Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Man I Should Never Trust
Gemuruh petir menyambar di langit malam, membiaskan cahaya putih kilat yang menembus jendela kaca bundar Menara Bintang Terlarang. Kebenaran mengerikan tentang Ibu Suri Agung masih menggantung berat di udara, tetapi keheningan di antara Xinyue dan Zhao Fengting kini diwarnai arus bawah yang jauh lebih berbahaya.
Xinyue berdiri terpaku, tatapan matanya terpaku pada nama legendaris yang tertera di sudut bawah dokumen tua berdarah itu. Namun, naluri forensik yang teruji oleh ratusan kasus pembunuhan di kehidupan sebelumnya ditambah pengalaman bertahun-tahun membaca mikro-ekspresi para penjahat paling manipulatif mulai membisikkan keraguan tajam di benaknya.
Ada sesuatu yang terlalu rapi. Terlalu sempurna.
"Ibu Suri Agung berada di Istana Peredupan Barat sejak lima tahun lalu untuk bertapa dan memulihkan diri," ujar Xinyue perlahan, melangkah melingkari meja kayu raksasa tersebut. Tangannya sengaja tidak menempel pada permukaan meja, menjaga jarak aman. "Jika beliau mengendalikan Matahari Hitam dari balik tirai kesucian, bagaimana mungkin dokumen transaksi keuangan sesensitif ini tersimpan di tempat yang begitu mudah diakses oleh Yang Mulia?"
Zhao Fengting tidak bergerak. Matanya yang sehitam jelaga mengikuti setiap jengkal pergerakan Xinyue. "Tempat ini dilindungi oleh formasi rahasia dan pengawal bayangan terbaikku, Xinyue. Hanya aku dan Han Zuo yang memegang kuncinya."
"Atau..." Xinyue menyela dengan suara tenang yang membekukan, "kunci ini sengaja diserahkan kepada Anda agar dokumen ini ditemukan pada saat yang tepat."
Zhao Fengting memicingkan mata, aura kepemimpinannya menajam seketika. "Apa maksudmu, Pengawas Ye?"
Xinyue berhenti tepat di depan rak buku tua tempat lilin tembaga menyala. Ia mendekatkan jarinya ke sudut dokumen berstempel merah darah tersebut, mengamati serat kertas beras dan gradasi warna tinta yang mengering.
"Sebagai seorang ahli forensik dokumen, hamba tidak hanya membaca tulisan, tetapi juga struktur kimia materi," papar Xinyue datar, tidak ada lagi ketakutan atau keterkejutan di wajah cantiknya. "Tinta stempel merah ini menggunakan bahan Cinnabar murni dari wilayah utara. Namun, minyak perekat yang digunakan untuk melarutkan pigmennya adalah minyak biji kapas ungu—inovasi industri kimia yang baru diproduksi dan didistribusikan tiga tahun lalu."
Xinyue berbalik menghadap Zhao Fengting sepenuhnya, menyilangkan kedua tangan di balik gaun ungu tuanya.
"Dokumen ini dibuat belum lama ini," tegas Xinyue, suaranya jernih membelah suara gemuruh hujan di luar. "Seseorang telah memalsukan stempel mendiang Kaisar Terdahulu dan memanipulasi tanda tangan Ibu Suri Agung dengan tingkat presisi yang sangat tinggi. Perjanjian ini baru berumur beberapa bulan, dibuat khusus untuk menjebak sosok yang paling dihormati di kekaisaran."
Keheningan yang pekat kembali melingkupi menara. Zhao Fengting menyipitkan matanya, menatap Xinyue tanpa berkedip. Perlahan, sudut bibir sang Kaisar terangkat bukan senyum hangat penuh pesona seperti sebelumnya, melainkan cengiran dingin dan misterius yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kau sungguh luar biasa, Ye Xinyue," bisik Zhao Fengting. Ia melangkah maju, sepatu kulit mewahnya menginjak lantai batu dengan ketukan yang lambat dan penuh intimidasi. "Bahkan rincian terkecil dari jenis minyak tinta pun tidak luput dari pengamatan mata telanjangmu."
"Mengapa, Yang Mulia?" tanya Xinyue lugas, berdiri kokoh di tempatnya tanpa mundur selangkah pun. "Mengapa Anda mengarahkan pandangan hamba kepada Ibu Suri Agung? Apakah Anda sedang memanfaatkan kewenangan audit hukum hamba untuk menyingkirkan faksi penyeimbang terakhir yang membatasi kekuasaan mutlak Anda?"
