Bagian dari The fate of marriage
Memiliki paras yang nyaris sempurna, ternyata tidak menjamin Ivannia menerima sembarang lelaki untuk mengisi hatinya. Ivannia mengalami trauma terhadap lelaki hingga membuatnya bersikap dingin terhadap semua pria. Dia menolak dan menjauh jika hal itu terjadi.
Sementara Gavin dibesarkan keluarga sederhana yang penuh kewaspadaan dan tidak mudah percaya pada orang lain kecuali Joevanka. Namun semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan ia menjadi pria yang susah jatuh cinta. Namun semenjak dia mengenal Ivannia yang memiliki sifat jutek dan dingin membuat Gavin penasaran dan semakin jatuh ke dalam jurang cinta.
Di sisi lain seorang pria juga mengagumi Ivannia. Dia adalah seorang asisten yang bekerja di perusahaan Donisius. Lelaki itu adalah Halbret, dia humoris dan suka tersenyum kepada siapa saja. Ia berusaha untuk mendapatkan cinta dari Ivannia.
Bagaimanakah pertarungan cinta segitiga ini. Siapakah yang berhasil menahlukkan cinta Ivannia.
Ikuti kisah cinta mereka.
Whisper Of Love Season 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada lagi cinta.
💌 Whisper of love season 2 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Gavin mengedarkan pandangannya. Ketika ia sudah tiba di ballroom tempat dilaksanakan resepsi pernikahan Joevanka. Gavin yang berkulit putih bersih, rambut pendek yang tersisir rapi, dan tubuh yang tinggi tegap berkarisma itu, datang mengenakan jas berwarna monochrome dan celana yang berbahan yang sama dengan setelan jasnya. Dengan potongan belakang Vent membuat jas yang digunakan Gavin pas dan nyaman dipakai. Membuat Gavin dengan kesan yang classy dan tampan di acara formal. Ia menggunakan sepatu model oxford warna coklat gelap, untuk menunjang penampilannya, benar-benar menjadi stylish dan nyaris sempurna. Ini adalah acara pernikahan pengusaha nomor satu di dunia, siapa tidak mengenal Aaron Donisius. Penguasa yang disegani. Kini Anaknya Ivander Donisius menorehkan prestasi. Kini Ivander membangun Hotel Donisius yang terbesar di negara ini. Karena itu Gavin ingin tetap berpenampilan smart dan berwibawa. Bagi siapa saja yang melihat pasti mengaguminya. Karena Gavin adalah lelaki tampan.
Cih... mengingat kata tampan, Gavin berdecak dan menahan senyumnya sendiri. Jika dia tampan kenapa Joevanka sama sekali tidak tertarik. Gavin menggeleng, Ia tidak bisa menyalahkan keadaan lagi. Ia sudah berjanji akan menikmati setiap proses. Gavin tidak akan mengkhawatirkan banyak hal yang sesungguhnya hanya perlu diserahkan pada-Nya. Ya jodoh dan rejeki semua sudah di atur oleh Tuhan.
"Benar semua akan indah pada waktunya." Batin Gavin memberi semangat pada dirinya.
Gavin mengedarkan pandangannya. Seluruh ballroom hingga pelaminan tertutup jutaan bunga yang di dominasi warna putih, terasa klasik namun romantis. Konsepnya seperti di negeri dongeng yang indah. Resepsi pernikahan yang luar biasa mewah dan ia baru pertama kali menghadiri acara seperti ini. Gavin sampai tidak bisa menggambarkan betapa indah tempat ini. Ia bersyukur, tiba tepat waktu. Gavin mengambil tempat duduk di bagian tengah. Para undangan sudah mulai memasuki ruangan. Sambil menunggu acara di mulai. Gavin mengirimkan pesan WhatsApp kepada Leona.
LEONA, APA IBU SUDAH SADAR?
TING!
Satu pesan masuk.
IBU, BELUM SADAR KAK.
KAKAK TENANG SAJA, ANGGAP SAJA IBU SEDANG ISTIRAHAT KAK.
