok perhatian pada pria lain dan kau benarkan kelakuan Bianca ini
renungkan lah, pakai otak untuk berfikir mana salah mana benar, salah ya salah benar ya benar
jangan jadi wanita egois kalau suami yang lakukan selalu salah tapi kalau istri (kalian) yang lakukan kalian benarkan
sadarlah