Aku selalu mencintaimu setiap hari dari awal pertemuan kita. Rain Khadija. Jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap sosok laki-laki yang menjadi suaminya. Mereka menikah di usia muda. Rain teramat mencintainya sementara Ragga Hadiwijaya dengan segala dendam masa lalunya terus menyakiti dan menyangkal cintanya.
Akankah Rain bertahan dalam pernikahan yang terus membuatnya jatuh cinta pada suaminya sementara Ragga terus menjauhinya? Rain cukup bahagia walau hanya bersanding tanpa dicinta Ragga. Rain yakin Ragga akan mencintainya seperti saat menjadi sepasang kekasih dulu.
Ini karya pertamaku, mohon dukungannya yaa. 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syaesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rain Menggemaskan
Rain ternyata kembali ke kamarnya, menutup pintu kamarnya pelan. Ibu dan Bibi malah cekikikan.
"Sabar, A. Resiko pacaran sama gadis polos". Kata Bibi menepuk-nepuk punggung Ega yang melongo menatap pintu kamar Rain.
Ibu ikut bicara, lebih tepatnya menggoda "Kalau sekali lagi Ibu lihat kamu memeluk Rain Ibu sendiri yang akan menyuruh Rain mengakhiri hubungan kalian, kecuali...." Ibu menggantung kalimatnya.
"Kecuali apa, bu?" Ega memasang wajah frustasi.
"Kecuali kamu bersedia menikahinya." Tawa Ibu pecah Ibu niatnya hanya bercanda tapi Ega malah menantang.
"Kalau Tante izinkan besok juga Saya siap menikahi Rain." Ibu melongo dan Bibi takjub, sebelumnya tuan mudanya tidak seserius ini dalam menjalin cinta. Ibu kehabisan kata-kata, dan Rain kembali ke luar dari kamarnya. Melihat tiga orang tersebut berdiri di depan pintu kamarnya Rain sedikit heran.
"Kalian kenapa kompak berdiri di sini?" Ibu dan Bibi kompak berlari ke dapur tanpa menjawab, sementara Ega "Loe yang kenapa, tiba-tiba lari ninggalin Gue?" Rain tersenyum menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal "Sorry, tadi akutuh baru inget kalau kamarku belum ku rapi kan." Rain memang jujur, Dia habis merapikan kamarnya.
Ega mengangguk tanda mengerti. "Kamu udah makan belum?" perhatian pertama Rain untuk Ega, Ega menggeleng memasang senyum manis. 'Kenapa tampan sekali sih wajahnya' batin Rain. Rain meraih tangan Ega menariknya ke meja makan yang ternyata Ibu dan Bibi juga sedang duduk di sana menikmati teh hangat.
"Bu, Rain lapar nih semalam nggak makan." Rain manja, mensundul-sundul bahu Ibu dengan kepalanya.
Ibu tertatawa mengacak rambut Rain "Sana cari sendiri makanan, Ibu malas masak. Ibu terlanjur dibuat tegang oleh kalian berdua." Lho, bukannya Ibu yang membuat mereka tegang. Rain menurut, Dia ke dapur membuat roti bakar dan susu coklat, Ega mengekorinya Ibu dengan sengaja berteriak. "Awas ya jangan terlalu dekat, bukan muhrim". Rain tersenyum mendengarnya. Ega hanya tertawa meratapi nasibnya, jika dulu justru gadis-gadis lah yang selalu agresif mendekatinya. Lihatlah, sekarang dia berpacaran dengan gadis yang dijaga ketat oleh Ibunya. Rasakan Kau, Ega.
Selesai memanggang roti Rain kembali ke meja makan dengan dua gelas susu coklat hangat sementara Ega membawa roti bakarnya. Mereka berempat duduk bersama di meja makan. Rain memakan rotinya lahap sambil sesekali menyelipkan rambut di balik telinganya dan tentu saja Ega tak melepaskan pandangannya dari Rain. 'Kenapa dia cantik sekali sekalipun sedang mengunyah' batin Ega. Ibu yang sadar anak gadisnya terus dipandangi oleh Ega hanya menggeleng-geleng, lucu sekali tingkah mereka berdua itu. Rain menghabiskan lima potong roti bakar dan minumannya dalam sekejap, menangis semalaman membuatnya kehilangan banyak energi. Ibu merasa senang Rain terlihat bahagia sekali. Ibu ingin selalu memberikan yang terbaik untuk Rain. Setelah semuanya mengakhiri aktifitas makan, Ibu mulai membuka suara.
"Jadi sekarang kalian pacaran?" Pertanyaan pertama Ibu yang terdengar seperti sedang menginterogasi penjahat. Rain mengangguk dan Ega tegas menjawab
"Iya, Tan. Makasih ya Tan." Ega tersenyum menatap hormat calon mertuanya. Ibu tertawa. "Maafin Ibu ya Rain, maafin tante juga ya Ga. Ibu sudah bikin kalian merasa jadi romeo dan juliet," ucap Ibu menatap Rain dan Ega bergantian.
"Bibi juga minta maaf ya, A. Habis Bibi gemas lihat A Ega yang egonya tinggi banget. Nggak mau ngakuin perasaan sendiri." Bibi ikut merasa bersalah.
"Makasih ya, Bii. Ibu juga, makasih ya." Rain tersenyum tulus pada keduanya. Ega suka sekali senyuman itu. "Ibu titip Rain ya, Ga. Pastikan kalian tidak melakukan sesuatu di luar batas." Ibu mulai bicara serius. Ega mengangguk mantap.
"Iya tan, Ega sayang banget sama Rain. Ega pasti akan selalu menjaga Rain". Rain merasa bahagia sekali.
"Rain, jangan merepotkan Ega. Bersikaplah dewasa jangan membuat Ega bosan".
Lagi-lagi Ibu berkata serius. Rain menangguk, mengerti. "Rain janji akan selalu jadi yang terbaik buat Ibu. Rain juga nggak akan biarin Ega pegang-pegang Rain."
Ibu dan Bibi serentak tertawa. Suasana yang tadi sudah serius mencair kembali berkat kalimat Rain itu. Ega hanya tersenyum penuh arti menatap Rain, Rain malah menjulurkan lidahnya. Ega gemas sekali dengannya. Andai tidak ada Ibu nya, bisa dipastikan Ega sudah menarik tubuh kekasihnya itu ke dalam pelukannya.
Terus simak ceritanya ya. Maaf sekali bila terdapat kata-kata dan pengejaan yang salah 😊🙏