NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Membaca pesan sepanjang itu nyatanya tidak serta-merta meruntuhkan tembok pertahanan yang sudah dibangun Sarah selama bertahun-tahun. Baginya, penjelasan tetaplah penjelasan, tidak bisa menghapus fakta bahwa dirinya pernah hancur dan menanggung malu sendirian di masa lalu.

Setelah menatap layar ponselnya yang meredup, Sarah memilih untuk menarik napas dalam-dalam, mengunci ponselnya, dan memasukkan benda itu kembali ke dalam tas. Ia memutuskan untuk mengabaikan pesan dari Ardhana. Tidak ada balasan darinya seolah wanita itu tidak tersentuh sama sekali dengan pesan panjang yang dikirim oleh Ardhana. Sarah hanya ingin fokus pada hidupnya saat ini sebagai seorang guru di daerah terpencil.

Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa. Sarah tetap datang ke sekolah pagi-pagi, mengajar kelas sembilan dengan penuh dedikasi, lalu pulang ke kosan saat siang menjelang. Ia bersikap seolah pesan panjang berisi curahan hati dan penyesalan mendalam dari Ardhana itu tidak pernah masuk ke ponselnya.

Sampai akhirnya, pada suatu sore di akhir pekan, Sarah harus pergi ke satu-satunya minimarket yang lumayan besar di pusat kecamatan untuk membeli stok bulanan. Saat ia sedang sibuk memilih beberapa kotak susu dan sabun cuci di lorong bagian dalam, sebuah langkah kaki tegap berhenti tepat di sebelahnya.

“Sore, Kak Sarah. Belanja bulanan ya?”

Suara bariton yang ramah itu membuat gerakan tangan Sarah yang hendak mengambil sebungkus detergen terhenti. Ia menoleh perlahan dan mendapati Ardhana sudah berdiri di sana. Kali ini pria itu mengenakan pakaian polo biru dongker polos dan celana panjang berwarna krem.

Sarah mengatur ekspresi wajahnya secepat mungkin. Tidak ada guratan amarah, ketakutan, ataupun ketidaknyamanan. Ia memasang wajah sewajarnya, bersikap biasa saja seolah-olah mereka hanyalah rekan kerja atau kenalan biasa yang tidak sengaja berpapasan.

“Eh, Ardha. Iya nih, mumpung hari libur jadi sempatin nyetok kebutuhan kosan,” jawab Sarah dengan nada suara yang santai dan terkontrol, jauh dari kesan kaku.

Ardhana sempat tertegun selama beberapa detik. Ia memperhatikan perubahan sikap Sarah yang luar biasa tenang ini. Sejujurnya, setelah mengirimkan pesan panjang yang penuh emosional malam itu dan tidak mendapatkan balasan apa pun, Ardhana sudah bersiap untuk menerima semprotan amarah yang lebih parah, atau setidaknya diabaikan secara terang-terangan. Namun, sikap santai Sarah di depannya saat ini justru membuat hatinya sedikit mencelos. Sarah bersikap biasa saja, dan itu terkadang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan yang meluap-luap karena itu artinya keberadaannya sudah tidak lagi mempengaruhi emosi wanita itu.

Ardhana berdeham pelan, mencoba menguasai rasa canggungnya sendiri. “Oalah, sendirian aja? Bu Tini nggak ikut nemenin?”

“Nggak. Tini udah punya keluarga sendiri, kasihan kalau diganggu cuma buat nemenin ke minimarket,” sahut Sarah sembari memasukkan detergen ke dalam keranjang belanjanya. Ia kemudian melangkah maju ke lorong sebelah, berpura-pura sibuk mencari minyak goreng.

Ardhana perlahan mengekor di belakangnya dengan langkah lambat. “Sar… soal pesan yang aku kirim malam itu…” ucap Ardhana dengan nada suara yang mendadak merendah, mencoba membuka topik yang sejak kemarin mengganjal pikirannya.

