Mengisahkan tentang kisah cinta Daniel David Johanes seorang perwira angkatan laut yang bertemu dengan teman masa kecilnya Joanna Josephine Josep mahasiswi semester akhir fasultas kedokteran jurusan dokter gigi di Universitas Negeri Surabaya. Apakah Daniel bisa merebut hati Joanna yang sering dipanggil Anna ini ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Hati Anna
Nurul memaksa Daniel untuk bertemu. Terus terang waktu melihat Nurul, Daniel kuatir karena dia mencelakai dirinya ketika mengetahui bahwa dia akan menikah. Ini semua Daniel tahu dari Resky sahabat Nurul. Resky dan Natalia juga setuju mereka berpisah karena banyak yang terluka dengan hubungan mereka. Namun situasinya Nurul tidak perna dewasa.
"Bisa kita ganti tempat makannya."
"Ini enak loh Anna cafenya. Kamu pasti suka. Capucinonya enak. Itu kan kesukaan kamu."
Juan sudah melihat dokter Nurul dan Daniel tunangan Anna.
"Iya Amel lain kali saja kita nongkrong disini."
"Kenapa sih kalian berdua." Juan langsung mengandeng tangan kedua sahabat ceweknya ini. Hati Daniel sudah tidak karuan. Dia bimbang antara menenangkan Nurul atau calon istrinya Anna yang melihat dia bertemu dengan Nurul.
"Aku harus pamit. Mohon maaf Nur."
"Kenapa?? Apa kamu mau bertemu dengan Anna. Katanya Anna lagi mau keluar dengan sahabat - sahabatnya.
"Aku pamit Nur. Aku mencintai Anna. Dan kami akan menikah. Aku mau kamu harus dewasa atas keputusan saya."
Daniel keluar cafe itu hendak menyusul Anna. Namun ternyata Anna tidak ada bersama teman - temannya di Cafe sebelah. Kawasan ini banyak sekali cafe. Daniel putus asa. Apalagi, Ketika menghubungi handphone Anna sudah tidak aktif. Daniel pulang ke rumah, namun tidak bertemu Anna. Kembali dia menghubungi namun tidak bisa. Sampai pukul sebelas malam Anna belum - belum pulang.
"Adek, Anna masih di rumah sakit. Ngak biasa dia pulang jam segini."
"Iya ma."
"Kalau Anna pulang, panasi saja makanannya ya. Mama masak makanan kesukaannya."
Daniel menyesali perbuatannya. Dia mencoba menghubungi Anna tetapi tetap saja tidak bisa. Sementara Anna masih berada di rumah Amelia. Sahabatnya. Anna hanya menahan sakit hatinya. Sesekali dia menangis. Amelia tidak tahu apa yang terjadi. Dia pikir Anna menangis karena sedih, sebentar lagi dia akan menikah dan mereka mungkin akan susah berkomunikasi.
Amelia memeluk sahabatnya ini. Mencoba menenangkannya.
"Its oke sis. Kita akan tetap saling menyayangi walaupun kamu sudah menikah kan. Jangan sedih. Jangan menangis."
Daniel sudah mendapat alamat dan nomor telepon Juan Ricardo. Dia langsung menghubungi Juan.
"Sori Juan, aku Daniel."
"Oooo.. Bang. Bagaimana?"
"Anna masih bersama kamu."
"Anna belum pulang?"
"Belum."
"Berarti masih dirumah Amel."
"Aku di luar, bisa kamu mengantar aku ke rumah Amel."
"Bisa bang."
Juan langsung menggunakan mobilnya menuju rumahnya Amel. Ketika di hubungi Amel masih belum tidur. Dia baru saja menenagkan Anna yang dari tadi menangis dan batu saja tertidur.
"Kamu tahu, Anna menangis sampai ketiduran. Dia ada masalah apa sih?"
"Anna ngak cerita."
"Ngak."
"Berarti dia kangen kamu, sedih berpisah dengan kamu. Aku sama Bang Daniel tunangan Anna ada di luar mau jemput Anna pulang."
Amelia langsung keluar membuka pintu. Daniel permisi masuk kamar Amelia. Untung saat ini Amel hanya tinggal bersama asisten rumah tangganya. Karena mami dan papinya sedang berada di Malaysia. Daniel langsung mengendong Anna. Barang - barang Anna sudah dibawa oleh Amelia. Juan membantu membuka pintu dan Daniel menaruh Anna di kuris jok depan sebelah dirinya. Kursinya dalam posisi nyaman untuk tidur. Daniel pamit. Amelia masih kebingungan dengan apa yang di alami oleh Anna, dia mau menahan Juan, namun sudah malam dan tidak baik di lihat orang menahan laki- laki di rumahnya pada jam segini.