APA ACARANYA SUDAH MULAI KAK?
Gavin menghembuskan napasnya. Wajahnya menunduk sedih setelah membaca pesan WhatsApp dari Leona. Sampai saat ini ibu belum sadar.
"Sabar ya ibu, aku akan berusaha mendapatkan uang, aku berjanji.."
TING!
Satu pesan masuk lagi.
KAK, KOK GAK DI BALAS SIH?
VIDEO DONG KAK, PENASARAN NIH 🥺
AKU INGIN MELIHAT PENGANTIN
Satu lengkung senyuman langsung terulas di bibir tipis sang pembaca pesan. Leona memintanya untuk mengirimkan video pernikahan Joevanka.
ACARANYA BELUM MULAI DAN PENGANTIN BELUM MASUK LEONA. JADI KAKAK AKAN VIDEO BALLROOM NYA SAJA. SEBENTAR 😀
Gavin mengirimkan pesan WhatsApp itu kepada Leona.
Untuk mengurangi rasa penasaran adiknya. Gavin membuat video untuk menyorot ballroom yang dihias indah itu. Ia kembali mengambil camera digitalnya. Gavin kembali asyik memotret langit-langit ballroom yang dihiasi bunga-bunga indah yang bermekaran. Bunga putih dan nuansa blush pink mendominasi ruang pelaminan yang di isi dengan sofa putih dan chandelier yang memberi kesan mewah. Gavin menangkap suatu momen di langit-langit yang indah.
Kesan romantis disuguhkan dengan ornamen lilin di sekitar dekorasi bunga. Di tambah kain-kain putih yang menjuntai di langit-langit gedung. Bagian panggung ini juga dihiasi bunga putih dan lilin di sekelilingnya. Ia mengabadikan momen itu melalui camera digitalnya.
“Bagaimana sudah puas belum memotretnya?” tanya Halbret tersenyum sambil duduk.
Gavin tersenyum sambil masih menengadahkan kepala dan memajukan kameranya beberapa centi dari matanya.
“Belum,” jawab Gavin sembari menekan tuts di monitor yang memberikan suara cekrek tanda ia telah menangkap suatu momen di ballroom itu.
“Kau suka memotret?” Tanya Halbret. "Dari camera yang kulihat harganya lumayan." Halbret mengamati camera yang dipegang Gavin.
"Ini hadiah ulang tahun perusahaan Donisius," Kata Gavin tersenyum.
"Iya..ya, perusahaan Donisius pernah memberikan hadiah bagi lima karyawan yang disiplin bekerja. Jadi kau salah satu karyawan disiplin itu?" tanya Halbret.
Gavin mengangguk sambil tersenyum. "ehmm." jawab Gavin terus mengarahkan kameranya kembali.
"Apa acaranya belum mulai?" Tanya Gavin. Karena tidak ada jawaban dari Halbret, ia membalikkan badannya. Halbret tidak ada lagi.
"Halbret? " panggil Gavin. Ia mengedarkan pandangannya. "Kemana dia?" Gavin menggeleng. Halbret dalam sekejap menghilang tidak tahu kemana.
"Sudah pukul tujuh, tapi acara belum di mulai." Gavin berbicara sendiri. Para undangan sudah memenuhi ruangan.
Tiba-tiba camera Gavin menangkap sosok Ivannia yang berjalan sambil menutup mulutnya. Ivannia berjalan keluar dengan cepat. Langkahnya terlihat tergesa-gesa.
Deg!
"Ivannia?" Gumam Gavin.
Tiba-tiba perasaan aneh itu datang lagi. Detak jantungnya seperti genderang dan berdegup sangat kencang. "Ada apa ini, kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini?" Gavin menyentuh bagian dadanya.
Entah dorongan apa, Ia berjalan mengikuti Ivannia. Gavin mengerutkan keningnya dan memicingkan matanya, ketika Ivannia semakin berlari.
"Mau kemana dia? Apa yang terjadi?" Gavin mempercepat langkahnya. Ia sedikit berlari agar mengimbangi jarak antara mereka.