Sarah menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Ardhana sembari memeluk keranjang belanjanya. Ia tersenyum tipis, jenis senyuman formal yang biasa ia berikan kepada wali murid di sekolah. “Oh, pesan itu. Iya, udah aku baca kok, Ar. Makasih ya udah mau jelasin semuanya.”

“Cuma makasih?” tanya Ardhana dengan raut wajah yang tampak sedikit kecewa sekaligus bingung dengan respons singkat itu. “Kamu… nggak mau bilang apa-apa gitu ke aku? Marah lagi juga nggak apa-apa, Sar. Daripada kamu senyum formal begini, kayak senyum korporat gitu. Jujur aku malah jadi makin merasa bersalah.”

Sarah terkekeh pelan, kali ini tawanya terdengar lebih lepas walau maknanya terasa hambar di telinga Ardhana. “Aduh, Ar, mau marah buat apa lagi sih? Lagian itu kan kejadiannya udah bertahun-tahun yang lalu. Kita berdua juga udah sama-sama dewasa sekarang, jalan hidup kita udah beda. Kamu udah sukses jadi polisi, aku juga udah tenang jadi guru di sini. Masalah masa lalu yang kekanak-kanakan begitu nggak usah terlalu dipikirin lagi lah, anggap aja itu pelajaran berharga buat kita dulu.”

Kalimat yang meluncur santai dari bibir Sarah itu telat menghantam dada Ardhana. Kalimat itu tidak kaku, diucapkan dengan intonasi yang sangat kasual, namun justru di situlah letak kekuatannya. Sarah secara tidak langsung sedang menegaskan bahwa masa lalu mereka sudah benar-benar mati, dan ia tidak tertarik untuk menghidupkannya kembali.

Ardhana menatap dalam ke arah sepasang mata Sarah, mencari sisa-sisa binar kemarahan atau cinta yang dulu pernah ada di sana, namun ia tidak menemukan apa-apa selain ketenangan yang dingin. “Jadi… kamu beneran udah nggak marah lagi sama aku, Sar? Kita bisa mulai lagi dari awal sebagai teman?” tanya Ardhana, mencoba peruntungannya dengan nada suara yang penuh harap.

Sarah mengalihkan pandangannya ke arah deretan kasir yang tampak mulai mengantri. “Aku dari awal nggak pernah memusuhi kamu kok, Ar. Kita kan emang rekan kerja sekarang, pihak sekolah sama polsek juga sering ada agenda bareng. Jadi ya biasa aja.”

Sarah melirik jam tangan digitalnya sekilas, lalu kembali menatap Ardhana. “Eh, sori ya, Ar, aku harus buru-buru ke kasir nih. Antriannya udah mulai panjang, takutnya nanti keburu kemalaman sampai kosan. Duluan ya,” pamit Sarah dengan sikap yang begitu ramah namun tegas membatasi interaksi mereka.

Tanpa menunggu balasan atau anggukan dari Ardhana, Sarah langsung melangkah lebar menuju barisan kasir di bagian depan minimarket. Ia meletakkan keranjang belanjanya di atas meja kasir dengan gerakan yang santai, mengeluarkan dompetnya, dan membayar semua belanjaannya dengan tenang.

Sementara itu, Ardhana hanya bisa berdiri mematung di ujung lorong minyak goreng, menatap punggung Sarah yang perlahan bergerak menjauh hingga akhirnya wanita itu melangkah keluar melewati pintu kaca minimarket. Pria tegap itu menghembuskan napas panjang sembari memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Sikap biasa dan santai dari Sarah sore ini nyatanya menjadi sebuah pesan tersirat yang paling tegas, bahwa memenangkan kembali hati sang mantan senior akan menjadi tugas yang jauh lebih berat daripada menangkap buronan paling lihai sekalipun.

“PR ku semakin berat ke depannya.”

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!