Daniel menatap Anna calon istrinya, perempuan yang dia cintai ini. Matanya bengkak. Dia menyesali perbuatannya. Mamanya terbangun mendengar mobil Daniel. Akhirnya mama tahu, bahwa Anna baru pulang.
"Anna kenapa?"
"Tidur ma."
"Bawa ke kamar. Pasti dia sangat kelelahan."
Daniel tahu, bahwa Anna sudah sadar. Namun dia malas bertemu dengannya. Setelah memperhatikan mobilnya. Menutup pintu pagar dan rumah Daniel langsung kekamar. Dia melihat posisi Anna sudah berubah. Dia sudah menutup dirinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Daniel langsung memeluk Anna dari belakang.
"Maafkan mas sayang. Mas punya alasan."
Terdengar isak tangis Anna dibalik selimut. Daniel yang tidak bisa melihat wanita yang dia sayangi menangis langsung melepas selimut itu mengangkat tubuh Anna dibawa kedalam pelukannya.
"Maafkan mas."
"Mas masih ada perasaan dengan dia."
"Tidak sayang, tidak."
"Kenapa mas ketemu dengan dia."
"Mas tahu dari dokter Resky kalau dia mencoba membunuh diri. Makanya waktu itu dia mau bertemu. Mas hanya kasihan kenapa dia melakukan hal tidak terpuji itu."
"Dia masih mencintai kamu. Kalau masih bisa batal, aku mundur mas."
"Tidak. Tidak ada pembatalan. Aku itu cintanya sama kamu Anna."
"Tetapi mas masih bertemu dan memberi perhatian sama dokter Nur." Anna berbicara namun dia tetap menangis. Daniel tahu bahwa Anna sangat sakit hati melihatnya tadi.
"Itu mas hanya kasihan. Tadi mas mau mengajak kamu bertemu dengan dia. Tetapi kamu kan bilang mau nongkrong sama Juan dan Amel."
"Mas sebelum banyak yang sakit hati. Banyak yang terluka. Aku lebih baik mundur."
Daniel sudah tidak bisa menenangkan Anna. Suara tangisan Anna membuat papa dan mama keluar.
"Nona... Daniel kenapa nona menangis." Daniel hanya terdiam. Sementara Anna sudah menutup mulutnya dengan selimut karena takut suaranya terdengar.
"Adek.... Kenapa Anna. Mama mohon jangan sakiti Anna." Daniel keluar kamar menemui kedua orangtuanya. Dia berlutut dihadapan kedua orangtuanya.
"Adek sangat mencintai Anna. Adek tidak mau pisah dari Anna."
"Kalian kenapa??"
"Ada masalah." Daniel hanya mengangguk.
Papa Dony sudah masuk ke kamar. Anna melihat papa Dony langsung memeluk dan menangis dalam pelukannya.
"Daniel nakal ya. Nanti papa hukum ya. Papa mau Anna yang menjadi anak mantu papa Dony dan mama Reny. Tidak ada wanita lain. Kalaupun memang Anna sudah tidak mencintai Daniel lagi, Anna tetap anaknya papa.
Teringat waktu mereka kecil, Daniel sering usil dan gemas sama Anna. Sering dicium pipinya, namun Anna tidak mau. Hal itu membuat Anna menangis. Setiap papa Dony pulang kerja bersama papanya Yansen. Anna lebih memilih mengadu Daniel ke papa Dony. Karena biasanya papa pulang rumah langsung mengendong Anna kecil.
btw turut berdukacita juga atas dipanggil pulang Opa tercinta
sayang sekali, Alena sudah tidak perawan, kalau masih perawan, meskipun orang tua sudah setuju, tinggalkan saja Daniel, biarkan Daniel berjuang untuk mendapatkan Alena , ini ya sudah sulit
Anna harus jual mahal, supaya Daniel dapat pelajaran, kalau untuk mendapatkan kamu, Daniel harus berjuang
mestinya ceritanya Daniel dan Anna tidak tinggal satu rumah dulu yah, meskipun ada orang tua, biarkan Anna kost di luar, dan mereka berdua harus menjaga kekudusan mereka sampai selesai pemberkatan