Zhao Fengting kini berdiri tepat di hadapan Xinyue. Jarak mereka hanya terpaut beberapa inci. Sang Kaisar mengulurkan tangannya, jemari panjangnya yang tegas menyentuh dagu Xinyue, mengangkat wajah wanita itu agar menatap langsung ke dalam matanya yang dipenuhi ambisi tak bertepi.
"Di istana ini, kebenaran adalah apa yang ditulis oleh pemenang, Xinyue," tutur Zhao Fengting dengan nada lembut namun mengandung ancaman yang mematikan. "Ibu Suri mungkin tidak memimpin Matahari Hitam, tetapi beliau memegang kendali atas separuh tentara elit di perbatasan utara. Selama beliau masih memiliki pengaruh, takhtaku tidak akan pernah sepenuhnya aman. Faksi Liang telah jatuh, Faksi Selatan telah tumbang pagi ini. Yang tersisa hanyalah Faksi Utara."
Xinyue menepis jemari Zhao Fengting dari dagunya dengan gerakan halus namun penuh penolakan. "Anda memanfaatkan laporan racun semalam untuk memicu eksekusi cepat Faksi Selatan, lalu membawa hamba ke sini untuk menjadikannya alat pemukul Faksi Utara."
"Aku tidak memanfaatkannya, aku mengarahkannya," potong Zhao Fengting dingin. "Kau menginginkan keadilan dan penegakan hukum, bukan? Aku memberimu panggung terbesar di kekaisaran ini. Tapi untuk menghancurkan kejahatan yang mengakar, terkadang kita harus menciptakan tuduhan yang cukup kuat untuk meruntuhkan benteng terkokoh."
Xinyue menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang sepenuhnya baru. Di balik paras tampan, pesona berkarisma, dan perhatian manis yang ditunjukkan Zhao Fengting selama ini, bersemayam seorang penguasa bersuhu dingin yang sanggup merancang catur politik tingkat tinggi tanpa memedulikan siapa yang menjadi korban.
Pria yang memberinya kewenangan hukum ini adalah pria yang sama yang siap mengorbankan siapa saja demi kekuasaan mutlak.
Dialah pria yang tidak boleh aku percayai, batin Xinyue, jantungnya berdetak kencang dalam kalkulasi bahaya yang memuncak.
"Hukum yang berdiri di atas pemalsuan bukti bukanlah hukum, Yang Mulia," sahut Xinyue dingin. "Itu adalah tirani. Jika hamba memalsukan bukti untuk menjatuhkan Ibu Suri Agung, maka hamba tidak ada bedanya dengan para penjahat yang racunnya hamba sita semalam."
Zhao Fengting melangkah mendekati meja, mengambil dokumen palsu tersebut lalu membakarnya di atas nyala lilin tembaga. Api membumbung tinggi, melahap kertas beras itu menjadi abu hitam dalam hitungan detik.
"Kau memiliki integritas yang langka, Pengawas Ye," ujar Zhao Fengting seraya menatap abu yang berguguran ke lantai. "Tapi ingatlah di mana kau berdiri. Di Istana Dalam ini, idealisme tanpa kompromi hanya akan membawamu menuju liang kubur. Jika kau menolak berdiri di sampingku sebagai senjataku, kau bisa dengan mudah menjadi musuh berikutnya yang harus aku singkirkan."
Xinyue menyunggingkan senyum miring yang penuh kebanggaan dan tantangan. Ia meraba Segel Pengawas Hukum Kerajaan di pinggangnya, merasakan dinginnya giok murni tersebut di balik jemarinya.
"Cobalah jika Yang Mulia sanggup," bisik Xinyue tajam, matanya berkilat berani di bawah remang cahaya menara. "Hamba telah mati sekali di kehidupan sebelumnya karena kelumpuhan jantung, dan hamba tidak berniat untuk mati kedua kalinya sebagai boneka politik siapapun—termasuk Anda, Yang Mulia Kaisar."
Tanpa menunggu izin berpamitan, Xinyue berbalik, membentangkan jubah hitamnya, dan melangkah keluar dari Menara Bintang Terlarang membelah badai malam, meninggalkan Zhao Fengting yang berdiri sendirian dalam kegelapan.