Langkah Gavin melambat, Ivannia berlari ke arah toilet. Gavin menghentikan langkahnya. Punggungnya bersandar pada dinding. Gavin mendongak ke atas, menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia memegang dadanya lalu mengusapnya pelan.
"Kenapa jantungku masih berdebar-debar seperti ini? Apa yang sebenarnya kurasakan?" Tanpa sadar Gavin tersenyum.
"Apa yang kupikirkan, kenapa aku tersenyum hanya mengingat Ivannia. Astaga..." Gavin menggeleng, mengembalikan pikirannya.
Tiba-tiba terdengar suara Mc bergema di dalam ruangan. Mengatakan pengantin akan bersiap-siap memasuki ruangan. Gavin kembali melangkah ke ballroom. Ia tidak ingin ketinggalan momen bahagia pasangan ini. Benar saja, pengantin sudah melangkah pelan memasuki ruangan. Para tamu sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.
Pak direktur bernyanyi dan Joevanka terlihat seperti putri bangsawan. "Astagaaa, kau cantik sekali." Gavin berdecak kagum.
Joevanka melemparkan senyumnya kepada semua tamu undangan. Mereka terus berjalan memasuki ruangan, senyum kedua mempelai ini tidak pernah lepas dari bibir mereka. Gavin bangun dari duduknya dan melangkah mendekati ke dua mempelai.
Langkah mereka berhenti ketika Gavin berdiri dihadapan pengantin. "Selamat menempuh hidup yang baru Joe. Bahagia selalu." Ucap Gavin dengan sungguh-sungguh. Ia memberikan bunga kepada pengantin wanita. Joevanka menerima bunga itu dengan senyum penuh haru. Gavin memberikan jalan, agar pengantin melangkah kembali. Ia mengangguk ketika Joevanka berbalik menatapnya. Gavin hanya bisa melambaikan tangannya. Ia tersenyum tanda ia sangat bahagia melihat Joevanka menikah dengan lelaki yang sangat dicintainya. Mata Gavin berkaca-kaca. Ia mendongak ke atas berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh di sudut matanya. Mulai detik ini, Gavin mengetuk palu di dalam hatinya. Bahwa hari ini ia sah melepaskan cintanya.
⭐⭐⭐⭐⭐
Ivannia merasa lebih baikan. Ia berencana memilih istirahat di hotel saja. Setelah ia berjuang untuk menahan sakit akibat alerginya.
Ivannia memijit pelipisnya. "Astaga, mereka sengaja membunuhku, tidak punya perasaan." Wajah Ivannia mengerucut sambil menatap dirinya di cermin. Ruangan ballroom yang dipenuhi bunga-bunga membuat Ivannia tidak kuat. Tubuhnya serasa lemas, Ivannia memilih tidak mengikuti acara resepsi lagi.
Ivannia begitu terkejut sewaktu melihat Mario datang menyelinap masuk ke toilet secara diam-diam. Matanya membulat sempurna ketika pintu di kunci dari dalam. Mario memakai sweater hitam yang pernah Ivannia beli sewaktu mereka liburan di Australia. Ivannia sudah nampak kesal. Kenapa Mario muncul lagi. Sedikit pun tidak ada perasaan cinta yang tersisa, yang ada hanyalah benci.
"Apa yang..." Belum lagi Ivannia melanjutkan ucapannya. Mario sudah membekap mulut Ivannia.
"Mmmmpppp... Mmmmpppp."
"Kau berteriak, aku akan membunuhmu." Desis Mario, menaikkan sudut bibirnya. Mario menatap sinis ke arah Ivannia. Mario mencabut sepucuk pistol dari saku sweaternya.
Mata Ivannia membulat ketika pistol itu di arahkan ke bagian pelipisnya. Ia berusaha melakukan perlawanan. Namun apa daya mulutnya dibekap begitu kuat.
"Kau tahu, pistol itu dilengkapi oleh peredam suara, sehingga sewaktu aku menembak, hanya terdengar sedikit suara yang keluar dari mulut pistol ini. Tidak ada yang tahu kau akan mati di sini dan ini akan menjadi sejarah bagi keluarga Donisius. Disaat Ivander bahagia dan disaat itu juga keluargamu akan menangis kehilanganmu. Menarik bukan?" Mario tersenyum menyeringai tajam. "Ivander begitu gigih mencariku. Sampai ia membayar detektif. Kakakmu memang luar biasa."
Ivannia menggigit tangan Mario dengan kekuatan penuh. Sehingga bekapan tangan Mario terlepas.
"Aaarggghh." Mario meringis kesakitan. Tangannya berdarah karena bekas gigitan Ivannia. "KAU...?" Mario tampak marah.
“Kenapa? Kau ingin membunuhku? Ayo, lakukanlah! Kau tidak punya malu Mario. Setelah apa yang kulakukan terhadap keluargamu. Dengan sekejap, kau melupakan semua itu. Ibumu sangat berhutang budi kepadaku. Hahaha...." Ivannia tertawa, lalu menatap tajam ke arah Mario. "Tentu saja ibumu tidak bisa melupakan kebaikanku Mario. Karena hanya aku yang perduli dengan penyakit sekarat ibumu itu. Adikmu? Cih.. Dia sama sekali tidak punya malu, tidak pernah perduli dengan penyakit ibumu." Sengit Ivannia dengan emosi yang semakin membuncah. Ia ingin meluapkan semua. "Jelas sekali dalam ingatanku. Margaret melemparkan gelas ke wajah ibumu, sampai melukai dahinya. Dia bahkan meninggalkan ibumu yang menangis dan terluka. Dan siapa yang membawanya ke rumah sakit Mario? Aku..aku..!" Ivannia menepuk dadanya. Sementara Mario menatap Ivannia dengan ekspresi tak bisa terbaca. Ia hanya diam tak bicara.
Ivannia semakin tidak kuasa menahan amarahnya. "Seharusnya kau berpikir Mario, aku melakukan itu karena tulus mencintaimu. Aku membayar pengobatan ibumu, karena apa? karena aku mencintaimu. Aku bolak-balik mengurus ibumu, sampai aku tidak perduli betapa lelahnya aku, harus pergi ke rumah sakit dan ke kantor lagi. Semua itu karena cinta... cinta... brengsek!!!!!"
"Oh, jadi kau masih mencintaiku?" ucap Mario tersenyum sinis.
Sewaktu mendapat pertanyaan itu, Ivannia pun menatap Mario dengan tajam. Jelas ia tak menyukai pertanyaan itu. Dengan kekuatan penuh, Ivannia mengangkat tangannya, lalu...
PLAKKK!
Sebuah tamparan mendarat cukup kuat di pipi Mario. Sampai bekas tangan Ivannia berstempel di sana. Mario menggerenyotkan bibirnya. Ia menyentuh bagian pipinya, rasa panas bekas tamparan yang menjalar sampai telinganya berdengung.
"Kau masih berani mengatakan itu, setelah apa yang kau lakukan? Ck..Kau tahu yang tersisa hanyalah kebencian. Setelah ayahmu melakukan pembobolan data selama bertahun-tahun dan merugikan perusahaan. Wajar saja Ivander memecatnya. Ivander masih berbaik hati oh tidak..tidak...lebih tepatnya merasa kasihan, ia bahkan masih memberikan tunjangan gaji tiga bulan....."
Sebelum Ivannia melanjutkan kata-katanya, Mario sudah berkilat penuh emosi. Ia menarik gaun yang di kenakan Ivannia dan mencengkram rahang Ivannia begitu kuat.
Tok..tok...tok..!
Ketukan pintu itu sontak membuat Mario terkejut. Mereka bersamaan menatap ke arah pintu.
BERSAMBUNG
❣️ Ddduuaarrrrr 🤣 Jangan tegang my readers 🤗 Kira-kira siapa ya yang mengetuk pintu toilet? Mari kita penasaran bersama-sama 🤭🤭🤭
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu